Aksa melihat Jana tertawa lepas bersama Shaka di pojok ruangan. Hatinya terasa hancur. Tanpa berpikir panjang, dia pergi ke klub terdekat. Di sana, dia minum minuman keras dengan ganas sambil teriak-teriak memanggil nama Jana, mencoba melupakan semua yang baru saja dilihatnya. Aksa merasa campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa. Dia mencoba menenangkan diri dengan minuman di tangannya, tetapi hatinya masih membara. Suasana di klub semakin ramai dengan musik yang menggema di seluruh ruangan, namun Aksa merasa terisolasi dalam kepedihannya sendiri. Setiap kali melihat sepasang mata yang mirip dengan mata Jana, hatinya berdebar kencang. Dia mencoba mencari tahu di antara kerumunan yang berayun-ayun, berharap Jana akan mendengar jeritannya yang hancur di antara dentuman bass yang keras.