one

840 Words
Suara dentingan piring yang beradu dengan sendok dan garpu menyelimuti ruang makan pagi ini. Tidak ada yang membuka suara ketika makan bersama Mama Liota. Aku sendiri diam dan mengikuti heningnya suasana ini. "Oma, nanti ada pertemuan orang tua." Ucap Alzelvin menghentikan aktivitasnya. "Biar mama yang dateng ke sekolah." Ucapku tenang. "Nggak. Oma aja yang dateng." Ucap Al, panggilannya di rumah. Alzelvin Kenara adalah anakku yang aku lahirkan 17 tahun yang lalu. Aku tidak setua yang kalian bayangkan. Aku masih berumur 35 tahun. Benar, diusiaku yang menginjak 17 tahun aku sudah menjadi ibu dari Al. Tidak jarang omongan jelek orang lain hinggap dihidupku. Memang benar, aku memiliki anak ketika aku masih berada di sekolah akhirku. Bahkan disaat orang lain hanya berjuang untuk lulus Ujian Nasional, aku berjuang untuk memberikan ASI dan berjuang menyelesaikan Ujian Nasionalku. Aku tidak senakal yang mereka bicarakan. Aku tau kesalahanku itu sudah sangat fatal tetapi aku masih naif waktu itu. Berbekal cinta yang diberikan oleh David, yang aku kira mampu menjadi bekal untuk melihat masa depan yang cemerlang dengan orang yang kita cintai. Salah, tidak semulus jalan tol kehidupanku. Ketika aku dinyatakan hamil mama dan papa sangat shock. Tetapi ia langsung menghampiri David dan membicarakan dengan baik-baik tidak ada adegan memukul atau lainnya. Papa dan mama hanya meminta David menikah denganku dan bertanggung jawab cukup itu saja. Aku berpikir masalah selesai dan aku akan hidup bahagia, tetapi tidak. Bahkan ketika papa dan mama menemani David untuk bertemu dengan orangtuanya yang awalnya ku kira akan menjadi segala awal yang baik. Orang tua David tidak menerima aku sebagai menantunya bahkan memberikan papa dan mama uang cukup tebal tanpa amplop. Orang tua David tidak ingin menerima aib dan menanggung malu karena menikahkan David karena hamil dan menjadi besan keluargaku yang hanya berasal dari keluarga biasa. Keluarga David memang sangat kaya, jika dilihat dari keluargaku tentunya. Tetapi, apakah kekayaan segitu pentingnya? Akhirnya mama dan papa memutuskan untuk membawaku ke Jogja setelah aku menyelesaikan UN-ku dan aku bisa melanjutkan kuliahku disana. Papa dan mama sangat menyayangkan oatak pintarku jika aku hanya di rumah. Jadilah, aku bisa kuliah dan mama membantu mengurus Al. Ketika Al berumur enam tahun, aku dan mama kembali ke Jakarta. Mama ingin pergi meninggalkan kenangan bersama papa yang terkubur indah di Jogja. Ya, papa meninggal di Jogja karena sakit dan mama tidak mampu terus disana dengan bayangan papa. Aku dan mama berjuang berdua membesarkan Al. Aku dan mama mencoba membuka usaha. Aku dan mama membuka usaha toko bunga karena mama suka sekali dengan bunga. Sedangkan aku, sesekali aku mengajar les untuk anak SMA. Tidak banyak yang aku ambil karena aku tidak ingin melewatkan waktu bersama Al. Setidaknya, aku merasa ia sangat cepat dewasa karena ia sudah berumur 17 tahun. Balik lagi ke topik Al, ia berubah ketika memasuki SMP 3. Al sama sekali tidak mengijinkanku lagi kesekolah meskipun hanya mengantarnya dan turun. Ia hanya membiarkanku duduk di mobil dan melihatnya berlalu masuk ke dalam sekolah. Jadi jika ada pertemuan orang tua atau pengambilan rapor, ia akan lebih senang meminta mama untuk mengambilnya. Aku pernah bertanya, tetapi anak itu tidak menjawabnya sama sekali. Aku yakin sesuatu terjadi tapi aku tidak tau apa. Berkali-kali aku bertanya tetapi jawaban selalu nihil. Membuatku lelah dan malas untuk bertanya. "Alzelvin Kenara, kenapa sih kamu nggak pernah mau lagi mama dateng ke sekolah? Malu punya mama kaya mama?" tanyaku kesal. "Zemora Kenara, kenapa sih bahas hal yang sama teru?" ucapnya membalasku. Aku mengetuk sendok makanku ke kepalanya, sehingga terdengar suara nyaring terdengar. "Ra! Jangan pernah pukul cucu mama ya!" aku memutarkan bola mataku, selalu saja mama akan membela Al dan aku akan kena marah. "Al yang duluan, mama nggak liat? Dia begitu ngototnya nggak mau aku ke sekolahnya, bahkan dia milih sekolah yang nggak ada temen SD atau SMPnya disana." "Kalian ini kenapa sih ribut terus? Sudah kenyang?" Aku dan Al kompak diam, tidak lagi menjawab. ބ Aku mencium Al ketika kami sudah sampai di gerbang sekolah. Ketika ia hendak turun aku menahan tangannya. Aku mengambil dompet dan memberikannya beberapa lembar uang untuknya. "Buat apa?" "Pegangan kamu. Biar kalau ada apa-apa bisa pake." "Aku masih ada uang ma." "Udah jangan banyak bawel. Sekolah yang bener, jangan ngelawan guru, jangan pacaran, jangan nolak cewek kasar, jangan ngatain cewek manapun atau seburuk apapun mukanya!" Al memutar matanya kesal, "Mama mau ngomong kaya gini sampe kapan? Dari aku kelas satu sampe udah mau lulus itu aja yang mama ucapin. Nggak ada yang lain?" "Misalnya?" tanyaku. "Carikan mama jodoh mungkin?" Aku memukul lengannya pelan, "Udah jangan aneh-aneh. Sana masuk." Ucapku lalu mencium kening, pipi dan bibirnya. "Ma!" "Kenapa? Protes gara-gara mama cium?!" "Ish!" Al lalu keluar dan menghilang dari pandanganku dan aku mulai menjalankan mobilku menuju rumah. Beberapa pemasok bunga akan datang hari ini jadi aku harus mencatat dan mendata semua bunga-bunga yang masuk ke toko. Toko dan rumah sengaja kami gabung demi kenyamanan mama yang sudah tua. Sebenarnya mama nggak setua itu, ia baru 58 usianya sekarang, masih sehat dan bugar tetapi aku sudah mewanti-wanti untuk rutin check ke dokter biar bagaimanapun ia satu-satunya orangtua yang aku milikikan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD