Part 2.Tidak Mungkin Batal

984 Words
Di sebuah ruangan luas di rumah bergaya joglo, nampak orang-orang berkumpul dengan wajah lesu bahkan terdengar suara isak tangis dari dua suara perempuan yang berbeda. Entah seberat apa permasalahan yang mereka hadapi hingga menjadikan suasana mencekam dan tegang. “Keputusanku sudah bulat, karena tidak ada kabar dari Rayan sampai saat ini, maka Rafi yang akan menjadi mempelai pria menggantikan Rayan.” Suara tegas dan berwibawa terdengar. “T-Tapi mah…,” sela sebuah suara. “Gak ada tapi-tapian. Kalau menurut kalian ada jalan keluar, sampaikan sekarang. Tidak ada kan? Kerabat jauh kita sudah datang dan undangan sudah tersebar, aku tidak mau malu dengan membatalkan pernikahan ini. Lagipula, Suci adalah gadis yang baik yang cocok menjadi menantu di keluarga Malik.” Tidak terdengar lagi bantahan, semua terpekur pada pikiran masing-masing. “Taysir, kamu bagaimana hasil dari tim profesional yang aku rekomendasikan? Apakah sudah ada kabar apapun itu?” “Belum ada mah, sama sekali tidak ada kabar tentang Rayan dan tim yang bersama dia. Benar-benar bagai hilang ditelan bumi.” “Semoga saja Rayan baik-baik saja. Izzah, mungkin kamu tahu apakah Rayan pernah punya masalah dengan Suci yang tidak kita ketahui? Ini seperti bukan Rayan yang hilang mendadak tanpa kabar.” “Tidak, eyang. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Saya juga sudah tanya ke Suci dan dia bilang tidak ada masalah pada hubungan mereka.” “Haah, kepalaku mau pecah memikirkan Rayan dan pernikahan ini. Nif, tolong kamu panggilkan Suci ke sini, sekarang." * Suci Aku memegang ponsel dengan tangan gemetar dan cemas. Seharusnya mas Rayan sudah datang sejak kemarin lusa karena besok adalah hari pernikahan kami. Tapi mendadak, sejak seminggu yang lalu mas Rayan tidak lagi berkirim kabar padahal biasanya setiap hari kami melakukan panggilan video. Terakhir kabar darinya, dia akan menuju bandara untuk segera terbang ke Jakarta. Kering sudah air mataku memikirkan mas Rayan dan pernikahan kami. Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini? Apakah akan dibatalkan? Tapi kan tinggal besok dan setahuku kerabat eyang dari jauh sudah datang di kampung ini. Ya Tuhan, tolong hamba-Mu ini. Aku hanya bisa pasrah dan memohon yang terbaik pada-Mu ya Rabb.Berkali-kali aku beristighfar dan mengucap doa yang sama agar segera mendapatkan kabar tentang mas Rayan. Takut. Sungguh, aku takut jika semuanya akan berantakan, jika hari yang semestinya menjadi hari bahagiaku malah berakhir tragis. Apakah aku melakukan kesalahan pada mas Rayan? Apakah mas Rayan marah dan akan meninggalkanku? Tapi seingatku, terakhir kali kami lakukan panggilan video, mas Rayan tertawa-tawa bahagia. Semoga ini bukanlah pertanda buruk untuk kehidupan yang telah kami rencanakan dengan penuh harapan. Tapi, bagaimana jika mas Rayan tidak datang? Bagaimana jika dia membatalkan semuanya begitu saja tanpa kata? Kenapa? Apa sebabnya? Apa salahku? Pertanyaan demi pertanyaan tentang mas Rayan menghantamku. Aku bingung harus bagaimana. Aku tidak bisa mencari keberadaan mas Rayan nun jauh di sana. Teleponnya tidak aktif, pesan-pesan yang aku kirim juga hanya centang satu. Aku mencoba untuk berpikir jernih, tapi semuanya berantakan, membuatku putus asa. Aku menggigil dalam kepasrahan. Waktu terus berjalan, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya berharap akan ada keajaiban. Perasaan hampa itu semakin menekan, seolah tak ada lagi ruang untuk kebahagiaan bagiku. Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk dan suara Hanif memanggilku, “Mbak Uci, dipanggil eyang ke ruang keluarga sekarang.” “Baik, Nif,” seruku. Segera merapikan jilbab yang kupakai dan bergegas ikuti langkah Hanif ke ruang keluarga. Setahuku dari tadi siang eyang dan keluarga besar memang berkumpul dan berdiskusi tapi aku yang paham siapa diriku, tentu tidak mau ikut campur kecuali aku dipanggil seperti saat ini. “Duduklah Uci,” eyang menunjuk kursi tidak jauh dari ibuku duduk. Aah kasian ibuku, wajah rentanya terlihat semakin menua karena ini. Merasa tidak mampu berbuat apapun karena tidak punya kuasa apapun. Kami hanyalah peran pelengkap pada keluarga kaya ini yang hanya bisa patuh pada keputusan mereka tanpa punya suara. Kami hanyalah sebuah kebetulan yang beruntung bisa tinggal bersama keluarga Malik. “Nggih eyang,” kataku patuh. “Nduk, apakah kamu dan Rayan bertengkar?” aku menggeleng sebagai jawaban. “Atau ada masalah apa yang kami tidak tahu?” tanya eyang lagi dan aku masih menggeleng. “Saya dan mas Rayan tidak bertengkar atau ada masalah apapun, Eyang. Kami baik-baik saja, bahkan minggu lalu mas Rayan juga bilang tidak sabar ingin segera menjejak kaki di Indonesia dan menikahi saya,” kataku gugup sambil menggosok ujung kemejaku berusaha hilangkan gugup itu. “Kalau begitu, hanya Rayan saja yang tahu alasannya kenapa sampai saat ini dia belum muncul juga.” “Nduk,” kata eyang lagi, kali ini begitu lembut terdengar, “kemarilah.” Aku mendekati eyang dan duduk di sebelahnya. Eyang mengambil tanganku untuk digenggam. Aku bisa merasakan tangan eyang yang dingin. “Pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan. Jadi, walaupun Rayan tidak hadir, kamu akan tetap menikahi salah satu cucuku yang menggantikan Rayan sebagai mempelai pengganti.” Kata eyang dengan tegas dan berwibawa, khas seorang darah biru jika berdiksi. Aku mendongak dan menelan ludah dengan kasar. Cucu eyang ada tiga. Aku tidak mungkin menikahi Hanif karena dia masih sekolah. Itu artinya, hanya tersisa satu orang lagi cucu laki-laki eyang, kak Rafi! “Iya benar, nduk, kamu akan menikah dengan Rafi besok. Malam ini dia sampai sini dan kami akan segera memberitahu dia tentang hal ini. Dia harus menerima ide ini karena tidak ada yang bisa kita lakukan selain ini.” Kata eyang dengan tegas, aku bahkan tidak berani melihat sekeliling tapi karena tidak ada penolakan, artinya yang hadir di sini juga menyetujui hal ini. “T-Tapi eyang,” “Kamu gak akan mungkin menikahi Hanif karena dia masih sekolah. Jadi satu-satunya jalan keluar ya kamu akan menikah dengan Rafi.” Kata eyang tegas. Kak Rafi? Benarkah dia yang akhirnya akan menjadi imamku? Sudah lama sekali kami tidak bertemu, terutama sejak kejadian dia akan tenggelam. Apakah ini sebuah cara dari Tuhan untuk mengabulkan doaku di masa lalu? Apakah kak Rafi bahkan akan mau menerima rencana untuk menikah denganku, seorang gadis kampung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD