“Sebenarnya kalau kamu lihat-lihat sendiri juga pasti langsung ngerti, sih. Gallery kita dibagi tiga bagian. Lantai satu untuk keramik dan ukiran, lantai dua untuk fotografi dan kaligrafi, lantai tiga untuk lukisan, dan lantai empat untuk karya lainnya seperti mozaik atau patung.”
“Wah...” komentar Ilyana dengan takjub.
“Kita buat juga ruangan lantai empat sebagai ruang serba guna. Orang luar boleh menyewa ruangan itu untuk mengadakan pameran atau acara lainnya. Yang paling sering itu biasanya acara sekolah dan sanggar. Oiya, dari perkumpulan orang asing juga sering ngadain acara di sana, itu seru banget, sih!” jelas perempuan berkerudung dengan semangat. Namanya Mia, salah satu staff museum yang seumuran dengan Ana. Dia menjadi yang paling semangat karena akhirnya memiliki teman seumuran di tempat kerja.
“Waw, keren banget! Aku sebenarnya belum kebayang kerja di museum seni tuh kayak gimana. Kirain cuma jagain barang pajangan doang, hehe.”
“Aku juga awalnya gitu, sih. Kebayangnya bakal boring. Pas dijalanin, eh seru juga! Meski capek banget kalau udah ada yang namanya event tuh. Apalagi pegawai kita gak banyak.”
Ana melangkah perlahan menyusuri tepian ruangan di tiap lantai. Tidak ingin melewatkan satu pun karya seni yang terpajang dengan rapi. Ruangan luas dengan tembok bercat putih tulang tidak terasa sepi berkat penataan barang yang benar-benar terkonsep. Bahkan Ana sendiri tidak bisa menata kamarnya yang jauh lebih kecil menjadi serapi itu.
Lantai satu dan lantai dua membaut Ana takjub dibuatnya. Namun, yang paling membaut dia tertarik adalah lantai tiga. Sejak lama, dia sangat menyukai seni lukis. Sedikitnya, dia pun bisa melukis meski hasilnya belum sebagus yang terpajang di gallery. Mungkin bakatnya itu menurun dari sang ayah yang seorang pengrajin kayu.
“Sini, deh!” Mia menarik tangan Ana ke hadapan sebuah lukisan buatan Affandi Koesoema. “Tahun lalu gallery kita sempat kebanjiran tamu karena lukisan ini nih!”
“Wah... ini asli?”
“Udah pasti, dong!”
“Bu Aisha dapat lukisan ini di pelelangan pas di Singapura! Dia bela-belain ngeluarin uang karena ingin bawa pulang lukisan ini yang katnaya harus dipulangkan ke tempat asalnya.”
“Yang ngumpulin karya-karya di sini semuanya Bu Aisha ya?”
“Ya, enggak juga, sih. Tapi pas mulai gabung lima tahun lalu, emang makin banyak orang yang datang berkat karya seni yang dia kumpulin. Makanya Pak Kusuma seneng banget ke Bu Aisha.”
“Pak Kusuma?”
“Ya, ampun, Ana! Masa kamu lupa sama atasan sendiri! kepala museum lho itu.”
“Hehe, ya maaf. Kan pas wawancara cuma sama Pak Raharja aja.”
Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke lantai teratas dari galeri. Namun, sebuah lukisan yang berada di dekat tangga, berhasil menghipnotis Ana. Dia tidak sengaja telah berhenti dan menatap lukisan tersebut. Seekor burung yang baru saja lepas landas menuju ke angkasa. Menuju kumpulan bintang-bintang yang berkelip. Salah satunya dibuat lebih terang dan besar dibanding yang lain. Guratan warna-warna yang indah, saling berpadu dengan serasi. Meski begitu, Ana masih bisa merasakan kesedihan di dalam goresan kuasnya.
Rasa penasaran Ana langsung muncul. Dia melirik ke bagian bawah lukisan. ‘S. Raharja’ tertera sebagai nama sang seniman.
“Ana! Ayo!” teriak Mia dari atas atas tangga. Dia sudah setengah jalan dan baru sadar kalau si anak baru tiba-tiba menghilang.
“Eh, iya. Maaf.”
Ana berajalan cepat untuk menyusul. Mencoba untuk mengabaikan benda yang masih membuatnya penasaran tadi. “Pak Raharja ngelukis juga ya, Mi?”
“Hmm... aku belum pernah denger soal itu sih. Tapi dari mukanya yang keliatan galak gitu kayaknya dia bukan orang yang sabar buat duduk seharian sambil maenin cat dan kuas.” Ana tertawa mendengar pendapat spontan Mia. “Cocoknya jadi apa, emang?”
“Hakim atau ABRI, gitu.”
“Hati-hati kedengeran sama orangnya, lho!”
“Ih, jangan nakut-nakutin, dong!”
Tour keliling galeri pun berahir di bagian belakang gedung, di mana terdapat sebuah foodcourt yang cukup luas. Pak Kusuma sengaja mendirikannya agar banyak orang yang datang ke sana, dan sedikitnya jadi memiliki ketertarikan untuk mampir ke galeri. Selain itu, staff museum pun jadi lebih mudah jika ingin makan siang.
“Sorry ya, Na, aku harus ke office dulu.”
“Gak apa. Aku mau lihat-lihat lagi sendiri ya.”
“Oke!”
Hari ini, Pak Raharja memberikan waktu bagi Ana untuk berkeliling dan memahami isi museum. Jadi, dia punya banyak waktu untuk menikmati satu persatu karya seni yang ada. Tapi lebih tepatnya, dia hanya ingin mengamati lebih lama lukisan yang sempat menghentikan langkahnya tadi.
“S. Rajarha...” Ana mengeja kembali nama sang pelukis. Tapi, anehnya, dia baru sadar kalau lukisan itu satu-satunya yang tidak memiliki judul. Dia sampai memastikan ke lukisan lain yang ada dalam satu ruangan, hingga yakin ada sesuatu hal yang membuat si pelukis tidak memberikan judul pada karyanya. Atau mungkin masih merahasiakannya.
“Ini lukisan tentang apa ya?”
Ana sedikit terkejut karena seorang lelaki tua tiba-tiba muncul di sisinya. Tanpa sadar dia sudah tenggelam terlalu lama—memandangi lukisan di hadapannya. Dia sampai lupa kalau saat ini sedang berada di pertengahan jam kerja museum.
“Kamu bisa menjelaskan maksud dari lukisannya?” tanya si kakek lagi. Membuat Ana salah tingkah.
Ana ingin sekali meminta maaf dan lekas pergi. Tapi dia merasa tidak baik jika harus meninggalkan pengunjung begitu saja. Lagipula dia memiliki opini yang ingin disampaikan.
“Lukisan ini menggambarkan kebebasan. Mungkin si seniman baru saja mendapatkan jalan keluar dari sangkar yang sudah lama mengurungnya. Hingga akhirnya dia bisa terbang bebas seperti burung itu. Tapi anehnya, saya tidak bisa menangkap ekpresi kebahagiaan yang seharusnya ada. Bukankah kebebasan harusnya membuat seseorang bahagia? Tapi dia justru terlihat sedih. Seakan di luar sangkar itu masih ada mimpi lain yang belum bisa dicapai. Mungkin dia masih berusaha mengejar bintang di langit itu. Dan menyadari bahwa kebebasannya hanyalah hal semu. Jika dia belum bisa meraih apa yang sebenarnya dia inginkan.”
“Hoo begitu...” komentar kakek botak yang tersenyum tipis. Mata sipitnya membuat dia seakan kebosanan hingga hampir tertidur.
“Eh, itu hanya pendapat saya, Kek. Bisa jadi yang dirasakan si pelukisnya lain. Hehe.”
Si kakek hanya tersenyum sembari mengangguk-angguk kecil. “Dari dulu saya masih bingung maksud dari si pelukis. Sepertinya saya setuju denganmu.”
“Kakek sering datang ke sini?”
“Ya, hampir setengah dari masa hidup saya dihabiskan untuk menikmati semua karya seni di tempat ini.”
“Wow, Kakek pelanggan setia museum berarti ya.”
Lelaki tua tersebut terkekeh. “Bisa dibilang begitu. Kamu sendiri kelihatannya baru ya di sini?”
“Iya, ini hari pertama saya.”
“Bisa temani berkeliling? Saya mau tanya pendapatmu untuk lukisan yang lainnya.”
“Dengan senang hati!” seru Ana penuh semangat. Dia merasa hari pertama di tempat kerjanya sangat menyenangkan. Para pegawai sangat ramah, ditambah lagi dia bisa mendapat kepercayaan dari pelanggan setia museum, pikirnya.
Selama empat tahun, Ana memang mengambil jurusan seni rupa—saat berkuliah. Kecintaannya terhadap seni menurun dari sang ayah. Sejak kecil dia selalu melihat ayahnya membuat berbagai pahatan cantik. Hingga tanpa sadar, dia tertular untuk mulai mencoba membuat karyanya sendiri.
***
“Ayah ini keras kepala sekali. Padahal sudah kubilang jangan bepergian seorang diri.”
“Kamu ini selalu memperlakukan ayah seolah sudah tidak berdaya.”
“Bukan begitu. Kondisi ayah sedang tidak baik, kan belakangan ini? Aku hanya khawatir.”
“Tenang saja. Kalau ada sesuatu yang terjadi, kamu pasti tahu di mana ayah berada.”
Raharja menghela napas panjang. Sedikit kesal karena sang ayah tidak pernah bisa dia nasehati. Padahal dia hanya mengkhawatirkan kondisi orang tuanya itu.
Si lelaki tua yang duduk di atas sofa, menyeruput tehnya. Tangannya tampak sedikit bergetar. “Sepertinya kamu punya pegawai yang menarik.”
“Siapa?”
“Anak yang baru masuk itu.”
“Oh, Ilyana. Dia pegawai baru yang akan jadi guide di museum.”
“Kelihatannya dia punya sense terhadap seni yang cukup bagus. Bisa juga kita jadikan kurator.”
Raharja yang semula sedang sibuk dengan tumpukkan dokumen di atas meja, langsung menghentikan kegiatannya. “Jangan sembarangan, Yah. Pengalaman kerjanya saya belum lebih dari satu hari.”
“Aku kan tidak bilang sekarang. Bisa jadi beberapa tahun ke depan.”
“Tergantung dari perkembangannya nanti.”