Bab 3. Kedatangan Mantan

1185 Kata
Beberapa jam lagi, pernikahan Kenzie dan Leona akan berlangsung. Mereka sudah sepakat melakukan pernikahan meskipun belum bisa saling mencintai. Tapi, keduanya yakin, seiring waktu pasti bisa saling jatuh cinta. Kondisi Benjamin sudah jauh lebih baik sejak mendengar keputusan Kenzie yang bersedia menikah dalam waktu cepat. Apalagi gadis yang akan dinikahi Kenzie adalah Leona. Anak kandung Jimmy dan Tiara. Walau penampilan Leona tomboy, tapi Benjamin yakin, jika Leona gadis yang baik, yang bisa menemani hidup Kenzie hingga maut memisahkan keduanya. Tak ubahnya Jasmine, yang mampu mengubah kehidupan Kevin menjadi jauh lebih baik. Pihak keluarga Benjamin sudah mengenakan pakaian kebaya pernikahan. Mereka semua berkumpul di salah satu hotel berbintang. Ballroom hotel akan dijadikan tempat akad nikah sekaligus pesta resepsi pernikahan Leona dan Kenzie. Tentu saja pernikahan itu sangat mewah dan meriah. Sedangkan keluarga Jimmy masih di rumah. Leona yang menginginkan dirias wajahnya di rumah saja. Tidak mau di hotel. "Bibirnya jangan manyun gitu, Mbak. Biasa aja," tegur penata rias ketika hendak memolesi lipstik di bibir Leona. Gadis itu pun mengubah ekspresi bibirnya. "Jangan nyengir juga, Mbak." "Astaga, lu bawel amat sih? Tinggal polesin tuh lipstik di bibir gue. Ribetnya minta ampun." Leona sewot, kedua matanya nyalang menatap penata rias yang berdiri tepat di depannya. "Ona Sayang, jangan marah begitu. Mbak Ria bilang gitu supaya kamu jadi cantik." Tiara berusaha menenangkan anaknya. Dari dulu Leona tidak suka pakai make-up. Padahal selama ini, Tiara sering kali membelikan merk skincare ternama. Tetapi, hanya facial wash saja yang sering dipakai. Selebihnya masih menumpuk di kamarnya. "Ini nih yang bikin gue males jadi cewek beneran. Ribet!" Leona kembali sewot. "Emangnya Mbak bukan cewek beneran?" Ria kembali bertanya. "Berisik. Udah buruan kelarin!" "Ona Sayang, jangan marah-marah terus. Ya sudah, Mamah mau keluar dulu. Mbak Ria, tolong bikin putri saya cantik secantik cantiknya." "Iya, Bu." *** Selesai dimake-up. Leona mengenakan stelan kebaya untuk acara akad nikah. "Ya Tuhan, ini rok gak bisa lebaran dikit? Sempit banget, Mbak. Nantinya aku susah jalan," keluh Leona mengangkat bawahan kebaya hingga sebatas lutut. "Mbak Ona, jangan diangkat gitu. Nanti kusut," tegur Ria melihat tingkah laku Leona. Gadis itu tak menggubris, ia keluar dari dalam kamar, menggerutu tak jelas, menemui mama papanya yang menunggu di ruang tamu. Bibirnya menganga, karena lipstik yang cukup tebal. "Itu bibir kamu kenapa mangap terus, Ona?" tegur Jimmy pada anak gadisnya. Tiara menahan tawa melihat ekspresi wajah Leona. "Lipstiknya ketebelan, Pah. Lengket." Kedua mata Tiara melebar melihat pengantin wanita bagian atas sudah rapi dan cantik tapi kedua kakinya mengenakan sendal jepit. "Ona, kamu mau pake sendal jepit?" Sontak, pandangan Leona ke bawah. Melihat kedua kakinya yang mengenakan sendal jepit. "Emangnya harus pake apa?" Dalam hati, ia berharap kalau mamanya tidak memaksa mengenakan sepatu ber-hak tinggi. Namun, harapan tinggal harapan. Ria dan asistennya datang menghampiri keluarga itu membawa sepasang high heels. "Ya Tuhan, bisa keselo nih kaki. Mah, Pah, gak deh! Kalau aku pake yang begituan, kakiku bisa patah. Udahlah, ini aja. Lebih nyaman." Entah sudah berapa kali Leona mengajukan protes tentang pernak-pernik pengantin. Dari mulai pasang konde. "Ini konde siapa yang bikin, Mbak? Berat amat? Dalemnya coba aku lihat. Jangan-jangan ada batunya." Pakaian kebaya yang kena protes juga. "Duh, Mbak. Ini kebaya kecil banget. Gak ada yang longgaran dikit? Kalau sesak napas gimana? Gue bisa mati sebelum malam pertama." Belum lagi masalah rok kebaya, make-up, aksesoris, semuanya tak luput diprotes Leona Hernandes. "Leona, kamu diam aja. Jangan banyak protes! Mana ada pengantin cewek pake sendal jepit?" tegur Jimmy yang sudah pusing melihat tingkah laku anak semata wayangnya "Adalah, Pah." "Siapa?" "Aku. Aku mau jadi pengantin wanita pertama yang pake sendal jepit," kata Leona cengengesan. Jimmy dan istrinya menggelengkan kepala. Memaksa gadis itu agar melepas sendal jepit kesayangannya. "Astaghfirullahalazhim, Mah. Ampun, ah. Aku gak bisa jalan. Udah atas bawah sempit, ketat. Sekarang bawahnya malah pake yang beginian. Mah, Pah, ini mau nikahin aku apa nyiksa aku sih?" Leona memelas, menahan ketidaknyamanan yang dirasakan. "Sabar, Ona sayang. Cuma sebentar kok. Nanti kalau acaranya udah beres, kamu bisa lepas sepatunya, bisa lepas kebayanya. Oke?" Akhirnya Leona pasrah. Berjalan tertatih-tatih mengikuti langkah kedua orang tuanya yang berjalan lebih dulu. Tiara menoleh ke belakang, melihat Leona berjalan mengangkang. "Mas, Ona pake sendal dulu deh. Kasihan dia. Nanti dikira, Ona udah gak perawan gara-gara jalannya mengangkang gitu," bisik Tiara melihat anaknya yang berjalan di belakang menuju mobil yang akan mengantarnya ke ballroom hotel untuk acara akad nikah. Jimmy juga merasa kasihan. Menganggukkan kepala pertanda setuju. Bergegas, Tiara menghampiri Leona. Berjongkok, mengambil sendal yang disimpan dekat pintu depan rumah lalu disuruh melepas sepatu pengantin. "Buka, Nak. Pake sendal aja dulu," ujar Tiara berjongkok di depan anaknya. Leona bernapas lega, tersenyum manis. "Alhamdulillah, dari tadi ke, Mah." *** Akad nikah berjalan dengan lancar. Para tamu undangan mengucapkan selamat pada pengantin. "Leo, lu cantik juga jadi pengantin," bisik Kenzie saat menyalami para tamu undangan. Leona memutar bola mata malas mendengar ocehan Kenzie yang sekarang telah sah menjadi suaminya. "Sorry, gue gak geer," timpal Leona sambil memaksakan bibir tersenyum pada semua orang yang berada di ruangan itu. Kenzie tiba-tiba mendaratkan kecupan pada pipi kanan Leona. Sontak saja, kedua mata Leona melotot, menginjak kaki Kenzie. Spontan, Kenzie menjerit kesakitan. "Kamu kenapa, Ken?" Jasmine yang berdiri tidak terlalu jauh dari anak tunggalnya terlihat cemas. Kenzie meringis, tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Sedangkan Leona, tampak ketakutan karena perbuatannya sendiri. "Gak apa-apa, Mah. Cuma kegigit semut." "Semut? Yang bener?" "Bener." "Oh ya udah. Kalian sabar dulu, ya? Sebentar lagi juga acaranya selesai," ucap Jasmine dengan senyum bahagia. Dia sangat bersyukur karena pada akhirnya dapat berbesan dengan sahabatnya sendiri. Begitu pula Tiara dan Jimmy. Mereka pun tak kalah bahagia. Kedekatan mereka semakin erat oleh tali pernikahan Leona dan Kenzie. Kini, pasangan pengantin itu duduk. Mereka berusaha menunjukkan kebahagiaan sambil menikmati alunan musik yang syahdu. "Ken, kita pergi duluan, yuk! Gue gak nyaman sama pakean ini." Leona mengeluh, tak sabar ingin mengganti pakaiannya. Kenzie tersenyum nakal mendengar keluhan istrinya. "Jadi, lu pengen cepet-cepet main buka-bukaan?" Goda Kenzie setengah berbisik. Kalau tidak banyak orang, ingin rasanya Leona menoyor kepala Kenzie yang akhir-akhir ini isinya m***m. Leona tak menanggapi. Ia memilih diam sambil membuang muka. Tidak berselang lama, sahabat mereka Yusuf Abdillah mendekati. Teman kantor atau bisa dikatakan kaki tangan Kenzie selain Leona. Mereka biasa memanggil Usup. "Ada apa, Sup?" tanya Kenzie melihat raut wajah sahabatnya yang tampak cemas. "Ken, di luar ada Melisa. Dia maksa masuk ke dalam sini." Leona menoleh, mendengar nama mantan kekasih Kenzie yang tiga tahun lalu pergi tanpa pesan, kini justru kembali disaat Kenzie sudah menikahinya. "Lu gak salah lihat?" Kenzie bertanya balik. "Enggak." Pandangan Leona langsung menuju arah pintu masuk. Terlihat seorang wanita yang usianya sebaya dengannya melenggang anggun memasuki ruangan, dan berjalan menuju pelaminan. "Ken, itu Melisa." Suara Leona terdengar parau. Ia menelan saliva melihat Melisa yang semakin cantik dan anggun. Kedua mata Yusuf membeliak. Tidak menyangka gadis yang dulu teramat dicintai Kenzie, nekat masuk ke dalam ruangan acara resepsi. Yusuf pamit, pergi menjauh dari sepasang pengantin. Tidak hanya Kevin dan Leona yang terkejut, dua belah pihak keluarga pun terkejut melihat kedatangan Melisa Darmawan. Wanita yang dulu pernah menjalin kasih dengan Kenzie Ivander Khaled. "Ken?" panggil Melisa saat berdiri tepat di depan Kenzie. "Melisa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN