Bagian 2

4438 Words
Diane sedang menghubungi Sam malam itu. Ia menolak dengan keras keinginan Sam untuk membelikan Diane mobil baru. Sam mengolok-olok kondisi keuangannya dan mengatakan Diane tidak bisa terus-menerus hidup dalam kondisi kekurangan seperti itu. Sam membuat Diane geram. Dan keinginannya untuk hidup mandiri semakin kuat. Tapi Sam sama keras kepalanya. Pria itu menawarkan uang bulanan untuk membantu meringankan Diane, dan seperti dugaan Sam, Diane menolak dengan keras. “Tidak, Sam. Terima kasih banyak. Simpan tenagamu. Aku harus menemui Jules dan Regan besok pagi-pagi sekali, jadi aku akan pergi untuk istirahat.” Diane beranjak menuju perapian kecil di sudut ruangan kemudian mematikan api dengan cepat. “Silahkan istirahat, Diane. Aku akan datang besok pagi-pagi sekali.” “Apa? Untuk apa? Kau hanya akan membuang-buang waktumu, Sam. Sebaiknya kau urus saja dirimu sendiri dan biarkan aku menyelesaikan masalahku.” “Oh, ya, tentu saja. Aku akan mengurus masalahku dan aku akan tetap datang untuk memastikan keadaanmu. Apa kau tidak menonton berita?” “Aku sibuk,” sambil memutar pandangannya dengan jengkel, Diane mengambil posisi duduk di sofa empuknya kemudian meraih buku istilah-istilah hukum yang hampir selesai ia baca. “Kalau begitu sempatkanlah untuk menonton berita. Kabar pembunuhan terjadi lagi, Diane!” “Jadi, apa masalahku?” “Mereka mengincar gadis-gadis yang berkeliaran di malam hari.” Sam menegaskan. Suaranya terdengar antusias. Tapi Diane cukup mengenal pria itu untuk tahu bahwa Sam adalah orang yang suka melebih-lebihkan. Meski informasi itu memang tengah beredar di masyarakat, bahkan hampir seluruh mahasiswa kampus membicarakannya, Diane tidak pernah mau ambil pusing. Para pembunuh itu hanya menginginkan gadis-gadis yang cukup bodoh untuk mereka jadikan p*****r. Dan tentunya, Diane tidak masuk dalam kategori itu. Sam terlalu berlebihan kalau berpikir Diane akan menjadi korban selanjutnya. Kakaknya itu terlalu paranoid. “Sudah cukup, Sam. Apa aku lupa menyebutkan kalau aku harus istirahat?” “Tunggu sampai Dad menemuimu.” Sontak Diane menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa. “Apa?! Tidak, jangan!” Sikap Sam masih bisa ditoleransi, tapi papanya tidak. Papanya tidak akan pernah membiarkan Diane sendiri di tengah berita pembunuhan yang tengah beredar. Papa sudah mempercayakan keamanan Diane pada Sam sejak ia pergi keluar negeri untuk urusan politik selama beberapa bulan. Diane mengambil kesempatan itu untuk kabur dari pengawasan Sam dan menyewa apartemen. Tapi kalau sampai Sam menghubungi papa dan mengatakan tindakan Diane untuk belajar mandiri... Jelas papanya akan memaksa Diane untuk kembali. Atau lebih parahnya, menyeret Diane sampai ke rumah. Ia tidak bisa membayangkan yang lebih buruk lagi. “Kau tidak bisa mengganggu Dad. Dia sedang dalam perjalanan penting.” “Kau dan aku tahu Dad akan melakukan apapun kalau kau membantah, Diane. Jadi pilih saja, biarkan aku menemuimu, memastikan kau baik-baik saja atau Dad yang akan melakukannya.” “Terserah, Sam... terserah!” dengan perasaan kesal sekaligus jengkel, Diane memutuskan hubungan telepon. Ia melempar ponselnya hingga mendarat dengan keras di atas meja. Kemudian, Diane meraih remote kontrol untuk menghidupkan layar televisi di dalam apartemen. Begitu acara dibuka, berita pembunuhan terpampang jelas di layar. Mendesah, Diane mematikan kembali layar tersebut. Sialan. Dasar tukang gertak. Ada begitu banyak hal yang bisa ia pikirkan sekarang. Dan tentunya gertakan Sam adalah hal terakhir yang bisa ia pikirkan. Pertama-tama Diane harus memikirkan kliennya yang pertama. Di awal kariernya sebagai sorang pengacara, Diane harus melakukan yang terbaik. Mendapatkan Klien ini bukan hal mudah yang bisa ia capai. Butuh usaha keras yang akan sebanding bila kinerja Diane bagus. Dokter Meilyn, salah seorah ahli bedah mengalami masalah dengan adik lelakinya. Dokter Meilyn sudah lama menjanda. Pernikahannya sudah lima belas tahun berlalu dan sejak pernikahan itu sang dokter belum dikaruniai seorang anak. Sang dokter mengalami masalah dengan keluarga kecilnya. Adik bungsu sang dokter telah meninggal sejak dua tahun lalu karena kecanduan obat-obatan da sekarang adik  laki-lakinya yang lain membuat onar dengan para penjudi. Pria yang disebut Dokter Meilyn sebagai Simon itu adalah seorang penjudi berat. Simon memiliki seorang puteri yang usianya sekitar dua belas tahun. Isterinya tewas dalam kecelakaan dan sekarang Simon terus-menerus dikejar oleh Bandar judi atas pundi-pundi utangnya yang semakin menjulang tinggi. Simon berniat untuk menjual puterinya sendiri, itulah kenapa Dokter Meilyn menginginkan hak asuh atas keponakannya. Dokter Meilyn tidak bisa diam membiarkan keponakannya menjadi korban atas masalah Simon yang berkepanjangan. Tapi Simon adalah pria tidak waras yang enggan mempercayai kakaknya sendiri untuk menjaga puterinya. Ia tetap bersi keras untuk menjual puterinya untuk menutupi semua utang-utangitu. Sekarang Simon menghilang bersama puterinya entah kemana. Sebagai teman baik papanya, Dokter Meilyn mempercayakan Diane untuk menjadi pengacara atas tuntutan tehadap Simon itu. Diane mengakui ia sedikit gugup untuk kasus pertama ini. Ralat, ia sangat gugup. Tapi Diane sudah cukup belajar dan sekarang adalah saatnya ia membuktikan pada Sam bahwa Diane bisa hidup mandiri. Bahkan memiliki penghasilan yang menjamin. Pada usianya yang ke-27 tahun ini, Diane tidak akan membiarkan kariernya dinjak-injak oleh Sam atas alibi yang tidak masuk akal. Memikirkan Sam membuat Diane gusar. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk mengabaikan pria arogan itu dan meneruskan kehidupannya. Besok Diane mempunyai rentetan kegiatan yang harus ia selesaikan. Terutama urusan kampus, dua temannya juga klien barunya. Sambil menghela napas, Diane menyandarkan kepalanya ke belakang sofa dan berharap ia dapat mengambil istirahat cukup. Rasanya Diane baru memejamkan mata selama lima belas menit ketika suara pecahan kaca memekakan telinga. Ia menegakkan tubuhnya dengan mata terbuka lebar ketika suara itu nyaris hilang. Diane tersadar bahwa ia sudah tertidur di sofa selama kurang dari dua jam. Jarum jam dinding berdetak dan menggema dalam keheningan. Jarumnya mengarah pada angka satu. Siapa yang berkeluyuran di tengah malam seperti ini. Tapi Diane merasa bahwa suara pecahan itu nyata. Bukan sekedar mimpi sialan yang mengganggu malamnya. Untuk itu Diane beranjak dari sofa untuk melihat ke dalam kamar. Matanya membelalak ketika melihat lubang besar yang dibuat seseorang pada kaca jendela apartemennya. Ia berjinjit dengan hati-hati ke arah seripihan itu sebelum menemukan sebuah kaleng kecil yang berisi tumpukan batu. Tangannya meraih-raih ke dalam kaleng, mencoba menemukan sesuatu yang terselip diantara batu-batu itu. Ada secarik kertas putih di bagian bawah. Dengan diliputi perasaan gelisah, Diane meraih kertas yang terlipat sebelum membukanya perlahan. Permainan kita sudah dimulai... Giliranmu untuk jadi mangsa. Apa permainan yang lebih menyenangkan? Tentu saja, kita akan berpesta di neraka. Diane mengatupkan rahangnya dengan rapat. Air mata hampir merebak ketika ia berusaha membuang surat itu. Pikirannya kalut. Tiba-tiba ucapan Sam tentang berita pembunuhan terulang dalam ingatan. Diane dilanda oleh ketakutan. Ia mencoba membayangkan kejadian-kejadian buruk yang dialami oleh para korban akan terjadi pada dirinya... Oh tidak. Diane hampir berteriak, tapi ia hanya menghela napas sambil mencoba menenangkan diri. Ia tidak bisa berpikir dengan lebih baik sekarang. Tapi Diane terus mencari-cari kemungkinan. Mungkin hanya beberapa anak tetangga yang usil di malam hari. Atau mungkin semua ini pekerjaan orang sinting. Begitu banyak kemungkinan. Diane baru menetap selama sepekan di apartemen ini dan dia belum mengenal orang sekitar dengan baik. Jadi Diane harus tenang. Mungkin saja memang anak-anak remaja yang usil. Meski pemikiran itu menenagkannya, Diane tidak bisa berhenti khawatir. Tangannya bergetar ketakutan, bibirnya terkatup rapat dan wajahnya pucat. Diane hanya berputar di sekitar ruang tidurnya selama beberapa menit. Ia harus melakukan sesuatu. Mengambil ponselnya, Diane menekan nomor Sam. Ketika nada dering sudah tersambung, Diane segera memutuskan hubungan telepon. Tidak, ia tidak bisa menghubungi Sam. Kakak laki-lakinya pasti paranoid. Kalau Diane mnghubungi Sam dan menceritakan soal surat kaleng yang ia terima, Sam pasti akan menyeret Diane keluar dari apartemen dan menguncinya di rumah. Oh, tentu saja Diane tidak akan pulang. Ini hanya gertakan saja. Surat ini bukan apa-apa. Hanya ulah para remaja sialan yang berkeluyuran di tengah malam dan mencoba mengusir penduduk baru. Tapi dugaannya belum tentu benar. Bisa saja ini ulah seorang pembunuh yang disebut-sebut dalam berita. Sial, Diane jadi semakin panik. Pikirannya sendiri saja tidak membantu, apalagi Sam. Melempar kembali ponselnya ke tengah ranjang, Diane memutuskan bahwa apapun yang terjadi disini, tidak akan membiarkan ia kembali ke rumah hanya untuk memohon perlindungan Sam. Ketika rasa penasaran meliputinya, Diane beranjak maju ke samping jendela lalu mengintip keluar apartemen dari sana. Tidak ada yang terlihat selain kegelapan dan suara-suara jangkrik di pekarangan. Tidak ada suara tawa remaja usil yang berkeliaran. Semuanya senyap dan lampu-lampu rumah para tetangga masih redup seperti biasanya. Dengan takut-takut Diane berjalan ke ruang depan untuk mengunci pintu kemudian berjaga hingga fajar di sofa. Diane tidak bisa tidur di kamarnya saat kekacauan itu terlihat jelas. Sebenarnya ia takut, atau mungkin terlalu paranoid. Tapi Diane tidak akan mengatakan apapun pada Sam. Sebelum ia bisa memikirkan ketakutannya lagi, Diane sudah tertidur lelap.  ... Suara ketukan pintu yang keras membuat Diane terkesiap. Matahari telah menerobos masuk ke dalam ruangannya dan dengan cepat, Diane berjalan ke arah pintu. Ia mengintip dari lubang pintu dan melihat Sam sedang berdiri disana. Kemudian ketukan selanjutnya menyusul. Begitu pintu terbuka, Sam segera masuk ke dalam ruangan dan tanpa ragu-ragu ia menghempasakan tubuh di sofa terdekat. Diane mendengar kakaknya mendesis ketika menatap ruangan kecil nan sempit yang disebut Diane sebagai tempat tinggal. “Apa-apaan ini? Kau tinggal di gudang yang kau sebut apartemen?” “Kenapa kau tidak pergi saja kalau kau tidak suka?” Diane melayangkan tatapan sengit pada Sam sebelum sadar bahwa ia tidak menutup pintu kamarnya. Dengan cepat Diane beranjak untuk menutup pintu tersebut sebelum Sam benar-benar melihat kekacauan yang terjadi di dalam. Ia sudah memutuskan akan menyewa ahli perbaikan untuk kaca jendelanyanya nanti. Dan itu berarti uang sakunya akan semakin menipis. “Terserah apa katamu. Akan ku pastikan kau akan meninggalkan apartemen ini secepatnya.” “Sialan, Sam!” Diane mengambil langkah maju. “Aku tidak mengharapkan kau datang untuk membicarakan ini dan mengomentari tempat tinggal sewaanku.” Sam berdiri. Tubuhnya menjulang tinggi. Laki-laki itu mencapai angka seratus delapan puluh delapan untuk tingginya. Rambutnya masih sama seperti dulu, pirang keemasan dan mata gelap Sam mirip sekali seperti papanya. Kalau saja Diane ingat, pacar Sam-Dean juga memiliki mata gelap yang entah bagaimana sama dengan Sam. Hubungan Sam dan Dean masih berlangsung. Namun hubungan itu diwarnai oleh jarak dan percekcokan yang sesekali terjadi. Dean entah menghilang kemana dan Sam masih mengharapkan si wanita tomboy yang arogan. Dari cara Sam memilih kekasih, Diane sudah bisa memastikan bahwa kakaknya itu tidak sepintar kebanyakan pria. Bagaimana Diane bisa mempercayakan kariernya di tangan Sam? Ketika Sam mendekat, Diane melihat rambut lurus kakaknya yang ia pikir meski di pangkas menutupi sebagian pelipis. Sam memiliki rahang yang tinggi dan garis wajah yang tegas. Benar-benar mirip papa, pikir Diane. Dan tentu saja, sifat Sam mewarisi sikap sang hakim agung-Maccon Hampton. Umur Sam yang mencapai tiga puluh tiga tahun tidak begitu terlihat dan kakaknya bisa dibilang awet muda. “Kau tidak bisa tinggal di tengah ronsokan ini, Diane. Aku menawarkan kenyamanan untukmu dan kau menolaknya.” “Tentu saja aku menolaknya.” Tegas Diane, bertekad kuat untuk menentang apapun keputusan Sam. “Kau selalu menggap aku seperti anak kecil yang tidak bisa mengurus diriku sendiri. Apa kau sadar? Aku sudah dewasa, Sam! Aku bisa mengurus diriku sendiri.” “Omong kosong.” “Jangan bertingkah seolah aku ini anak buahmu, ya!” Diane mengacungkan satu jarinya di depan wajah Sam. Tatapannya menintimidasi. “Aku tahu apa yang bisa ku lakukan untuk hidupku. Bawa semua uangmu itu pergi dan urus saja hidupmu sendiri.” Tawa Sam memenuhi ruangan. Diane berupaya keras untuk tidak menedang pria itu keras-keras. “Diane, kau tidak akan bertahan lama dalam situasi ini.” “Kita lihat saja Sam.” “Aku punya bisnis baru yang bisa kau tangani. Kau bisa belajar mandiri dari itu.” “Astaga, Sam. Apa kau tidak mengerti juga? Aku ingin memulai karierku sendiri. Melakukan apa yang ingin aku lakukan. Tanpa aturan yang kau buat itu. Ada banyak hal yang bisa kulakukan untuk menompang kebutuhanku, dan kau tidak berhak untuk ikut campur.” “Tentu saja aku berhak. Aku ini keluargamu. Aku berhak memastikan kau hidup dengan layak. Jangan bodoh, Diane. Aku tahu kau membutuhkan aku dan Dad lebih dari apapun. Kau tidak terbiasa hidup sendiri. Terutama ketika ada ancaman yang sedang beredar di masyarakat,” Kulit Diane meremang ketika Sam menyebut-nyebut soal ancaman yang beredar itu. Tiba-tiba kepanikan meliputinya. Namun dengan keras kepala, Diane membantah. “Tidak. Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku. Tidak dengan ancaman itu, tidak juga dengan surat kaleng itu. Aku tidak akan pergi dan mengikuti keinginanmu untuk mengurus bisnis yang sama sekali tidak aku minati.” Sam mendekat dengan pandangan skeptis. Ia menangkap satu kalimat asing dari pernyataan terakhir Diane yang membuatnya penasaran. “Tunggu. Apa katamu tadi? Surat kaleng? Kau menerima surat kaleng, Diane?” Ketika Diane tergugup, Sam mendekat untuk mengguncang bahunya. Matanya terarah tajam. Ia harus menunduk untuk bisa bertatapan langsung dengan Diane. “Jawab Diane! Apa yang terjadi? Kau menerima surat kaleng?” Diane tidak pandai berbohong. Sam sudah mengenal adiknya dengan sangat baik. Dan Diane juga tahu bahwa satu-satunya orang yang tidak bisa ia bodohi hanyalah Sam. Jadi Diane berpura-pura tidak mengacuhkannya dan menjawab dengan tidak peduli. “Itu hanya ulah remaja yang usil saja. Percayalah, semuanya baik-baik saja.” Satu bagian dalam diri Diane tahu bahwa ia benar-benar berbohong. “Sialan, Diane! Kenapa kau tidak menghubungiku?” “Aku tidak ingin kau bersikap paranoid, Sam!” ujar Diane, ketus. “Dimana surat itu?” “Apa yang mau kau lakukan?” Ketika Diane tidak menjawab, Sam berjalan mengitari ruangan. Matanya mencari-cari sebelum berhenti di depan pintu kamar Diane. Sebelum Diane mencengah pria itu, Sam sudah membuka pintu kamarnya lalu berjalan untuk melihat kekacauan yang terjadi pada serpihan kaca dari jendela yang pecah dan sebuah kaleng beberapa batu berukuran sedang dan secarik kertas yang tergeletak di lantai kayu. Ketika Diane bergabung, Sam baru saja usai membaca suratnya. Wajahnya merah padam. Baru kali ini Diane takut dengan Sam. Kakaknya pasti akan marah besar. Dan Sam jelas tidak pernah terlihat segetir ini sebelumnya. Ketika Sam berbalik, Diane menjauh. “Kau sebut ini baik-baik saja?! Astaga Diane, ini ancaman! Surat peringatan untukmu. Kau tidak menghubungiku?” “Aku punya alasan yang kuat, Sam.” “Alasan untuk membiarkan kau menghadapi terror ini seorang diri sementara kau tidak pernah tahu siapa yang sedang mengincarmu?” sergah Sam. “Diane, kau tidak tahu zona apa yang sedang kau tempati ini. Ini jelas bukan surat sembarangan yang dikirim oleh para remaja hanya untuk menganggumu.” “Seandainya kau lupa, aku baru sepekan disini dan wajar saja kalau ada seseorang yang usil mengirimkan surat itu.” “Itu tidak ada kaitannya, Diane.” Ketika Sam melangkah lebih dekat, Diane tidak mengunjukkan reaksi sedikitpun. Tidak salah lagi, Sam pasti akan menyeretnya dari sini. Jika memang benar, Diane siap menghadapi pria ini. Tapi dugaannya sirna ketika Sam bertanya, “Kapan kau menerima surat ini.” Diane menggeleng. Menolak untuk menjawab, namun kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. “Malam tadi. Sekitar pukul satu.” “Sial.” Sambil mengalihkan pandangannya, Sam berkacak pinggang. “Aku tidak bisa membiarkan semua ini begitu saja. Pasti ada seseorang yang berniat buruk padamu,” ucapannya disela oleh Diane yang mendelik dan jelas-jelas bersiap untuk menyerang Sam. “Jika itu berarti kau akan membawaku pulang, maka jawabanku tidak, Sam. Aku tidak akan pulang. Itu keputusanku.” “Jangan membantah Diane! Kau lebih suka diincar oleh pembunuh..” “Tidak ada pembunuh, Sam. Kau berlebihan! Kalau saja kau terus memaksaku, maka sebaiknya kau angkat kaki dari sini. Ini semua rencanamu, kan?” “Apa?” Sam menyipitkan kedua matanya. Dahinya berkerut dalam. Dengan lantang Diane menegaskan penyataan terakhir itu. “Kau yang merencanakan semua ini untuk menakut-nakuti aku dan dengan begitu aku akan menurutimu untuk pulang,” “Kau gila! Untuk apa? Aku tidak akan menghabiskan waktulu untuk melakukan hal bodoh semacam ini.” Ketika Diane tidak bicara, Sam melangkah mendahuluinya. Ia meraih telepon dalam saku dan membuat Diane resah. “Apa yang mau kau lakukan?” “Kalau kau memang tidak mau pulang, maka aku akan menghubungi polisi untuk memeriksa kekacauan ini. Kau tidak bisa sendirian saat ancaman ada disekitarmu. Aku tidak akan mengambil resiko, Diane.” Diane hampir berteriak frustasi. Satu-satunya yang bisa membuat ia gila adalah kakaknya sendiri. Bagaimanapun ia patut bernapas lega karena setidaknya Sam tidak berusaha menghubungi papa. Tapi apa bedanya dengan polisi? Bukankah itu sama berlebihannya? Polisi itu tidak akan menemukan apapun selain serpihan kaca dan selembar surat yang jelas-jelas dibuat oleh orang sinting. Sementara hal terakhir yang ia inginkan adalah diinterogasi oleh para polisi. Diane tidak habis pikir dengan tindakan Sam yang menurutnya terlalu jauh. “Ini bukan hal yang besar, Sam.” Diane mengingatkan. Sam sudah menjauh dari ruang tidur dan kembali ke ruang depan. “Kau tidak perlu menghubungi polisi!” Ketika Diane menyusul ke ruang depan, Sam nampaknya sudah berbicara dengan kepala polisi lokal. Akhirnya Diane menyerah. Ia menunggu Sam menyelesaikan teleponnya sebelum bicara. “Apa aku boleh pergi kuliah? Atau kau masih akan menahanku dan mebuat aku gila?” “Tidak, Diane. Beberapa penyelidik yang kebetulan menangani kasus pembunuhan ini akan datang untuk menginterogasimu. Kau tidak boleh kemanapun sampai masalah ini selesai.” “Kau gila, Sam!” “Turuti saja, Manis. Aku tidak akan membiarkanmu bebas kali ini. Tunggu disini, aku harus menemui pemilik apartemen untuk bicara.” Ketika Sam pergi, Diane cepat-cepat menutup pintu kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Jules dan Regan. Ia dengan singkat menceritakan semua itu dan membuat janji pada dua temannya untuk bertemu di taman jogging seperti biasa sore nanti. Setelah Diane menutup pintunya, ia beranjak menuju kamar kecil.  ... Keadaan semakin kacau saja ketika beberapa penyelidik mulai berdatangan untuk memeriksa kondisi apartemen Diane dan menahan surat kaleng itu sebagai bukti. Berkat bujukan Sam, atau lebih tepatnya paksaan Sam, Diane bersedia untuk diinterogasi oleh dua orang polisi yang hampir membuatnya semakin gila. Beruntung dua jam itu berlalu dengan cepat. Diane berhasil melarikan diri ketika Sam menyibukkan diri dengan beberapa polisi. Mengenakan mantel hitamnya juga tas yang tergantung di bahu, Diane berjalan keluar dari apartemen untuk mengendarai mobilnya menjauh. Diane tidak memerlukan izin Sam untuk pergi menemui Jules dan Regan. Sam sudah menahannya sepanjang hari dan Diane tidak perlu berdebat hanya untuk izin keluar. Lagipula ia sudah janji dengan dua temannya untuk menghadiri seminar malam nanti. Tapi sore ini, Diane akan pergi ke taman jogging untuk bicara dengan mereka. Sepanjang perjalanan, Diane tidak bisa menyingkirkan pesan terakhir Sam yang membuatnya gusar. Sam akan membayar seorang penyelidik untuk mengawasi Diane dan menjaga keamanan Diane. Jelas jika Diane menolak. Tapi Sam kelihatan serius dengan kata-katanya. Sekarang keadaan menjadi lebih buruk dari yang bisa ia bayangkan. Hal terakhir yang diinginkan Diane hanyalah seorang pengawal pribadi yang menguntitnya kemanapun ia pergi dan membuat ia jengkel karena mengganggu privasinya. Sial. Sam benar-benar keterlaluan. Apa yang diinginkan saudaranya itu? Membuat Diane gila mungkin tebakan yang paling tepat. Sam akan membunuhnya secara perlahan. Rasanya Diane ingin menghubungi Emiline. Hanya Emiline satu-satunya harapan yang bisa ia mintai pertolongan. Diane bisa meminta Emiline menasehati Sam untuk tidak lagi mengganggu ketenangannya. Tapi persetan, Emiline sudah terlalu sibuk dengan Jack, mantan pacar yang entah bagaimana menjadi suaminya sekarang. Juga Ricard puteranya yang berusia delapan tahun. Kakak tertuanya itu pasti tidak banyak membantu. Dan apa lagi yang bisa dilakukan Diane sekarang? Menghubungi papa sama saja seperti menggali lubangnya sendiri. Tapi ia juga tidak bisa diam dan membiarkan Sam mengendalikan kehidupannya. Oh, sial. Lima belas menit berikutnya Diane sudah sampai di taman. Ia segera turun dari mobilnya ketika melihat Jules dan Regan sedang berdebat dengan seorang pengunjung taman lainnya. Tidak perlu ditebak, Diane sudah tahu bahwa Jules pasti sudah membuat masalah lagi. Ketika Diane datang wanita itu sudah pergi meninggalkan Jules dan Regan. “Ada apa?” tegur Diane ketika temannya berbalik. Regan yang menjawab. “Hanya masalah kecil. Jules yang membesar-besarkannya.” “Sudah kuduga.” Jules melayangkan pelototan sengit pada Regan. Ia meraih lengah Diane kemudian memilih bangku kosong untuk duduk. Setelah mereka mencapai tempatnya masing-masing, Jules memulai. “Jadi ceritakan padaku bagaimana kau bisa mendapat surat misterius itu, Diane.” “Aku tidak mau mengingatnya. Sam membuat aku muak.” “Ayolah,” bujuk Regan. “Kami tidak seperti Sam.” Sambil menghela napas pasrah, Diane menyetujui. Ia menceritakan kembali semua hal yang sebelumnya telah ia ceritakan pada para polisi itu. Diane mendapat perhatian besar dari dua sahabatnya ketika ia bercerita. Dan Jules baru member tanggapan setelah ceritanya usai. “Aku pikir Sam ada benarnya.” Kata Jules. Wajahnya berseri-seri ketika ia menyebutkan pria yang diam-diam dikaguminya itu. Regan dan Diane tahu Jules mengagumi Sam sejak lama. Bahkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Tapi seperti yang dikatakannya, Jules hampir tidak bisa untuk tidak menggangumi setiap pria. Diane yakin bahwa temannya ini bermasalah. “Seseorang pasti telah mengintaimu dan berencana menjadikanmu sebagai korban.” Jules melanjutkan. Diane yang tidak senang hampir meringis ketakutan, sementara Regan menatap sinis temannya yang blak-blakan itu. “Jules, kau seharusnya tidak bicara seperti itu di depan Diane. Kau membuatnya takut.” Kata Regan. Tidak kalah sengitnya dengan Jules. Jules hanya mengerutkan wajahnya. “Aku hanya mencoba berterus terang. Bagaimanapun berita itu sedang beredar sekarang. Aku membacanya disetiap hampir di setiap surat kabar!” Mendengar pernyataan Jules, Regan mengenyitkan dahinya. Seolah bersikap tidak tahu-menahu. “Berita apa?” “Berita pembunuhan itu. Apa kau tidak menyaksikannya di televisi?” “Oh, aku mungkin ketinggalan berita akhir-akhir ini.” Sahut Regan. “Memangnya apa yang mereka bicarakan?” Ketika Jules mencondongkan tubuhnya untuk mendekat, Diane melihat dengan jelas rambut pirang yang terikat rapi juga mata hijau temannya yang berkilau. Tapi bukannya menenangkan, Jules justru membuat Diane semakin khawatir. “Pembunuhan itu dilakukan terhadap gadis-gadis,” mulai Jules. Matanya terbuka lebar seakan sedang berusaha menakut-nakuti Regan dan Diane. Suaranya terdengar lebih rendah. “Pembunuh misterius ini tinggal di tempat yang tidak menentu. Mereka berkeliaran di kota-kota kecil. Tapi menurut kabar, ternyata mereka tidak hanya satu!” “Maksudmu berkomplotan?” tanya Regan dengan antusiasme yang bersar. Tidak seperti Diane, nampaknya Regan mempercayai setiap ucapan Jules. Jules mengangguk dengan cepat. “Pembunuh-pembunuh itu menyebar untuk mendapatkan mangsanya. Mereka melakukan terror dan salah satu korban yang berhasil ditemukan telah terbunuh dalam keadaan mengenaskan.” Diane meringis jijik. Ketika Jules menggerakkan jari-jarinya seperti mencakar udara, Diane semakin bergetar ketakutan. “Kau tahu apa yang dilakukan pembunuh itu?” Jules menatap Diane dan Regan secara bergiliran. Ia melanjutkan, “Mereka memperkosa para korbannya kemudian melakukan pemerasan pada keluarga korban dan begitu uang hasil pemerasan itu sampai di tangan mereka, mereka segera membunuh korban untuk menghilangkah jejak. Mereka menusuk dan menyayat leher korban dan... Dorr!!” Regan terlonjak dari bangkunya sementara Diane meringis ketakutan. Jules yang dengan bangga tertawa di tengah ketakutan dua temannya. “Itu sama sekali tidak lucu, Jules!” komentar ketus Regan tidak diacuhkan oleh Jules. Wanita itu justru berkata dengan santai, “Aku tidak sedang membuat lelucon. Itulah yang terjadi. Surat kabar mengatakan begitu.” “Tapi ini jelas tidak ada kaitannya dengan surat bodoh yang aku terima,” sanggah Diane. “Ya, ya, mungkin kau benar. Itu hanya ulah anak-anak sinting yang mau menggoda tetangga barunya.” Jules mengakui. Ia menegakkan tubuhnya kemudian meneguk sebotol kopi yang sempat ia beli di kedai. “Aku harus melihat siapa orang yang berani mengganggumu. Dia pasti benar-benar tidak menyukaimu. Atau sekiranya begitu.” “Jadi apa yang dikatakan Sam?” Regan mengarahkan mereka pada topik lain. “Apa dia akan memintamu untuk pulang dan menjauh dari kota ini?” “Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Jawaban Diane begitu singkat dan jelas. Begitu yakin. Namun pada detik berikutnya ia merengut kecewa. “Tapi Sam ingin membayar seorang penyelidik untuk mengawasiku.” “Itu bagus.” Komentar Jules mendapatkan perhatian penuh sekaligus pelototan dari kedua temannya. “Umm,, mungkin aku hanya bergurau. Lupakan saja!” “Kami berjanji akan membantumu, Diane. Kau tidak perlu kawatir.” Kata Regan, ucapannya membuat Diane merasa lebih tenang. Sementara Jules, seperti biasa hanya mengangguk-angguk setuju. Selama tiga detik terjadi kekosongan, Jules kembali mengisi pembicaraan. “Jadi kenapa kita tidak pergi ke rumahku untuk bersiap-siap. Ada acara seminar yang harus kita hadiri seandainya kalian lupa.” Diane dan Regan segera menyetujui Jules untuk bersiap-siap. Mala mini mereka akan menghadiri seminar kesehatan yang diadakan di dekat asrama. Akan banyak undangan yang hadir dalam acara tersebut.  ... Raveen mendapat panggilan sore itu dari Cooper. Ia segera bergabung bersama Ian dan Ferdie kawan penyelidiknya yang lain di ruang atasannya. Ketika Trent-penyelidik senior masuk dan bergabung, Cooper baru mulai membicarakan maksudnya memanggil empat penyelidik sekaligus. Beberapa berkas tertumpuk di meja Cooper. Raveen mendapat firasat buruk hanya dengan menantap sekumpulan berkas-berkas yang entah apa isinya. Dan ketika Cooper beranjak untuk mengambil berkas lain, Raveen mual. “Aku baru saja mendapat telepon dari seorang klien.” Mulai Cooper. Kepala polisi itu menyesap kopi yang tersaji di meja sebelum melanjutkan, “Diduga aka nada korban pembunuhan lain. Seseorang menerima surat berisi ancaman di apartemennya dan siang ini tiga orang polisi lokal sedang memeriksa tempat kejadian.” Firasat buruk yang melanda Raveen benar-benar terbukti ketika Cooper menyerahkan sebuah dokumen padanya. Tiga orang penyelidik lain di dalam ruangan saling bertukar pandang sementara Raveen menerima dokumen itu. Ia membaca singkat isinya dan Raveen terkejut bukan sekedar terkejut tapi ia benar-benar terkejut. Ia belum berpengalaman menjamin keamanan seorang klien. Tapi dengan begitu santai Cooper menandatangani surat permintaan keamanan itu atas namanya. “Apa ini?” tanya Raveen, sengit. “Kau sudah membacanya.” “Maksudku, kenapa harus aku?” Cooper maju mendekat. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada tepian meja, bersedekap sambil menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain. Dengan pembawaan santai, Cooper menjawab, “Klienku menginginkan yang terbaik, Alex. Yang terbaik. Dan aku memberimu kesempatan.” Kenyataan bahwa Cooper berusaha menyenangkan Raveen nampaknya tidak berjalan dengan mulus. Raveen lebih suka terjun langsung dalam penyelidikan, bukannya menjadi seorang pengawal pribadi yang harus menguntit dan menjamin keselamatan kliennya. “Tapi aku tidak berpengalaman. Ini mungkin tidak akan berjalan dengan baik.” “Itu hanya pendapatmu saja. Kau bisa menyelesaikannya seperti menyelesaikan kasus-kasus lainnya. Lagi pula klienku ini bersedia membayar mahal untuk penjagaan ekstra,” “Bukan masalah itu,” sela Raveen. “Kau bisa meminta yang lain dan mungkin lebih berpengalaman.” “Tentu saja aku bisa,” sahut Cooper. “Tapi klienku sendiri yang mengajukanmu untuk menjalankan tugas ini. Dia bilang dia mengenalmu.” “Apa?” Raveen menyipitkan matanya. “Siapa katamu?” “Keluarga Hampton menginginkanmu bekerja untuk mereka.” Raveen hampir lupa menelan liurnya ketika Cooper menyebutkan nama yang familier itu. Entah bagaimana, rasa gembira sekaligus kecewa melandanya. Tapi kegembiraan itu berhasil menguasai dirinya jauh dari yang bisa ia duga. Sudah lama sekali Raveen tidak menjalin hubungan dengan keluarga dari sahabat terdekatnya itu. Dan sekarang, entah bagaimana dunia jadi terasa begitu kecil. Tapi kegelisahan mulai melanda pikirannya. Jika memang keluarga Hampton yang menginginkannya, pasti sesuatu yang buruk telah terjadi pada mereka. Tapi siapa? Sam? Ya, Raveen akan segera mengetahui jawabannya nanti. “Aku menyetujuinya.”  - BAGIAN 2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD