Saat Kembang Api Berloncatan

1507 Words
Bersamaan, Kinanti dan Jatayu menarik kursi makan untuk dirinya sendiri. Keduanya mengambil duduk saling berseberangan. Jatayu menatap penuh binar pada makanan yang telah tersaji di atas meja. Semua yang dihidangkan oleh Kinanti untuk menu makan siang itu adalah serangkaian menu kesukaannya. Jatayu memang pernah bercerita, bahwa sayur asem adalah masakan rumahan kesukaannya. Dari semua sayur asem yang pernah ia makan, buatan ibunya adalah yang terlezat. Sebab, perempuan bermata teduh yang telah melahirkannya tersebut selalu memasangkan sayur asem buatannya dengan dadar jagung dan pepes tahu yang dicampurnya dengan ikan teri. Jatayu sama sekali tak menyangka, jika apa yang telah ia ceritakan itu ternyata direkam baik-baik oleh Kinanti di dalam benaknya. Bahkan, kini, semua menu masakan tersebut telah dihadirkan perempuan itu di hadapannya. Hampir tiga bulan hidup bersama, Jatayu cukup tahu, seperti apa kualitas masakan Kinanti. Sangatlah mustahil cita rasa sayur asem dan kawan-kawannya tersebut akan bisa menyamai, bahkan mengalahkan masakan ibunya. Namun demikian, Jatayu cukup tahu, bagaimana caranya menghargai. “Segini, cukup?” tanya Kinanti, seraya meletakkan secentong nasi putih ke dalam piring milik Jatayu. “Kurang, Kinan,” kata laki-laki itu dengan mimik wajah seolah memohon. Bukan karena ia sedang kelaparan, tetapi karena ia ingin menyenangkan hati perempuan di hadapannya yang saat ini berstatus sebagai istrinya. Senyum lebar merekah di bibir Kinanti Kembang Langit, hatinya girang tak terkira. Dengan senang hati, ia menambahkan satu centong lagi nasi untuk Jatayu. Setelah itu, menuangkan sayur asem secukupnya, menambahkan pepes tahu, dan dua buah dadar jagung. “Emmm … dadar jagungnya jangan hanya dua, Kinan,” kata Jatayu, bernada merajuk, layaknya bocah kecil kepada ibunya. “Tiga, ya … ya … ya …,” pintanya, seraya menunjukkan tiga jari kepada perempuan yang sedang melayaninya tersebut dengan mimik wajah jenaka. Kinanti menjadi tergelak karenanya. Tawanya berderai renyah, ringan, tanpa beban. Semasa masih menjadi istrinya Mahesa, belum pernah sekali pun suaminya tersebut membuat suasana di meja makan seriang itu. Bahkan, sekali saja, Mahesa tak pernah menuji masakannya. Sebaliknya, ia selalu mencela. Menurutnya, ada saja yang kurang. Kurang garamlah, kurang kecaplah, terlalu pedaslah, dan masih banyak lagi kata-kata bernada hinaan lainnya. Ujung-ujungnya, Kinanti seringkali kehilangan selera makan. Akan tetapi, selama hampir tiga bulan melayani Jatayu, rasanya sungguh berbeda. Belum pernah satu kali saja ia dengar celaan keluar dari mulut lelaki berambut gondrong itu. “Iya." Kinanti mengangguk. "Jangankan cuma tiga, semuanya juga boleh,” tukasnya semringah dan percaya diri, sembari ditambahkannya satu potong dadar jagung ke piring Jatayu. “Ahai …, terima kasih Kinan.” “Ini, sudah. Ayo, makanlah!” Tanpa menyahut lagi, Jatayu segera meraih sendok dan garpu, lalu menyantap makanan di piringnya itu dengan lahap. Kinanti menatapnya dengan mulut yang sedikit menganga. Di dalam benaknya dipenuhi tanya, benarkah masakannya kali ini seenak itu? Sebenarnya, Kinanti tahu betul, bahwa dirinya tak pandai memasak. Levelnya sedang-sedang saja. Bukannya tidak bisa sama sekali, tetapi juga tak terlalu jago. Walaupun tak mencapai kategori sangat lezat, namun hasil masakanya masih layaklah untuk dimakan. Akan tetapi, melihat bagaimana lahapnya Jatayu menyantap makanannya kali ini, melebihi kelahapan yang ia tunjukkan sebelum-sebelumnya, tak urung membuat Kinanti sangat penasaran. Tak ingin didera rasa penasaran berkepanjangan, Kinanti pun membalik piring di hadapannya yang masih tengkurap. Lalu mengambil nasi, sayur asem, dan lauk-pauknya secukupnya. Detik berikutnya, ia mulai menyantap makanan itu. Setelah mengunyah dan menelan, Kinanti berhenti. Ia tak melanjutkan sendokan berikutnya. Ditatapnya Jatayu yang tengah menekuri makannnya dengan lebih seksama. Bahkan, beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan mata, untuk memastikan, apakah yang sedang disaksikannya itu sebuah kenyataan ataukah fatamorgana belaka. Akan tetapi, yang didapati Kinanti tetap sama. Jatayu tampak sangat menikmati makanannya. Tidak ada sedikit pun kesan, bahwa ia sedang memaksakan diri. Mimik wajahnya tetap tenang, matanya berbinar, dan gerak mulutnya pun stabil. Tak ada sedikit pun tanda-tanda, bahwa semua itu hanyalah kepura-puraan semata. Sekonyong-konyong, kelopak mata Kinanti menghangat, pandangannya menjadi kabur. Perasaannya bercampur aduk, tak ubahnya gado-gado yang sering dibelinya di kedai ujung jalan. Senang, haru, dan juga malu, bercampur aduk menjadi satu. Sejurus kemudian, sebutir air mata lolos, jatuh dari sudut mata, menimpa piring berisi makanan di hadapannya. Serta-merta, Jatayu menghentikan sendokannya. Meski tampak fokus dengan makanan yang sedang disantapnya, sebenarnya ia juga tengah diam-diam memperhatikan Kinanti dengan ekor mata. “Kinan … ada apa?” tanyanya, lirih. Cepat-cepat, Kinanti menggeleng dan menyeka pipinya dengan kedua telapak tangan. “Ti---tidak, Jat. Tidak ada apa-apa!” “Tetapi, kamu meneteskan air mata.” Kinanti tak menyahut. Keduanya saling menatap. Kelopak mata Kinanti kembali menghangat, pandangannya perlahan memburam. Beberapa butir air mata berjatuhan, deras, seolah berlomba dulu-duluan keluar. “Kinanti, ada apa, Sayang?” tanya Jatayu lagi. Tangannya terulur, megusap pipi perempuan di hadapannya. Sorot matanya yang beberapa saat lalu dipenuhi binar, seketika berubah muram. Mendengar pertanyaan Jatayu yang dibubuhi kata ‘Sayang’, hati Kinanti kian melemah. Perempuan itu semakin tergugu. Air matanya kian deras berjatuhan. “Apakah aku telah menyinggung perasaanmu?” Jatayu kembali bertanya, sembari bangkit dari kursinya untuk menghampiri Kinanti. Kinanti menggeleng kuat-kuat. Punggungnya berguncang-guncang hebat, karena isak tangis. “Lalu, kenapa kamu menangis, Kinan?” tanya Jatayu lagi, seraya berjongkok di hadapannya. “Jat, mengapa kamu berpura-pura? Aku malu, Jat!” Jatayu mengerutkan kening, “Berpura-pura?” tanyanya, tak mengerti. “Aku berpura-pura apa, Kinan?” “Kenapa kamu menyantap makanan itu dengan lahap dan berpura-pura menikmatinya? Seolah-olah rasanya sangat lezat, padahal, sebenarnya hambar, kurang garam!” Suara Kinanti berubah parau. “Kamu membuatku malu, Jat, karena sudah kegirangan dan ke-ge er-an, mengira masakanku kali ini memang benar-benar enak.” “Ish, kata siapa tidak enak?” sanggah Jatayu segera. “Sudahlah, Jat! Tak usah berbohong! Aku sudah mencicipinya sendiri. Sayur asem itu rasanya hambar, seperti tak digarami!” Setelah mengatakannya, Kinanti menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Jatayu menghirup napas panjang. Ia bisa memahami, apa yang tengah melanda perempuan yang telah dinikahinya hampir tiga bulan yang lalu itu. Setelah mengembuskan napas perlahan dan lembut, ia menarik tangan Kinanti, agar turun dari wajahnya. “Kinan, dengar, ya,” tukasnya. “Memang benar, masakanmu itu tidaklah sangat lezat. Tetapi, rasanya juga tidak terlalu hancur. Rasa asamnya terasa, demikian pula dengan bumbu-bumbu lainnya. Kekurangannya hanya satu, kurang garam. Untuk membenahinya tidaklah sulit. Kamu tinggal menambahkan garam secukupnya.That’s enough!” “Tetapi, mengapa kamu tak mengatakannya?” Jatayu tersenyum simpul, sembari kembali dikeringkannya pipi Kinanti dengan jari-jari tangannya. “Kenapa, Jat?” kejar Kinanti. “Kinanti, dengar, menurutmu, apa yang akan kamu rasakan, jika aku langsung mengatakannya dengan serta-merta sejak sendokan pertama? Apa kamu akan tetap tersenyum cerah seperti tadi?” Hening. Kinanti terdiam. Ingatannya mundur ke belakang, menyusuri hari-hari silam, manakala laki-laki yang makan bersamanya bukan Jatayu, melainkan Mahesa. Tak terhitung seringnya, hatinya menjadi sakit karena ucapan pedas suaminya itu sangat mengatakan sesuatu tentang masakannya.” “Kupikir, kamu pasti juga akan memakannya. Pastilah nantinya akan tahu sendiri, apa kekurangan dari masakanmu itu. Lagi pula, aku tidak berpura-pura, kok!” “Maksudmu?” sergah Kinanti, cepat. “Ya, aku tak berpura-pura menikmati makanan itu. Tetapi, memang benar-benar menikmatinya!” “Ah, bohong!” sembur Kinanti dengan wajah bersungut-sungut. “Ha ha ha ha …” Tawa Jatayu pecah berderaian. “Tuh, kan … tuh, kan!” “Hei … hei … Kinan,” kata Jatayu, sembari menahan kedua tangan Kinanti, agar tidak ditutupkan ke wajahnya lagi. “Karena kamu mencicipi sayur asem itu hanya dengan nasi saja, makanya kamu merasa hambar. Tetapi, cobalah memakannya berbarengan dengan dadar jagung dan pepes tahunya. Rasanya akan lain!” Kinanti tercenung. Ia tak langsung mempercayainya begitu saja. “Sini, aku tunjukkan!” kata Jatayu, seraya meraih piring makan Kinanti yang masih banyak isinya. Tangan laki-laki itu kemudian bergerak, memotong dadar jagung dan pepes tahu dengan ujung sendok, setelah itu menyendoknya berbarengan dengan nasi dan kuah sayur, lalu menyodorkannya ke depan mulut Kinanti. Alih-alih menyambut suapan itu, Kinanti justru mengatupkan bibirnya rapat, seolah menguncinya. “Ayo, dibuka mulutnya!” pinta Jatayu. Kinanti menggeleng kuat. “Ayolah, kamu harus mencicipinya. Agar tahu, bahwa masakanmu tak seburuk yang kamu kira!” “Gak mau, Jat!” “Kenapa?” “Tadi air mataku jatuh ke situ!” tukas Kinanti, seraya menunjuk piring makan di tangan Jatayu. “Ooo … ha ha ha ….” Tawa laki-laki muda itu kembali pecah berderaian. Tak mau menyerah begitu saja, setelah meletakkan kembali piring Kinanti, ia mengambil piring miliknya yang isinya tinggal sedikit. Seperti sebelumnya, ia menyendok secara berbarengan, nasi, sayur, dan lauknya. Kemudian menyuapkannya ke mulut Kinanti. Kali ini, perempuan itu menyambut suapan yang diberikan Jatayu. “Nah, kan … rasanya beda, kan?” Kinanti hanya diam dan terus mengunyah. Benar apa yang dikatakan oleh Jatayu, makanan itu tak terasa begitu hambar saat dimakan bersama-sama dengan lauknya. Serta-merta, air mata kembali meleleh dari ceruk matanya. “Lho, kok menangis lagi?” “Terima kasih, Jat,” ucap Kinanti, seraya menubruk dan melingkarkan kedua lengannya pada leher Jatayu yang masih berjongkok di hadapannya. Jatayu terhenyak. Untuk sesaat, ia hanya terpaku, sebab sama sekali tak menyangka, bahwa Kinanti akan melakukan itu. Serta merta, puluhan kembang api berloncatan di dalam dadanya. Mencuat tinggi ke angkasa, lalu meledak di udara, riuh bersahut-sahutan, untuk kemudian menghasilkan percikan-percikan yang indah di langit hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD