Berkenalan dengan Levin

1813 Words
Matahari bersinar terang di area bandara yang rusak akibat gempa bumi, tepat di tengah hari para pekerja bangunan terlihat begitu kelelahan. Di sana Levin berdiri dengan menatapi para pekerja dari atas bangunan. Levin adalah seorang menteri Politik dengan usia 24 tahun, dia tentunya menjadi menteri termuda ke dua setelah adiknya Daisy yang merupakan menteri Hukum dengan usia 22 tahun. Levin dan Daisy adalah generasi muda dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dan IQ tertinggi di sekolah mau pun Universitas yang pernah mereka duduki. Waktu kuliah mereka terpaut sangat cepat di banding anak kampus lainnya, karena kecerdasannya. Bahkan mereka langsung di tempatkan di kursi menteri dan di percaya bisa menjadi menteri terbaik di bidangnya. Benar saja, mereka adalah adik dan kakak yang disiplin dan tegas. Bahkan presiden pun selalu bertanya pada ke duanya untuk memutuskan sebuah keputusan. Hal ini membuat Presiden menyerahkan semua tanggung jawab atas renovasi bandara itu pada Levin. Levin menatapi semua pekerja bangunan dan menyuruhnya untuk berkumpul. Dengan setelan jas hitam yang menawan Levin yang paling berkuasa di sana, meskipun ada dua orang menteri lainnya yang ikut bersamanya dan dua orang perwira polisi yang berdiri di belakang Levin. “Beristirahatlah, hari ini begitu panas jadi jangan sampai cuaca ini menguras tenaga kalian. Banyak minum dan makanlah sejenak jika sudah tidak tahan” jelas Levin pada semua nya dengan tegas dan lantang Semua pekerja bangunan itu tersenyum “Benarkah pak Levin?” sahut pria tua paruh baya itu lalu menatapi teman-temannya “Iya, renovasi ini proyek untuk rakyat. Jadi jangan terlalu memaksakan jika tidak tahan, kalian bisa izin untuk makan di luar jam istirahat pada saya mulai hari ini” jelas Levin tegas Semua pekerja tersenyum dan mengangguk “Baik pak” jawab semuanya bersamaan “Kerja bagus pak Levin” ujar seseorang yang ada di samping kanan Levin, dia adalah wanita berusia 27 tahun yang merupakan wakil menteri politik yang artinya dia adalah wakil Levin. Sejak pertama di pertemukan dengan Levin, dia sudah jatuh hati padanya. Sikap Levin yang tegas dan mampu menghadapi berbagai macam situasi membuat wanita yang terpaut usia lebih tua 3 tahun dari Levin ini jatuh hati padanya. Levin mengangguk lalu membalikkan badannya, menatapi Katrina dan tim kerjanya yang lain. “Kerja bagus semuanya! Saya harap kalian bisa bekerja dalam rasa kemanusiaan meski tanpa saya. Perwira Andrew pantau semuanya dan pastikan baik-baik saja, karena saya ada pertemuan dengan presiden” jelas Levin lalu melangkahkan kakinya dan pergi dari sana “Baik pak” angguk semuanya termasuk Andrew kecuali Katrina yang segera mengikuti langkah Levin Semua pekerja bangunan itu sejenak beristirahat karena begitu lelah di hari yang panas, sementara setelah kepergian Levin dan Katrina. Mereka bertiga nampak tidak menyukai keputusan Levin. Terutama Andrew yang merupakan perwira polisi. “Apa kalian sepikiran dengan gue? Levin lelaki so gagah dan so bijaksana” gerutu Andrew pada satu teman polisinya dan satu dari tim menteri Mereka berdua mengangguk “Biarkan Levin berkuasa di lapangan, bukannya kita akan segera mendapat sesuatu yang lebih berharga dari renovasi ini? Bahkan gaji Levin untuk bulan ini saja jauh jumlahnya” senyum Hanna yang merupakan menteri dan rekan kerja Levin “Ya, kita yang beruntung!” ujar David yang polisi itu Perwira polisi itu menatapi ke duanya serius “Jaga bicara kalian, jangan terlalu keras! Bukannya kalian tahu semua pekerja kuli di sini berada di pihak Levin” bisik Andrew pada ke duanya “Ahh lo benar” jawab Hanna segera menatapi ke bawah di mana para kuli itu sedang makan dan minum David menatapi Andrew serius “Kapan pak wakil Presiden akan datang?” tanya David “Sebentar lagi, tepat saat Levin bergegas pergi” senyum Andrew Dengan tatapan penuh kebencian pada Levin yang sudah sangat jauh dari jarak mereka itu, perlahan dia menatap ke Katrina. “Andai saja lo tidak menolak gue Katrina, mungkin gue tidak akan melangkah sejauh ini” ujar Andrew dalam hati nya “Bisa bisanya lo memilih bocah tengil seperti Levin, cih. Jelas-jelas dia tidak tertarik pada lo Katrina” tambahnya lagi dalam hatinya   ***** Berbeda dari suasana bandara, gadis cantik dan manis tengah duduk di halaman rumahnya. Dia sedang mengejarkan beberapa lembar tugas praktek yang akan di kerjakannya. Nampaknya gadis berambut coklat panjang itu tengah kesulitan mendapat ide ke mana dia harus pergi untuk menyelesaikan tugas ini. Krystal membuang nafasnya berat, kemudian detik berikutnya dia teringat pada seseorang yang bisa menolongnya. “Vinson? Ya, Vinson” ujarnya tersenyum lalu segera mengambil ponsel di depan meja samping segelas kopi itu “Oke Vinson, kali ini lagi dan lagi lo harus bantu gue” senyum Krystal lalu mencari nama Vinson di kontaknya Ia pun segera meneleponnya dan tanpa menunggu lama Vinson dengan cepat mengangkatnya, Nafasnya terdengar terengah-engah. “Hallo, ada apa Krystal?” Tanya nya Krystal menganga dan sedikit memelotot setelah mendengar suara Vinson, ia lalu menggigit bibir bawahnya “Ya ampun Vinson, lo lagi latihan di markas ya? Maaf ganggu ya gue pikir sih lo masih di rumah” ujar Krystal dengan tatapan bersalah “Hey hey” senyum Vinson masih dengan nafas terengah Krystal mengerutkan keningnya “Lhaa kok malah ketawa? Awas lho di belakang lo nanti ada komandan” ujar Krystal “Gue lagi latihan di rumah Krystal, bukan di markas. Lo masih lupa aku masuk markas 3 minggu lagi” jelas Vinson yang lalu tertawa Krystal menepuk keningnya pelan “Ya ampun iya ya, gue sampe lupa!” “Terus lo ada perlu apa nelpon gue?” Tanya Vinson “Hmm tugas ke lapangan nih, belum gue beresin. Lo punya rekomendasi gak? Buat bantu beresin tugas gue yang engga kelar-kelar ini” ujar Krystal Vinson mengangguk “Hmm tugas itu, ternyata masih belum di kerjain toh! Emang tugas ke lapangannya harus gimana?” tanya Vinson “Ya bebas sih, intinya nanti aku cari narasumber tentang pembangunan, pemerintahan, atau perwilayahan atau lain-lainnya sih. Menurut lo harus ke mana coba?” tanya Krystal “Hah, bingung gue cari rekomendasinya” Vinson membuang nafasnya berat Krystal memutar bola matanya “Ish lo ini, gak papa deh kalau elo bingung. Biar gue sendiri aja yang cari rekomendasinya” kesalnya “Dari dulu Vinson emang sulit diajak berdiskusi, ya tuhan gue pikir setelah dia masuk kepolisian dia akan berubah” gerutu Krystal dalam hatinya Vinson tiba-tiba teringat sebuah hal “Krystal! Elo studi politik kan?” tanya nya tersenyum “Iya Vinson” jawab Krystal dengan nada yang malas “Yap, gue tahu sekarang. Gimana kalau besok kita ke pembangunan kembali bandara yang kena gempa besar itu?” Tanya Vinson serius Krystal mengerutkan keningnya kebingungan “Pembangunan kembali bandara? Di mana? Dan apa hubungannya sama studi politik gue?” tanya Krystal “Di kota sebelah, gak jauh kok! Kebetulan Andrew abang gue masuk ke tim kepala bersama menteri-menteri dan polisi lainnya. Nah kenapa gue tanya soal studi politik soalnya kepala tim pembangunan itu dia kebetulan menteri politik yang di tunjuk presiden” jelas Vinson lagi Krystal mengangguk dan paham “Ahh iya, bang Andrew di sana ya. Wih keren banget menteri-menteri suruhan presiden ya? Betewe, emang kita bakal diijinin?” gerutunya dengan kesenangan “Yap, pasti diijinin nanti biar Andrew yang urus semuanya. Kita berangkat ke sana aja besok gimana?” sahut Vinson Krystal setuju “Oke, gue setuju! Lagian tugasnya harus segera beres juga sih” ujarnya sembari membuang nafas dan menatapi lembaran tugasnya yang belum di isi itu “Ya udah, gue minta ijin dulu sama abang ya” “Oke, gue juga mau minta ijin sama nyokap bokap sekalian beres-beres buat berangkat besok” jelas Krystal pada Vinson Vinson tersenyum dia sangat menantikan saat-saat seperti ini “Akhirnya gue bisa menghabiskan waktu bersama Krystal lagi” gerutunya dalam hatinya “Ya udah gue tutup telponnya ya Vinson, bye” ujar Krystal lalu mematikan sambungan teleponnya Vinson tersenyum “Bye” padahal sambungan teleponnya sudah Krystal matikan “Yess! Yess!!” semangat Vinson sembari tersenyum merekah Krystal lalu memasuki rumahnya yang bertema putih itu, megah dan modern. Krystal terlihat senang karena sudah mendapat pembahasan untuk tugasnya itu. “Ahh gak sia-sia juga ya punya temen seperti Vinson, hmm emang teman terbaik deh gak ada tandingan” gerutu Krystal sembari menaiki anak tangga yang menuju kamarnya “Eh anak mommi senyum-senyum gitu ada apa sayang?” tanya ibunya yang memakai baju formal dan tas mewah Krystal terkejut dan menatapi penampilan ibunya dari atas sampai bawah “Wehh cantik banget mommi, mau ke mana nih?” senyum Krystal “Biasa, ada rapat di kampus. Kamu barusan kenapa senyum-senyum? Belum jawab pertanyaan mommi lho” ujar nya Krystal tersenyum lalu memeluk ibunya erat “Hmhh Krystal seneng banget, akhirnya Krystal nemuin bahan tugas yang ke lapangan itu. Berkat ide Vinson mom” senyum nya melepaskan pelukannya “Vinson? Wih tumben, jadi kamu mau ke mana?” Tanya ibu Krystal terlihat senang “Mau ke tempat bandara yang proses renovasi itu lho mommi, kata Vinson di sana ada abangnya yang ikut jadi tim depan dan kebetulan ketua dari tim abangnya Vinson itu dia menteri Politik. Nah kan? Nyambung banget sama bidang studi Krystal? Kayaknya ini akan hebat, Krystal gak sabar” senyumnya bersemangat Ibu Krystal tersenyum bahagia “Wah, hebat juga ya bisa nyambung sama bidang studi kamu. Kamu mau kapan ke sananya sayang?” “Besok deh, kan tugas Krystal yang ini harus segera selesai. Lagian mumpung Vinson masih belum ke markas jadi ini peluang Krystal” jelasnya menatapi ibunya serius Ibu Krystal mengangguk lalu tersenyum “Oke, bagus! Nanti mommi dan papi akan siapkan mobil dan bekal untuk kamu ya. Kamu siap-siap aja sekarang untuk barang-barangnya, biar Mbo Jihan bantuin kamu juga sekalian ya. Nanti mommi sama papi engga akan lama kok rapatnya” jelasnya “Heem oke mommi, Krystal beres-beres ya” senyumnya bahagia “Iya sayang”   ****** Levin dan Katrina menuju ke parkiran bandara. Katrina masih mengikuti Levin di belakangnya. Hingga mereka berhenti di dua mobil hitam yang sudah ada dua sopir di masing-masing mobil yang hendak membukakan pintunya. “Pak Levin, tunggu sebentar” ujar Katrina menghentikan langkah Levin untuk masuk ke dalam mobil Levin membalikkan badannya dan menatapi Katrina datar “Ada apa?” tanya Levin “Aku tidak sepenuhnya percaya dengan ketiga orang itu pak, apa sebaiknya kita kirim amunisi dari pihak kita untuk membantu mereka. Misalkan bu Daisy?” tanya Katrina dengan serius Levin menggelengkan kepalanya segera “Tidak Katrina, sebaiknya kita serahkan semuanya pada tim kita. Kita harus mencoba percaya pada tim kita” jelasnya masih menatapi Katrina datar “Hmh ucapan anda benar pak, maafkan aku” ujar Katrina menunduk Levin mengangguk “Ya, tenang saja Katrina. Jika ada kebohongan sekecil apa pun dari mereka, semuanya akan tetap terbongkar. Kita pergi sekarang karena pak presiden sudah menunggu” jelas Levin “Baik pak” jawab Katrina segera Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan, Katrina menoleh ke belakang entahlah dia mempunyai firasat buruk pada ke tiga teman tim lainnya yang baru untuknya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD