GENI 2 - MENJUMPAI

1106 Words
Seperti usul Pak Slamet kemarin padaku, pagi ini ku niatkan hatiku untuk mencari Mbah Kadiran yang konon katanya bisa menyembuhkan penyakit. Rumah beliau dari Rumah Sakit yang sedang merawat bapak cukup jauh sekali, maka ku putuskan untuk berangkat lebih pagi agar sampai di sana tidak terlalu siang. Pak Slamet bersedia menemaniku ke sana, beliau juga tidak tega jika aku berkendara sendirian dengan jarak tempuh cukup jauh. Beliau juga menawarkan menjadi pengemudi, katanya kasihan aku baru datang dari Malang harus kembali perjalanan jauh.   Sebelum berangkat ku sempatkan melihat kondisi bapak, belum ada perubahan dari kemarin malah hari ini semakin drop. Semalaman air mata mamakku tak kering, terus saja membasahi pipinya. Aku sebenarnya tak tega melihat kondisi mamakku yang juga semakin memprihatinkan, beliau sangat memikirkan bapakku yang belum juga menunjukan perubahan kondisi yang lebih baik. Untung saja mamak masih tertidur pulas dipelukan Sekar pagi ini, jadi aku tak perlu risau jika beliau menghentikan langkahku. Dapat ku pastikan, mamak tak akan setuju dengan langkahku yang mendatangi Mbah Kadiran. Tapi aku rasa penyakit bapak bukanlah penyakit biasa yang sering ditangani oleh dokter, ini adalah penyakit buatan manusia yang hatinya sudah ditutupi rasa iri dan dengki.   “Dek, kamu jaga mamak sama bapak ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari ke Mas Banyu. Aku ada kepentingan sebentar sama Pak Slamet. Nanti kalau mamak tanya aku kemana, bilang aja lagi ada urusan ya? Mas berangkat dulu ya, Dek.” Sekar menganggukan kepalanya. Mungkin adikku itu sudah tau kemana arah langkah tujuanku, namun dia memilih diam. Semua menginginkan yang terbaik untuk bapak. Apa pun akan ku lakukan demi bapak, untuk keselamatan bapak.   Pak Slamet juga bilang jika bapakku itu sebenarnya belum kalah, beliau masih mencoba berjuang. Karena aku tau bapakku itu bukan orang yang lalai dengan agama, beliau orang yang khusyuk sekali. Banyak orang tidak percaya dengan apa yang sedang menimpa bapakku, cobaan cukup berat untuk tahun ini dari pada tahun sebelumnya. Semakin tinggi sebuah pohon maka anginnya akan semakin kencang, aku percaya pepatah itu. Keluarga kami sedang diuji oleh Yang Maha Kuasa, seberapa kuat kami bertahan.   “Mbah Kadiran itu dukun atau apa, Pak? Soalnya banyak orang yang bilang Mbah Kadiran itu bukan orang sembarangan apa lagi berasal dari wilayah pesisir,” tanyaku dengan penasaran. Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kelapaku namun yang paling berat adalah pertanyaan ini, siapa sebenarnya Mbah Kadiran ini? Apa sebenarnya profesi beliau sampai diklaim bisa menyembuhkan orang sakit? Padahal hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang bisa menyembuhkan segala penyakit dimuka bumi ini meski pun terlihat sangat mustahil di mata manusia.   “Beliau itu nelayan di Pantai Wawaran, Mas Banyu, ya orang biasa seperti kita. Setiap hari ke laut cari ikan, mencari nafkah untuk keluarga. Tapi kata orang-orang, beliau dianugerahi sedikit kemampuan yang berbeda dari manusia biasa. Dan katanya juga dari sanalah beliau itu bisa membantu penyembuhan orang yang datang ke rumahnya. Jadi kita ke sana dengan niat baik, ingin sowan. Semoga Gusti Allah mempermudah penyembuhan Pak Soma lewat Mbah Kadiran, jika semua dokter tidak bisa membantu. Semua kita serahkan kembali kepada Yang Maha Kuasa, Mas Banyu. Tidak ada yang tidak mungkin jika Gusti Pangeran sudah berkehendak, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin namun untuk hasilnya biar Yang Maha Kuasa yang menentukan.” Aku menganggukan kepalaku, ucapan Pak Slamet memang benar tak ada yang salah jika kita mencoba. Semua sudah ada yang mengatur dan kita hanya bisa berusaha.   “Semoga saja Mbah Kadiran bersedia membantu kita, Mas Banyu, biar Pak Soma cepat kembali pulih. Saya juga ndak tega lihat kondisi Pak Soma, padahal beliau seharinya baik sama tetangga sekitar. Kalau ada apa-apa sama lingkungan langsung ikut membantu, orangnya sat-set cekatan Pak Soma itu. Sebaik Pak Soma kok ada yang jahatin ya, Mas Banyu? Hati manusia kalau sudah ditutupi iri dan dengki memang yang diperbuat itu di matanya selalu salah, ndak ada yang benar meskipun kita berbuat benar sekali pun. Mas Banyu kuliahnya gimana?” lanjut Pak Slamet. Beliau memang mudah sekali akrab dengan siapa pun dan mudah sekali mencari topik pembicaraan. Tidak akan mungkin diam jika bersama beliau.   Aku menghela napas perlahan lalu menjawab, “Doakan bapak cepat sembuh ya, Pak, biar bisa seperti dulu lagi. Saya juga ndak tega melihat beliau yang sekarang. Masalah kuliah saya masih ambil cuti, Pak, ndak mungkin ninggalin mamak sendirian di sini ngurus bapak. Sekar juga masih sekolah, dia harus fokus sama sekolahnya apa lagi mau masuk kuliah juga. Jadi lebih baik saya aja yang ngalah, Pak, lagian mamak nggak kuat kalau sendirian di hadapkan masalah seperti ini.”   Pak Slamet menganggukan kepalanya kemudian bertanya kembali, “Saya salut sama panjenengan, Mas Banyu. Usia masih muda tapi pemikirannya sudah dewasa. Kalau bukan panjenengan, terus siapa ya, Mas? Adiknya Pak Soma itu sekarang dimana, Mas? Kok jarang banget sekarang sowan ke rumah ya? Apa lagi di luar kota?”   “Pak Rino ngurus kedai bakso juga, Pak. Cuma akhir-akhir ini jarang sekali datang ke rumah, mungkin usahanya lagi naik omset jadi sibuk. Jarang Pak Rino ke rumah kalau bukan ada acara penting, Pak.” Aku menjawab sekenanya saja, karena memang hubungan kami sekeluarga dan adik bapak itu tidak bagus. Tak mungkin aku berkata jujur pada Pak Slamet jika sebenarnya hubungan keluarga besar kami tak sebagus yang dilihat dari luar.   Rino adalah adik bapakku, satu-satunya saudara yang beliau punya. Namun, mereka berdua tidak pernah bisa akur dari aku bayi sampai aku sebesar ini. Sampai sekarang aku tidak tau alasan dua saudara tersebut bisa perang dingin seperti ini. Yang jelas bapak tidak pernah acuh pada adiknya, hanya saja Pak Lik yang seperti sangat menghindari bapakku. Saat berada di suatu tempat yang sama pun mereka tak saling tegur sapa, bahkan bapakku sudah membuka obrolan namun dijawab ketus oleh adiknya tersebut. Makanya dalam kondisi bapak yang seperti ini tak ada seorang laki-laki yang bisa ku andalkan dan ku percaya. Aku sendiri yang harus turun tangan.   “Rumahnya Mbah Kadiran jauh ya, Pak? Jalannya masih sepi banget kalau jam segini,” ucapku dengan memandangi kanan dan kiri jalan yang sedang kami lewati, semuanya hanya pepohonan lebat yang terlihat belum terjamah manusia. Pohonnya besar-besar sekali, berbeda dengan pohon di dekat rumahku. Aku rasa tengah hari pun di sini masih terasa jam enam pagi, tidak ada sinar matahari yang bisa masuk. Udara di sini cukup lembab dan aku bisa merasakan jika populasi ‘mereka’ cukup banyak di sini.   Perjalanan kami masih cukup jauh, melewati hutan-hutan yang aku rasa seperti tiada ujungnya. Selama kami berjalan belum satu pun kendaraan yang kami temui sepanjang perjalanan. Aku rasa hanya kami berdua yang melintasi jalan ini di jam sepagi ini. Membutuhkan cukup keberanian yang tinggi untuk melewati jalan panjang yang menghubungkan kota kami dengan desa pesisir yang akan kami tuju. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD