Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookie Anda
Pengaturan cookie yang diperlukanSelalu Aktif
ic_arrow_left
Cerita Oleh Dinis Selmara
Dinis Selmara
330Pengikut
17.6KBACA
TENTANGquote
Hai, Kak, salam kenal, aku Dinis. Mampir, yuk, di ceritaku, hanya ada di Innovel dan Dreame. Sebagai bentuk apresiasi Kakak terhadap karyaku silakan tap💜 di cerita yang sedang dibaca, ya, terima kasih.
Yang mau menambah pertemanan boleh banget, loh, ikuti aku di sos med :
Dinis Selmara : Face book
Dinis_Selmara : Tik tok dan Insta gram
Sayang banyak-banyak 😍
“Ini kunci kamarmu,” ucapnya dingin, menyerahkannya pada Nayla.Di dalam lift, hening kembali menyelimuti mereka. Nayla tidak heran. Ia tahu Raivan tak mungkin mau sekamar dengannya. Tepat ketika mereka keluar dari lift, Raivan menahan lengannya.“Kita pisah kamar. Jangan pernah berharap ada malam pertama,” katanya tegas.“Tentu. Aku cukup sadar diri. Bahkan sampai sekarang pun aku masih belum tahu fungsi dari pernikahan ini apa,” balas Nayla, menatap tajam.“Kamu … kamu hanya simbol bukti cintaku pada Salsa yang hanya akan menjadi pajangan di sudut rumah!” balas Raivan.
Lukas tersentak bangun saat merasa sesuatu melingkar di lehernya. Ia membuka mata dan menemukan Anin dengan wajah penuh kemarahan sedang mencekiknya. "Siapa kamu sebenarnya, huh?" seru Anin, suaranya penuh tuduhan. Lukas berusaha melepaskan cengkeraman tangan Anin, tapi gadis itu semakin mempererat cekikannya. Bahkan Anin berani menimpa tubuh Lukas. "Kamu mau menculik saya? Kamu pasti komplotan pencuri gadis dan menjualnya, ‘kan?" Anin menatapnya dengan kebencian yang menyala-nyala.
"Le—pas! Aku ... su—susah bernapas ...." Lukas berusaha berbicara di sela napasnya yang semakin tersengal.
“Ternyata waktu itu kamu sedang menghipnotisku agar bisa menculik dan membawaku ke sini. Dasar lelaki gila—”
Sekali gerakan cepat, Lukas berhasil membalikkan tubuhnya dan mengunci pergerakan Anin, menindih gadis itu.
Anin memberontak, tapi kekuatannya tak sebanding dengan Lukas. Gadis itu terperangkap di bawah tubuhnya, matanya membelalak penuh amarah, sedangkan Lukas dengan napas terengah-engah berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi paru-parunya yang hampir kosong.
"Kenapa kasar sekali jadi wanita, hmm?" kata Lukas, matanya menatap lekat Anin yang masih mencoba melawan. "Bukankah kamu ingin menemui tunanganmu, Sayang?"
Anin berhenti meronta sejenak, kebingungan. Lukas mengeluarkan ID card perusahaannya—memperlihatkan kepada Anin.
Mata Anin membulat sempurna terkejut menyerap informasi yang dia baca.
CEO Samudera Teknologi a.k.a Universal Teknologi.
"Anindita Haningrum, aku tidak menyangka tunanganku ternyata secantik ini.”
“Ah …!” Aku berteriak lalu dengan cepat meraih tas dan memukulinya.
Dasar pria mesum! Bisa-bisanya dia masuk ke toilet wanita dan memandangiku selekat
itu. Aku terus memukulinya, tapi dia tetap bergeming. Tanpa diduga, dia lantas
menuntunku hingga ke arah pintu dan membukanya lebar. Tanpa sepatah kata, dia
menunjuk tulisan di depan pintu “toilet pria” lengkap dengan ikon kepala pria. Aku
menutup mulutku tak percaya, bisa-bisanya aku salah masuk toilet, padahal sudah
hampir tujuh tahun aku bekerja di sini.
Dengan menyembunyikan semburat merah di wajahku, aku berbalik mengambil barang-
barangku yang tertinggal di meja westafel, lantas bergegas keluar. Namun, langkahku
terhenti saat pria itu menghalangi jalanku. Dengan lancang dia mengambil jaket di
tanganku dan menutupi bagian depan tubuhku.
Dia sedikit menunduk mendekat ke arah telingaku. “Kemejanya belum terkancing
sempurna,” bisiknya.
Sialan! Kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu. Namun, sepertinya takdir sebercanda
itu kepadaku. Double shit! Dosa apa diriku, Tuhan?
Cover by Shenaarts
Setibanya di rumah orang tua Aira, perasaan Abi tak enak. Rumah itu kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan. Abi mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Hingga suara yang sangat dia kenal menyapa, “Den Abi.” Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu membuka pintu utama. “Ibu dan Bapak sudah berangkat ke Singapura. Keadaan Non Aira semakin memburuk, Den.”
"Memburuk?" Abi bertanya, tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Pikiran Abi berputar, mencoba memahami situasi ini. Aira sakit apa? Mengapa dia tidak tahu? Mengapa Aira tidak pernah bercerita?
Untuk kesekian kalinya Abi menghubungi papa mertuanya, dia bernapas lega karena pada akhirnya panggilannya terhubung.
“Papa, tolong beri tahu Abi! Aira di mana, Pa?” lirihnya bahkan tanpa menyapa.
“Maafkan Papa, Abi.” Abi memejamkan matanya, darahnya berdesir mendengar penjelasan papa mertuanya tentang keadaan sang istri.
Ada apa dengan kisah cinta Abi? Akankah Abi menemukan kebahagiaannya?
“Kamu tidak paham bahasa atau bagaimana? Kamu tidak ingat apa yang saya sampaikan tempo hari tentang caramu berpakaian?”
“Maaf, Pak, saya pikir pakaian yang saya kenakan masih cukup sopan. Dan—“ Aku menjeda kalimatku menarik napas, tiba-tiba saja aku tersulut emosi. “Selama saya bekerja di sini tidak ada larangan mengenai cara berpakaian selagi itu sopan. Bisa Bapak jelaskan apa yang salah dari pakaian saya contohnya yang saya kenakan hari ini?” Kak Damar menatapku, tatapannya, entahlah, aku sulit mengartikannya.
Suara lift terdengar, tandanya ini sudah tiba di lantai tempat ruanganku berada, aku tetap saja diam di tempat. “Ini lantai kamu,” ujarnya.
Saat pintu lift terbuka dan tak ada orang lain yang akan menggunakan lift, aku kembali menutup pintu lift. “Jawab, Kak Damar.” Aku menatapnya letak, raut wajahnya berubah mendengar aku menanggilnya dengan sebutan kakak, dia tampak sedikit gugup lalu kembali menampilkan wajah ketus.
“Saya ini atasan kamu, Jingga. Bersikaplah lebih sopan, hubungan kita sebatas atasan dan karyawan. Jadi, apa pun yang saya sampaikan ke kamu, termasuk ucapan saya tempo hari semata untuk kepentingan perusahaan. Jangan terlalu percaya diri!” Begitu pintu lift terbuka dia berlalu meninggalkanku.
Cover by. Lanamedia.id
Diakah Ardika Jayendra? batinku.Aku mengedikkan bahu acuh lalu naik ke lantai dua untuk mengganti pakaianku. Karena ini bukan acaraku, aku tidak berias, tapi tetap berpenampilan pantas, Mama yang menyiapkannya.Begitu aku keluar dari kamar menuju halaman samping rumah tempat pertemuan berlangsung, suasana mendadak ricuh juga tegang bersamaan. Mama terlihat panik, sibuk dengan ponsel di tangannya, begitu juga Papa. Kedatanganku menjadi pusat perhatian semua yang berada di taman, membuat aku membeku saat semua mata tertuju padaku.“Siapa dia?” tanya lelaki yang aku kira dia adalah Ardika Jeyendra dengan tatapan sinis.Mama menarikku mendekat ke arahnya dan merangkulku—memperkenalkanku kepada semua orang.“Ini anak bungsu Tante, Ar. Asya, adik Shafeeya. Mbak Ajeng, Mas Prastyo mohon bersabar, ya. Kami masih mencoba menghubungi Feeya.” Suara Mama terdengar bergetar.Ada apa ini? Aku juga bingung dengan keadaan ini.“Kalau begitu, Asya saja yang menggantikan Feeya.” Aku mengerutkan kening mendengar lelaki berwajah sinis itu bicara. Apa maksudnya menggantikan? Lelaki itu bangkit dari duduknya dan mendekat ke arahku. “Apa kamu menjalin hubungan dengan seseorang?”Aku sempat melihat ke arah kiri dan kanan memastikan kalau tidak ada orang lain yang dia ajak bicara lalu menggeleng.Dia mengangguk lalu berkata, “Bagus. Gantikan Feeya dan menikahlah dengan saya.”Heh, apa-apaan dia ini?
Aku paham, siapa yang tidak kecewa saat lamarannya ditolak? Namun, mengapa begitu sulit baginya untuk memahami perasaanku? Aku mencintainya, hanya saja aku tidak mungkin melawan restu.Tangisku kembali pecah saat melihat dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi tanpa melihatku. Aku mengecek ponselku, barangkali dia menghubungiku, ternyata saat ini ponselku dalam keadaan mati.
“Sial,” kesalku saat menyadari ponselku kehabisan daya.Aku terduduk di parkiran tak jauh dari gerbang restoran, tiba-tiba saja setitik demi setitik air hujan turun membasahi tubuhku. Aku tidak berniat menepi untuk berteduh, hingga seseorang berdiri di hadapanku dan hujan tidak lagi membasahi tubuhku.Aku mendongak dan mendapati orang yang paling aku benci tepat di hadapanku. Alih-alih berterima kasih karena sudah dipayungi, aku berdiri, melayangkan telapak tangan kananku, hingga meninggalkan jejak kemerahan di pipinya.
“Semua ini gara-gara Anda! Pergi dari hidup saya! Pergi!”
Aku membencinya dan juga takdir yang menuntun dia padaku. Aku ingin dia enyah dari hidupku, bolehkah?
Cover by.tsani
“Apa-apaan kalian!”
“Mama … Papa ….”
Aku maju selangkah untuk menutupi tubuh Nada dan memberi pakaiannya.
Wanita yang Nada panggil Mama itu mendekat dan menariknya menuju kamar.
“Papa,” lirihnya. Pria paruh baya itu hanya mengangkat tangannya dan sang Mama kembali menuntun Nada masuk ke dalam kamar.
Di sinilah aku sekarang, duduk berdua dengan Om Sagara, papa Nada. Aku sudah memperkenalkan diriku. Saat aku hendak bersuara menjelaskan kejadian tidak pantas untuk dilihat tadi, Om Sagara terus menahanku.
Sebenarnya aku sedikit bingung dengan situasi ini, alih-alih mendengar penjelasanku atau menegurku. Lelaki paruh baya itu menyajikan minuman hangat untukku.
Mama Nada keluar dari kamar, beliau mengatakan Nada menangis hingga tertidur.
“Pernikahan kalian akan digelar sabtu depan.”
Pernikahan?
Takdir seperti apa ini? Akrab saja tidak, tiba-tiba tanggal pernikahan sudah ditetapkan.
Cover by. Tsani