Bagian 3

1674 Words
Mulai kukerjakan lagi tumpukan kertas yang penuh dengan angka itu. Aku harus menginput semuanya dalam MYOB Accounting. Ya, akuntansi menjadi lebih ringkas dikerjakan dengan aplikasi. Hanya saja tetap membutuhkan ketelitian menginput setiap item. Kalau ada kesalahan bisa fatal akibatnya. Aku bisa tekor kalau sampai ada selisih.        "Lho, kamu udah balik, Nara?" Ramli tiba - tiba muncul.       Aneh, tidak biasanya Ramli punya banyak waktu luang sampai - sampai sempat mendatangi ruanganku seperti ini. Hmh ... pasti Mama.        Mama pasti menelepon Ramli dan menceritakan keadaan Arkana. Mama meminta Ramli untuk bicara denganku. Pasti begitu, kan?       Duh, aku tidak pernah menyesali persahabatanku dengan Ramli hingga hari ini terjadi.       "Sudah, Pak," jawabku. Putra saya baik - baik saja. Tak perlu khawatir."       "Kamu yakin, Nara?" Ramli masih bertahan dengan ketidakprofesionalannya. Terserah, lah. Toh bukan aku yang rugi jika Ramli dicap tak profesional jika ada karyawan lain yang tahu obrolan kami.        "Saya yakin, Pak."        "Tapi kata Mama Aida, Arkana disarankan menjalani CT Scan otak."        Kupejamkan mataku rapat. Hatiku bergejolak. Pertama, karena ternyata benar, Mama sudah menelepon Ramli. Kedua, karena si Lugas. Dokter itu lancang sekali. Pasti ia sudah memberi tahu Mama perihal keadaan Arkana. Yang menurut diagnosanya memerlukan CT Scan otak.       "Dokter memang menyarankan untuk melakukan CT Scan otak, Pak. Tapi itu hanya untuk jaga - jaga seandainya ada sesuatu dalam otak Arkana yang membuatnya mengalami serangkaian kondisi setelah terjatuh. Mereka tidak memaksa, kok. Saya memutuskan untuk tidak melakukannya, karena yakin Arkana baik - baik saja. Saya yang merawatnya sejak kecil. Saya yang setiap hari bersamanya. Saya yang paling tahu keadaannya."        Sengaja kujelaskan panjang lebar supaya Ramli mengerti dan segera pergi. Sungguh aku tidak bisa tenang jika pekerjaanku yang rumit itu belum selesai.        Aku tadi sudah telanjur memahami alur jurnal yang kukerjakan. Jika Ramli terus di sini dan bicara ngelantur, bisa buyar konsentrasiku. Dan aku terpaksa harus memahami ulang semuanya nanti. Itu benar - benar merepotkan.        "Iya, Nara. Aku ngerti dengan keyakinan kamu itu. Mengingat kamu adalah ayahnya dan setiap hari bersamanya. Tapi, Nara, nggak ada salahnya CT Scan itu dilakukan. Cuma buat mastiin. Nggak ada yang tahu kapan penyakit tiba - tiba dateng. Banyak penyakit fatal yang munculnya nggak pakai gejala."       "Buat apa, Ram?" Aku akhirnya mengimbanginya bicara informal. Itu salahnya sendiri. Dan dalam situasi seperti ini akan sangat aneh jika aku terus memanggilnya secara formal. "Aku yakin Arkana baik - baik aja. Buat apa dilakukan CT Scan segala? Buang - buang waktu, buang - buang duit!"       "Astaga, Nara. Jadi masalah duit yang bikin kamu nggak setuju? Berapa, sih, biayanya? Sini biar aku yang bayar!"        Sial, aku salah memilih kata bicara dengan Ramli. "Jangan salah paham, Ram. Intinya bukan karena duit, lah. Aku juga sudah bilang, itu hanya buang - buang waktu. Buat apa buang waktu, buang duit, buat hal nggak penting? Intinya, hal itu nggak ada manfaatnya, jadi buat apa dilakukan?"       "Duh ... susah emang ngomong sama kamu, Nara. Nggak ada manfaatnya kamu bilang? Manfaatnya ya untuk memastikan kondisi Arkana sebenarnya. Masak untuk paham manfaatnya aja kamu harus diberi tahu? Gitu aja kamu nggak ngerti?" Ramli sampai mencak - mencak.         "Terserah, lah. Aku tetap nggak akan setuju CT Scan dilakukan. Aku tetap yakin Arkana baik - baik aja!"        "Astaghfirullah, ada ya manusia sebatu kamu. Sahabatku sendiri pula. Tobat ... tobat .... Duh, nyerah aku. Aku telepon Mama Aida sekarang, mau minta maaf karena nggak bisa bantu bujuk kamu!"         "Ya terserah!"      Ramli geleng - geleng mendengar jawabanku. Tanpa bicara apa pun lagi, ia melenggang pergi. Bagus, lah. Aku jadi punya kesempatan melanjutkan pekerjaanku.          ~~~~~ SINGLE FATHER - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~         Lelahku berkat seluruh rangkaian pekerjaan hari ini menjadi semakin parah. Terhitung semenjak aku sampai di bangsal Arkana. Alasannya?        Tentu saja karena Mama mengomeliku lagi. Aku berusaha sabar. Berusaha tidak meninggikan suara pada Mama.        Sampai sebuah nama disebut ... dr. Lugas.          Itu dia biang keroknya. Benar, kan, dugaanku? Ia yang telah melapor pada Mama tentang keadaan Arkana.        "Jadi Mama lebih percaya dokter itu?"        "Seharusnya Mama lebih percaya anak Mama. Tapi karena anak Mama bukan dokter, terpaksa Mama harus lebih percaya pada dr. Lugas. Demi keselamatan cucu Mama tersayang."        "Dokter bisa aja salah, Ma. Mama pikir CT Scan itu nggak berisiko? Radiasinya gede banget. Kalo nyatanya Arkana baik - baik aja, CT Scan itu justru bakal bikin dia rentan sakit!"         "Tapi kalau tidak dilakukan, akan lebih berisiko. Gimana kalau diagnosa dr. Lugas benar?"       "Oma ... Papa ... udah, jangan berantem lagi. Aku ngerasa berdosa karena udah bikin kalian berdebat. Maafin aku." Arkana akhirnya menginterupsi.       Dia memang putra kebanggaanku, yang selalu mengerti aku.        "Sayang, kamu jangan merasa berdosa!" Mama mendekati Arkana. "Harusnya papamu yang merasa berdosa karena udah menghalangi hak kamu untuk sehat!"        Aku berhenti mendengar tuduhan Mama. "Bisa - bisanya Mama menuduhku seperti itu!"        "Bukan nuduh, itu kenyataan!"        "Ah, oke. Kalau begitu biar aku bikin perhitungan sama si Lugas sekarang!" Marahku benar - benar sudah sampai ubun - ubun.        "Eh, Nara ... mau ke mana kamu?" Mama hendak mengejarku, tapi ditahan oleh Arkana.       "Biarin, Oma. Biar Papa plong hatinya."          "Tapi ...."         "Nggak apa - apa, Oma. Meskipun Papa orangnya keras, tapi Papa cukup cerdas buat nggak adu jotos di rumah sakit. Palingan cuman bikin heboh aja."        Seketika Mama mengurungkan niatnya mengejarku. Putraku memang membanggakan dan bisa diandalkan, bukan?        Hanya saja aku kurang setuju dengan kata cukup cerdas. Karena aku ini sangat cerdas.        ~~~~~ SINGLE FATHER - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~        "Mana dokter Lugas?" Sebenarnya suaraku menjadi lebih tinggi dari pada kehendakku. Tapi aku tak peduli, lah. Justru semakin meyakinkan kalau aku sedang emosi.        Setiap mata lelah di dalam ruangan ini segera menatapku. Para suster dan dokter yang sama lelahnya denganku.        Seorang suster hendak menghampiriku. Tapi seseorang mendahului langkahnya. Dokter jangkung yang tingginya sama denganku.        "Apa Anda ke sini untuk menyetujui tindakan CT Scan pada Arkana?" tanyanya.         Wow ... orang ini sedang pura - pura atau memang ia bodoh?        "Apa wajah saya kelihatan seperti akan menyetujui tindakan itu?" tanyaku balik.        "Sebenarnya tidak. Tapi bisa jadi saya salah menilai, bukan?"        Aku menarik napas dalam. Pintar bicara juga dokter muda ini. Mungkin umurnya masih antara 25 - 30 tahunan. Ia mengenakan kacamata dengan bingkai hitam tebal. Rambutnya ditata rapi namun tak terkesan culun. Dan wajahnya cukup lumayan. Sayangnya, ia sangat menyebalkan.        "Apa tujuan Anda ngasih tahu ibu saya perihal saran tindakan untuk Arkana?"        "Tujuan saya sudah jelas, bukan? Saya ingin Arkana mendapatkan penanganan terbaik. Hanya itu."        "Tahu apa Anda tentang Arkana? Saya ayahnya. Saya yang setiap hari bersamanya. Saya yang merawatnya sejak bayi. Dia anak yang sehat. Saya jamin itu. Anda pikir selama ini saya tidak merawatnya dengan baik. Apa pun yang tentang Arkana saya selalu memilih yang terbaik. Makanannya, mainannya saat kecil dulu, alat sekolah, pakaian, semuanya saya beri yang terbaik. Kalau nggak percaya silakan Anda tanya sama Arkana sendiri sana. Jadi nggak mungkin dia kena penyakit aneh - aneh seperti yang Anda duga!"        Kuluapkan semua ganjalan dalam hatiku. Supaya si Lugas tidak lagi seenak jidatnya.        "Bukan begitu maksud saya, Pak. Saya hanya berusaha peduli dengan pasien saya. Saya percaya, kok, Bapak sudah merawatnya dengan baik. Hanya saja kita nggak tahu ke mana takdir akan membawa kita. Banyak orang hidup sehat tapi sakit. Banyak yang hidup sembarangan tapi sehat. Karena daya tahan tubuh masing - masing orang beda. Atau ada faktor lain yang menjadi sebab timbulnya sakit."           Penjelasan Lugas itu sebenarnya cukup menyentuh hati. Hanya saja rasa kesalku padanya masih dominan.       "Saya tetap tidak setuju dengan tindakan itu. Terima kasih atas kepedulian Anda. Tapi satu hal yang perlu Anda tahu. Kejadian yang menimpa Arkana hari ini adalah urusan keluarga kami. Anda memang dokter yang merawatnya. Tapi Anda nggak punya hak untuk mencampuri urusan keluarga kami."        "Tapi ...."         Segera kupotong ucapannya. "Terima kasih atas pelayanannya yang sangat baik. Saya minta mulai detik ini dokter yang menangani Arkana diganti. Sekarang sudah tak ada yang perlu dibahas lagi. Saya pamit kembali ke kamar Arkana. Permisi."       Aku melangkah secepat yang kubisa. Masa bodoh semua orang menatapku aneh. Silakan hakimi aku sesuka kalian. Toh aku sama sekali tak peduli.           ~~~~~ SINGLE FATHER - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~        Masya Allah Tabarakallah.        Halo semuanya. Ketemu lagi di cerita saya. Kali ini judulnya Murmuring. Mau tahu kenapa dikasih judul Murmuring? Ikutin terus ceritanya, ya.         Oh iya, selain cerita ini saya punya cerita lain -- yang semuanya sudah komplit -- di akun Dreame / Innovel saya ini.   Mereka adalah:          1. LUA Lounge [ Komplit ]                   2. Behind That Face [ Komplit ]              3. Nami And The Gangsters ( Sequel LUA Lounge ) [ Komplit ]              4. The Gone Twin [ Komplit ]         5. My Sick Partner [ Komplit ]        6. Tokyo Banana [ Komplit ]                7. Melahirkan Anak Setan [ Komplit ]         8. Youtuber Sekarat, Author Gila [ Komplit ]          9. Asmara Samara [ Komplit ]        10. Murmuring [ On - Going ]        11. Genderuwo Ganteng [ On - Going ]        12. Theatre Musical: Roll Egg [ On - Going ]        13. In Memoriam My Dear Husband [ On - Going ]        14. Billionaire Brothers Love Me [ On - Going ]         Jangan lupa pencet love tanda hati warna ungu.       Cukup 1 kali aja ya pencetnya.    Terima kasih. Selamat membaca.         -- T B C --          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD