1. Sihir Aura Jiddan (SAJ)

731 Words
Brumm brumm brumm Cit.... Hore... "Wah lumayan juga tuh mainnya," gumamku. "Segitu lumayan doang? Yang serunya kayak apa?" Tanya orang disampingku. Jiddan namanya. Dia cowok tapi lebih cerewet dari aku yang cewek. "Iyalah itu mah masih standar. Kayak gak pernah liat aku yang main aja." Jawabku. "Iya juga sih. Kamu kan tak terkalahkan." Kali ini dia ngomong gitu sambil melirik ke arahku meski sekilas. Dari tadi mah cuma ngeliat keramaian arena di depan sana doang. Oh iya, maksud dari arena disini tuh arena balap liar yaa. Gimana kita bisa disini ya karena kadang aku jadi pemain alias peserta balapan. "Woi Almeera Mirah! Gak main lu?" Yang barusan nanya itu namanya Aldo. Pencetus nama panggilan Mirah dari namaku, Almeera. "Males! Gak ada yang seru." Kenyataannya emang gitu. Dari tadi di arena isinya cuma pemula. Mereka mah mainnya masih standar aja. Gak tau deh pada kemana pemain pro nya. "Ah gak asik lu mah. Padahal banyak yang kece di bawah. Banyak yang unyu-unyu gemes-gemes juga tau." Masih aja dia usaha ngajakin aku turun. Kalo aku turun artinya aku main. Dan aku males main. "Dan sejak kapan aku seneng sama daun muda?" Males banget sama bocah-bocah kaya gitu. "Oh iya lu kan seneng nya om om ya. Yang banyak duitnya." Masih aja nyerocos lu, Do. Ngomong gitu lagi gua tendang juga lu. Emang Aldo nih seneng banget bikin kesel. "Eh tapi, lu emang gak pernah keliatan jalan sama cowok sih. Jangan-jangan emang gak doyan batang. Wah bahaya nih, serem!" Dengan muka sok bergidik takut Aldo ngomong gitu. "Wah kayaknya lu perlu ditendang deh, Do. Mulut lu juga perlu dipasang saringan deh." Santai aja aku ngomong gitu. Dengan nada antusias juga pastinya. "Saringan? Buat apaan? Apanya yang mau disaring?" Emang dasar bloon si Aldo. "Kok bisa si Al, kamu punya temen kaya gitu?" Jiddan bertanya heran setelah sebelumnya lebih memilih diam. Jiddan mah gitu bawelnya cuma sama aku doang, kalo sama yang lain lebih banyak diamnya. "Emang dia temenku ya?" Mengangkat kedua bahu seraya menelengkan kepala. "Kejam bener deh lu, Mirah. Masa Aldo yang paling ganteng sejagat raya ini gak dianggap." Dikira cakep kali ya mukanya dia, bibir dimonyong-moyongin, alis digerakin, padahal mah gak banget. Meski harus diakui bahwa wajahnya lumayan. "Lu juga, gua kirain patung. Diem-diem bae sih." Aldo lanjutin ucapannya seraya menunjuk Jiddan. Respon Jiddan? Ya diem bae dia mah. "J, kita pergi aja yuk. Udah gak mood lagi aku." Aku ajak Jiddan pergi. Aku genggam aja pergelangan tangannya dan aku tarik ke arah motor Jiddan di perkirakan. "Woi... Mirah jangan pergi dulu. Mirah... Mirah... Mirah..." Meski sayup teriakan Aldo masih dapat aku dengar dari jarak yang lumayan ini, padahal orangnya udah gak keliatan. Dengan lembut, tangan kiri Jiddan ngambil ujung sweater di tanganku yang tadi menggenggam tangannya. "Ini lepas dulu ya," katanya lembut. "Kamu perempuan. Kamu cantik. Lain kali, jangan sembarangan menggenggam orang lain. Kamu terlalu mahal untuk diperlakukan sembarangan." Lanjutnya kemudian. "Maaf." Dengan mendudukan kepala aku hanya mampu menjawab demikian. Aku tahu, sangat malahan, maksud dari ucapannya itu. Artinya aku gak boleh boleh menyentuh orang lain sembarangan, apalagi lawan jenis. Sekalipun hanya pegangan tangan, hal itu tetap tidak diperbolekan. Sebelumnya Jiddan pernah mengatakan bahwa lebih baik menggenggam bara api dari pada memegang yang bukan muhrimnya. "Iya dimaafkan. Ingat itu selalu ya, jangan dilupakan lagi." Jiddan memang sangat baik. Begitu pemaaf. Sepanjang aku mengenalnya, tidak pernah sekalipun aku melihatnya meninggikan suara. Apalagi ketika bersamaku. "Sekarang kita pulang ya." Lanjut Jiddan kemudian. "Mau mampir kemana dulu atau makan? Dari siang pasti kamu belum makan kan?" Masih sempet kamu Jiddan buat bujuk aku makan. Memang Jiddan itu paling pinter membujuk orang. Tanpa banyak cakap dan dia dia bisa membuat lawan bicaranya menuruti apa yang dikatakannya. Entah sihir apa yang dimilikinya. "Nasi goreng," cicit aku lirih menjawabnya. Segera saja Jiddan memakaikan helm pada kepalaku. Sedari tadi meminta maaf aku masih menundukkan kepala. Jiddan memiliki aura tersendiri yang membuatku sangat sulit untuk menolaknya. Dengan membonceng motor berdua, kami membelah jalanan malam yang tak pernah sepi. Suara bising kendaraan menjadi melodi yang mengantarkan kita menuju tempat tujuan. Aku bukan orang yang suka menaiki sepeda motor karena aku tidak suka mendengarkan keributan lara pengendara motor. Tapi ketika bersama Jiddan justru aku lebih menyukai duduk dibelakang boncengan motornya. Apalagi ketika bersama dibawah kerlipan bintang, sekalipun tanpa obrolan, kita tak pernah dalam dalam kecanggungan. Yang ada hanya kenyamanan. Aku selalu menikmati setiap detik bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD