3

1549 Words
31 Mei 2020 Pagi ini Langit bangun seperti biasa nya. Ia bangun dan langsung mandi. Kepalanya sedikit pusing karena efek alkohol semalam masih belum juga hilang. Langit pun turun ke bawah dan langsung menuju ke dapur. Di dapur ia langsung di sambut baik oleh Bi Narsih yang saat ini sedang masak makanan itu. "Eh mas Langit udah bangun Mas. Mau apa mas biar nanti Bibi ambilkan untuk mas Langit?" tanya Bi Narsih sembari meniris kan ayam yang baru saja ia goreng itu. "Bikinin s**u coklat ya Bi. Kepala Langit pusing banget. Cepetan ya Bi biar pusingnya juga cepet ilang ini pusing" ujar Langit sembari duduk di meja makan. "Oh iya Mas. Mas Langit sih tiap malam kok pulang dalam keadaan mabuk sih. Ga baik lho Mas Langit kalo mabuk-mabuk terus seperti itu tuh mas" ujar Bi Narsih. "Udah deh bi buatin aja cepet. Jangan kebanyakan ngomong Bi. Bikinin s**u coklat aja gih Bi" ujar Langit yang malas mendengar kan perkataan dari Bi Narsih itu. "Iya Mas, maaf" ujar Bi Narsih setelah itu ia pun membuat kan s**u coklat untuk Langit. Setelah selesai ia pun memberi kan s**u coklat tersebut pada Langit. "Ini ya mas. Silakan diminum s**u coklat nya Mas Langit" ujar Bi Narsih. "Mas Langit mau makan sekarang atau nanti Mas?" tanya Bi Narsih kepada nya. "Langit makan di luar. Itu buat makan bibi sama Pak Marno aja. Oh ya Bi, nanti malem Langit ga pulang. Ga usah di cari. Dan ga usah nanya- nanya Langit kemana" ujar Langit yang kemudian langsung mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja. Saat ini Langit sedang mengendarai mobil nya menuju ke warung belakang sekolah yang menjadi salah satu markas nya ber sama dengan teman- teman nya itu. Teman- teman nya pun sudah banyak yang ber kumpul di sana karena mereka juga akan membahas mengenai duel mereka yang akan terjadi nanti dengan anak Merdeka dan Satu Sari. Langit pun akhir nya telah sampai di warung belakang sekolah. Benar saja sudah banyak teman- teman nya di sana. Namun ia masih belum melihat kehadiran dari Zeon. Akhir nya Langit pun masuk ke dalam dan pergi ke tempat Ibu Warung. Langit sengaja kesini karena ia juga akan sarapan disini juga. "Bu Biasa ya" ujar Langit kepada Ibu Warung yang nenyambutnya tersebut. "Indomie Goreng 2 sama Telur 2 kan" tanya Ibu Warung yang sudah hafal sekali dengan pesanan Langit tersebut. Karena memang setiap hari Langit selalu kesini. Langit pun duduk di kursi yang sering ia duduki itu sendiri karena biasa nya dia duduk ber sama dengan Zeon. Namun Zeon nanti akan berangkat pada pukul 10 karena saat ini ia masih ber ada di pesta pernikahan saudara nya ber sama dengan keluarga nya. Langit pun duduk sendirian saat ini. Kepala nya benar- benar pusing dan hati nya tak tenang kali ini. Ia tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab mengapa ia menjadi seperti ini. Ia pun sangat pusing sekali saat ini. Ia butuh obat. Kayak nya gua butuh obat lagi deh. Gua butuh melayang tinggi ke atas dan gua juga butuh buat rehat sejenak. Batin Langit sembari masih memegang kepala nya itu. Akhir nya ia pun menghubungi bandar barang ter larang ter sebut. Langit sudah lama memesan di orang itu yang menyamar kan nama nya itu menjadi Nol. To: Nol • Nanti malem ketemu di tempat biasa • 1gr Kemudian Langit pun mengirim kan pesan itu pada Nol. Setelah itu Ibu Warung pun datang dan memberi kan pesanan Langit yaitu Indomie goreng double dengan double telur juga. Langit pun memakan Indomie ter sebut dengan sangat nikmat. Ya. Meski pun di rumah di sedia kan makanan yang lebih ber gizi dari pada Indomie ini, Langit selalu keluar cari makanan dan ia paling sering makan di Warung belakang sekolah ini. Bukan karena apa, Langit hanya tak ingin makan sendiri saja. Jika ia makan di rumah, pasti karena ada Zeon juga yang ada di rumah nya. Karena jika ia sedang sendiri ia tidak akan makan di rumah. Langit pun telah selesai memakan mie tersebut. Setelah nya tak lama kemudian, Zeon pun akhir nya datang juga ke Warung tersebut. Zeon pun terlihat sangat cemberut entah mengapa saat ini. "Anjir emang gerah banget gua di sana" ujar Zeon dengan muka cemberut nya. "Kenapa lo Ze?" tanya Langit dengan kening yang berkerut tanda bingung. "Biasa nyokap gua tuh jodoh- jodohin gua lagi sama anak temen nya. Emang nya dia kira gua ga laku apa. Lagian juga gua masih kelas 1 SMA gini buat apa juga di jodoh- jodohin juga" ujar Zeon nyerocos dengan kesal dan juga sangat gerah itu. "Nyokap lo tau kali kalo lo suka main sama tante- tante di Club. Makanya deh buat antisipasi lo dijodohin sama anak orang" ujar Langit membuat Zeon melotot. "Apa iya ya. Ah tapi ga mungkin ah mereka tahu. Orang ga ada yang ngasih tau. Eh atau jangan- jangan lo ngasih tau nyokap gua ya Lang? Wahhh lo sahabat macam apa woy. Wah jangan- jangan beneran lo ya iya kan?" tanya Zeon sembari melotot. "Kaga lah. Ngapain juga? Kayak ga ada kerjaaan aja sih gua Ze" ujar Langit. Mereka pun masih mengobrol sampai salah satu anggota genk mereka datang. "Bos, mereka dah pada otw ke Satu Sari. Kita mau otw kapan?" tanya Putra. "Sekarang aja. Suruh anak- anak ber angkat sekarang juga ya" ujar Langit. Langit dan Zeon pun juga sudah menyiap kan diri. Kali ini mereka akan bertarung dengan tangan kosong lagi. Mereka akan membukti kan kekuatan dari Genk Zero. Genk Zero pun ber angkat ke Lapangan Satu Sari dengan menggunakan mobil dan motor mereka. Sesampai nya mereka di sana ter nyata anak Merdeka dan Satu Sari juga sudah menunggu mereka di sana dengan tangan yang kosong juga. "Wahh ketemu lagi kita Langit. Gimana kabar lo? Udah siap kalah hari ini sama. gua? Gimana hmm?" tanya Vian yang merupa kan salah satu anak Satu Sari tersebut. "Kalah? Kayak nya ga ada di kamus gua deh. Btw, jadi kalian sekarang main nya kayak gini ya? Saling back up gini hahaha. Malu kali sama anak SD yang adu jotos" ujar Langit membuat anak Satu Sari dan Merdeka itu menjadi ter sulit emosi nya. "Lo diem aja jangan macem- macem ya lo. Guys serang sekarang. Jangan kasih ampun ya" ujar Vian kepada mereka dan saat ini terjadi lah saling adu pukul itu. Sementara saat ini Kejora baru saja pulang dari warung untuk membeli beras. Namun di jalanan, tepat nya di dekat lapangan Satu Sari ter dengar suara berisik dan suara seperti orang sedang ber tengkar. Akhir nya Kejora pun mendekati suara ter sebut dan mengintip nya. Betapa ter kejut nya ia ketika melihat puluhan anak sedang saling memukul. Kejora pun sangat terkejut ketika melihat hal tersebut secara live. Apa ini yang di nama kan tawuran? Gila, Aku ngeliat tawuran? ASTAGA TAWURAN? Batin Kejora dengan mata melotot nya. Tentunya dia sangat takut. Kejora pun akhir nya bingung harus bagaimana. Jujur ini merupa kan kali pertama ia melihat tawuran secara live seperti ini. Ia bingung harus bagaimana. Keringat juga sudah turun deras dari wajah nya. Ia takut jika nanti ada yang melihat nya di sini. Tapi di sisi lain ia tidak ingin pergi dari sini jika tawuran itu belum usai juga. Saat ini Kejora benar-benar di landa dengan kebimbangan pada dirinya sendiri "Aduh Kejora mikir dong gimana ya. Jangan cuman diem aja Kejora. Ayo mikir dong Kejora. Ayo dong mikir ihhh. Oh iya. Telfon polisi. Ya telfon polisi" ujar Kejora. Akhir nya Kejora pun menelfon polisi dengan handphone butut nya itu. Ya handphone butut karena handphone itu hanya bisa di guna kan untuk telfon dan sms saja. Padahal di era seperti ini dan di umur Kejora yang sudah 16 tahun itu seharus nya ia mengguna kan handphone Android. Namun karena keterbatasan ekonomi ia pun mengguna kan apa yang ada. Lagian ia juga takut membeban kan ibu nya yang saat ini masih bekerja di rumah majikan nya yang kata nya anak dari majikan nya tersebut sangat kasihan sekali karena kurang perhatian dari kedua orang tuanya itu. Percakapan di telefon di mulai. "Hallo dengan kantor polisi?" tanya Kejora. "Iya benar. Ada apa ya?" tanya Polisi. "Hallo Pak. Ini di Lapangan Satu Sari ada yang tawuran pak. Tolong di tangkap ya pak. Meresahkan warga" ujar Kejora. "Baik. Terimakasih atas laporan nya. Personil kami akan segera datang ke lokasi" ujar Polisi tersebut membuat Kejora menghela nafas nya dengan lega. Percakapan di telefon usai. Kejora pun masih menunggu di sana sampai polisi ber datangan. Dan benar saja tak lama kemudian suara sirine polisi pun terdengar dan hal itu membuat mereka yang tawuran ingin kabur dari lokasi itu. Namun sayang sekali mereka tidak bisa kabur karena tadi polisi sudah mengelilingi lapangan Satu Sari. Mereka pun akhir nya pasrah dan melaku kan apa yang di minta oleh polisi dan ikut ke kantor polisi. Setelah lega, Kejora pun akhir nya pulang ke rumah nya karena adik nya pasti sudah menunggu dengan kelaparan. Kasian adik nya hanya ber dua di rumah karena bapak Kejora sudah lama sekali meninggal dunia. Jadi ia hanya punya 2 adik nya yang ber nama Anna dan Awan serta Ibu nya yang hanya pulang seminggu sekali saja. Karena sedari adiknya kecil dan juga bapak Kejora meninggal dunia, Ibu Kejoea sudah bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Dan juga mereka harus sabar berpisah dengan ibu mereka karena memang keadaan Ibu mereka yang harus tinggal dirumah majikannya yang sangat kurang akan kasih sayang tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD