Kehilangan

1022 Words
Ruang rawat inap Syara begitu sunyi. Hanya terdengar alat pacu jantung yang kini terpasang pada dirinya. Hari ini, tepat satu bulan lamanya Syara tak kunjung sadarkan diri. Syarif tak sekali pun menjenguknya. Dan hanya para teman kampus juga bandnya yang beberapa kali datang kesana. Sebab memang sikap baik Syara yang hampir kesetiap temannya membuat Syara memiliki banyak teman. "Ya Ampun Syar, lo makin kurus tahu gak," ucap Harris. Yakni, pemain bass dari band Syara. "Keluarganya gimana sih, masa setiap kita kesini perasaan mereka gak ada deh ya," imbuh Dion. Yakni drummer bandnya. "Gue denger-denger sih nyokapnya stress berat karena kehilangan suaminya. Kalau si, Syarif, itu kan dari dulu songong dan cuek gitu ke Syara. Iya kan?" jelas Harris. "Kasian ya nasibnya Syara. Cewek baik hati yang cantiknya mendekati sempurna sekarang jadi begini," ucap Dion dan Harris hanya mengangguk lemah dengan tatapan yang nanar kearah Syara. *** Kini sudah memasuki bulan kedua Syara belum juga tersadar dari komanya. Hal itu membuat bandnya semakin tak ada arah karena tak lagi berjalan selama tiada Syara. Tak ada pemasukan lagi yang dapat membuat band mereka terancam bubar. Hingga kini mereka kembali menyambangi Syara, berharap jika mereka dapat bertemu dengan anggota keluarganya dan meminta ijin untuk menggantikan posisi Syara sebagai vokalis. Dengan orang lain pilihan mereka. Semua itu dilakukan demi kebaikan nasib bandnya. Namun sayang, Syara tetap saja sendirian dikamar rawat inapnya. Hingga kini mereka putuskan untuk menghampiri rumah Syara. "Syar, kita minta maaf ya. Gue rasa ini yang terbaik. Tapi bagaimana pun juga, kita berterimakasih sama lo. Karena berkat lo juga band kita bisa maju pesat. Segera sehat dan pulih ya Syar," ungkap Harris dan kini ia mulai mengajak mereka untuk berdo'a bersama. Setelahnya, mereka segera melesat menuju rumah Syara. *** Setibanya disana, mereka begitu ptihatin dengan kondisi Mama Syara yang terlihat begitu buruk diatas kursi roda. Dengan tatapan yang kosong, lingkaran hitam yang jelas dimatanya, juga rambut yang berantakan. Hal itu sempat membuat mereka tak tega untuk menggantikan Syara. Namun saat ini, mereka sudah tak lagi dapat menunda untuk memberitakan hal yang sebenarnya kepada keluarga Syara. Syarif yang menganggap semua itu tak berarti pun hanya mengiyakannya dan tak banyak berkata. "Oke. Silahkan saja jika kalian ingin menggantikan posisi, Kak Syara. Karena gue sendiri gak bisa menjamin kapan, atau masih bisakah Kak Syara bangun dan sehat lagi. Ya, seperti ini lah keadaan Mama saya sekarang. Jadi saya minta doanya saja. Yang terbaik untuk kami kedepannya." jelas Syarif yang terlihat pasrah juga tak ingin membahas lagi mengenai Syara. "Aaaamiiin. Aaaaamiiin Yarabbal Alamiiin. Kami akan selalu mendoakan kalian juga, Syara. Karena memang bagaimana pun juga, Syara yang sudah membawa kami hingga ke titik ini. Ini ada sedikit uang, honor, Syara, yang kemarin belum diambil. Kalau begitu kami permisi ya, Rif, Asaalamu'alaikum," jelas Dion dan mereka segera berpamitan. "Oke Kak. Wa'alaikumussalam. Terimakasih banyak ya Kak," ucap Syarif dan mereka hanya mengangguk seraya tersenyum. Dengan kasar Syarif membuang honor dari Syara seraya membawa Mamanya kedalam kamar. Karena kali ini ia semakin merasa frustrasi dikala ia mendapat kabar jika perusahaan milik Papanya terancam gulung tikar sebab berbagai penurunan yang cukup drastis saat ini. Semua itu terjadi karena pimpinan yang sekarang tak sebaik Papanya. Dan karena hutang perusahaan yang jauh lebih besar membuat arus uang perusahaan semakin tak terkontrol. Syarif yang mendengar hal itu semakin merasa muak dengan keadaannya saat ini. Sebab memang ia tak sedikit pun mengerti mengenai perusahaan itu. Lagi-lagi Syarif hanga dapat pasrah juga semakin membenci Syara yang hingga kini tak ada sedikit pun tanda-tanda kesadaran pada dirinya. Bagi Syarif hal itu hanya akan semakin menyulitkan dirinya karena biaya rumah sakit untuk Syara yang tergolong mahal. "Apa lebih baik gue kerumah sakit dan minta dokter buat ngelepasin semua alat yang ada ditubuh Kak Syara ya. Tapi mereka bakalan nilai gue gimana! Pasti gue bakal dinilai sebagai orang yang kejam!" monolog Syarif seraya mengacak rambutnya. Setelah Mama tertidur kini Syarif memunguti semua uang honor Syara yang sebelumnya berserakan. Ia gunakan uang itu untuk biaya Syara dirumah sakit selama satu bulan kedepan. Dengan begitu ia tak perlu lagi merasa pusing untuk biaya rumah sakitnya. Kini Syarif berusaha fokus untuk dapat kesekolah juga mengurus Mamanya, sehingga ia dapat bersikap dewasa juga tak lagi memikirkan kebahagiaan dirinya semata. Namun tetap, Syarif menyimpan kebencian juga dendam kepada Syara yang baginya memang penyebab utama semua kehancuran ini tercipta. *** Hingga kini mulai memasuki bulan ketiga. Band Syara sudah kembali stabil dengan vokalis baru mereka. Sedangkan perusahaan Papanya kini telah resmi menjadi milik musuh besar Papa dalam persaingan bisnis yang sejak dulu sudah sangat ingin merebut posisi itu. Syarif semakin merasa terhimpit karena tak tahu lagi harus berbuat apa. Walau ada secerca harapan karena saat ini Mama telah dapat ia ajak bicara dan Mama yang sekarang berubah menjadi seorang Mama yang membenci sosok Syara. Sebab setiap hari memang Syarif selalu saja mendoktrin sang Mama jika Syara lah satu-satunya orang yang menyebabkan Papa meninggal dunia. "Ma, Syarif tinggal kerumah Sakit dulu ya. Syarif mau memastikan keadaan, Kak Syara," pamit Syarif seraya menyalami punggung tangan Mama dengan takzim. "Biarkan saja Kakak kamu itu meninggal Rif. Kita susah karena Kakakmu kan. Jadi biarkan dan gak usah lagi kamu pikirkan," ucap Mama dengan tatapan yang sinis. "Justru itu, Ma. Syarif ingin memastikan. Jika memang Kakak meninggal kita ikhlaskan saja. Jika memang masih hidup, Syarif, ingin meminta sama mereka untuk melepaskan saja semua alat bantu ditubuhnya. Karena memang sudah terlalu lama Kak Syara disana. Dan Syarif juga sudah gak punya biaya lagi," jelas Syarif. "Yasudah kalau begitu hati-hati ya kamu, Nak," ucap Mama seraya membelai wajah Syarif. "Iya Ma. Assalamu'alaikum," salam Syarif seraya tersenyum. "Wa'alaikumussalam." Jawab Mama. *** Ditengah-tengah perjalanan ada sebuah nomor yang tak dikenal menghubungi Syarif. Dengan segera Syarif memasang hanfree dan mulai mengangkatnya. "Halo, ini siapa ya?" tanya Syarif. "Halo selamat siang. Bisa bicara dengan, Mas Syarif?" seorang perempuan disambungan telepon bertanya balik. "Siang dengan saya sendiri. Maaf ini siapa?" tanya Syarif lagi. "Kami dari pihak rumah sakit harapan bunda, Mas. Ingin mengabarkan jika, Mbak Syara, telah siuman," jelasnya yang sungguh membuat Syarif merasa kecewa. "Oh begitu. Baik Bu saya akan segera menuju kesana. Terimakasih." Jawab Syarif yang secara sepihak memutuskan sambungan telponnya. *** To be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD