Ulat Bulu

987 Words
Baby Sitter Selingkuhan Suamiku 3 "Ohhh...sudah pergi dari tadi, Bu. Sepasang suami istri dan anak cewek 'kan Bu yang mengendarai? Suaminya berkacamata, dan istrinya berambut pirang? Sudah sekitar setengah jam lalu perginya, Bu," jelas tukang parkir itu. Mendengar penjelasan tukang parkir tersebut, tentu saja aku langsung berpikiran yang negatif pada mereka. Mengapa Mas Joko tak memberi tahuku, jika dia keluar dengan Yanti? Kemana kira-kira mereka pergi? Hal ini tentu saja membuatku makin curiga, tentang hubungan suamiku dan babby sitter baru itu. Semua semakin janggal kurasa. Awalnya, aku berencana menelepon Mas Joko tapi kuurungkan. Karena kuputuskan mulai saat ini, aku akan pura-pura bodoh sambil mencari bukti yang kongkrit. Kemudian, aku akan main elegan dan cantik hingga membuat Mas Joko menyesal telah mempermainkanku untuk yang kedua kali. Kuputuskan untuk kembali ke kantin, percuma rasanya aku menunggunya di sini, lebih baik ke kantin lagi sambil memesan jus lagi, namun tetap sambil mengawasi. Menunggu seperti ini, rasanya waktu berjalan amat lambat, tanganku sebenarnya sudah tak sabar ingin menelepon dan mengirim chat pada Mas Joko, tapi terus saja kutahan. Sekitar sepuluh menit kemudian, kulihat mobil mulai masuk parkiran toko variasi ini. Kulihat Yanti turun dari kursi depan sambil menggendong Ziva, hemmm...baby sitter rasa bos kayaknya ini. Dari pucuk mataku, kulihat Mas Joko datang menghampiriku, dan tentu aku pun pura-pura masih sibuk dengan handphoneku. Aku ingin lihat, kira-kira dia akan berkata apa nantinya. "Ma, dari tadi kulihat sibuk terus sama handphonenya, lagi chatingan sama siapa sih?!" ucapnya sambil duduk di sampingku, dan meminum sedikit jus buahku. Mas Joko memang tak tahu, jika saat ini aku mendapatkan uang dari hobby menulisku. Dan kuharap sampai kapanpun dia tak tahu. "Eh, ngagetin saja kamu, Pa. Ada deh pokoknya...! Sudah selesai? Lama banget sih!" ucapku pura-pura bodoh. "Iya, memang kan tokonya rame. Tuh sudah mulai dipasang kok velg barunya. Mungkin sepuluh menit lagi kelar," jawabnya enteng. Emmm...ternyata dia tak bilang kalau habis keluar dengan Yanti barusan. Benar-benar ada yang tidak beres ini. "Ziva ke mana? Dari tadi kulihat tak ada dia dan Yanti. Aku juga tadi sudah putar-putar, tapi tak menemukan mereka. Eh...bahkan kayaknya aku tadi nggak melihatmu juga, Pa," ucapku sambil pura-pura berpikir. "Emmm...itu pasti karena aku tadi duduk bersama orang-orang di sana, mengantri, jadi kamu tak melihatku, Ma. Itu, Yanti ngajak Ziva dari tadi di ayunan itu kok, tuh. Kamu saja yang nggak lihat, keasyikan main handphone sih." Mas Joko ternyata pintar berbohong. Kini sudah jelas semua, Fix, Yanti ini bukan baby sitter biasa. Sampai-sampai Mas Joko membohongiku seperti ini. Padahal kupikir, dia terlalu sembrono, dengan mencuri waktu setengah jam, entah diajaknya si Yanti itu. Okelah Mas, lu jual gua beli. Tapi aku akan pura-pura bodoh, hingga apa yang kuinginkan kudapatkan. Sekarang berbahagialah dulu bersama Yanti. Banyak hal yang harus kulakukan, sebelum akhirnya membuat suami tukang selingkuh itu bertekuk lutut di hadapanku. Jangan kira aku bodoh ya, Mas. Hingga bisa kau bodohi dengan alasanmu yang receh itu. "Nah, itu sudah selesai, yuk Ma. Nih uang buat bayarin makanan kamu. Aku bayar k3 kasir dulu ya, kamu langsung masuk mobil saja," ucapnya sambil memberiku selembar uang seratus ribu, dan dia pun segera berlalu. Tumben sekali, dia memberiku uang seperti ini, padahal biasanya, jika aku jajan sedikit saja, maka dia akan memarahiku sebagai istri yang boros. Biarlah, lumayan kan aku jadi punya uang. Aku kemudian menghampiri Ziva dan Yanti di ayunan, dan mengajaknya masuk ke mobil. "Sebentar ya, Bu. Aku masuknya nunggu Mas Joko aja deh," jawab Yanti dengan entengnya. Aku pun kemudian segera masuk ke dalam mobil, dan kubiarkan Ziva bersama Yanti tetap di ayunan. Saat aku menoleh ke tempat duduk kedua, kulihat ada satu plastik putih besar, bertuliskan Ind*****t. Padahal tadi plastik besar itu tak ada, berarti ini baru dibeli saat mereka keluar tadi. Sebelum mereka masuk, aku pun membuka apa isi plastik ini. Ternyata isinya adalah sabun, sampo, deodoran, bedak-bedak, pembalut, pembesih kewanitaan, minuman sari lemon, lipstik, tiga cokelat batangan, sebungkus permen, tisu basah, tisu kering dan juga ada lima bungkus rokok. Seeprtinya ini bukan rokok kesukaan Mas Joko, apa mungkin si Yanti ini yang merokok? Tapi kalau dilihat dari penampilannya sih, si Yanti ini cocok banget deh kalau suka merokok. Begitu banyak belanjaan Yanti, dan aku yakin yang membayar semua itu adalah Mas Joko. Begitu perhatiannya suamiku pada perempuan nggak jelas itu. Karena jengkel aku pun kemudian mengambil lima bungkus rokok itu, dan memasukkannya ke dalam tas kecilku. Rasanya tak mungkin mereka berani menanyakan tentang rokok ini padaku. Mereka bertiga pun akhirnya masuk ke mobil, dan Mas Joko mulai melajukan mobilnya. Kali ini Ziva ingin duduk denganku, dan aku pun kemudian memangkunya. "Yan, aku minta foto copy KTP kamu ya," ucapku tiba-tiba. "Mau buat apa?!" jawabnya enteng. "Likah dulu juga kumintain gitu kok. Buat data saja. Apa kamu keberatan?" tanyaku lagi. "Nggak sih, tapi KTPku hilang," jawab Yanti singkat. "Sudahlah, Ma. Buat apa juga KTP, Yanti juga nggak mungkin aneh-aneh kok...kujamin deh, Ma." Mas Joko kemudian menyerobot obrolan, dia membela si Yanti. Aku pun kemudian mengalah, percuma juga berdebat dengan dua orang pembohong ini. Mas Joko pun kemudian memarkirkan mobilnya ke dalam sebuah restoran soto bathok langgananku. Ziva saat ini, kugandeng. Sementara, Mas Joko sudah duduk duluan di meja bersama Yanti. Sambil menunggu pesanan, Ziva kuberikan handphoneku, dia menonton video kesayangannya. Sementara Mas Joko asyik ngobrol dengan Yanti, seakan aku ini tak ada. "Kamu sepertinya senang sekali ya, Mas dengan Yanti, beda sekali jika dengan Likah. Sampai-sampai aku tak kau anggap!" Aku spontan mengatakan hal itu, karena memang amat kesal. "Ah...itu perasaan kamu saja, Ma. Aku kan ngajak Yanti ngomong, biar dia nggak canggung dan nantinya akan betah di rumah kita," ucap Mas Joko sambil tersenyum, sementara si Yanti juga tersenyum sinis padaku. "Oh begitu! Ya sudah terserahlah! Nitip Ziva ya, aku mau beli minyak kayu putih dulu," kataku sambil langsung berlalu menuju apotik yang ada di seberang restoran. Nafsu makannku sudah hilang saat melihat kebersamaan mereka berdua, kini aku akan membeli sesuatu yang nanti akan membantuku mengerjai Yanti, si ulat bulu itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD