Chapter Tiga

1068 Kata
            Malam di hari pertama Ana bekerja, kembali dihabiskan bersama Rendy. Mereka makan malam di kontrakan Ana—agar bisa menghemat uang, katanya. Ditambah lagi, Ana cukup handal dalam urusan memasak. Hal itu yang sangat dia banggakan di samping kelihaiannya dalam seni dan menulis.            “Menu utamanya sudah siap!” seru Ana sembari membawa satu panci berisi semur daging. Makanan lainnya sudah tertata rapi di atas meja.             Ana sangat beruntung bisa mendapatkan kontrakan yang bagus dengan biaya yang terbilang rendah. Di dalam satu ruangan sudah ada tempat memasak di pojok, dan masih bisa menaruh meja serba guna di tengah ruangan. Rendy lah yang membantunya hingga bisa menemukan tempat tersebut. Karena tentu saja, Ana yang belum lama tinggal di Jakarta, belum terlalu mengerti terhadap seluk beluknya.             “Aku selalu kangen makan masakan kamu. Dulu kayaknya hampir setiap hari kamu bawa bekal ke sekolah ya.”             “Iya, terus Kak Rendy kerjaannya ngabisin makanan aku terus, kan!”             “Lho, bukannya kamu yang sengaja pdkt sambil nawarin makanan?”             “Ih, geer banget kamu, Kak.”             Rendy menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Kemudian disusul dnegan sepotong daging. Matanya sesaat terpejam menikmati kelezatan dari makan malamnya.             “Kayaknya bakat masak kamu nurun dari alhamarhum ibu ya?”             “Hu’um. Dari kecil aku selalu diajak ibu pas lagi masak. Jadi tanpa sadar ketularan, deh. Kalau lagi kangen, aku pasti bikin masakan andalan ibu.”             “Hari ini lagi kangen ya?”             “Hehe, iya.”             Rendy menepuk-nepuk kepala Ana pelan. Dia masih ingat benar kalau Ana sering bilang semur daging ibunya paling juara. Menyimpan banyak kenangan antara Ana dan ibunya. Bukan hanya kenangan indah, ada pula kenangan saat keluarga mereka berada di situasi sulit—hingga tidak mampu membeli daging. Ana yang masih kecil hingga merengek, tanpa tahu apa yang sedang orang tuanya hadapi.             Kadang Rendy merasa bingung, tiap kali melihat wajah Ana yang selalu tersenyum. Tiap kali bertukar cerita di telepon, hingga bertemu sekali pun, Ana tidak pernah terlihat sedih. Padahal tanpa diceritakan pun Rendy tahu semua hal yang telah Ana lalui. Tidak mungkin ada orang yang bisa menahan masalah sebanyak itu sendirian, pikirnya.             Orang tua Ana meninggal empat tahun lalu. Dalam kondisi yang tidak pernah diharapkan oleh semua orang. Keduanya menjadi korban pembunuhan di jalan tol, oleh kawanan perampok. Entah memang sengaja, atau justru tidak sadr telah turut mencuri nyawa seseorang saat beraksi.             Setelah itu Ana hanya tinggal bersama kakaknya, yang tak lama pergi karena harus bekerja di Korea sebagai TKI. Menjalani kontrak bertahun-tahun hingga tak bisa pulang menemui Ana sekali pun dalam empat tahun ke belakang. Beberapa kali Ana hanya mendapatkan kabar melalui telepon atau pun email. Dan rutin mengirimkan uang tiap bulannya. Hanya setelah lulus SMA, Ana berkata akan mencari uang sendiri. Beruntungnya, dia bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah, dan buku yang dia tulis laku keras.             Ana sempat berkata, dia mungkin tidak akan sanggup menjalani kehidupan sendiri. Tapi kehadiran Rendy yang selalu memberikannya kekuatan. Mereka memang sudah saling kenal, jauh sebelum mulai berpacaran—karena memang tinggal dalam satu kampung yang sama. Saat Ana kelas dua SMA, keduanya baru berani saling menyatakan perasaan. Keluarga Rendy pun sangat baik kepada Ana. Apalagi setelah mendapatkan kabar soal kematian kedua orang tua gadis tersebut. Ana jadi semakin sering diundang hanya sekedar untuk makan bersama. Sudah terasa seperti keluarga baru baginya.             “Tadi gimana hari pertama kerjanya?”             “Seru! Sebenernya belum mulai, sih. Aku baru diajak keliling-keliling museum. Tapi karena aku suka, jadi kayaknya bakal menyenangkan.”             “Jobdesc kamu ngapain aja nanti?”           “Semacam guide. Aku nemenin tamu yang datang, bantu ngejelasin. Sama ngurusin seputas administrasi.”             “Oh... capek gak tuh?”             “Emangnya ada kerjaan yang gak capek? Ada-ada aja nanyanya.”             Pembicaraan terhenti sesaat. Mereka lanjut menyantap makanan dengan lahap. Sejak tadi laptop Randy dinyalakan untuk memutar tayangan youtube. Namun kadnag terlupakan jika keduanya asik mengobrol.             “Na, kamu yakin mau lanjut kerja di museum?”             “Iya lha, Kak. Masa baru sehari udah mau resign. Becanda aja ih!”             “Bukan begitu. Maksudku, kamu kan sudah cukup punya penghasilan dari penjualan buku.”             Awalnya Ana berpikir Rendy sedang bercanda, tapi dia menangkap ekspresi serius pada wajah lelaki di sampingnya itu.             “Penghasilan dari nulis gak stabil, Kak. Suatu saat bisa aja bukuku gak laku, atau ada hal yang bikin aku gak nulis lagi. Lagipula, terlalu pas-pasan buat hidup di Jakarta.”             “Sebenarnya, kamu juga gak harus tinggal di Jakarta, kan? Kalau kamu tetap menulis dan tinggal di kampung, uangmu pasti bisa ditabung.”             “Kita kan udah pernah ngomongin ini, Kak. Kalau aku kembali ke kampung, kita gak bisa sering ketemu kayak sekarang. Kak Rendy gak suka aku ada di sini?”             “Bukan begitu, Na. Aku senang bisa dekat sama kamu. Tapi kadang aku ngerasa pilihan yang kamu ambil itu bukan karena yang terbaik buat kamu. Tapi hanya apa yang kamu mau.”             Ana terdiam seribu bahasa. Awalnya dia ingin sekali marah. Tapi kini, dia justru sedih karena merasa apa yang dikatakan Rendy memang benar. Dia sedikit tertunduk, masih tidak memberikan respon apa-apa. Sembari menahan agar tak perlu mulai menangis.             “Hei, aku bukan mau bikin kamu sedih,” ucap Rendy dengan nada sangat lembut. Berusaha agar gadis di hadapannya tidak terluka. Dia mengusap pipi Ana.             “Kakak kan tahu, saat ini yang aku punya cuma Kak Rendy. Kakak benar, aku memilih ikut ke Jakarta karena kemauanku. Tapi aku tahu, hal itu yang terbaik buatku. Aku gak bisa tahan tiap kali mikir harus kesepian di kampung. Dengar suara kakak lewat telepon saja masih belum cukup...”             Mendengar suara Ana yang semakin bergetar, membaut Rendy jadi merasa bersalah. Dia langsung memeluk Ana. Tak memperpanjang pembicaraan. “Maaf, Na... Maafkan aku...”             Keduanya terdiam cukup lama dalam keadaan sama. Rendy merasakan Ana—yang masih tenggelam dalam pelukannya—terisak. Membiarkan waktu mengembalikan suasa yang tak sengaja dia buat sendu. Tentu saja bukan hal yang dia harapkan untuk terjadi.                                                                                                   ***             Puteri berjalan masuk ke dalam hutan. Mencari ratu burung dara yang melegenda. Kabar burung mengatakan bahwa sang ratu bisa membawannya ke langit. Mungkin bisa meminjamkan sayapnya untuk membawa puteri menuju hamparan bintang. Tuk menemukan satu yang bisa menerangi hidupnya. Dari ribuan yang berkelip indah, puteri tak bisa memilih dari kehauhan. Dia harus terbang, menuju angkasa, mendekat tuk memastikan tak salah pilihan. Agar tak perlu memberikannya perasaan kecewa. Karena terkadang, kita hanya melihat sesuatu yang indah di mata. Tanpa tahu seperti apa wujud yang sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN