Orang Tua

1779 Words
Sejak pagi di rumahh yang kini ditinggali Doni lagi sudah ramai oleh orang-orang yang Doni tebak sebagai perancang acara ulang tahun adik tirinya, Sinta. Ulang tahun ke 7 anak kecil itu dirayakan dengan tema salah satu film animasi yang booming tahun lalu, yaitu Frozen. Ruang tamu rumah dan ruang keluarga menjadi tempat berjalannya acara. Sudah dipasangi juga hiasan dan dekorasinya yang seba biru dan sangat feminim karena untuk anak perempuan. Doni sudah mencoba menghindar untuk tidak turut ikut dalam kesibukan itu, tapi mama tirinya meminta bantuan di depan papanya untuk membantu mengawasi orang-orang dan perancang acara yang berlalu lalang di rumah ini. Dia tidak bisa kabur, dan sangat kesal karena seharusnya dia sudah janjian bersama Anjar dan Bagus untuk bermain ke Gelora Bung Karno yang sudah direnovasi menjelang Asian Games sekaligus ikut CFD di hari minggu ini. Tapi semua itu kandas dan dia harus duduk melihat orang berlalu lalang di hadapannya. Beberapa kali juga dia terlihat sabar menanggapi celotehan adik tirinya yang tidak bisa diam barang satu detik saja dan terus mengganggu orang-orang yang sedang memasang dekorasi. Terpaksa dia juga harus mengawasi Sinta karena mama tirinya sedang di dapur menyiapkan makanan yang akan disajikan nanti untuk tamu. Saat jarum jam menunjukkan pukul 3 sore lebih 10 menit, pintu kamar Doni diketuk. Dia terbangun karena ketukan itu semakin keras disertai jeritan anak kecil yang dia tahu siapa itu. Adik tirinya, Sinta.  Doni hanya bisa menghela nafas karena dia baru saja tidur jam setengah 3 setelah persiapan selesai dan dia ingin sekali tidur siang, tapi Sinta justru menggangunya lagi dengan suara anak kecil yang sangat menganggu itu. Karena tidak ingin menimbulkan keributan, Doni akhirnya beranjak dari kasur dan membuka pintu. Lalu ketika pintunya sudah terbuka, kakinya langsung dipeluk oleh Sinta yang menatapnya dengan wajah berbinar. Bocah yang akan beranjak menuju umur 7 tahun itu merengek pada Doni untuk digendong dan membawanya ke bawah di mana acara ulang tahun akan segera dimulai. Doni ingin menolak untuk menggendong Sinta, tapi saat itu papanya lewat dan memberikan isyarat kalau Doni harus menuruti apa yang Sinta inginkan. Maka dari itu, sekarang ini dia sedang menuruni tangga dengan Sinta di gendongannya yang sudah berganti pakaian ala princess Elsa dengan mahkota di kepalanya. Saat mereka berdua melewati badut yang memakai kostum olaf yang berdiri di dekat pintu masuk rumahnya, Sinta langsung beringsut turun dari gendongannya dan mendekati badut yang saat ini dikelilingi banyak anak kecil. sepertinya banyak anak-anak mengetahui dan menggemari karakter boneka salju itu. Dan si badut pun terlihat sangat ramah meski banyak anak kecil mengelilinginya, yang pasti jika itu Doni, dia akan sangat merasa gerah dan tidak nyaman karena kelakuan anak-anak yang kadang tidak bisa diprediksi. Doni memutuskan berdiri di dekat prasmanan makanan dimana itu letaknya bersebrangan dengan panggung yang saat ini berdiri papa, mama tirinya dan juga Sinta. Mereka sudah memulai acara ulang tahun ini dengan dipandu seorang MC. Doni tidak memperdulikan semua itu, lagian dia sudah merasa sangat bosan karena ini bukan wilayahnya. Setelah acara tiup lilin dan potong kue selesai, tamu undangan dimana itu adalah anak-anak beserta orang tua mereka dipersilakan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Doni yang tadinya berdiri di sebelah prasmanan menyingkir karena orang-orang mulai mendekat ke arah itu. Dia bergeser menuju tempat dimana badut berkostum olaf berada. Dia berdiri di sebelah badut itu yang kemudian menyapa Doni. Doni dengan kikuk membalas sapaan itu dan duduk di kursi yang tersedia di sana. Dia tadi membawa coklat dan beberapa panganan manis untuk disantap. Namun ketika dia menoleh ke sebelahnya, dia menemukan badut itu melihat kearahnya, atau lebih tepatnya ke arah piring makanan yang dibawanya. "Anda mau?" tawar Doni, dia mengulurkan satu cup muffin tapi buru-buru badut itu menolak dengan mengibaskan tangannya. Setelah pesta selesai, Sinta sudah dalam keadaan mengantuk di gendongan papanya. Orang-orang kebanyakan sudah pulang hanya mungkin ada beberapa kenalan dengan mama dan papanya yang tersisa dan mereka tengah berbincang.  Doni yang merasa kekberadaannya tidak dibutuhkan lagi pun hendak masuk ke kamarnya lagi, namun dia akan mampir ke dapur dulu mengambil minuman bersoda yang kemarin di belinya dan dia simpan di dalam kulkas. Tapi saat dia melintasi ruang tengah yang memiliki akses langsung menuju taman belakang rumahnya, dia melihat si badut berkostum olaf yang kini sudah melepas bagian kepalanya. Dari jarak pandang Doni, dia tahu bahwa orang yang berada dalam kostum itu adalah perempuan karena rambut panjang yang dicepol menggunakan ikat rambut warna pink. Niatnya untuk kembali ke kamar tertunda, karena kemudian Doni justru mengamati perempuan dengan kostum olaf itu yang kini tengah meregangkan tubuhnya, sehingga itu terlihat menggemaskan karena badannya masih tertutup kostum olaf.  Doni belum tahu rupa perempuan itu karena posisinya membelakangi Doni. Namun kemudian Doni tahu siapa perempuan itu, ketika kemudian perempuan yang menjadi badut di ulang tahun adik tirinya itu adalah orang yang sama dengan orang yang kemarin mengingatkannya untuk membuang sampah pada tempatnya. Perempuan yang menurut Anjar dan Bagus adalah Miss kebersihan, dan perempuan yang juga dipujinya cantik, Andin. Andin belum mengetahui jika sejak tadi Doni terus mengamatinya. Doni masih betah melihat Andin yang terlihat sangat menggemaskan dengan kostum olaf yang berbentuk bulat-bulat itu dan kini Andin dilihatnya sedang duduk sembari memakan muffin. Satu senyuman terukir di bibir Doni melihat Andin yang memjamkan matanya seolah rasa muffin yang dinikmatinya itu sangat lezat. Tidak sampai di sana, Doni juga mengamati Andin yang tengah melepas kostum badutnya. Namun karena kurang hati-hati, kaus yang digunakan oleh Andin sempat tersingkap sehingga menunjukkan perutnya yang rata,  tentu saja Doni melihat itu. Dia tertegun, namun segera mengalihkan pandangannya dengan wajahnya yang memerah karena merasa malu. Dan saat dia mengalihkan pandangannya lagi pada Andin, perempuan itu sedang membuka sebuah kotak makanan dan memasukkan cemilan manis itu ke dalamnya. Membuat Doni mengernyit karena Andin memakan satu cup saja dan sisanya dimasukan ke dalam kotak makan yang kini sudah masuk kedalam tas perempuan itu. Ketika Andin berjalan ke arahnya, Doni segera bersembunyi di balik tembok dapur yang membatasi area antara ruang tengah dan dapur. Dia mengintip dari sana dan melihat Andin yang melewatinya dengan wajah lelah namun tetap ada senyum di wajah cantiknya. Ketika posisi Andin sudah jauh, Doni keluar dari persembunyiannya. Dia melihat Andin sedang berpamitan dengan mama dan papanya lalu pergi dari rumahnya. Doni menggaruk rambutnya merasa salah tingkah dan merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa juga dia musti mengamati Andin sampai seperti itu? Dan kenapa juga dadanya berdesir ketika melihat senyuman Andin? Kemudian wajah Doni kembali memerah saat ingat bahwa tadi dirinya melihat hal yang seharusnya tidak dilihatnya. "Oke, Don.. anggap aja itu bonus." . /// Epiphany | gorjesso /// . Andin sampai di rumahnya dengan selamat. Senyumnya mengembang ketika dia bisa membawa banyak makanan dan bisa membeli persediaan pempers untuk ayahnya lebih banyak. Dia baru saja mendapatkan uang dari hasil dia menjadi badut di acara ulang tahun anak kecil yang menjadi mudid lesnya juga. Keluarga itu sejak awal memang sangat ramah pada Andin, mereka selalu membawakan makanan atau cemilan setelah Andin mengajar les pada anak mereka yang bernama Sinta. Dan kali ini pun mereka memberi upah yang cukup banyak untuk Andin yang menjadi badut berkostum karakter animasi favorit anak mereka. Uang itu tentu harus Andin gunakan dengan bijak. Dia adalah tulang punggung untuk keluarganya meski dia memang hanya tinggal berdua dengan ayahnya saja. Namun dengan keadaan ayahnya tersebut, mau tidak mau Andin harus bisa mandiri dalam segala hal.  Jika ditanya apakah Andin pernah mengeluh, tentu pernah. Dia bahkan sering menangis diam-diam karena rasa sesak dan hancur melihat keadaan ayahnya, namun dia tidak pernah menunjukkan air matanya itu di hadapan ayahnya, karena ayahnya pasti akan ikut menangis. Seperti biasa Andin akan menyapa ayahnya yang hanya bisa terbaring lemah di ranjangnya. Meski sudah bertahun-tahun pemandangan itu di lihat oleh Andin, namun siapa yang tahu bahwa hatinya akan mencelos melihatnya.  Setelah membersihkan diri dan menyiapkan makan malam, Andin menuju kamar ayahnya dan mendudukan ayahnya di tepian ranjang. Lalu Andin mempersiapkan kursi roda di hadapan ayahnya, kemudian Andin mengangkat ayahnya ke atas kursi roda. Meski berat dan terkadang membuat punggungnya terasa sakit, tapi Andin tetap mencoba bertahan karena kini dialah tangan dan kaki ayahnya. Setelah memastikan ayahnya duduk nyaman, Andin akan mendorong kursi roda ayahnya hingga berhadapan dengan meja yang di atasnya sudah ada segelas teh hangat, juga camilan yang didapatkannya dari acara ulang tahun Sinta murid lesnya dan juga makan malam mereka. Televisi juga dinyalakan oleh Andin untuk mengisi keheningan dalam rumah itu. Ayahnya menikmati camilan yang dibawa Andin dengan senang sembari menikmati acara tv yang menyiarkan ajang pencarian bakat musik dangdut. Acara tv kesukaan ayahnya. Andin kembali ke kamar untuk mengambil buku-buku pelajarannya menuju ruang tengah. Meski kadang dia tidak fokus dan kurang berkosentrasi karena ada suara tv saat dia belajar, tapi dia tidak tega membiarkan ayahnya duduk sendirian di ruang tengah. Karena sudah seharian ayahnya sendirian di rumah, beliau pasti merasa sangat kesepian. Dan hanya akan ada seorang yang Andin kenal sebagai Mbok Sutri yang merupakan tetangga sekaligus sepupu jauh ibunya yang datang ketika pukul 2 siang untuk menyuapi ayahnya makan siang. Andin merasa sangat bersyukur karena masih Mbok Sutri yang membantunya menjaga ayahnya ketika dia sekolah dan bekerja ketika siang, meski hanya akan di rumahnya untuk menyuapi ayahnya makan. Andin teringat dengan seorang yang dia temui di rumah keluarga Sinta tadi, laki-laki yang pernah dilihatnya di sekolah juga bersama teman satu organisasi lukisnya, Bagus. Dia tidak tahu kenapa laki-laki itu di sana, mungkin karena dia bersaudara dengan keluarga Sinta? Sebab selama dia mengajar Sinta, dia belum pernah melihat anak laki-laki itu sebelumnya. "Ro... Ro...." Andin terkesiap dan bangun dari lamunannya ketika mendengar suara ayahnya. Hanya panggilan isyarat karena sejak dinyatakan stroke, ayahnya tidak bisa bicara dan hanya bisa mengeluarkan suara "Ro...Ro...." untuk memanggil Andin atau meminta bantuan. "Apa, Yah?" tanya Andin seraya mendekati ayahnya. Ayahnya membuat isyarat dengan menggerak-gerakkan tangan kirinya dan mengusap-usap lengan kananya. "Dingin?" tebak Andin, namun ayahnya menggelengkan kepalanya. "Salep?" tebak Andin lagi. "Ro..." Dan setiap kali jika tebakan Andin benar dengan apa yang dimaksud ayahnya, maka ayahnya akan tersenyum senang. Sebab apa yang beliau mau bisa di mengerti oleh putrinya itu. Namun dalam lubuk hati Andin, saat itu dia justru merasa sangat terpukul. Tidak pernah Andin bayangkan jikalau ayahnya yang gagah akan menjadi seperti ini. Dalam keadaan dimana beliau harus dibantu untuk melakukan apapun. Andin pun bergegas mengambil salep yang diminta ayahnya. Salep itu biasanya untuk mengobati gatal-gatal yang kerap kali diarasakan oleh ayahnya di bagian kakinya. Biasanya beliau akan mengoleskannya sendiri tanpa bantuan Andin, karena Andin pun tidak paham letak gatalnya di mana. Andin juga mengambil tisu yang lupa dia siapkan untuk ayahnya. Dia menyerahkan salep itu pada ayahnya dan menaruh tisu yang tadinya berbentuk lembaran, kemudian diliatnya menjadi bentu persegi panjang ke atas pangkuan ayahnya. Suatu rutinitas yang selalu dia lakukan, namun rasa sedih setiap dia mengalaminya justru semakin besar. . /// . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD