Mi Instan

1352 Words
Jin menghempaskan tas selempangnya begitu saja pada meja kantornya. Kakinya pun tidak lupa memberi satu tendangan singkat pada salah satu kaki meja seraya mengumpat. “Hoii, kalau ngumpat di hutan Jin!” Teriak sekretaris redaksi -sekred- dari salah satu sudut ruangan. Jin berkacak pinggang sejenak melihat ke arah meja sekred yang terhalang beberapa meja redaksi lainnya. Ia berpikir sejenak lalu menghampiri meja sekred dengan wajah kesal. “Nar, gue tukar libur ya?” sekred yang bernama Binar itu hanya mengendik sekilas tanpa melihat Jin. “Lo di suruh liputan dadakan hari ini? Tumben pagi gini sudah di kantor.” Tanya Binar. “Gak, lagi kesel aja, dari pada gue ngabisin duit ke Singapura buat shoping mending gue kerja hari ini.” Kesal Jin lalu menarik kursi di depan Binar. “Tadinya mau ke Korea sih sebenarnya, ketemu Kim Bum atau gak Hyun Bin, tapi kelamaan di jalan belum lagi urus visa, bisa-bisa gak masuk kerja gue besok, langsung dapet SP!” Binar terbatuk seketika. “Susah jadi orang kaya ya? Kesel dikit udah terbang seenak isi atm, lah kita, kalau kesel paling banter makan mi ayam depan kantor, itupun minta traktiran dulu, sayang buang duit.” Cebiknya. Seharusnya Jin hari ini libur, dan sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk kembali mengerjai Sam. Gadis itu sudah merancang segala sesuatu untuk menjelajah di kehidupan rakyat jelata hari ini. Akan tetapi pagi-pagi sekali, asisten Sam yang bernama Ryu menelepon dan mengabarkan bahwa Sam tidak bisa mengosongkan jadwal hari ini, karena ada beberapa meeting penting yang harus di hadiri. Bukan itu yang membuat Jin kesal, akan tetapi sikap Sam yang tidak menghubunginya secara langsunglah yang membuat gadis itu berang. Apa susahnya sih sekedar menelepon atau mengirimkan pesan secara pribadi. Mengapa harus melalui asisten pribadinya itu. Jin menyeringaikan senyum. Awas saja kalau nanti mereka di jadwalkan bertemu lagi. Sudah ada rencana jahat yang tersusun di benaknya. Ia akan membuat Sam membatalkan pertunangan yang ada dengan kemauannya sendiri, segera mungkin. Jin kembali berdiri dari tempat duduknya. “Gak jadi deh Nar, gue libur aja, mau ke Singapura.” Berlalu dari hadapan Binar menuju meja kerjanya untuk mengambil tas lalu dengan cepat menyampirkan di bahu. Binar melongo dan langsung berdiri. “Jin! Serius mau ke Singapura?” teriaknya. “Iyaaa, kalau dapat tiket go show sih, kalau gak ya gue ke Bali. Kalau lo mau titip wapri aja.” Ujar Jin sembari terburu melangkahkan kaki menuruni anak tangga. -- Ryu menjauhkan ponsel dari telinganya karena mendengar suara Jin yang memekakkan telinga. Pria itu sampai harus memasukkan jari kelingkingnya ke telinga untuk sekedar menetralkan indera pendengarannya. “Nona Ji—” “Jin! Gak usah pake nona! Gue maksudnya aku lagi di bawah, bilang sama Mbak yang di bagian front office ini biar aku di ijinin ke atas.” Kata Jin seperempat berang dan menatap tajam pada gadis yang tengah duduk santai di bagian front office, yang mencegahnya untuk bertemu dengan CEO mereka karena belum membuat janji sama sekali. “Tapi, non—Jin, Sam sebentar lagi akan ada meeting evalu—” Jin kembali menyela perkataan Ryu di telepon, namun kali ini dengan suara pelan, nyaris berbisik dan menjauh dari keramaian. “Kalau kamu gak beri ijin aku ke atas sekarang juga, jangan salahkan aku kalau pertunangan antara aku dan Sam batal. Ini semua salah kamu.” ancamnya. Seringai kecil tersemat di wajahnya, Ryu berdecak, hingga Jin dapat mendengarnya. “Ditunggu sebentar.” Tak berselang lama setelah Jin mengakhiri panggilannya dengan asisten Sam, ia pun dipersilakan untuk ke atas. Dan, maniknya menatap tajam pada gadis yang telah menceramahinya agar ia berpakaian sopan serta harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan pemegang puncak kepemimpinan dari Wira Group itu. Seminggu berlalu sejak hari libur Jin yang mengesalkan kala itu. Dan, tanpa terasa hari ini Jin kembali mendapatkan jatah liburnya. Selama seminggu itu, Sam tidak menghubunginya sekalipun. Kalau sudah begini bagaimana dirinya akan menjalankan rencana untuk membatalkan pertunangan yang ada. Maka, hari ini, Jin berniat untuk mengacaukan jadwal kerja Sam untuk sehari agar pria itu berang kepadanya. Sekeluarnya Jin dari elevator, dirinya langsung disambut oleh pria muda, yang ia tebak usianya masih seumuran dengannya. “Silakan ikut saya.” “Kamu siapa?” Tanya JIn menyelidik. “Ryu.” Pria itu menjulurkan tangannya dengan mata yang memindai penampilan Jin dari atas ke bawah. Gadis itu hanya mengenakan jeans dengan warna yang sudah pudar dan kemeja sederhana yang Ryu tebak tidak bermerk sama sekali. Kepalanya menggeleng samar, tidak percaya kalau gadis di depannya adalah putri sulung dari salah satu konglomerat di negaranya. Jin menyambutnya tangannya dengan singkat. “Ah,” Jin manggut-manggut sembari mengikuti langkah kaki Ryu. “Jadi kamu yang namanya Ryu.” Ryu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “Cih, baru jadi assisten sudah sombong bener!” Ryu membukakan pintu untuk Jin, Mempersilakan gadis itu untuk masuk ke sebuah ruangan dengan sikap sopan. Namun tidak ada senyum sama sekali yang tersemat di wajah pria itu. Ryu hanya berwajah datar dan terlihat dingin. Dan di dalam, Jin sudah melihat Sam bersama dengan tumpukan berkas yang sepertinya sedang ia baca dengan seksama. “Ada perlu apa Jin?” Tanya Sam tanpa melihat ke arah Jin sama sekali. Satu tawa sinis lolos dari bibir Jin karena diperlakukan secara tidak sopan seperti ini. Kepalanya berputar menoleh ke belakang, masih ada Ryu berdiri tegak dengan wajah datar di belakangnya. “Kamu, ngapain masih di sini?” tanya Jin menaikkan tinggi alisnya. Belum sempat Ryu menjawab, Jin kembali membuka mulutnya. “Tolong ambilkan aku satu gelas air panas, sekarang.” “Untuk apa?” Jin menarik nafasnya seperempat kesal dengan kedua pria yang ada di ruangan ini. Akhirnya ia lebih memilih menghampiri sofa panjang yang berada di sana untuk duduk terlebih dahulu. Jin mengeluarkan sebuah cup mi instan dari tasnya. “Aku mau sarapan, buruan ambil air panas.” Ryu menatap datar sejenak pada Jin lalu beralih pada cup mi instan yang sudah ada di coffe table. Ia pun mengangguk samar bergegas keluar dengan tidak lupa menutup pintu. Perkataan Jin barusan sukses membuat Sam beralih dari berkas yang sedari tadi di bacanya. “Kamu belum sarapan? Mau aku pesanin sesuatu, maksudku biar sekretarisku—” “Gak perlu.” Potong Jin yang sudah membuka separuh dari tutup cup mi instannya. “Aku sudah bawa sarapanku sendiri.” Sam mengernyit bingung, memiringkan kepala menatap Jin membuka bungkusan sachet yang berisi bumbu mi instan dengan giginya, kemudian menuangkannya pada cup tersebut. “Apa kamu gak punya gunting, sampai harus menggigitnya?” Jin hanya mengendik cuek, kemudian Ryu datang membawakannya segelas air panas. “Kamu boleh pergi, Ryu. Dan jangan masuk sebelum aku keluar dari ruangan ini,” Usir Jin tanpa basa-basi. “Maaf, tapi—” “Kamu tau kan kalau ada cewek sama cowok berduaan di sebuah ruangan, orang ketiganya itu pastilah se-tan.” Jin mempertegas kata terakhirnya dengan menatap Ryu tajam. Belum-belum mereka berdua sudah saling memancarkan aura permusuhan. Manik Ryu sempat membola beberapa saat, hingga deheman Sam mengalihkan perhatian Ryu. “Kamu boleh keluar, Ryu.” Celetuk Sam. Ryu bergeming menatap Sam seolah tidak setuju. Kalau seperti ini, semua jadwal yang telah disusunnya akan molor dari rencana, dan Ryu paling tidak suka kalau yang telah di susunnya jadi berantakan. “Kamu …” Telunjuk Jin mengarah pada Ryu. “Lagi gak cemburu kan, aku ke sini dan cuma berdua sama Sam di ruangannya. Kalian berdua buka pasa—” “Saya permisi.” Sela Ryu merunduk sopan dengan wajah yang masih saja datar. Hati Jin tertawa penuh kemenangan, namu wajahnya datar. Ia sudah menuangkan air panas pada mi instannya dan tinggal menunggu beberapa menit hingga adonan tepung itu mengembang dan bisa disantap. “Ada perlu apa Jin.” Sam kembali mengulang pertanyaannya. “Apa kalau mau ketemu sama kamu harus ada perlu dulu? Aku cuma mau numpang sarapan di sini.” Jin bersandar menyilangkan kaki. Matanya mengedarkan pandangan melihat semua perabot yang terkesan vintage. Tak ada lagi obrolan setelahnya, hanya senyap menemani sarapan pagi Jin dengan mi instan itu. Sam masih saja sibuk dengan berkas yang sama. Tanpa menolehnya dan mengajaknya berbicara meskipun hanya berbasa basi. “Sebaiknya kamu kurangi makan mi instan, gak baik buat kesehatan.” Sam akhirnya memecah kebisuan namun dengan mata tetap lurus pada berkasnya. “Ini enak! Kamu harus coba.” Jin bangkit melangkah menuju meja Sam membawa mi instan itu di tangannya. “Coba ini.” “Aku gak makan mi instan Jin, lagipula aku sudah sarapan dengan makanan yang sudah pasti bergizi di rumah.” “Tapi kamu kan belum tau rasanya.” Jin sudah menjulurkan garpu yang berisi juntaian mi tersebut di depan wajah Sam. “Buka mulut kamu. Aa …” “Gak akan, aku gak mau ngeracuni tubuh dengan makanan seperti itu. “Cih, sombong sekali tuan besar satu ini.” Jin membatin kesal. Gadis itu tidak kehabisan akal, bagaimapun juga Sam harus memasukkan makanan yang katanya beracun itu agar dapat mencemari lambungnya. Jin melahap mi instannya lalu dengan cepat gadis itu merangsek masuk ke pangkuan Sam, membuat pria itu terkesiap. Detik berikutnya Jin sudah menyatukan bibir mereka dan …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD