Wanita Pembawa Kematian

1521 Words
Nirmala duduk di atas pulau kapuknya, memeluk kedua lutut dengan rambut yang acak-acakan. Netra birunya itu terus mengeluarkan bulir air mata, pikirannya mengawang kejadian pahit yang datang bertubi-tubi. Penyesalan begitu dalam menjerat hati si janda kembang, seharusnya dia tidak menerima lamaran Rian dan mau menikah lagi. Mungkin kejadiannya, tidak akan seperti ini. Bisa saja pujaan hatinya saat ini masih hidup, bila hari itu tidak ada pernikahan. Padahal semua cara sudah ditempuh untuk menangkal kesialan dalam dirinya. Dia sudah menutup mata batin supaya tidak melihat makhluk astral di sekitarnya. Rian adalah sosok lelaki yang manis, giat bekerja, dan baik sekali. Nirmala sungguh mencintai lelaki yang bekerja di sawah milik sang ayah, mampu meluluhkan hatinya dengan kesederhanaan lelaki itu. Nirmala ingin membuka lembaran baru karena desakan dari orang tuanya yang ingin melihat anak gadis mereka segera menikah dan menggendong cucu. Namun, akhirnya azal telah menjemput suami ke sembilannya itu secara misterius, dan Nirmala kecewa untuk kesekian kalinya, menelan pil pahit. Suara ketuk pintu dari sang ibu dan derit pintu terbuka. Ibu Nirmala berdiri di ambang pintu sembari membawa segelas teh manis hangat. "Neng, ada tamu itu. Mereka cuma mau bertanya sebentar saja, keluar yuk. Tapi, minum dulu tehnya supaya kamu tenang!" ajak sang ibu mengulas senyum. Nirmala menggelengkan kepalanya, mengerucutkan bibir mungilnya, dan memalingkan wajah ke arah luar jendela yang sebentar lagi terik matahari akan ada di atas kepala. "Bunda, Neng nggak mau ketemu sama mereka. Ini adalah kisah yang seharusnya tidak boleh orang lain tahu, sangat menyakitkan kalau harus mengingat semua dari awal. ini bukan salahku, Bun," protes si gadis bermata belo itu sembari mengusap air matanya yang masih deras dari pelupuk matanya. Ibu Nirmala menatap nanar anaknya dan dia duduk di tepi ranjang seraya mengusap lembut pemilik rambut cokelat itu yang terus menangis terisak-isak, karena dia juga merasakan kepiluan. Lantas dia mendekap Nirmala erat. "Sabar, Neng. Jodoh, rezeki, dan maut sudah tertulis di lauhul mahfudz. Akan ada masa indah itu dan kamu akan bahagia," bisik sang ibu mendekatkan bibirnya ke telinga Nirmala. Janda kembang itu menggelamkan wajahnya ke d**a sang ibu sembari tangannya melingkar ke punggung wanita yang sudah melahirkannya. Rosa yang sudah sadar dari pingsannya, dia bangkit. Lalu, celingukan melihat sekeliling banyak pria tampan yang sedang duduk berbincang dengan ayah Nirmala. Lantas dia pun lari menuju kamar sahabatnya sembari memegang hidung yang masih keluar cairan merah pekat. Rosa merasa kaku ibarat menjadi patung di antara opa Korea made in Jakarta, bila harus berhadapan dengan Akmal. "Mala, hidungku mimisan terus, nih," keluh Rosa berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. Nirmala yang masih mendekap sang ibu. Akhirnya, menoleh ke arah Rosa yang sedang berdiri. Sebelah alisnya naik seraya memicingkan mata. Lalu, beranjak dari tempatnya itu dan menarik tangan wanita hitam manis berambut panjang. "Kamu itu alergi melihat yang ganteng. Mendingan bertelur di sini saja," sahut Nirmala memberi perintah supaya Rosa duduk manis di kursi depan kaca rias. Rosa duduk di kursi terbuat dari jati dan menggeleng kasar. Sebenarnya dirinya bergejolak ingin melihat manusia langka yang datang ke desa mereka alias pria tampan. "kamu kira aku itu ayam harus ngeramin telur di sini," decak kesal Rosa menyilangkan kakinya. "Ayo, Nirmala. Ngobrol sebentar saja dengan mereka!" ajak Ibu Nirmala menarik tangan sang anak dengan lembut. Janda kembang itu mengangguk pelan beranjak keluar kamar mengekori langkah sang ibu. Sebelum keluar dari kamar, dia memutar badan, dan tangannya meraih botol kecil, lalu disemprotkan ke tubuhnya. Rosa yang melihat kelakuan sang sahabat langsung menutup hidung. "Ya ampun, ini pake minyak nyongnyong segala lagi!" pekik Rosa sembari menutup indra penciumannya. Wanita berambut cokelat itu terkekeh mendengar ucapan sang sahabat. Dia sengaja supaya orang yang ada di depannya segera menjauh ambil langkah seribu. Kini Nirmala sudah duduk manis di atas sofa berwarna putih, duduk mendekat ke arah sang ayah, tepat di depannya ada tiga pria dan seorang wanita hijabers. Dia melempar senyum simpul memperhatikan tamu yang tadi pagi ditemui di tengah jalan. "Nirmala, maaf kalau saya lancang bertanya kepadamu. Bagaimana perasaanmu disebut wanita pembawa kematian?" tanya Akmal menatap lekat ke arah mata sang janda kembang yang masih gadis. Nirmala mendadak tubuhnya bergetar, bibirnya kelu, dan tidak terima dengan pertanyaan Akmal yang di luar dugaannya. "Lancang sekali kamu bilang aku pembawa kematian!" bentak Nirmala sembari mendebrak meja, sehingga makanan, dan minuman di meja berhamburan terbang terjatuh ke lantai. "Suami kamu sembilan mati semua? Apa itu bukan pembawa kematian?" cerca wanita yang memiliki mata elang yang duduk di samping Akmal. "Kalian kalau datang ke sini cuma hanya untuk memojokkan putri saya, silakan keluar!" Ayah Nirmala mengusir sembari tangannya menunjuk ke hidung Akmal. Nirmala menatap tajam ke arah wanita berhijab itu. kata-katanya begitu tajam seperti mata pisau yang baru diasah. Lalu dia pun berdiri ingin memutar badan, tetapi tangan kekar mencengkram lengan putihnya. "Kamu tidak boleh pergi sebelum menjawab semua pertanyaanku. Saya datang ke sini sudah dapat surat izin dari pak Ridwan untuk datang ke sini dan kalian tidak bisa mengusir kami begitu saja!" Akmal dengan suara lantang menegaskan. Pak Ridwan---Kepala desa Sukaratu adalah pamannya Akmal. Jadi pemuda itu bisa leluasa menyelidiki hal yang ganjil ada di kampung janda tersebut. "Kaya bau kentut, yah!" seru Bobon---teman Akmal berbadan gemuk sambil menutup hidungnya. Semua orang yang ada di ruangan tamu menutup hidung masing-masing, kecuali Nirmala, ternyata minyak nyongnyong yang diramu dari daun kentut itu diolah sebagai parfum, berhasil membuat tamu Jakarta yang dari tadi mengusik privasinya. Mendadak mual sambil keluar rumah, gara-gara menghirup seperti bau telur busuk. Ibu Nirmala menggelengkan kepalanya kasar menatap Nirmala. Dia tahu ini adalah kelakuan anak gadisnya. "Aku menyesal membawamu ke sini dan bersikap ramah sama kalian. Kalau cara pertanyaan itu cuma memojokkan saja, dasar orang kota sombong!" usir Nirmala dengan lantang dan menutup daun pintu ruang tamu. Akmal menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, menatap tajam ke rumah Nirmala. Teman-temannya masih berdiri mematung di belakangnya. "Nirmala, kami akan tetap menunggu di luar!" teriak Akmal mengentakkan kedua kakinya. "Punten, mangga, salak, duren, rambutan, kelengkeng, pisang, jeruk, apel, dan kolang-kaling!" teriak Bonbon terus mengulang-ulang kalimat yang sama. Akmal menoyor kepala Bonbon. "Hei, kita bukan lagi jualan buah-buahan. Bersikap agak tegas, dan berwibawa, dong!" "Lha, kalau di sunda 'kan ada kata punten dan jawabannya mangga. ya, gue meneruskan saja nama buah-buahan itu. Maklum jiwa dagang gue meronta-ronta," timpal Bonbon sembari nyengir kuda. Nirmala yang mendengar teriakan kaleng bekas dari mulut Bonbon memancing emosinya, lalu dia merogoh benda pipih di saku celananya dan langsung menghubungi Malik---penjaga kerbau milik ayahnya. "Bawa si Denok, Camelia, dan o***g ke halaman rumahku. Lepaskan mereka, supaya orang kota bisa berkenalan dan tahu betapa centilnya kerbau kesayanganku," perintah Nirmala di ujung telepon. Suara bariton dari seberang telepon itu menjawab. "Baik, Neng Mala. Apa sih yang enggak buat wanita secantik kamu?!" Nirmala langsung memencet tombol merah di ponselnya dan merasa merinding mendengar gombalan Malik, memang sudah lama bujang itu mengejarnya, tetapi dia menganggap bahwa Malik adalah hanya saudara. Wanita berhidung mancung itu mengintip dari balik tirai ketika memandang pemandangan di halaman rumahnya, ada senyum menyeringai dari sudut bibir seksi Nirmala. Akmal dan teman-temannya sedang lari terbirit-b***t karena dikejar oleh kerbau genit. "Huwaaaa ... kebo jangan ngejar gue. Badan kita sama gede!" teriak Bonbon sambil lari tunggang-langgang, lalu lari di tempat, karena sudah kelelahan, bobot tubuhnya tidak bisa diajak untuk lari jauh lagi. "Kebonya jomlo nih, tahu saja sama ganteng kaya gue." Akmal melempar batu ke arah Denok. Namun, nyatanya kerbau putih itu tidak pantang mundur terus mengejar pria yang paling sipit di antara yang lain. Akmal dan teman-temannya lari masuk ke area kebun jagung. Mereka sembunyi di antara pohon jagung yang sudah menguning. Lima menit, hingga tiga puluh menit. Napas tersengal-sengal dengan diselimuti ketakutan. Ternyata sudah tidak terdengar lagi suara lari kerbau-kerbau itu, dan mereka pun menghela napas lega sembari saling memandang. Lantas mengendap-endap melangkah keluar dari kebun jagung dengan tubuh gatal-gatal karena ulat bulu yang menempel di kulit. Sedangkan, di lain tempat. Di sebuah kamar bernuansa hijau muda suara tawa membahana ke seluruh penjuru ruangan, dua janda kembang sedang menertawakan betapa lucunya membayangkan orang Jakarta harus lari marathon dikejar kerbau genit. Apalagi si Denok, sangat centil sekali sama yang tampan. "Idenya dapat dari mana, Mala? Pasti sekarang mereka sedang katakutan." "Aku kesal sekali sama pria yang bermata sipit itu. Omongannya itu nyelekit sampe ke ulu hati," jawab Nirmala berkacak pinggang dan bibir mungilnya mengerucut. "Kamu harus membuka mata batinmu lagi, supaya bisa berkomunikasi dengan roh para suamimu itu," cetus Rosa dengan sangat hati-hati memberi saran, takut sang empu kamar marah. "Kamu gila yah, kalau aku membuka mata batin ini. Pasti setiap hari digangguin mereka, ih serem, kalau minta jatah bobo gimana?" Nirmala memukul Rosa dengan bantal beberapa kali. Membayangkannya saja sudah merinding, harus bersenggama dengan sembilan makhluk tak kasat mata, membuat janda kembang itu menolak mentah-mentah ide konyol sahabatnya. Rosa terdiam sesaat. Lalu, melempar senyum genit, dan mengedipkan mata. "Besok, aku ajak kamu ke Mbah Parit. Dia paranormal, mungkin bisa lewat dia kita tanya roh suamimu. Kenapa mereka mati?!" "Aku nggak mau." Tolaknya sambil memalingkan wajah. "Emangnya kamu mau kalau disebut wanita pembawa kematian?" Ide Rosa membuat hati Nirmala gamang dan bimbang. Dia pun tertegun dan berusaha menyelisik lebih dalam lagi. Sebenarnya Nirmala ingin tahu penyebabnya, kenapa harus menelan pil pahit yang ditelan olehnya di malam pengantin?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD