Crazy Morning

1021 Words
Tania merasakan cukup dingin disekujur tubuhnya. Sebab kamar tersebut memang full AC. Kini Tania mulai memberaikan diri untuk membuka selimut tebal yang kini menutupi tubuh mereka. Dan ternyata Kini Tania hanya mengenakan pakaian dalamnya dan lengan kokoh Randy tengah melingkar diperut telanjang milik Tania. 'Ya Tuhan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa aku bisa berada dikamar ini dalam keadaan yang begitu menjijikkan ini? Kenapa aku bisa berada didalam satu ranjang dengan seorang laki-laki yang tidak pernah aku kenali? Siapa lelaki ini sebenarnya? Apa yang sebenarnya semalam telah kita lakukan?' Gumam Tania penuh tanya. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa "Lepasin tubuh gue sekarang! Lepasiiiiiiiiin!" Tania memekik begitu keras seraya memukuli lengan Randy dengan cukup keras, sebab rasa kesal juga bencinya terhadap apa yang tengah terjadi kepadanya saat ini. Sungguh Tania benar-benar tak sanggup membayangkan jika nanti keluarganya bisa mengetahui setiap kelakuan bejatnya. Karena pekikan Tania yang cukup keras membuat Randy kembali menggeliat seraya berusaha untuk membuka kedua bola matanya dengan perlahan. "Aduuuuh apaan sih pakai teriak-teriak segala!" keluh Randy yang belum juga melepaskan pelukannya. Namun disaat kedua bola matanya sudah mulai terbuka kedua mata itu membulat seketika saat mendapati wajah Tania yang tepat berada dihadapannya. Aaaaaaaaaaaaaaaaa Pekik Randy seraya dengan kasar melepaskan pelukannya. Dan dengan segera Tania menjauh dari Randy seraya menarik selimutnya untuk memutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Hal itu membuat Randy semakin merasa malu sebab ia hanya mengenakan sebuah boxer saat ini. "Lo siapa? Ngapain lo ada dikamar gue hah?" bentak Randy. "Gue juga gak tahu. Yang jelas lo itu lelaki paling b******k yang gue kenal ngerti lo!" jawab Tania dengan nada tinggi. "Heh jaga ya omongan lo!" "Mana baju gue?!" "Mana gue tahu!" "Mana baju gue!! Pasti lo kan yang udah nelanjangin gue? Mana gak!!" Randy pun mulai mengedarkan pandangannya hingga ia temukan baju mereka yang berserakan dilantai. "Tuh baju-baju lo," ucap Randy seraya menunjuknya. "Sekarang ambilin baju-baju gue!" "Enak aja lo perintah-perintah gue. Ambil aja sendiri!" "Ambiliiiiiiiiiin!!!" pekik Tania dengan begitu kencangnya. "Okkay.. okkay.. okkay! Stop ya lo gak usah teriak lagi! Bikin kuping gue pengang tahu gak lo!" "Bodo amat gue gak perduli!" Setelah mengambilnya dengan segera Randy melemparkan baju-baju Tania ketubuh Tania. Dengan segera Tania mengambilnya dan beranjak dari tempat tidur masih berbalut dengan selimut tebal itu. Randy memandangi Tania dengan tatapan yang begitu bingung juga tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya. Kini ia sedang berusaha mengingat apa yang sebenarnya mereka lakukan tadi malam. Bagaimana bisa ia membawa seorang wanita kedalam kamarnya tanpa ada rasa malu juga sungkan kepada penghuni apartemen lainnya. Hingga kini dengan bertahap Randy mulai mengingatnya sedikit demi sedikit. Ia baru saja teringat jika dirinya yang merasa begitu frustrasi sebab perjodohannya dengan Syakilla yang gagal begitu saja. Sehingga membuatnya meminum banyak wine dan ia mabuk berat lalu kehilangan akal sehatnya. Randy juga baru mengingat seperti apa kelakuan bejatnya yang dengan begitu lancang menelanjangi tubuh Tania. Namun satu hal yang dapat ia pastikan, jika mereka tak melakukan hubungan intim melainkan hanya Randy yang melakukan foreplay kepada Tania yang tengah tak sadarkan diri. Randy merasa begitu menyesal. Ia juga merasa telah menjadi seorang lelaki yang begitu bodoh juga b******k. Karena dengan begitu, sama saja ia telah menghancurkan reputasinya sendiri sebagai seorang lelaki yang cukup disegani banyak orang. Namun kini ia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal hanya karena kecerobohannya. Sebab sejelek-jeleknya dirinya sebagai seorang player. Belum pernah ia melakukan hal bodoh hingga sejauh ini. Kejadian ini membuat Randy semakin merasa frustrasi sebab ia yang tengah begitu takut jika nanti keluarganya tahu apa yang baru saja terjadi. Sedangkan kini Tania tengah memandangi dirinya didepan cermin wastafel. Tania semakin merasakan hidupnya telah hancur saat ia dapati banyak hickey dan kissmark dileher juga dibagian dadanya. Mata Tania pun kini mulai memanas hingga airmatanya menganak sungai dipipi mulusnya. Tania benar-benar merasa malu juga jijik terhadap dirinya sendiri saat ini. Ia nyalakan air shower dengan begitu deras. Dan ia jatuhkan tubuhnya disana. Tania terus saja menangis sesenggukkan disana. Ia merasa telah hancur sehancur-hancurnya. Sebab setelah ia kehilangan cinta pertamanya, ia juga kehilangan kehormatan dalam hidupnya. "Apa ya sebenarnya telah terjadi ya Tuhan? Apa yang sebenarnya telah kulakukan? Apaaaaaaaa!" pekik Tania dengan begitu keras. Sebab Tania memang tak mampu lagi menahan setiap luka didalam hatinya. Randy yang mulai mendengar teriakan Tania pun semakin merasa frustrasi sehingga ia mengacak rambutnya berkali-kali. Dan kini Randy mulai kembali memakai pakaiannya. Tak lupa Randy siapkan sebuah cek yang bernilai ratusan juta sebab Randy ingin Tania tutup mulut mengenai hal ini. Dan ia juga berharap jika dirinya tak ingin lagi bertemu dengan Tania. Tak lama kemudian, Tania sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang telah rapi dan rambut yang basah. Dengan segera ia ambil dan rapihkan tas beserta isinya yang masih berserakan dilantai seraya berlalu pergi. Namun dengan cepat Randy mencekal lengan Tania seraya mendudukkannya disofa kamarnya. "Mau apa lagi lo hah? Setelah lo lecehin gue, setelah lo hancurin gue lo mau apa lagi? Belum cukup lo hancurin hidup gue? Belum puas lo..." bentak Tania namun Randy menghentikannya. "Shut up!!! Stop ya lo bentak-bentak gue. Nih ambil!" ucap Randy dengan nada tinggi seraya melemparkan ceknya didepan wajah Tania. Tania tersenyum miring saat melihatnya. Dan kimi ia mulai berdiri menghampiri Randy. Tania sobek-sobek cek itu didepan wajah Randy seraya melemparkannya. "Gue gak butuh uang lo! Lo fikir gue w************n yang bisa lo selesaikan dengan uang! Ternyata sebuah jabatan memang gak mencerminkan attitude seseorang ya!" maki Tania seraya menunjuk sebuah penghargaan atas nama Randy disana. Lalu dengan cepat Tania berlalu meninggalkan Randy. Randy pun hanya bergeming sebab ia memang merasa begitu menyesal telah melakukan hal yang tak pantas kepada Tania. Dengan segera Randy berusaha mengejar Tania. Namun saat Randy memanggilnya Tania semakin mempercepat langkahnya dan segera menaiki taksi yang telah ia pesan sebelumnya. Randy semakin berasa berdosa saat ia dapati Tania yang berlari dengan derai airmata yang membasahi pipinya. Tania segera pergi ke club semalam untuk mengambil mobilnya. Tangis Tania kembali pecah saat ia berada didalam taksi. Ia tak tahu harus mengatakan apa kepada kedua orangtuanya nanti jika suatu hal buruk telah terjadi kepadanya. Satu hal yang paling Tania takutkan adalah jika benar mereka lakukan hal menjijikkan itu dan ia akan hamil nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD