Enjoy

1129 Words
Yes... Bangun di pagi hari dengan pemandangan b****g bergoyang para pria gay membuatku tersenyum. Terutama yang memilki wajah setampan mereka. Aku yakin jika otot-otot mereka dilatih tiap hari karena lekukannya sangat luar biasa. Ayo b****g, teruslah bergoyang. Ehem maksudku ayo pria-pria tampan, teruslah memasak. Maafkan otak mesumku yang terus timbul akibat dua pria panas di depanku. Mereka berdua memasak untukku, gerakannya yang tegas nampak seperti menari untukku. Sekali lagi, orientasi seksual mereka yang gay adalah hal yang sangat disesalkan. "Ini coklatmu, Miss." Pria gelap tadi ternyata bernama William. Kami menggilnya Willy. Dia pendiam dan datar tapi otot tubuhnya sama sekali tidak datar dan tidak bisa membuat gadis diam. Aku menyukai perasaan duduk dan dilayani dua pria tampan itu. Memberi perasaan seperti Cleopatra yang dilayani budaknya. Aku bisa terbiasa dengan ini. Andai saja mereka melakukannya tanpa busana, pasti akan sempurna. Jadi aku tidak perlu berimajinasi yang aneh-aneh karena langsung melihatnya. Hei, jangan menghakimiku c***l, m***m atau sesuatu sejenisnya. Sebab aku bisa melihat otot mereka yang menggembung dari balik kaos kasual mereka. Terlebih kondisi mereka sekarang memasak dan berkeringat, bisa di bayangkan betapa menggoda lekukan otot mereka. Aku gadis normal yang terpesona dengan otot pria, sayangnya mereka tidak normal. "Sarapan sudah siap, " ucap Clark. Dia menaruh Fettucini Carbonara di depanku. Aku berbinar melihat hasil masakan Clark. Andai ada sosis panjang, tebal---aku mungkin bisa membuat mereka membayangkan mulutku melakukan hal yang menyenangkan pada sosis itu. Tanpa di duga sosis yang aku inginkan tersaji. Bravo. Clark yang menyajikannya di depanku dengan penampilan topless. Oh, lihat bentuk tubuh itu. Sangat menggiurkan meski pemiliknya cerewet. Lupakan itu, aku lebih suka melihat sosis yang siap dinikmati. Panjang lagi, plus tebal. Siapa yang tidak suka sosis seperti itu. "Wow, kau memiliki tangan ajaib Clark, " pujiku pada Clark. Dia pantas mendapatkan pujian atas sosisnya. "Ini untukmu. " Tanpa diduga si dingin Willy tiba-tiba memberiku makanan penutup. Meski wajah datarnya minim ekspresi tapi matanya terlihat penuh minat akan reaksiku. Baru aku tau jika sikapnya mencerminkan sifat stundere. Aku pun mencicipi makanan mereka. Ya Tuhan, ini luar biasa. "Wow ini Fetuccini terlezat yang pernah aku makan. " Clark menyeringai bangga. Lalu tanganku menuju dessert yang Willy buat dan yummy. Aku seperti di surga yang dilayani dua malaikat tampan. "Oh, ini sempurna. Masakan kalian luar biasa. Apa yang kalian tunggu, ayo kita sarapan bersama. " Kami pun sarapan bersama. Dan sekali lagi mereka tertegun melihatku. Jelas saja, kejahilanku bahkan berlanjut di meja makan. Aku mengambil sosis itu dan menjilatnya.Pandanganku menunju saos. Dengan senang hati saos itu menjadi bagian dari sosis istimewa. Aku memasukkan sosisnya hingga seolah menghisap saosnya. Setelah itu aku langsung mengigit sosis itu hingga putus dan mengunyahnya kuat-kuat, dan entah mengapa mereka berdua pamit dari meja makan sambil memegang selakangan mereka. Hahaha....Reaksinya seperti yang sudah aku harapkan. 'Mungkin saja mereka ngilu membayangkan jika milik mereka aku gigit dan aku kunyah kuat-kuat. ' Tanpa memperdulikan mereka berdua aku meneruskan sarapan lezat buatan mereka. Tidak baik menyia-nyiakan makanan lezat ini. Setelah itu aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kampus. Sedangkan mereka, silakan bercinta selagi aku tidak berada di apartemen. Aku tidak melarang mereka bercinta di apartemen selama aku tidak berada di sana. Tapi jangan berani-berani bercinta jika ada aku di rumah atau akan terjadi pembantaian. > Di kampus, aku memilih bangku kosong untuk duduk. Otakku perlu diisi dengan ilmu agar tidak membayangkan Clark dan Willy berpose sensual dan melakukan adegan dog style. Ternyata memiliki house mate tampan tidak selamanya baik. "Anne, kau terlihat bahagia? " Lizzie menyapaku saat aku memasuki kelas. Dia adalah sahabatku sejak masuk ke universitas. "Yah... Aku dalam kondisi mood yang baik. " "Coba ku tebak. Kau melepas keperawananmu dan merasakan o*****e untuk pertama kalinya kan? " tebak Lizzie. Pikiran gadis itu tidak pernah jauh dari kata o*****e atau adegan ranjang. Kejombloannya patut dikasihani. Aku pun menjawab dengan nada sewot. "Diam kau, sudah kubilang jika aku tidak tertarik melepas keperawananku pada pria biasa saja. " "Standarmu terlalu tinggi, kau bahkan menolak Nick--kapten football. Dia adalah pangeran kampus ini, " ujar Lizzie. Temanku berambut merah ini sangat memuja pria berotot. Dan Nick masuk dalam tipe kesukaannya. Padahal dia biasa saja selain memiliki otot yang bagus. Aku bahkan tidak mendengar kabar otak pinternya digunakan untuk apa selain menggoda gadis. Aku pun kembali mendengus geli. "Jika kau menilainya dari segi fisik maka dia mendapatkan nilai 8,5 dari 10. Tapi aku ingin pria berkharisma yang mampu membuat para wanita bergetar saat melihatnya. Seorang pria yang membuatku memohon padanya agar ditiduri. " Mendadak bayangan William muncul di pikiranku. Mengapa gay itu muncul di otakku... Tidak, tidak ini gila. Dia adalah gay. Tidak mungkin aku memohon agar dia tiduri sebab meski aku telanjangpun mr. P nya tidak akan berdiri tegak. Kami masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Kelas berjalan lambat, tapi aku menikmatinya. Semua ilmu yang aku dapatkan hari ini pasti berguna suatu saat nanti. Aku bahkan berniat berkencan dengan kumpulan buku teori bisnis dan managemen mikro dan makro, mempelajari eksistensi tangan tak terlihat teori Smith. Atau filsafat karya Emannuel khan. Usai jam kelas berakhir Lizzie kembali menghadangku dan mengatakan segala hal tentang Nick dan ototnya. Lalu betapa malang miss v ku karena aku sudah menolak Nick. Aku mengangkat bahu sambil keluar dari kelas." Lebih baik menjadi perawan dari pada bercinta dengan pria yang tidak berkualitas dan hanya menginginkan hubungan seksual tanpa adanya roh dalam bercinta. " Lizzie mendengus. "Jika demikian maka bersiaplah terus menjadi perawan---oh wow. " "Wow?" Aku menoleh ke arah Lizzie memandang. Cukup penasaran dengan apa yang membuatnya mengucapkan kata 'Wow'. Dan aku juga mengikuti ucapan Lizzie. "Wow. " "Sudah kuduga kau juga akan bilang wow. Dia persis seperti gambaran yang kau ucapkan. Oh My God, dia sangat sempurna." Andai saja demikian, Willy adalah gay jadi mana mungkin dia seperti gambaranku... "Sudahlah, ayo pergi. " Mana mungkin Willian mencariku. Dia pasti mencari gengnya. "Anne, " sapanya sambil mendekat ke arahku. Oh Tuhan, adegan dia melangkah ke arahku seolah menghentikan dunia berputar. Ini sungguh tidak adil. Aku hampir menangis karena kewanitaanku mendambakan dirinya. Sungguh tidak menyenangkan menginginkan hal yang bukan milikmu. Aksi tenangpun aku berikan. "Ya, ada apa Willy? " tanyaku. "Bisa kita pulang bersama? " jawab Willy bertanya balik padaku. Mulut Lizzie menganga dan menutup seperti ikan koi. Dia seakan tidak percaya jika pria setampan Willy mengajakku pulang. Seharusnya dia percaya apa lagi dia tinggal di apartemenku. "Tapi... " aku melirik ke arah Lizzie, kami sebenarnya ada acara. Aku merasa tidak enak hati jika membatalkan sepihak. "Dia bisa, " jawab Lizzie cepat. Aku bahkan terkejut dengan reaksi cepatnya yang biasanya tidak berfungsi saat berhubungan dengan pelajaran. "Itu hebat." Willy pun menarikku ke arahnya. Gerakannya yang intim membuatku bingung. Aku pun melihat ke arah Lizzie. Gerakan bibirnya mengatakan 'ucapkan selamat tinggal pada virgin'. Aku menyerah dan mengikuti Willy. Aku yakin dia mengajakku bukan karena ingin berhubungan badan denganku. Pasti ada sesuatu yang ia inginkan. " Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD