2.Tanggung Jawab

1240 Kata
Wahda masih mencerna dan meraba-raba isi pesan itu. Antara percaya dan tidak. “Ini beneran nggak sih!” pekik Wahda spontan. Sadar di sekitarnya banyak orang, ia lantas menyengir. “Maaf, refleks. Ada kabar mengejutkan.” Rekan yang lain hanya manggut-manggut. “Masalah kerjaan?” “Oh, bukan.” “Kenapa sampai bundir?” Wahda kembali membalas pesan Hana. “Aku juga kurang tahu. Pulang aja dulu cepetan. Nanti juga kamu akan tahu semuanya.” Sibuk. Satu kata yang banyak menyita waktu Wahda. Bahkan ia harus mengesampingkan urusan pribadi atau keluarga demi tuntutan kerja. Belum ada waktu pulang. Adiknya ditengarahi bu*uh diri. Damar, sang tunangan tidak pernah bicara. Mengirim pesan pun sekarang jarang. Bahkan orang tuanya juga tidak mengabari. Dari ruang kerja, Wahda berlari menuju ruangan sang bos. Ia ingin bicara. Ternyata di sana masih ada tamu. Alhasil, ia harus menunggu sampai tamu sang bos keluar. Setelah beberapa saat menunggu, tamu Diana keluar. Wahda mendongak. Itu adalah tamu ngeyel beberapa waktu lalu yang pernah ditangani. “Saya tunggu hasilnya,” ujar tamu wanita sopan seraya tertawa. “Iya, akan dikerjakan segera. Nanti saya kirim dulu gambar polanya. Biar sekalian Kakak koreksi kurangnya apa,” sahut Diana. Pandangan Wahda justru tertuju pada si tamu pria. Mimik wajahnya tidak berubah. Pria bule dengan rambut pirang dan tubuh tinggi tegap. Jika berhadapan dengan Wahda, mungkin ia hanya sekitar dagu pria bule tersebut. Memiliki perawakan tampan, berwibawa, tegas, dingin, dan misterius. Tatapan keduanya bertemu beberapa detik, lalu Wahda memilih mengurainya segera. “Ya sudah, kami permisi. Ayo, Sayang.” Dua tamu itu akhirnya pamit. Masih bisa Wahda lihat, sang wanita menggandeng mesra lengan si pria. “Bu Diana, permisi. Saya ingin bicara,” pinta Wahda sebelum sang bos kembali masuk ruangan. “Ya, Da. Ada apa? Ayo masuk aja. Biar enak bicaranya.” Wahda mengangguk. Ia mengekor di belakang Diana masuk ruangan. Lantas duduk di kursi. “Maaf, Bu. Saya mau ambil cuti sebentar. Adik saya masuk rumah sakit. Katanya gara-gara mencoba bu*nuh diri.” “Astagfirullah. Ada masalah apa?” “Entahlah. Masih simpang siur. Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada adik saya sebelum saya pulang, saya takut menyesal. Lagian, saya juga sudah lama tidak pulang.” “Oke-oke. Kamu boleh pulang. Tapi besok, ya, jangan sekarang. Kerjakan dulu pekerjaanmu yang urgent. Terutama jadi model busana. Kita kerjakan nanti malam. Kebetulan gaun yang harus kamu pakai sudah jadi. Kali ini nggak ribet kok.” “Baik, Bu. Terima kasih.” “Maaf kalau kesannya nggak manusiawi, tapi kali ini bener-bener darurat. Klien minta detail gaunnya langsung dipakai sama orang dan deadline-nya segera. Nanti malam kita ambil gambar atau videonya dulu, biar besok tim editing bisa langsung kerja dan dikirim ke klien.” “Siap. Saya sudah dikasih izin saja sangat berterima kasih. Sebenernya ada orang tua di rumah, tapi sekalian ada satu hal yang harus saya kerjakan menyangkut adik saya.” “Baiklah. Apa pun itu, semoga cepat selesai.” Wahda tersenyum, mengangguk. Ia sangat bersyukur memiliki bos sabar dan pengertian seperti Diana. Empat tahun bekerja, dijalani tanpa tekanan berarti dari atasannya itu. Namun, masalah pekerjaan memang sangat banyak. Begitu pamit dan keluar dari ruangan Diana, Wahda menuju kamar mandi untuk menelepon Hana. Langsung diangkat. “Han, jangan sebar hoax deh. Kalo beneran Wirda masuk rumah sakit gara-gara mencoba b*nuh diri, kok keluargaku nggak ngasih kabar?” “Masa sih nggak ngasih kabar? Ini bukan hoax, Da. Aku jujur. Atau mungkin mereka memang belum ngabari kamu. Coba deh telepon.” “Kapan kejadiannya? Kapan masuknya rumah sakit?” “Udah dari semalem malah.” “Ya udah, aku tutup dulu teleponnya, mau telepon Bapak.” “Oke. Tapi kamu pura-pura nggak tahu aja, jangan ngomong udah aku kasih tahu. Ya udah, ya, anakku nangis. Aku tutup dulu.” “Hm. Thanks.” Setelah telepon dari Hana dimatikan, Wahda menelepon sang bapak. Pada panggilan ketiga, barulah diangkat. “Assalamualaikum, Pak.” “Waalaikumussalam. Sehat, Nduk?” “Alhamdulillah sehat. Yang di rumah sehat semua, kan?” “I-iya sehat semua. Ada apa?” “Nggak ada apa-apa. Cuma perasaanku kok nggak enak.” “Kamu tenang saja, semua aman di sini. Jaga kesehatan di sana. Jangan tinggalkan sholat.” “Iya. Ya sudah, cuma ingin memastikan saja. Salam buat Wirda sama Ibu.” Perasaan Wahda mulai tidak karuan. Ia bingung harus percaya yang mana. Sahabat yang memberi kabar kurang enak atau bapaknya yang berkata semua baik-baik saja? Selama ini, komunikasinya pada adiknya juga lancar, tidak ada yang mencurigakan. Kalau sekarang tiba-tiba bunvh diri, rasanya aneh.” “Ah, embuhlah,” gumam Wahda setelah panggilan pada sang bapak dimatikan. ** Sepulang kerja, Wahda tidak pulang ke kos-kosan. Ia tetap di kantor bersama para tim guna mempersiapkan pengambilan gambar dan video nanti malam. “Setelah ini, Wahda mau saya promosikan jadi model saja. Sudah cukup kerjanya di belakang layar. Sekarang waktunya go publik,” kelakar Diana. “Setuju. Wahda biar jadi model khusus pakaian muslimah,” sahut yang lain. Wahda hanya terbahak-bahak. “Enggak ah. Enak di belakang layar aja. Kalo jadi model, kurang cantik.” “No! Kamu itu cantik dengan tubuh indah. Cocok.” Setelah persiapan matang dan Wahda selesai salat Isya, mekap dimulai. Kali ini hanya mekap tipis karena gaunnya juga simpel. Setelah semua sempurna dan baju sudah dikenakan, saatnya pengambilan foto dan video. Sementara di lobi, seorang pria tinggi tegap berjalan sambil sesekali matanya mengedar. Begitu melihat seseorang melintas, ia memanggil. “Permisi, saya mau mengambil jas saya. Tadi ketinggalan di ruangan Bu Diana. Warnanya hitam. Saya sudah konfirmasi sama Bu Diana katanya memang ada.” “Oh. Iya, memang ada jas tertinggal. Bapak tunggu di sini, biar saya ambilkan.” Pria itu mengangguk. Telinganya mendengar suara ramai di sebuah ruangan. Kaki jenjangnya malah mencari sumber suara tersebut. Di sebuah ruangan yang bersekat kaca, ia melihat seseorang paling bersinar di sana dan menjadi objek kamera. Senyumnya, wajah anggunnya, gelegar suaranya di antara suara yang lain, membuat sudut bibir pria itu sedikit tertarik. “Cantik.” Mulut itu justru berucap sangat lirih. “Pak, apa ini jasnya?” Sebuah suara membuat pria tadi harus menjeda kesenangan matanya. “Oh, iya. Terima kasih. Itu di dalam ada apa kalau boleh tahu?” “Itu pengambilan video dan foto untuk koleksi kami, Pak. Biasanya klien minta dipakai langsung pada model orang, bukan manekin.” Pria itu manggut-manggut. “Baiklah. Saya permisi. Sekali lagi terima kasih.” “Iya, Pak. Sama-sama.” Sekali lagi pria itu menatap Wahda. Ada yang tidak biasa. ** Keesokan harinya saat yang lain berangkat kerja, Wahda justru baru pulang dari kantor. Semalam, ia harus tidur di kantor karena tidak mungkin pulang ke kos-kosan karena kemalaman. Setelah mandi, ganti baju, dan mengemasi beberapa barang yang akan dibawa pulang, Wahda segera pergi dengan ojek online. Tujuannya adalah stasiun. Tiket kereta api menuju Yogyakarta sudah dibeli sejak turunnya izin dari Diana kemarin. Sore hari, Wahda tiba di kota kelahiran. Tidak lupa ia mengqada salat Zuhur dan Asar. Untuk menuju rumah sakit sesuai informasi dari Hana di mana sang adik dirawat, ia mengendarai taksi online. Sesuai arahan Hana, Wahda tidak mengabari orang rumah tentang kepulangannya. Begitu tiba di rumah sakit, Wahda langsung bertanya ruangan Wirda. Lekas ia menuju ruangan itu setelah nama dan nomor ruang didapat. Sesampainya di depan ruangan sang adik, langkahnya terhenti. Ia melihat Wirda duduk di kursi roda. Di depannya ada Damar jongkok. “Aku akan bertanggung jawab. Masalah mbakmu, aku akan mencoba bicara sama dia. Semoga dia ngerti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN