Tujuh tahun kemudian. Seorang wanita yang mengenakan pakaian formal dan rambut terikat tinggi tampak setengah berlari menuju lobi perusahaan tempatnya bekerja selama dua tahun terakhir. Ia datang terlambat hampir setiap pagi karena harus mengurus sesuatu sebelum pergi bekerja. Wanita itu adalah Maulia Karlina yang bekerja di perusahaan properti dan real estate ternama yang berada di Surabaya. Ya, Maulia memutuskan hijrah ke Surabaya setelah pernikahannya bersama Julian berakhir, ia berusaha untuk pergi menjauh agar bisa menghindari pertemuan dengan Julian seperti apa yang tertera di kontrak jika mereka telah resmi bercerai Julian meminta Maulia agar tidak mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi pria itu.
"Selamat pagi, Mbak. Datang telat lagi nih." Sapaan itu terlontar dari petugas keamanan yang berjaga di pintu lobi. Tentu saja ia mengatakannya seraya tersenyum karena cukup dekat dengan Maulia yang sering menyapa bahkan tak sungkan mengajaknya mengobrol.
"Eh, iya nih, Pak. Tadi jalanan macet pas ke sini dari sekolah. Saya duluan ya, Pak, takut kena omel Bu Winda kalau telatnya kelamaan." Maulia pun bergegas berlalu setelah tersenyum ramah. Kemudian ia melewati lorong menuju lift.
Tiba di lantai 7 tempat ruangan kerja khusus staf marketing executive berada, Maulia segera melakukan absen, lalu menuju cubicle kerjanya. Tidak lupa ia menyapa teman sederetannya. Kemudian Maulia menyalakan komputer dan mengeluarkan berkas dari dalam tas untuk lanjut mengerjakan laporan penjualan yang belum rampung dikerjakan sejak kemarin. Namun, wanita bernama Riska yang letak cubiclenya bersebelahan dengan Maulia berbisik memanggilnya.
"Kenapa, Ris?"
"Kamu udah dengar gosip belum, Ul?"
"Gosip? Gosip apaan?"
"Ah, kamu mah nggak asik dah. Ketinggalan info mulu. Padahal udah diinfoin sama bu Winda di grup dari kemarin sore."
"Aku belum sempat buka grup dari kemarin, sibuk ngerjain laporan."
"Nanti siang mau ada anaknya Pak Stefan datang ke sini. Dia yang mau gantiin posisinya Pak Stefan di kursi presiden direktur. Dengar-dengar sih anaknya kayak pangeran di negeri dongeng loh saking gantengnya. Terus dia baru pulang dari Amerika, urus bisnis keluarga di sana."
"Oh gitu." Maulia mengalihkan pandangannya kembali ke komputer.
Riska menganga mendengar tanggapan Maulia yang biasa saja, seolah tidak tertarik dengan gosip terhangat yang baru disampaikannya.
"Ih, cuma oh doang. Nggak ada kata-kata yang lain apa? Maulia woy!" Riska yang kesal mengumpat pada sahabatnya.
"Sssttt, jangan berisik. Jam kerja ini, mau diomelin Bu Winda lagi gara-gara ngegosip hal yang nggak penting, apalagi gosipin anak atasan!" Maulia memperingati Riska agar bertaubat dan tidak lagi mengulang kesalahan yang sama.
Riska pun kembali mendorong kursinya ke hadapan komputer dan memaksa diri untuk fokus menyelesaikan pekerjaan agar selesai sebelum jam makan siang karena ia ingin merapikan penampilan sebelum menyambut kedatangan putra ketiga presiden direktur yang akan menggantikan posisi jabatan.
***
Tepat pukul dua siang, semua karyawan yang mendapat undangan telah berkumpul di ruang pertemuan untuk mendengar langsung perkenalan dari presiden direktur baru yang melanjutkan jabatan sang ayah setelah pensiun. Termasuk Maulia yang tampak hadir di tengah-tengah karyawan dan menantikan acara perkenalan selesai.
Setelah kata sambutan demi sambutan dilontarkan oleh pembawa acara, akhirnya presiden direktur yang baru pun dipersilakan masuk didampingi oleh Stefan Anderson selaku presiden direktur sebelumnya. Suara tepuk tangan terdengar bergemuruh saat dua laki-laki beda generasi masuk ke ruangan dan melangkah penuh wibawa.
Sontak saja mata Maulia terbelalak ketika melihat siapa presiden direktur yang berdiri di depan sana untuk diperkenalkan.
"Mas Julian? Ternyata ini perusahaan Om Stefan dan sekarang Om Stefan pensiun terus diganti sama Mas Julian?" Gugup mulai menyerang Maulia hingga tanpa sadar ia menggigit kukunya sendiri.
Selama bekerja dua tahun di perusahaan ini tidak pernah sekalipun Maulia bertemu langsung dengan presiden direktur karena ia hanyalah karyawan biasa. Ia pun tidak menyangka perusahaan properti ternama tempatnya bekerja masih milik keluarga Anderson. Setahu Maulia mantan mertuanya itu menjabat sebagai presiden direktur di perusahaan elektronik. Ya, ia memang tidak tahu banyak tentang perusahaan apa saja yang digeluti keluarga mantan suaminya. Keluarga Anderson memang terkenal sebagai keluarga miliarder sejak tahun 2000-an. Bisnisnya ada di mana-mana, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.
Sempat tenggelam dalam lamunan hingga merasakan debaran di d**a, Riska yang duduk tepat di samping Maulia langsung menyadarkannya.
"Nah kan, kamu pasti lagi terpesona lihat presdir baru kita! Benar kan apa yang kubilang, Ul, dia itu gantengnya nggak wajar, mirip karakter di drama korea. Lihat aja tuh mukanya, nggak ada pori-pori sama sekali, mana bening banget lagi kulitnya, aku sih yakin, nyamuk kalau mau gigit dia pasti langsung kepleset!" Riska membercandai sahabatnya yang sempat diam terpaku menatap ke arah depan.
Sementara itu Maulia hanya menanggapi dengan tertawa singkat. Apa yang dikatakan Riska memang benar. Tuhan menciptakan Julian nyaris sempurna, bahkan ia pernah jatuh cinta pada laki-laki yang sempat menjadi suaminya selama satu tahun. Jantungnya selalu berdebar tak karuan setiap kali menatap wajah tampan Julian padahal dalam perjanjian kontrak wanita itu dilarang keras jatuh cinta pada suaminya. Namun, sampai detik ini perasaannya masih sama.
"Ya Tuhan, rasanya ini seperti mimpi. Aku kembali dipertemukan dengan dia setelah tujuh tahun berlalu. Ternyata waktu tujuh tahun nggak berarti apa-apa karena detak jantungku masih sama seperti saat pertama kali bertemu dia. Nggak ada yang berubah darinya, dia masih sama seperti dulu. Pasti hidupnya baik-baik aja, bahkan sangat membahagiakan setelah aku angkat kaki dari hidupnya." Tanpa sadar kedua mata Maulia berkaca-kaca karena rasa tak percaya dan bahagia yang membuncah di hati.
Entah apa yang akan terjadi saat Julian menyadari keberadaan Maulia di perusahaan yang dipimpinnya. Pertanyaan itu mulai muncul dalam benak wanita yang sorot matanya begitu dalam menatap objek di depan sana. Ia masih ingat betul bagaimana sosok Julian yang menyuruh Maulia agar tidak pernah muncul di hadapannya setelah kontrak pernikahan mereka berakhir karena pria itu mengatakan secara terang-terangan bahwa ia sangat membenci Maulia.
"Apa aku harus resign dari perusahaan ini biar keberadaanku nggak buat dia makin benci sama aku?" Maulia kembali bergumam, kali ini coba berpikir untuk mengambil keputusan.