Kantin SMA Dharma terletak di pojok belakang dekat lapangan basket. Satya dan teman-temannya duduk di bangku yang paling ujung sambil melahap bakso ditemani es degan. Satya mengawasi lapangan basket di mana anak-anak kelas sepuluh sedang diajari baris-berbaris.
Yoga menyadari tindak tanduk sahabatnya dan tersenyum kecil. Satya masih belum mau mengakui perasaannya pada Maya. Yoga juga memiliki adik perempuan, jadi Yoga paham bagaimana seharusnya sikap seorang kakak. Apalagi adiknya itu seperti Ilham dalam versi perempuan. Sok pintar, sok dewasa, sok kuasa, suka bertindak seenaknya dan merendahkan orang lain.
Yoga pernah menceritakan kisah dukanya akibat ejekan dari Ilham pada teman-temannya. Kakak Yoga itu menyebutnya payah karena menempuh pendidikan terlalu lama. “Aku SD kamu SD, aku SMP kamu SD, aku SMA kamu masih tetap SD!”
Olokan Ilham itu membuat Yoga geram. Ilham berkata seolah Yoga bodoh padahal perbedaan usia mereka lima tahun sementara masa pendidikan di SD enam tahun. Pendek kata saat Ilham kelas enam SD, Yoga masih baru masuk SD.
Akhir-akhir ini Ilham tidak lagi meledek Yoga dengan kalimat itu karena dia menemukan kalimat lain yang lebih ampuh. Yoga kembali mendesis mengingat kalimat itu. “Ira belum sekolah kamu SD, Ira Paud kamu SD, Ira TK kamu SD, Ira SD kamu masih SD juga!”
Hal yang membuat Yoga semakin kesal, bukannya membela teman-temannya justru terbahak mendengar curhatnya. Mereka menganggap Yoga sedang melakukan stand up comedy. Yoga menepuk pundak Satya kemudian berkata. “Sat, aku hutang.”
Satya mengerutkan kening. “Aku pikir kamu yang bawa uang.”
Yoga dan Satya lalu menoleh pada Viar. Cowok itu berdecak kesal. “Ya, sudah aku ambil uang dulu di kelas.” Viar bangkit dan meninggalkan dua sahabatnya. Viar selalu paling bijak dan paling baik hati dibandingkan teman-temannya yang kekanak-kanakan.
Viar melewati lorong masuk kantin lalu menaiki tangga menuju kelasnya sebelas IPS satu. Dia kembali melewati kelas XI Bahasa. Viar tertegun saat melihat Putri yang masih betah duduk di sana. “Lho Put, kamu masih di sini?” tanya Viar sambil melongok ke dalam kelas.
“Eh iya, PRku belum selesai,” dusta Putri sembari membolak-balik buku bahasa Inggris.
“Hm, ya, sudah, bye.” Viar melanjutkan langkah menuju kelasnya, namun ada sesuatu yang serasa menahan kakinya. Hanya beberapa langkah, Viar berbalik lalu kembali menengok kelas sebelas bahasa. “Ada apa?” tanya Viar cemas.
Putri terperanjat, dia diam beberapa saat kemudian menangis sekeras-kerasnya seperti anak TK. Viar terkesiap dan segera menghampiri bangku tempat Putri duduk. “Ada apa sih?” tanya Viar bingung.
Bukannya menjawab, Putri malah meraung-raung lalu menarik baju Viar untuk mengusap air mata serta ingusnya. “Hei! Bajuku!” Viar memprotes, tapi karena Putri terus menangis, Viar bergeming sambil mengusap-usap rambut gadis itu. “Sudah, sudah, Cup! Cup!”
Viar merasakan deja vu, kejadian seperti ini sering terjadi saat mereka masih SD. Putri adalah gadis yang tak mau memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain. Sesedih apa pun, dia akan bersikap ceria. Anehnya hanya di depan Viar, Putri bisa menangis seperti anak TK.
Di depan kelas Yoga berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. “Kamu terlambat,” kata Yoga lirih sambil memandangi lantai.
“Yog!” Suara teriakan Satya yang menggema membuat Yoga terkejut. Cowok itu muncul di anak tangga sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku. “Kenapa kamu diam di situ?” tanya Satya.
Yoga meletakan jari telunjuknya di bibir. “Ada apaan sih?” tanya Satya tidak mengerti.
Yoga menghampiri Satya dan membungkam mulut cowok itu. “Sst... Putri sedang menangis. Kamu diam saja jangan berisik!” kata Yoga.
Tapi reaksi sebaliknya justru ditunjukan Satya. “Apa? Putri nangis!” Satya terkejut. Cowok itu segera masuk kelas sebelas bahasa. “Put, kamu kenapa?”
Tangis Putri sudah berhenti dan digantikan oleh sesenggukan kecil. Putri membuka mulut tapi karena masih senggukan dia kesulitan berbicara. “Se-sebenarnya.... a-aku ada masalah dengan anak Jurnalota,”
“Masalah apa?” tanya Viar.
Putri menyeka air matanya, tatapannya tertuju pada amplop di depannya. Satya meraih surat itu dan membukanya tanpa bisa dicegah oleh Putri. Satya lalu membaca surat itu keras-keras.
“Yang terhormat Pak Ilham, Pembina ekskul Jurnalota di tempat. Kami yang bertanda tangan di bawah ini adalah anggota ekskul Jurnalota dengan ini menuntut....” Satya diam sejenak membuat Viar dan Yoga semakin penasaran.
“Menuntut apa?” tanya Yoga tidak sabar.
Satya menelan ludah kemudian lanjut membaca. “Pengunduran diri saudara Putri Lestari dari jabatan pemimpin redaksi dan Jurnalota dikarenakan kontroversi yang telah dilakukannya. Apabila tuntutan ini tidak dipenuhi dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam, kamil akan memutuskan keluar dari keanggotakan Jurnalota. Demikian tuntutan kami, harap dimaklumi dan ditindaklajuti, terima kasih.”
Viar dan Yoga melogo mendengar isi surat itu lalu geleng-geleng kepala.
“Ini kudeta!” desis Yoga. Dia menoleh pada Putri yang kini menunduk sambil memandangi lantai. “Kok bisa ada kejadian seperti ini?”
“Ceritanya agak panjang,” jawab Putri lemah.
“Panjang juga tidak apa,” kata Satya.
Putri menarik napas kemudian mendesah. Dia pun mulai bercerita.
***
Putri duduk di meja pimred sembari memainkan jari-jarinya di laptop, dia sedang melakukan proses editing terakhir sebelum menyerahkan naskah akhir tahun untuk dicetak ke penerbit.
Pintu ruang redaksi terbuka dan dua orang gadis muncul. Seorang gadis berambut bob berkacamata, dengan wajah oriental masuk bersama seorang gadis berkulit agak gelap dengan rambut sebahu. Keduanya terlihat kontras karena si gadis berkacamata mengenakan seragamnya dengan rapi sementara si gadis berkulit gelap membiarkan baju seragamnya keluar dari rok dan lengan bajunya digulung seperti preman.
“Halo, Putri,” sapa si gadis berkacamata ramah, gadis itu bernama Anggi. “Kamu sedang apa?” tanya Anggi.
“Editing terakhir naskah sebelum dikirim ke penerbit,” jawab Putri. Putri melihat Mona, si gadis berkulit gelap yang berwajah masam. Dia hanya melirik Putri sekilas lalu menghampiri meja kerjanya sendiri.
Putri menghela napas, dia jarang sekali bertegur sapa dengan Mona sejak dirinya dipilih menjadi pimred. Padahal dulu mereka adalah teman yang akrab.
Anggi menghampiri mejanya yang ada di sebelah meja Mona. “Aku punya Insidious tiga nih, kamu mau ngopi?” tawar Anggi.
Mona yang awalnya berwajah masam segera berubah semringah. “Iya, mau!”
Anggi mengeluarkan laptop dari dalam tasnya kemudian menyalakannya. Mona segera menyerahkan flashdisknya agar Anggi dapat mengopikan data dari laptopnya ke flashdisk tersebut.
“Aduh, aku nggak sabar nontonnya!” seru Mona antusias.
“Kamu boleh kok pinjam laptopku dulu buat nonton, aku mau ikut pertandingan voli jadi tidak perlu ini,” kata Anggi.
“Bener, nih?”
Putri melirik percakapan akrab kedua gadis itu. Dia iri, entah apa yang terjadi pada dirinya dan Mona. Mereka sudah tak lagi seakrab dulu.
“Ada yang perlu dibantu?” tawar Anggi sembari mendekati meja Putri.
“Sudah selesai, kok,” tolak Putri. Putri kemudian mengesave datanya dan menekan ikon safely remove hardware, setelah dia mencabut flashdisk Anggi tidak sengaja menyenggolnya sehingga flashdisk tersebut terjatuh di bawah kaki Anggi.
“Oh, maaf tidak sengaja.” Anggi memungut flashdisk tersebut dari lantai kemudian menyerahkannya pada Putri. “Ini.”
“Terima kasih,” kata Putri sembari tersenyum. Dia kemudian meletakan flashdisk tersebut di dalam laci mejanya.
“Mona, aku mau class meeting dulu, nanti kalau Andini datang bilang flashdisknya ada di laci, ya,” kata Putri.
Mona tidak menjawab, entah karena terlalu berkonsentrasi terhadap film atau karena memang ingin mengabaikan Putri. Putri kembali memanggil Mona. “Mon.”
“Hm,” jawab Mona tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop. Putri mendesah lalu keluar ruang redaksi. Anggi mengikutinya, mereka meninggalkan Mona sendirian di ruangan itu.
***