Bekerja

1951 Words
“Baiklah Jongin, aku akan menghubungimu lagi nanti.” Selama Tuannya berada di Korea menelpon, pandangan Kai tidak lepas dari salah satu pintu flat sederhana yang berada di lantai dua di depannya sekarang. Ternyata dugaan Kai benar. Ibu dari cucu Tuannya itu hanya mengantar pulang Joevanca lalu kembali ke tempat kerja. Pada awalnya Kai memerintah bawahannya untuk mengikuti Jae. Tapi sekarang ia sendiri yang ingin mengikuti, entah atas dorongan apa Kai akhir-akhir ini mengikuti wanita itu. Kai akui wanita bernama Jaevyna itu manis, bahkan cantik saat tersenyum. Sesekali ia pernah menyapa atau membantu Jae disaat kesusahan di perjalan pulang atau pergi ke tempat kerjanya. Dan sekarang Kai malah ingin menyapanya lagi, hanya berbasa-basi dan berbagi keluh kesah saat bekerja. Bukan hanya menyapa tapi juga ingin melihat senyuman cantik Jae yang mampu menggetarkan hatinya. Entah kenapa Kai merindukan senyum itu. "Baiklah Kai, tenangkan hatimu. Ini sebuah pekerjaan, bukan mencari jodoh." Kai bergumam pada dirinya sendiri dengan tangan mengusap d**a. Langkah kakinya ia percepat menyajarkan dengan Jae yang terlihat terburu-buru menuju bus yang terhenti di depan halte. Jae memasuki bus lalu menduduki salah satu kursi belakang yang tak berhuni. Tanpa ragu Kai mendaratkan pantatnya di samping Jae, dan wanita itupun menoleh padanya. "Astaga kau mengagetkanku, sedang apa kau disini? Mengikutiku?" Tanya Jae yang membuat Kai terkekeh. "Jangan terlalu percaya diri! Aku hanya ingin pergi ke suatu tempat dan kebetulan aku melihatmu memasuki bus yang sama." Alasan Kai yang langsung diangguki oleh Jae. "Memangnya kau mau kemana?" Tanya Jae. "Kenapa? Ingin menemaniku?" Pertanyaan Kai dengan menaik-turunkan alisnya. Jae mengerutkan keningnya, benar-benar terlalu percaya diri pria ini. "Berhenti menggodaku!" menoleh ke arah Kai dengan jengah. Kai tertawa, "Aku hanya mengikutimu," ucap Kai santai. Mata Jae semakin tajam menatap Kai, ia sedang tidak ingin bercanda karena moodnya masih kurang baik mengingat perdebatan singkatnya dengan Bella tadi pagi. Merasa sadar kelepasan saat bicara, Kai mencoba melontarkan beberapa alasan. "Majikan di tempat kerjamu itu adalah pemilik flat yang aku tempati sekarang." Ungkapan Kai yang membuat Jae meragukan ucapan pria ini. "Hanya membayar cicilan padanya, dia ingin aku mengantar uangnya langsung di restaurant Pizza miliknya." "Aku akan percaya kali ini." Ucap Jae menyerah. Bus yang mereka naiki pun berhenti di salah satu halte. Mereka turun berjalan menuju salah satu restauran Pizza yang cukup ramai dimana tempat Jae bekerja. "Kau sudah datang, Jae? Cepat sekali, dan siapa pria yang bersama-mu itu?" Sapa salah satu pria teman kerjanya bernama Daniel yang berprofesi sebagai pelayan disini. "Jika tidak cepat aku tidak enak dengan Tuan John. Oh iya, dimana Tuan John? Pria ini mau membayar cicilan flatnya," Jae menunjuk ke arah Kai yang berdiri dibelakangnya. "Kai? Ada keper--" "Ah...h-hai Tuan John, aku ke sini ingin membayar cicilan flat!" Kai dengan cepat memotong sapaan John dengan ekspresi wajahnya seolah memaksa John untuk menyetujui perkataannya. Kening Daniel berkerut merasa bingung. "Bukannya Tuan John tidak mempunyai flat?" Gumam pria muda itu menatap keduanya lalu kembali dengan pekerjaannya. "Kalau begitu saya kembali bekerja." Pamit Jae pada kedua pria didepannya. "Apa kau sudah makan siang?" Tanya Kai cepat yang membuat langkah Jae terhenti. "Sebelum bekerja aku makan sebentar, kenapa?" "Kalau begitu...makan sianglah bersamaku. Aku juga belum makan siang," ajak Kai membuat mata Jae terbuka lebar lalu melirik kearah majikannya yang sedang memperhatikan mereka bicara. ‘Bukannya dia ada urusan dengan Tuan John? Kenapa dia mengajakku makan siang bersama?’ Batin Jae. Seolah mengerti Kai menoleh kearah John yang masih berdiri di sampingnya. "Bolehkah aku meminjam karyawan anda sebentar Tuan John? Bagaimana urusan kita nanti setelah makan siang saja?" Permintaan izin Kai langsung diangguki oleh John dengan senyuman penuh arti. "Bawa saja dia sesuka hatimu Kai, waktumu hanya 1 jam. Dan ada beberapa penjelasan yang harus kau ceritakan padaku." Gurauan John yang membuat Kai terkekeh. "Thanks Mr. John yang baik hati. Ayo Jae," ucapan Kai seperti dibuat-buat. John adalah teman Kai sejak kecil, karena Kepala Kim—Ayah Kai berteman dengan Ayah John, entah apa yang membuat mereka berteman hingga sekarang. Jika kalian berpikir Kai yang memberikan Jae pekerjaan disini, maka jawabannya adalah benar. Ia meminta John untuk menerima Jae bekerja disini karena perintah Sungjin agar memudahkan Kai memantaunya. Jae tidak bisa menutupi rasa ketidak nyamannya dengan Tuan John. Tapi majikannya itu hanya mengangguk dengan senyum tipisnya meminta untuk menerima ajakan Kai. "Kalau begitu saya pergi makan siang dulu, Tuan." Pamit Jae lalu berjalan memnyusul Kai yang sudah berjalan menuju pintu keluar. *** "Kau ingin makan sesuatu?" tanya Kai yang sedang mengarahakan pandangannya pada menu. Mereka sekarang berada di salah satu tempat makan yang tidak jauh dari tempat kerja Jae. Bukannya menjawab pertanyaan Kai, "Apa kau memang sedekat itu dengan majikanku?" Jae menanyakan sesuatu yang sedari tadi ada di kepalanya. Pada awalnya Jae juga merasa kalau Kai bukan orang biasa saat pertama kali melihat pria itu memakai setelan jas lengkap dengan sepatu mengkilap dan jam tangan yang Jae ketahui itu bukan merk biasa. Namun saat pertemuan selanjutnya pria itu memakai pakaian santai layaknya pria dewasa berjalan menikmati waktu senggangnya yang membuat Jae tak lagi merasa canggung dengan pria ini. Kai mengangkat kedua bahunya acuh. "Begitulah, orang tua kami berteman ketika kami masih berumur 10 tahun, dan kamipun berteman." Jelas singkat Kai yang diangguki paham oleh Jae. Drrrtt drrrtt.. "Ti--" suara Jae tertahan karena Kai tiba-tiba meraih ponsel di kantong sakunya. Ekspresi Kai sedikit terkejut saat melihat nama yang tertera dilayar handphonenya. ‘Sammy?’ batin Kai. "Pesan apapun yang kau inginkan, karena aku yang meminta di temani, jadi aku yang traktir. Aku ke toilet sebentar," Kai beranjak menuju toilet pria dan mengangkat telpon Sammy yang ia yakini menanyakan pekerjaan. Jika Sammy menghubunginya sudah pasti akan menanyakan peningkatan perusahaan yang sedang ia tangani di New York ini, atas perintah David. Di New York, Kai mempunyai dua tugas yang sama-sama memiliki tanggungjawab yang besar dan Sungjin mempercayakan itu padanya. Itu karena Kai adalah salah satu anak dari Ketua Kim Junghyun—asisten pribadi Sungjin yang sudah setia menemani keluarga Park sejak 40 tahun lamanya. “Hallo, Sam?” "Hey Kai, bagaimana kabarmu?" "Kabarku baik. Bisa cepat sedikit, Sam? Seseorang sedang menungguku." "Wow sabar Kai, apa seseorang yang sedang menunggumu itu perempuan?" "Berhentilah menggodaku Sammy!" "Baiklah aku akan serius kali ini." "Cepatlah aku tidak punya banyak waktu, kalau kau ingin membahas masalah perusahaan, aku akan menelpon mu lagi nanti jika aku sudah di kantor." "Bukan Kai, ini mengenai Tuan Park dan Tuan David." "Ap--" "Tuan Park sudah memberitahu semuanya pada Tuan David." Potong Sam dari seberang sana. "Maksudmu 'semuanya'?" Kai membisu setelah mendengar suara teman sepekerjannya di ujung sana. Semuanya, apa itu benar-benar semuanya sama seperti apa yang Kai pikirkan? "Ya, semuanya." Sungjin memang pernah menyinggung masalah pengakuan hal ini beberapa minggu lalu, Kai pikir itu hanya gurauan karena mengeluh akan penyakit jantungnya yang semakin parah. Ternyata ucapan itu benar-benar serius, buktinya sekarang Kai mendapat kabar yang mengejutkan seperti ini. "Lalu apa yang dikatakan Tuan David?" Ucap Kai hati-hati. Jujur saja Kai benar-banar ingin tahu respon David mengingat pria itu tidak mengetahui sama sekali tentang hal ini, dan tindakan apa yang akan diambil oleh anak dari Tuannya itu, mengenai darah dagingnya yang selama 6 tahun sudah tumbuh menjadi seorang anak kecil tampan yang bernama Joevanca itu. Kai heran mengapa Sungjin begitu egois menutupi ini semua selama 6 tahun pada Putranya sendiri, yang menurut Sungjin  demi ketenangan hidup David. Padahal itu adalah alasan sangat tidak logis pikir Kai. Pada awalnya Kai sendiri yang ingin memberi tahu David akan hal ini, mengingat anak Tuannya itu berhati besar seperti sang Ibu. Karena hati Kai mengecil melihat seorang wanita berjuang menempuh hidupnya sendirian demi membesarkan Putra sematawayangnya. Tak hanya itu, Kai juga ingin melihat Joe mendapatkan fasilitas yang layak dan tentu saja untuk meringankan Jae, agar wanita itu tidak bekerja terlalu keras. "Dia ingin mendengar semua penjelasan darimu secara langsung, Tuan David masih terlihat ragu. Kau tahu sendiri bukan? Kejadian itu sudah 6 tahun lamanya berlalu." "Secara langsung? Maksudmu aku akan ke Korea?" Tanya Kai yang terdengar antusias. Jika benar, Kai akan bersyukur karena dirinya sangat merindukan tanah kelahiran yang sudah tak kembali sejak 1 tahun lalu. "Tidak, Tuan David sendiri yang akan kesana dan melihat anak laki-lakinya secara langsung adalah pilihan yang bagus." *** Menatap suasana luar yang terlihat orang-orang dengan beragam aktivitas melalui jendela kaca yang besar di depan Jae. Ia memang banyak melamun senjak mengetahui kebenaran tentang Putranya yang begitu mandiri diumur yang sebentar lagi akan genap 5 tahun itu. Mata Jae pun terhenti disatu titik. Di ujung jalan sana ia melihat seorang pria dewasa dengan anak perempuan yang lebih kecil dari Joe di dalam gendongannya, membeli secup es krim dengan senyum merekah setelah menerima itu lalu menyerahkan pada tangan kecil Putrinya. Tak lama kemudian, seorang wanita dewasa mengampiri yang sepertinya dia adalah Istri sekaligus Ibu dari anak perempuan kecil itu. Jae tersenyum samar melihatnya seolah merasakan keharmonisan keluarga kecil itu. Hanya sekedar tersenyum bersama orang-orang tercinta akan menumbuhkan rasa kebahagiaan yang tak ternilai. Hal itu mengingatkannnya pada Joe, saat mereka menghabiskan hari liburnya di taman atau jalan-jalan untuk sekedar menyantap makanan kesukaan Joe, seperti kue coklat, es krim, keju dan lain-lain atau membelikan mainan yang Joe inginkan. Jae akan melakukan apapun demi kebahagiaan Joe. Berharap ia bisa memenuhi kesenangan Joe dengan caranya sendiri walaupun tanpa sosok Ayah seperti keluarga lainnya. Jika suatu hari nanti Joe menanyakan sosok Ayahnya... entahlah, Jae tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Joe. Ia tidak bisa membayangkan jika Joe mengetahui semuanya suatu hari nanti. Jae tidak ingin Joe menyalahkan diri sendiri atau membenci dirinya setelah mengetahui semuanya. "Sepertinya kau memang hobi melamun akhir-akhir ini?" Suara Kai menyadarkan Jae, ia pun mengalihkan pandangan ke sumber suara dengan tersenyum tipis. "Apa kau sudah memesan?" Sambung Kai yang mendaratkan pantatnya duduk menghadap Jae. "Ya, aku sudah memesannya. Aku tidak tau apa yang kau inginkan jadi aku memesannya duluan." Jae menyerahkan menu pada pria di depannya. Setelah selesai memesan, Kai memperhatikan Jae yang kembali melempar pandangannya keluar. Ada perasaan takut di dalam diri Kai setelah mengetahui David akan kemari. Bertahun-tahun Kai bekerja keras agar bisa memberi alasan ‘ia bisa menangani perusahaan disini’ untuk menahan pria itu tidak kemari yang tak lain menutupi keberadaan Joevanca atas perintah Sungjin. Dan sebentar lagi Ayah dan Anak itu akan bertemu atas pengakuan Tuannya sendiri. Bukannya Kai tidak suka dengan kehadiran David di negara ini dalam waktu dekat, tapi jika semuanya sudah terbongkar, apa ia masih bisa bebas memperhatikan Jaevyna dan Joevanca dengan jarak sedekat ini? Sudah pasti Jae akan menganggapnya seorang penipu, yang telah berteman dengannya hanya karena perintah seseorang untuk mengintainya. Sebenarnya Sungjin tidak memerintahkan untuk berinteraksi dengan Jae seperti ini, tapi entahlah, Kai seolah ditarik oleh pesona Jae. Tidak salahnya ‘kan? Toh tidak ada daftar larangan dari Sungjin akan hal ini. Ya, Kai sudah jatuh ke dalam posana Jae yang terkesan acuh pada sekitar. Wanita itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri tanpa perduli Kai yang sudah menperhatikan bertahun-tahun lamanya. "Sudah selesai?" Tanya Jae yang baru saja menyesaikan makannya. "Sudah. Kau duluan saja untuk kembali bekerja, aku akan menyusul kesana menemui John setelah membayar semuanya." Suruh Kai dengan senyuman di akhir kata. "Tidak, aku akan menunggumu." Tolak Jae yang merasa tidak enak. "Aku ada keperluan sebentar, setelah ini baru kesana. Apa kau yakin ingin menungguku?" Tawar Kai lagi. "Baiklah, aku pergi dulu. Terima kasih untuk makannya, lain kali aku yang meneraktirmu." Jae beranjak pergi dengan langkah yang terburu-buru menyebrangi jalan. Kai memperhatikan punggung Jae yang kian menjauh. Sesungguhnya ketakutan Kai bukan hanya itu, tapi juga takut jika Jae bertemu langsung dengan David nanti. Apa wanita itu akan mempertahankan sikap acuhnya pada pesona David nanti? Seperti Jae mengacuhkan pesona seorang Kai seperti biasanya? Mengingat David adalah seorang duda yang berparas tampan. "Hhhh~ apa yang sedang kau pikirkan, Kai?" Gumam Kai pada dirinya sendiri, lalu berdiri menuju kasir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD