BAB 4

1473 Words
"Every living will change. Either now or later time we can only wait." ***** Edel POV Suara berat tepat di telingaku, terdengar familiar. Hanya ada satu kemungkinan, Elang. Hanya Elang yang berada di sini sebelum aku terlelap. Untuk apa dia peduli dengan ku? Dia membisikkan kalimat ambigu yang membuatku harus berfikir dua kali. Sekarang aku tidak tahu, masih dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi. Tapi jika ini mimpi, suara itu, hembusan napas yang sangat dekat, apa mungkin bisa terasa senyata ini dalam mimpi? Aku membuka mata perlahan. Cahaya dari sinar matahari yang berusaha masuk melalui celah jendela UKS menyilaukan mata. Kulihat sekeliling, Elang sudah tidak ada. Cukup lama juga aku tertidur. Dari pagi sejak awal jam pelajaran sampai sekarang, 10 menit lagi bel pulang akan berbunyi. Pikiranku kembali saat berangkat sekolah tadi. Lemas dan pusing menyerang tubuhku. Sebenarnya bukan hari ini saja, beberapa bulan semenjak aku memasuki SMA sering sekali aku drop. Aktivitas yang aku lakukan sebenarnya tidak terlalu berat. Mengangkat beban berlebih tidak pernah. Sekolah setiap hari diantar oleh supir. Kedua orang tuaku dan kak Revan juga tidak ada yang tahu semua ini. Mereka terlalu sibuk sendiri. Mungkin, kapan-kapan aku akan memeriksakan diri ke dokter. Aku berjalan kearah pintu. Sebelumnya aku berhenti di depan kaca yang sengaja diletakkan disamping pintu masuk UKS. Rambutku sedikit berantakan. Aku mengambil sisir yang tergeletak di meja bercampur dengan obat-obatan. Perlahan-lahan karena masih sakit, aku menyisir rambut dan itu sangat sulit karena rambutku sudah sepinggul. Saat keluar ruangan, aku melihat Naya berjalan sendiri dari arah kantin. Kebiasaan yang buruk, mabal ketika jam kosong. Naya membawa satu kantong plastik-yang entah apa isinya-dan air mineral dua botol. "Nay tunggu!" Aku melambaikan tangan ke Naya. Dia tersenyum sumringah dan menghampiriku. "Emang guru nggak ada?" "Pak Santo anaknya lagi sakit. Ambil cuti seminggu. Denger-denger anaknya sakit apa ya ..." Naya tampak berpikir. "Oh iya lupus. Anaknya sakit lupus. Kasihan juga ya, gue sih nggak tau itu penyakit apaan." "Gimana sih, orang Ipa tapi masalah gitu nggak tau Nay." "Ya maklum lah, gue masuk ipa gara-gara orang tua. Peruntungan juga sih sebenernya." Naya memang lucu. "Sekolah bukan mencari peruntungan. Kalau setau gue, lupus itu penyakit yang sama bahayanya sama kanker. Bedanya lupus sulit terdeteksi dini. Penderita baru bisa di diagnosis setelah muncul tanda-tanda lupus." Naya menepuk pundakku. "Kagum gue Del sama lo. Setiap hari lo bikin gue termotivasi buat terus semangat sekolah. Pingin gue jadi lo Del. " "Jadi diri lo sendiri aja Nay. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pintar-pintarnya setiap orang buat menyembunyikan kekurangan itu dengan menonjolkan kelebihannya. Keahlian lo bukan bidang bio, mungkin fisika, mungkin sih." Kami berdua tertawa bersama. Jelas fisika adalah pelajaran terhoror sepanjang sejarah. "Eh Del tunggu bentar." Naya mengambil beberapa helai rambut yang menempel di baju putih seragamku. "Rambut lo rontok! Banyak lagi." Benar apa kata Naya. Lumayan banyak rambutku yang rontok. Mungkin masalah shampoo lagi. Sudah beberapa kali aku mengganti shampoo karena rambut rontok. "Shampoo gue nggak cocok. Oh ya lo tau Elang?" "Nggak. Tadi sih dia bilang mau jagain lo di UKS." "Elang nggak ada di UKS. Apa mungkin ya dia udah balik duluan?" Naya mengendikkan bahu. "Cowok kaya Elang kapan sih pernah betah diem Del? Pergerakannya mungkin tidak bisa dihitung perdetik." "Nay ini bukan fisika, kangen banget ya sama pak Santo?" "Apaan sih Del. Nggak lah gue nggak suka sama pak de sendiri." Dan kita kembali tertawa tertahan. ***** Koridor kelas 11 tumben sepi. Biasanya banyak siswa yang naik turun untuk sekadar ke toilet atau pura-pura ke toilet. Kelasku juga tidak berisik. Perubahan yang signifikan. Mengingat kelasku adalah kelas dengan murid yang personilnya setengah –setengah, dalam arti otaknya rada konslet suka membuat keributan dengan anak kelas lain. Aku ingat benar waktu itu, masalah daun kering yang jatuh ke kelas 10-2 dan karena mereka tidak terima terjadilah perang berkelanjutan. Untung ada Dian, si pak ustad kelas. Kelas 10-1 sama 10-2 jadi akur , soalnya Dian itu ceramah ke kita-kita kalau orang marahan nggak boleh lebih dari 3 hari. Langsung aja anak kelas termasuk aku minta maaf ke kelas sebelah. Nyatanya setelah itu nggak ada lagi yang marah-marahan. Aku memutar kenop pintu kelas. Pintu sedikit berdecit dengan lantai kelas. Naya menerobos lebih dulu dan seisi kelas menatap kami dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Antara takut dan kesal. "Asem Del. Gue kira pak Santo!" Katrina menggebrak mejanya. Menimbulkan suara yang mengganggu telinga. Memicu keributan di kelas. "Tau nih, untung aja gue sabar," Suci menepuk dadanya. "Alah sejak kapan lah kau ci namamu berubah?" kata Zaenal siswa dengan rumah terjauh, Papua. Aku hanya tersenyum melihat perdebatan kecil ini. Teman-teman unik yang tidak penah gagal membuatku tersenyum dengan tingkah gila mereka. "Anime manga ada nggak Yan? Gue minta ya." "Jangan. Jangan. Jangan. Bahaya Del." "Kenapa? " "Ada mmmmmmmm itu ..." "Mmmmm itu apa Yan? Yaudah kalau lo nggak mau ngasih, ntar gue download sendiri aja." Memang selalu begitu. Dian adalah pemasok anime di kelasku. Di Jam-jam kosong, kelas kami memang memanfaatkannya dengan menonton anime. Aku memilih duduk daripada harus mendengarkan curhatan Katrina. Sekelebat aku melihat bayangan orang lewat depan kelasku. Aku berdiri untuk mengintip dari jarak yang lumayan jauh. Tempat dudukku di depan guru, sedangkan pintu kelas dan sederet jendela berada di seberangnya. Kelas semakin ramai setelah bel pulang berbunyi. Aku masih malas pulang berdesakan, kuputuskan menunggu Naya menghabiskan makanan. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku melangkah keluar kelas. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin tadi hanya halusinasi. Aku terkejut. Tepat saat aku membalikkan badan Elang sudah berdiri dihadapanku dengan muka lebam. Bibirnya robek, darah mengalir dari hidungnya. Mata kirinya bengkak. "Lo, kenapa muka lo babak belur?" Elang meringis kesakitan karena lukanya tidak sengaja aku sentuh. "Biasa anak cowok." "Anak cowok, anak cowok. Percuma kalau jadi cowok tapi kerjaannya berantem mulu!" "Dari siapa lo tahu gue habis berantem?" "Semua orang juga tahu kalau muka-muka gini habis ditonjok orang." Elang tidak membalas pernyataannku. Kepalanya melongok ke dalam pintu, dia melihat Naya. Tangan kanannya terangkat ke atas menyapa Naya. "Hai gue Elang. Lo temennya Edel yang tadi pagi kan?" tanya Elang. "Ya iyalah masa kacungnya. Aneh banget sih lo." Elang menggaruk belakang telinganya. Pandangannya beralih menatapku. "Obatin gue ya, Delia." Muka melas Elang tidak bisa membuat mulutku menolak. "Ikut gue!" Aku menarik tangan Elang menuju UKS. Ke tempat itu lagi. Bau obat sebenarnya sangat mengganggu hidungku. "Duduk. Diem. Jangan bergerak." "Serasa tahanan gue." Aku hanya memelototi Elang. Susah sekali menyuruhnya diam. Setelah mengambil obat-obatan yang diperlukan. Aku kembali menarik paksa Elang keluar UKS. "Mau dibawa kemana sih gue?" "Diem kenapa sih!" "Tapi kayakya lo mau banget ya pegang tangan gue. Dari tadi di tarik mulu. Gue masih bisa jalan sendiri," kata Elang pelan tapi sarkartis. Kulepas cekalan tanganku. Tapi Elang menahannya. "Biarin gini aja, sebentar saja sampai lo selesai ngobatin gue." Aku hanya bisa menuruti kata Elang. Aku membawanya ke depan kelas. Naya juga masih berkutat dengan makanannya. "Kalau aja lo bisa gini terus Delia. Lembut, nggak marah-marah mulu sama gue ...." "Nggak usah ngayal ketinggian. Gue gini karena lo lagi sakit. Kalau aja lo sehat ... " "Lo nggak bakal lakuin ini, gue tahu kok." Aku hanya bisa diam mendengar kalimat singkat yang meluncur dari mulut Elang. Singkat tapi membuat aku tersinggung. Aku meneruskan pengobatan kecil untuk luka Elang. Kutekan bibirnya lembut dengan kasa yang sudah tercelup alkohol. Elang sedikit menjingkat, mungkin rasanya sakit. Tapi aku tidak mau peduli karena luka yang ada juga akibat ulahnya sendiri. "Ihhh, so sweet banget sih kalian. Jangan pamerin jomblo kaya gue napa sih Del." Naya tiba-tiba mengintip dari jendela atas. "Yang lo liat nggak sepenuhnya benar Nay. Nggak usah bilang so sweet segala, gue bukan siapa-siapa dia." "Tidak perlu status untuk membuktikan sebuah hubungan. Asal sama-sama menjaga hati itu sudah cukup." Lagi-lagi perkataan Elang mampu membuatku mati gaya. "Ngomong aja gampang. Coba lo buktiin sendiri!" Aku lebih memilih untuk meninggalkan Elang dan sisa obat-obatan itu. Biar dia yang mengembalikan ke UKS. Semakin lama di sini, otakku lama-lama semakin tidak beres. ***** Naya sudah mencapai mobilnya. Dia seperti menekan sesuatu. Berulang kali dan dia terus melihat ke arahku. Pintu mobil terbuka lagi. Naya menarikku ke dalam mobilnya lalu mengucapkan sesuatu yang tidak bisa terdeteksi olehku. "Del, apa sih yang lo pikirin? Gue udah klakson berkali-kali buat naik, tapi lo malah bengong dan lebih parahnya lagi ... sebenernya lo dengerin gue ngomong nggak sih?" Bibirku tak merespon. Hanya mataku yang membuka menutup beraturan. Semua yang kulihat seperti sengaja di putar lambat. Sampai sebuah ketukan dari samping kaca mobil benar-benar menyadarkanku. Perlahan kaca mobil terbuka dan Elang muncul. Tadi di depan kelas ada Elang. Di sini juga. Dimana-mana aku melihat Elang. Aku pusing melihat wajahnya berlalu-lalang terus di otakku. Aku kembali menutup kaca mobil. Naya terlihat mengendikkan bahunya. Dia menjalankan mobil keluar dari sekolah. Kulihat lagi ke arah belakang. Nihil tidak ada siapapun. Hanya gerbang sekolah yang sudah tertutup setengah. "Nay apa emang bener ada Elang yang ketuk kaca mobil sebelah gue?" "Kadang gue suka bingung sama lo Del. Jelas-jelas siapa aja bisa liat kalau tadi itu beneran Elang. Belum apa-apa tapi lo udah tutup lagi kacanya. Yaudah gue nyalain mobil terus capcus pulang." Aku melongo. "Harusnya lo cegah gue Nay!" "Kenapa gue harus cegah lo?" "Iya juga ya. Kenapa juga?" "Nah lo sendiri aja bingung, apalagi gue." Aku menggeleng-gelengkan kepala. Mengusir jauh-jauh Elang dari otakku. "Kenapa lagi sih?" Naya menghembuskan napas berat. Aku tahu Naya kesal, tapi aku juga tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Lidahku tidak bisa diajak kompromi untuk saat ini. Bisa-bisa bukan jawaban yang terucap tapi sesuatu hal yang tidak perlu Naya tau. "No probe Nay. I'm fine oke. " Edel POV end.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD