JPD 2 Kucing

1041 Kata
Pov Alfa Namaku Alfa Mahendra asli Bandung, begitulah aku memperkenalkan diri dihadapan mahasiswa sejumlah sekitar 40an. Baru dua bulan lulus studi doktoral di kampus ternama di Singapura yaitu NTU, mengambil spesialis Analisis. Ya hari ini pertama aku masuk kelas untuk menggantikan dosen senior yang sedang bertugas ke luar kota. Aku akan mengampu mata kuliah Analisis riil. Ada kata riil artinya nyata, berarti isinya tentang matematika di dunia nyata mungkin itu pemikiran para mahasiswa. Tapi setelah mereka melihat-lihat isi buku tebalnya yang bertuliskan real analysis, maka akan terjadi perbedaan arti. Riil yang dimaksud adalah bilangan riil. Jadi, analisis riil mempelajari kaitannya dengan bilangan riil. "Setelah ini nanti akan ada lanjutannya yaitu mata kuliah analisis kompleks," ucapku dengan tegas sontak membuat seisi kelas berteriak horor. "Hwaaa, macam mana itu Pak?" ucap salah satu laki-laki bernama Galang. Ternyata dia hanya mewakili suara teman-temannya. Kenyataannya dia sangat paham isi materi analisis karena dia salah satu mahasiswa yang sering ikut olimpiade matematika dan tak jarang mendapat penghargaan. Aku mendapat info ini sebelumnya dari dosen senior yang membimbing olimpiade karena sebentar lagi akan menambah tugasku mendampingi beliau. Di kelas aku berusaha memecahkan keheningan, dari rasa takut mereka terhadap mata kuliah yang belum dkenalnya. Terutama analisis riil ini butuh pemikiran yang lebih dibanding kalkulus atau aljabar linear yang lebih banyak porsi teknis perhitungan. Dari sekian mahasiswa yang histeris, aku memicingkan mata ke salah satu mahasiswi yang tak berekspresi sama sekali, justru dia sering menutupi wajahnya baik dengan buku ataupun kedua tangannya seraya menundukkan kepala. "Kamu tidak apa-apa?" Perempuan itu masih menunduk sambil menggelengkan kepala. "Aneh, seisi kelas hanya dia yang termenung." "Namanya Riyanti, Pak Alfa. Biasa dipanggil Yanti, soulmatenya Amel dan Putri serta pasangan sejatinya Galang," teriak salah satu mahasiswa yang duduk di pojok. "Apa kamu nggak suka ikut kuliah saya?" tanyaku tapi dia masih tetap diam dalam posisinya. "Riyanti...," teriakku. "Ah iya Pak," pekiknya sembari mengangkat wajah menyisakan aku yang tersentak kaget saat mengetahui dia perempuan yang berebut pindang denganku di warung dekat kontrakan. "Maaf Pak Alfa," pintanya dengan lirih namun tulus. Aku yakin dia merasa bersalah dengan kejadian kemarin hingga takut memandangku yang kenyataannya adalah dosen pengganti di kelasnya. Terbesit ingin mengerjainya dengan sebuah pertanyaan yang kuajukan. "Jadi, apa isi mata kuliah yang akan kita pelajari nanti Yanti?" "Eh hmm,..." Dia menoleh ke kanan kiri mencari pembelaan. Ada perempuan yang kemarin bersamanya saat di warung kini sedang ditolehnya dan menggelangkan kepala. Beralih ke belakang ke arah Galang namun segera kupanggil namanya lagi. "Riyanti...jawab!" Dia semakin bergetar dan gugup. Mahasiswa yang sederhana namun tak kalah cantik dengan mahasiswi lainnya yang pintar berdandan. Kenyataannya dia hanya berdandan tipis atau bisa jadi tanpa make up. "Baiklah, Yanti. Apa jawabanmu?" "Hmm, analisis riil mempelajari hal nyata yang tidak nyata." Terdengar riuh tawa teman-teman sekelasnya yang membuatnya tertunduk malu karena kentara tidak mendengarkan penjelasanku tadi. Aku melanjutkan mengisi kuliah sampai 10 menit menjelang berakhir waktunya. Kugunakan sisa waktu untuk memberikan kesimpulan dan materi yang harus dipelajari berikutnya. Tak lupa tugas untuk dikerjakan secara kelompok guna menambah pemahaman mereka. Aku mendekati Yanti yang masih takut menatapku. "Berikan nomer ponselmu!" "Haah, buat apa Pak?" tanyanya dengan kening berkerut. "Biar saya mudah kasih info kalau ada perubahan jadwal." "Nomernya Galang aja Pak, dia ketua kelasnya." "Saya minta Galang juga, barangkali salah satunya lagi off." "Siap Pak," seru Galang yang aku tau Riyanti sudah memelototinya. Akhirnya Galang mengirimkan nomer ponselnya beserta nomer Riyanti. Aku menutup pertemuan dengan salam dan bergegas menuju ruangan, namun seperti ada langkah yang membuntuti dari belakang. Saat kutoleh ternyata Riyanti yang mengikutiku sambil menyeret Amel temannya. "Ada apa kalian mengikuti saya?" tanyaku dengan ekspresi datar, niatku haya ingin mengujinya sampai mana dia berani saat berada di kampus. Apakah keberaniannya masih sama seperti saat berdebat pindang di warung. Ah mengingatnya aku jadi kesal sendiri karena gagal memberi makan kucing yang sering mendatangi kontrakanku. "Hmm, ada yang ingin saya sampaikan pada Pak Alfa," ucapnya lirih dan masih tersirat rasa takut di wajah manisnya saat tersenyum simpul karena malu. 'Dasar ni otak, kenapa aku malah memuji orang yang sudah membuatku kesal dan berujung kucing kesayanganku lapar.' "Oh, kalau gitu ayo di ruang saya aja!" Mereka mengikutiku dengan patuh, sementara otakku sudah berkeliaran mencari ide untuk mengerjainya. Memikirkannya membuat hormon endorpinku meningkat. 'Bolehkan aku mengerjai muridku, biar jadi pembelajaran positif untuk tidak selamanya ingin menang sendiri.' "Silakan duduk." Digeretnya dua kursi tepat di depanku yang terhalang meja kerja masih kosong karena aku baru menempatinya hari ini. "Hmm, Pak Alfa, saya mau minta maaf atas kejadian kemarin." "Kejadian yang mana? Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?" kilahku dengan sedikit seringai mungkin tampak diwajahku. Sontak dia menahan kesal karena terlihat guratan di keningnya lantas menyikut lengan Amel. "Itu Pak kejadian di warung makan dekat kos kami." ucap temannya yang berusaha membantu. "Iya, saya salah sudah merebut kesempatan Pak Alfa untuk makan pindang kemarin. Seharusnya saya tidak seperti itu, maafkan saya." ucap Riyanti tulus sambil tertunduk. "Oh, saya nggak nyangka kalau yang berdebat dengan saya kemarin adalah seorang mahasiswi. Kirain penjual buah di pasar." Wajahnya terlihat kesal namun lucu. "Jadi, Bapak memaafkan saya kan?" mohonnya dan aku jawab dengan anggukan. "Tapi ada syaratnya." "Haah, syaratnya apa?" "Seminggu ini kamu harus belikan pindang untuk makan." "Apa?" tampak sekali Riyanti menimbang-nimbang saling berpandangan dengan Amel. "Hmm baiklah, lalu pindangnya saya bawa ke ruang sini?" "Antarkan saja ke kontrakan saya. Nanti saya kirim ke ponselmu alamatnya." Dia mengangguk lesu dan bergegas pamit dengan muka kusutnya. Sedangkan aku menahan untuk tidak tertawa di depannya supaya tidak membuatnya tersinggung. Sampai di pintu dia menoleh kembali kearahku. "Mulai kapan saya antar pindangnya, Pak?" "Besok siang. Ingat ya selama seminggu." ucapku penuh penekanan. "Astaghfirullah," jawabnya sambil menghentakkan dua kakinya yang tertutupi sepatu. Ekspresinya lucu sekali menurutku. Pov Riyanti "Astaghfirullah," inginku berteriak namun aku hanya menghentakkan dua kakiku yang tertutupi sepatu murah yang kubeli di pasar. Semoga sepatuku tidak jebol keseringan aku hentakkan dengan lantai. Baru kali ketemu dosen baru yang mengesalkan. Dia mengerjaiku untuk membelikannya pindang selama seminggu. Apakah dia seorang maniak pindang? Dia nggak tahu dompet ini selalu dijaga untuk tidak tergesa kempes karena masih harus menunggu sebulan untuk dapat HR privat. "Kamu kenapa, Ti?" "Aku kesal tahu nggak, Mel. Pak Alfa maksa banget sih minta kita belikan pindang selama seminggu." "Eits, kita? Kamu doang kan yang disuruh. Haha." Amel sudah menertawakanku karena ulahku sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN