Bab 9. Pengobat Luka Di Masa Lalu

1347 Words
Arabella berusaha melepaskan pakaiannya, juga pakaian Dave. Setelah itu, dia pun mulai memberikan rangsangan kepada Dave. Dave mulai terbuai. Dia bahkan hanya diam saja, pada saat Arabella mulai memasuki miliknya. Dave melenguh pelan sembari memejamkan matanya. *** Sementara itu di Rumah Sakit, Anna yang baru saja menyeduh secangkir kopi, seketika menjatuhkan kopi tersebut saat tiba-tiba saja tangannya terciprat air kopi itu. Anna gelisah, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. Bayangan Dave seolah tiba-tiba melintas di pikirannya. Dalam hati Anna bertanya-tanya. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja aku jadi kepikiran pada Tuan Dave? Apa terjadi sesuatu padanya?" Karena merasa khawatir, Anna pun memutuskan untuk menghubungi Simon dan menanyakan kabar Dave. Tak selang berapa lama, panggilan itu pun diangkat oleh Simon. "Hallo, Nona Anna? Ada apa, anda tiba-tiba menghubungi saya? Apa Nona membutuhkan sesuatu?" "Maaf sekali jika saya lancang telah mengganggu waktu anda, Tuan Simon, saya menghubungi anda hanya ingin menanyakan kabar tentang Tuan Dave, apakah dia baik-baik saja?" "Oh, Tuan Dave? Dia baik-baik saja. Dia sedang beristirahat di kamarnya bersama Nona Ara." Seketika Anna memegang dadanya yang terasa sakit. Entah mengapa dia merasa sedih mendengar Dave sedang bersama kekasihnya itu? "Oh, yasudah kalau begitu. Saya merasa lega kalau dia baik-baik saja," Anna berusaha menyembunyikan perasaannya. "Memangnya ada apa, Nona? Kenapa tiba-tiba saja anda menghubungi saya dan menanyakan Tuan Dave? Apa ada sesuatu yang terjadi?" "Tidak, Tuan Simon, tidak ada apapun yang terjadi. Saya hanya mengkhawatirkannya saja, tidak lebih." "Oh baiklah kalau begitu. Apa ada lagi yang ingin anda sampaikan, Nona Anna?" "Tidak ada, Tuan Simon, hanya itu saja. Terima kasih sebelumnya, maaf karena sudah mengganggu waktu anda." Setelah itu Anna pun memutuskan panggilannya. Dia menyadarkan tubuhnya di balik pintu, sembari memeluk ponselnya. "Apa sebenarnya yang sudah terjadi padaku? Kenapa aku selalu memikirkannya?" ucap Anna. Dia pun memejamkan matanya. *** Sementara itu di Resort milik Dave, Arabella terus bergerak berusaha memberikan kenikmatan pada Dave. Akan tetapi, tiba-tiba saja bayangan Anna seolah menyadarkan Dave. Seketika dia terperanjat. Dave membuka matanya, dan mendapati Arabella disana. Kini dia menyadari, kalau yang sedang melakukan itu dengannya saat ini, bukanlah Anna, melainkan Arabella. Dave pun segera mendorong tubuh Arabella untuk menjauh. Arabella yang tengah asyik melakukan aktivitasnya tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan Dave itu. "Dave! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu malah mendorongku?!" Kesal Arabella menatap Dave. Dave langsung bangkit dari tidurnya, dan lekas mengenakan pakaiannya kembali. "Apa yang kamu lakukan, Ara?! Siapa yang mengizinkanmu melakukan itu padaku?!" Arabella menatap tak percaya dengan apa yang Dave katakan. "Kamu ini bicara apa, Dave? Kenapa kamu bersikap seolah-olah kalau aku ini orang asing bagimu? Bukankah selama ini kita memang suka melakukan hal seperti ini? Lantas kenapa, sekarang kamu tiba-tiba saja bertanya seperti itu padaku? Apa aku sudah tidak memiliki hak lagi, untuk melakukan itu denganmu, Dave? Apa kamu sudah tidak menginginkanku lagi? Apa kamu sudah tidak tergoda untuk menikmati tubuhku lagi? Katakan, Dave?! Katakan!" Dave membalikkan tubuhnya membelakangi Arabella. Dia memejamkan matanya untuk menstabilkan perasaannya. Dia juga tidak mengerti apa yang terjadi, padahal sebelumnya, dirinya dan Arabella memang kerap kali melakukan hubungan intim setiap pertemuan. Namun entah mengapa, kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang membuat Dave merasa ragu untuk melakukan itu dengan Arabella. Seolah dirinya sedang menghianati seseorang. Dave juga tidak tahu kenapa dirinya merasa seperti itu. "Anna, kenapa tiba-tiba saja aku jadi kepikiran pada Anna? Apa mungkin ini semua karenanya? Tapi kenapa? Ada apa sebenarnya dengan perasaanku?" Dave berusaha memikirkan semuanya. Hingga tiba-tiba sebuah pelukan dirasakannya dari belakang. Ya, itu adalah Arabella. Melihat Dave hanya diam saja, membuat Arabella semakin khawatir. Dia khawatir kalau perasaan Dave sudah mulai berubah padanya. "Kamu sebenarnya kenapa, Dave? Kenapa sikapmu jadi berubah seperti ini padaku? Apa kamu masih tidak bisa menerima kepergianku saat itu? Kalau begitu, aku minta maaf. Aku sungguh menyesalinya, Dave. Aku menyesal, karena sudah meninggalkanmu waktu itu. Kini aku sadar, betapa berharganya dirimu bagiku. Aku mohon, kamu jangan pernah berubah, Dave. Tetaplah jadi cintaku, dan menjadi pangeran dalam hidupku. Aku tidak mau kehilanganmu, Dave!" Arabella menangis. Namun bukannya membalas pelukan Arabella, Dave justru malah melepaskan tangannya dari tubuhnya. Dia berbalik badan dan menatap gadis itu. Arabella pun turut menatap Dave. "Kamu bahkan tahu sendiri, kalau apa yang kamu lakukan itu, sudah begitu menyakiti hatiku. Lantas kenapa sekarang kamu mau kembali? Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Ara? Kenapa kamu tiba-tiba saja datang dan mengganggu hidupku lagi? Jika memang itu tentang uang, maka akan aku berikan. Tapi jika itu tentang perasaan, maaf, pintu hatiku sudah tertutup untukmu, Ara!" Arabella menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak! Tolong jangan berkata seperti itu, Dave. Kamu sendiri bahkan tahu, kalau aku begitu sangat mencintaimu." Dave tertawa mendengar itu. "Kau bilang, kau mencintaiku, Ara?" Arabella mengangguk. "Kalau memang kau benar-benar mencintaiku, lantas kenapa pada saat itu kau meninggalkanku? Tidakkah kamu berpikir, bagaimana hancurnya aku saat itu? Kau bahkan tega memutuskan hubungan kita secara sepihak. Tanpa peduli bagaimana perasaanku saat itu!" Arabella terdiam. Dia pun menatap Dave. "Lalu apa yang harus aku lakukan, supaya kamu bisa menerima aku kembali, Dave? Karena aku tidak ingin kehilanganmu!" "Satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah pergi! Pergilah dari hidupku, Ara! Karena kehadiranmu, hanya membuatku mengingat kembali luka di masa lalu. Yang hampir saja aku lupakan." Arabella menggeleng-geleng kepala. "Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak bisa pergi darimu, Dave, Aku menginginkanmu!" "Tapi aku tidak menginginkanmu, Ara! Bagiku, kau hanyalah luka di masa lalu yang ingin segera aku lupakan!" "Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak ingin memberikanku kesempatan lagi, Dave? Apa sebenarnya alasannya? Aku yakin alasannya tidak hanya itu. Ini pasti gara-gara wanita p*****r itu 'kan?! Kamu berubah seperti ini pasti karena dia, iya 'kan, Dave?! Jawab aku!" "Itu bukanlah urusanmu, Ara! Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Karena sebelum kamu datang, Aku bahkan sudah melupakanmu dan kenangan kita!" Arabella menyeka air matanya yang menetes. Dia pun segera mengenakan pakaiannya dan pergi dari sana. Sementara Dave, dia menghela nafas panjang dan berusaha merenungi apa yang baru saja terjadi. Apa yang dilakukannya sudah benar, dirinya memang sudah tidak bisa lagi memperbaiki hubungannya dengan Arabella. Apa yang telah rusak, tidak akan mungkin bisa utuh lagi seperti semula, meskipun itu sudah dicoba untuk memperbaikinya. Perasaannya kini sudah tak lagi sama. Rasa frustasi akan kehilangan Arabella, perlahan mulai menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Tepatnya, sejak Anna hadir dalam hidupnya, dan memberikan keindahan itu. Anna sudah seperti sihir yang bisa merubah segalanya dalam waktu sekejap. Dave bahkan tak mengerti, kenapa perasaannya bisa seperti itu. Sangat gampang berubah, hanya karena seorang Anna. Padahal keduanya bahkan belum lama bertemu. Tapi Anna sudah berhasil mendominasi dirinya saat ini. Setelah pikirannya mulai agak tenang, Dave mengambil mantel miliknya, dan bergegas keluar dari kamar. Dia meminta Simon untuk menyiapkan mobil untuknya. "Tuan Dave, memangnya anda mau ke mana malam-malam begini? Jika memang ada urusan, tolong izinkan saya untuk ikut dengan anda, Tuan." "Kali ini tidak perlu, Simon. Kamu tinggallah di sini, dan beristirahatlah! Saya hanya akan pergi ke Rumah Sakit untuk melihat Anna. Saya mengkhawatirkan keadaannya!" "Nona Anna? Sebenarnya tadi dia juga ada menghubungi saya. Dia menanyakan kabar tentang anda, Tuan Dave." Seketika Dave menatap Simon. "Lalu apa yang kamu katakan? Kamu tidak memberitahu dia, 'kan, kalau saya sedang bersama dengan Arabella?" Simon menundukkan wajahnya, "Sayangnya saya mengatakannya, Tuan, maafkan saya." "Dasar bodoh! Kenapa kamu malah memberitahunya, Simon?! Tidakkah kamu tahu, saya bahkan sangat takut kalau dia salah paham pada saya. Saya takut Dia menjauhi saya tiba-tiba!" "Tolong maafkan saya Tuan, saya bahkan tidak berpikir sejauh itu. Maaf karena saya sudah ceroboh dan mengacaukan segalanya!" Dave berdecih. Setelah itu dia pun lekas pergi mengendarai mobilnya meninggalkan Resort. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah apa yang sedang dipikirkan Anna saat ini tentangnya, pikir Dave. Dia pun menjadi semakin khawatir. *** Sementara itu di Rumah Sakit, Anna memeluk Diego—papanya sembari menangis. Air matanya seolah tak bisa berhenti, dan terus saja mengalir membasahi pipinya. "Kau bodoh, Anna! Bisa-bisanya kau cemburu pada kekasih Tuan Dave. Siapa dirimu, sampai-sampai kau berani mengharapkan kesetiaan dari Tuan Dave?!" Anna menangis sesenggukan. Hingga tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh pundaknya. Seketika Anna yang sedang terisak itupun mendongak untuk melihat. Dia terkejut saat mengetahui Dave sudah berada di hadapannya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD