3. Tiga

2090 Words
Gerald mengotak-atik ponselnya. Ia berusaha untuk melacak keberadaan Keyara melalui jaringan ponsel gadis itu. Setelah mengetahui keberadaan Keyara. Gerald langsung tancap gas menuju kesana. "Kak, ini kebanyakan," ucap Keyara yang menenteng banyak paper bag yang berisi jam tangan. Keyara sangat suka mengkoleksi jam tangan dan boneka. Sebab dari itu Niko memaksa Keyara berbelanja. Sedangkan tangan Niko juga penuh dengan boneka boneka yang berbentuk imut. "Ini belum seberapa, nanti aku belanjakan lagi." "Terus gimana aku memakainya, ini sangat banyak. Dan uangnya gimana? aku gak punya uang untuk ganti." ujar Keyara sedih, yang malah mengundang tawa keras dari Niko. "Imut banget sih kamu! gak usah di ganti. Ini aku belikan untuk kamu." ujar Niko memencet hidung Keyara, yang langsung membuat gadis itu bersemu. Di ujung jalan, Gerald tengah kebakaran jenggot melihat dua orang yang tengah mesra-mesra an. "Nanti kalau di tanya bundaku gimana kak?" tanya Ara khawatir. Pasti sampai rumah ia akan dapat berondongan pertanyaan dari ayah dan bundanya. "Aku yang akan bicara sama bundamu. Bagaimana?" tanya Niko tersenyum lembut. "Baiklah, ayo pulang. Aku sudah mengantuk." ucap Keyara lembut. Suara lembut Keyara membuat hati Niko seketika bergetar. Ia jadi salah tingkah. "Sudah senang-senangnya?" tanya seorang pria berkemeja putih, tangannya ia masukkan di saku celana. Membuat Keyara menahan napas. Tidak kuat melihat penampakan Gerald yang sangat tampan. Andai ia tak punya malu, sudah ia potret sekarang juga si Gerald. "Ayo pulang, orang tuamu sudah mencarimu." Gerald menarik tangan Keyara, refleks membuat barang bawaan Keyara terjatuh. "Tunggu! barang-barangku." ucap Keyara memunguti paper bag yang terjatuh. "Kenapa? dia pergi bersamaku, dan pulang juga harus bersamaku." ucap Niko dengan tajam. Ia cukup tau siapa sosok pria di hadapannya. Pria yang mengadakan pesta beberapa jam yang lalu. Pesaing bisnisnya. "Dia tanggungjawabku," gertak Gerald. "Keyara, masuk mobil sendiri atau di paksa?" tanya Gerald dengan tajam. Tentu saja Keyara langsung menciut. "Jangan seenaknya. Keyara saja tidak masalah bersamaku." ucap Niko yang ingin memepertahankan Keyara. Sedangkan gadis itu bingung mau ngapain. "Cepat masuk!" perintah Gerald lagi yang membuat Keyara berlari memasuki mobil pria itu, tak lupa ia juga membawa barang belanjaanya. "Well, dia patuh di bawahku. Jangan coba-coba mendekatinya!" bisik Gerald kepada Niko, yang dibalas senyum miring pria itu. 'Sepertinya ini akan menarik' ujar batin Niko. Di dalam mobil, Keyara diam gelisah. Apalagi saat Gerald sudah memasuki mobil dengan aura yang menyeramkan. Gerald menatapnya tajam membuat jantung Keyara seakan berhanti berdetak. Keyara diam membisu, menundukkan kepalanya dengan gugub. Ia bisa merasa pria itu mendekat. "Apa yang kakak lakuin?" tanya Keyara gugub. Gerald masih setia menatap gadis itu tajam. 'Klik. Keyara memalingkan wajahnya, ternyata Gerald hanya memasangkan sabuk pengaman. Ia pikir Gerald akan memakannya hidup-hidup, mengigat pria itu sangat membencinya. Dalam perjalanan, suasana canggung tampak menyelimuti. Keyara enggan membuka suara karena dia sedang gugub. Sedangkan Gerald juga tak tau harus bicara apa. Di tengah perjalanan, Gerald menghentikan mobilnya tiba-tiba. Keyara diam membisu, sebelum akhirnya berteriak. Meneriaki Gerald yang seenaknya membuang semua barang pembelian kak Niko. "Heh kenapa di buang?" jerit Keyara ikut turun dari mobil. Gerald membuang semua paper bag ke tong sampah pinggir jalan tanpa perasaan. Emang dia pikir beli gak pake uang? "Kak, jangan di buang barang-barangku!" ujar Keyara menarik kemeja Gerald. "Diem! aku yang akan membelikanmu lagi." gertak Gerlad. "Dasar tidak berperasaan! emang kakak pikir beli gak pake uang? toh apa bedanya kak Niko yang belikan? dia saja tidak keberatan. Apa karena kakak pikir kakak kaya? sekarang banyak orang miskin mendadak, jangan sombong!" oceh Keyara dengan nafas menggebu-gebu. Gerald hanya menaikkan sebelah alisnya menantang. "Sudah?" tanya Gerald dengan lembut. Mata Keyara membulat seketika. Sejak kapan Gerald bisa bicara lembut. "Jangan mengoceh, sayang dengan bibir manismu." ucap Gerald mengusap lembut bibir Ara. Tatapan mata Gerald juga sayu, seperti memberi pesan tersembunyi lewat matanya. "Kenapa kak Gerald ngusap bibirku?" tanya Keyara polos yang membuat Gerald pun bingung mau menjawab apa. "Kalau yang pernah aku baca, cowok ngusap bibir cewek pasti selanjutnya bakal di cium." "Kamu minta di cium?" tanya Gerald tiba-tiba menyudutkan Keyara hingga punggung gadis itu terbentur mobil. Jantung Keyara bertalu-talu, tak jauh beda dengan jantung Gerald yang berdetak tak wajar. Keyara menatap Gerald dengan mata indahnya. "Aku suka sama kak Gerald yang lembut begini." celetuk Keyara yang membuat akal sehat Gerald kembali. Dengan kasar, Gerald mengusap rambutnya. Menekankan pada dirinya bahwa ini belum waktunya. "Kamu mau tetap disini atau ikut aku pulang?" tanya Gerald yang membuat Keyara buru-buru memasuki mobil. Suasana yang canggung membuat Keyara memutuskan untuk tertidur. Lagipula ia juga sudah mengantuk. Bodo amat Gerald akan membawanya kemana. Saat ini, yang Ara pikirkan hanya memejamkan mata. Gerald melirik Keyara yang tertidur pulas. Mata cantik yang beberapa saat lalu, menatapnya polos kini terpejam rapat. Bulu mata yang lentik, bibir mungil, juga hidung yang mancung. Hanya Laki-laki buta yang mengatakan Keyara tidak cantik. Keyara sangat cantik. Gerald mengakui itu. ????? "Al, kamu bawa siapa itu?" pekik Santi, mama Gerald. Santi yang menunggu putranya pulang, malah dikejutkan dengan putranya yang membawa seorang perempuan dalam gendongannya. "Ini Keyara mah, anak om Regan. Ini sudah larut malam. Lebih baik Keyara ku bawa kesini." jelas Gerald. Santi memincingkan matanya curiga. "Kamu apakan Keyara, Al?" "Gerald gak ngapa-ngapain mah. Tadi aku hanya mengajaknya jalan-jalan, dan dia ketiduran. Mamah telfon om Regan, bilang kalau putrinya disini bersama Cika." Santi hanya mengangguk, tidak biasanya Gerald dan Keyara jalan-jalan. Santi tau betul, putra satu-satunya itu lebih suka menghabiskan waktu di club bersama wanita-wanita sexy. "Al, jangan di bawa ke kamarmu!" teriak Santi yang tak di hiraukan Gerald. "Tenanglah mah, aku gak bakal ngapa-ngapain. Lagian aku gak napsu sama anak kecil ini." ujar Gerald tanpa tahu, kalau Keyara mendengar ucapannya. Jantung Keyara berdetak sangat cepat, saat setelah Gerald menidurkannya di kasur. Gerald mencium keningnya pelan. Keyara menggigit bibirnya kuat, berharap teriakan tidak keluar dari bibirnya. Gerald jahat, dia sudah membuat kerja jantungnya tidak normal. Setelah mencium kening Ara, Gerald melenggang pergi begitu saja. Keyara membuka matanya pelan. Nuansa hitam yang pertama kali terlihat di matanya. Tak pernah ia bayangkan bisa berada di kamar milik Gerald. Dalam hati Keyara tersenyum senang. Hingga melupakan ayahnya yang pasti uring-uringan karena dia tidak pulang. "Kenapa bangun?" tanya sebuah suara yang membuat tenggorokannya tercekat. Buru-buru Keyara langsung duduk. Menatap Gerald dengan pandangan yang kentara sedang kebingungan. "Tidurlah! besok aku akan mengantarkan mu pulang," ucap Gerald yang dengan santai duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. "Kak Gerald gak keluar?" tanya Ara bingung. Pasalnya dia juga takut kalau teman kakaknya itu macam-macam dengannya. "Kenapa? ini kamarku." jawab Gerald acuh. Ara memalingkan wajahnya. Ia benar-benar malu. Tapi, ia juga takut. "Ma ... maksudku ... apa kak Gerald juga akan tidur di sini?" tanya Keyara terbata-bata. "Kenapa? apa kamu mau di tiduri?" tanya Gerald menaikkan sebelah alisnya. Tanpa sadar Keyara melempar bantal tepat di muka Gerald. "Aku hanya tanya, kenapa kak Gerald m***m sekali?" teriak Ara kesal. Gerald terkekeh pelan. Wajah kesal Ara membuatnya terhibur. "Al buka pintunya!" teriak Santi sambil menggedor-gedor pintu kamar putranya . "Ck! mengganggu saja." sebal Gerald. Setelah dibukakan pintu, Santi langsung menghampiri Keyara. "Sayang, tidur di kamar tante ya. Hari ini papa nya Al lagi keluar kota, tante gak ada yang nemenin tidur." ucap Santi dengan wajah di buat-buat. Dengan semangat Keyara langsung mengangguk. Ia buru-buru bangkit dari kasur. "Gak boleh, Ara disini aja." cegah Gerald yang membuat Santi dan Ara kompak menoleh. Gerald menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mah, kalau Ara tidur sama mamah, sudah pasti mamah ajak rumpi semalaman." kesal Gerald. Santi memicingkan matanya, lama lama ia curiga dengan putranya. Hatinya tak mau seudzon, tapi pikirannya selalu negatif. Takut putranya merusak putri kesayangan Regan. Sudah pasti dia akan dibunuh oleh Regan kalau sampai itu terjadi. "Aku tidur sama tante aja," celetuk Keyara tiba-tiba. "Nanti kasihan kak Gerald tidurnya dimana?" "Iya kamu memang harus tidur sama tante!" ajak Santi yang buru-buru menarik Ara keluar. Tak membiarkan Gerald protes. "Sial!" umpat Gerald mengacak rambutnya. Gerald mondar-mandir tidak jelas. Kenapa ia resah, ia juga tidak tahu. Suara dering ponsel membuyarkan kegelisahan Gerald. Tanpa menatap sang penelepon, ia mengangkat begitu saja. "Ya halo!" sapa Gerald. "Hai Gerald! butuh kehangatan malam ini?" tanya suara wanita di seberang sana. Suara yang dibuat buat sambil mendesah membuat kuping Gerald panas. "Datang ke apartemenku, kupastikan dirimu puas," Gerald melihat nomer siapa yang menelpon. Pasalnya dia tak pernah bisa menghapal suara orang. Ternyata nomer tak di kenal. "Siapa?" tanya Gerald. "Aku yang kemarin melayanimu, sayang." ujar wanita itu masih dengan khas desahannya. "Oh, maaf aku tak minat memasuki lubang yang sama dua kali." jawab Gerald dengan kejam. Dan langsung mematikan sambungan telfonnya. Gerald mengotak atik ponselnya. Menghubungi seseorang yang sudah menjadi sahabat karibnya, Yogi. "Ke club sekarang!" ajak Gerald setelah panggilannya tersambung. Tanpa mendengar perotesan dari sebrang, Gerald sudah mematikan telfonnya. Tanpa tahu, dua gadis remaja sudah menguping pembicaraannya. *** "Ayo buruan masuk, Ra." Cika sudah heboh menyeret Keyara masuk ke dalam club. Tadi, Cika mengajak Keyara mengikuti Gerlad. Walau mereka keluar rumah tidak mudah. Harus mengendap-endap dari mama Santi. Apalagi mereka berdua juga dihadang penjaga Club. Tidak di perbolehkan masuk dengan alasan masih di bawah umur. Padahal Cika dan Keyara sudah delapan belas tahun. Tapi, bukan Cika namanya kalau tidak cerdik. Dan akhirnya mereka sampai ke dalam dengan selamat. Keyara ingin menangis saat melihat Gerald meliuk liukkan badannya dengan seorang wanita berpakaian minim. Tampak wajah Gerald sangat menikmati belaian lembut tangan wanita itu. Keyara mengalihkan pandangannya. "Ra, are you okey?" tanya Cika khawatir. Ini memang salahnya, seharusnya ia tidak mengajak Keyara ke sini. Sudah pasti kenyataanya yang dilihat akan menyakitkan. "Awww!" ringis Keyara saat seseorang menabraknya. Orang itu lantas berhenti, berbalik menatap Keyara. Matanya menelusuri penampilan Keyara yang hanya memakai piyama kebesaran motif hello kiti dengan rambut yang di kucir asal. "Hai adek, kamu disini sama siapa?" tanya pria yang tadi menabraknya. Tampak pria itu berumur berkisar dua puluh lima tahunan. "Eh, sama temen kak." jawab Keyara polos. "Kamu ngapain ke sini? kayaknya kamu masih anak kecil. Apa kamu salah masuk tempat?" tanya pria itu lembut. Keyara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jangan takut, aku cuma pekerja disini. Kenalkan aku Ferdi." ucap lelaki itu mengulurkan tangannya. Yang langsung di sambut Ara dan Cika bergantian "Kami kesini membuntuti orang kak. Tapi kayaknya kita beneran salah tempat." timpal Cika. Ia tidak mau dinilai gadis tidak benar. "Hai manis!" sapa seseorang yang terlihat sedang mabuk. Matanya menatap menyeringai kearah Keyara. Tangannya dengan lancang menyentuh lengan Keyara, yang langsung membuat gadis itu menjerit keras. Sontak saja semua mata menelisik kearahnya. Mata para lelaki seakan menyala. Siapapun yang melihat Keyara saat ini. Sudah pasti suhu tubuhnya langsung memanas. Bagaimana tidak. Gadis mungil dengan pipi sebulat bapao itu sangat menggemaskan dengan piyama pink Hello kitty. Semua orang berjalan mengerubuni Keyara. Bak kucing dikasih ikan asin, mereka berbondong bondong mendekati Ara dan Cika yang tengah ketakutan. "Jangan sentuh!" bentak Keyara yang saat merasa ada yang menyentuh punggunya. "Jual mahal eh?" seriangain orang-orang makin menjadi. Tak tahukan mereka kalau kedua gadis itu sudah ingin menangis. Ferdi bersiap membawa Cika dan Keyara pergi, namun ia di hadang oleh pria-pria mabuk itu. "Dia salah jalan, biarkan dia pulang!" desis Ferdi geram. Ferdi membawa Keyara berlindung di punggungnya. "Jangan berani ada yang sentuh!" ucap Ferdi dengan suara tajam. "Akhhh!" jerit Keyara saat seseorang meremas pingangnya. Bugghhh Suara hantaman yang keras membuat semua mata menoleh. Pelaku yang meremas pinggang Keyara jatuh tersungkur karena sebuah tonjokan yang datang tiba-tiba. Gerald menarik kerah baju pria itu. "Jangan coba-coba menyentuhnya. Atau kau mati saat itu juga!" desisnya tajam yang langsung membuat pria itu ketakutan. Semua orang minggir. Takut berurusan dengan Gerald. Siapa yang tak kenal pria workaholic itu. Siapapun tau cara kerja Gerald yang tak main main dengan ucapannya. Dengan mata tajamnya, ia menarik tangan Keyara dan Cika bersamaan. "Yogi, antarkan Cika pulang. Aku akan mengurus gadis ini!" ucapnya pada Juna yang membuntutinya. "Tidak, aku mau ikut Keyara!" ucap Cika yang langsung dihadiahi tatapan mematikan dari Gerald. "Kak, ini salahku. Aku yang mengajak Keyara ke sini." ucap Cika memegang lengan kakaknya. Ia tak tau kenapa Gerald sangat marah dengan Keyara. Dan firasatnya mengatakan itu hal buruk. "Kenapa mengajaknya kesini? tidakkah kalian sadar ini bukan tempat anak kecil?" bentak Gerald kencang membuat Cika dan Ara kompak tersentak. Keyara meringis saat cekalan tangan Gerald makin mengerat. "Ka-" "Aku tidak butuh alasan. Saat ini pulang sama Yogi. Dan jangan katakan apapun pada Mama." belum sempat Cika melanjutkan bicara, Gerald sudah menyelanya, dengan titah yang tak terbantahkan. "Tapi Keyar-" "Aku akan menghukum gadis nakal ini." senyum miring tercetak jelas di raut wajah Gerald.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD