Bab 1 Satu Kamar dengan Orang tak dikenal
"Ayo bersulang!"
suara beberapa orang saat ini telah terdengar di sebuah club malam, semuanya terlihat sedang merayakan sesuatu saat itu.
Beberapa orang menyodorkan minuman, ke arah Arjun yang saat itu tengah menghabiskan minumannya bersama seorang wanita penghibur di sana.
karena terlalu banyak minum, kini Arjun mulai mabuk.
sementara itu, di kursi sebelahnya, terdapat beberapa orang yang saat itu tengah menenggak minuman dengan ditemani oleh beberapa wanita disana. terlihat saat itu ada salah seorang wanita tengah dalam kondisi mabuk, sedang berjalan sempoyongan, ketika dirinya hendak pergi dari sana.
Namun sayangnya, seseorang telah menarik tubuhnya dan langsung membawanya pergi ke sebuah kamar Hotel, tempat dimana lelaki tersebut telah menginap di sana.
Vanya yang saat itu tak sadarkan diri, langsung dibaringkan oleh Arjun ke atas kasur empuknya.
Karena dirinya dalam keadaan mabuk, Arjun sama sekali tak memperhatikan wajah gadis yang akan dia gagahi malam itu.
Arjun lalu naik ke atas tubuhnya dan langsung mencium bibir Vanya yabg sudah tak sadarkan diri.
beberapa lama kemudian, Arjun langsung melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh Vanya dan tak lama kemudian, dirinya mulai menyusuri setiap lekuk tubuh Vanya, yang saat itu dalam keadaan sudah polos.
Tanpa menunggu lama lagi, Arjun langsung mencoba menerobos gawang yang begitu sempit dari biasanya.
"Kenapa begitu sempit?" tanya Arjun dalam hati sendiri.
Arjun mencoba dengan menghentakkan lebih keras lagi, hingga terdengar suara gadis yang dia gagahi saat ini, mulai menjerit kesakitan.
"Ah sakit..." lirihnya dengan nada menangis.
Arjun terdiam sebentar, terlihat jelas bahwa dirinya saat itu tengah kesakitan, Arjun lalu mencium kembali bibir Vanya dan mencoba untuk membuat gadis itu rileks terlebih dahulu.
ketika Arjun tak mendengar rintihan gadis tersebut, kembali Arjun menghentakkan miliknya dengan keras menerobos ke l**************n milik gadis tersebut..
"Aaaaaaaagh sakit..hiks..hiks..hiks.." gadis itu memekik kesakitan, ketika milik Arjun sudah berhasil menerobos l**************n miliknya, tanpa memikirkan gadis yang saat ini sedang merintih kesakitan Arjun terus saja menerobos l**************n Vanya, hingga akhirnya lahar panas itu dia semburkan keluar dari milik Vanya.
Arjun yang sudah mulai lelah, langsung limbung di samping tubuh Vanya.
Esok paginya, Vanya terlihat sudah mukai bangun dari mimpinya, terlihat dirinya mulai memegang kepalanya yang terasa sangat berat saat itu.
perlahan-lahan dia mulai mengerjapkan kedua matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ada di sana.
Vanya yang belum sadar dengan apa yang terjadi dengan dirinya, tampak biasa saja ketika mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang asing baginya. Namun perlahan-lahan, dirinya mulai mengerjapkan kedua matanya kembali. tampak ada yang tak biasa dia rasakan saat ini, area sensitifnya terasa perih saat itu, laman-laman dia mendengar suara lelaki yang saat itu tengah beegumam.
Vanya lalu menoleh ke arah samping temoat tidurnya, tampak ada seorang pria yang kini tengah terlelap dan tak mwngenakan pakaiannya.
Vanya langsung terkejut, ketika mendapati dirinya yang saat itu melihat semua pakaian miliknya sudah terlepas dari tubuhnya.
Kembali dia melihat dirinya yang saat itu, tubuhnya masih tertutup selimut, lalu perlahan-lahan, dia membuka selimutnya tersebut dan terlihatlah tubuh polosnya di balik selimut tersebut.
Vanya langsung menangis dan menahan mulutnya untuk tidak bersuara saat itu.
perlahan-lahan dirinya mulai bangkit dari kamar tidur tersebut dan langsung memunguti semua pakaian miliknya yang berceceran di bawah lantai. dengan menahan perih dan jalan yang tertatih-tatih, Vanya langsung beranjak pergi dari kamar tersebut.
saat itu tanpa sadar, Vanya sudah meninggalkan kartu identitasnya yang saat itu terjatuh di dalam kamar tersebut.
sementara itu, Arjun yang saat itu terlihat sudah mulai tersadar, langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya, ia masih merasakan betapa kepalanya saat ini sangat berat, ketika dirinya terbangun.
Arjun yang saat itu masih belum tersadar sepenuhnya, tampak merasakan keanehan dengan dirinya yang saat ini tidak mengenakan apapun dalam tubuhnya.
"Ah...kenapa kepalaku semakin berat saja?" gumam Arjun dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Arjun lalu mulai terduduk di atas ranjangnya lalu mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi malam itu, ketika dirinya tiba-tiba mabuk dan membawa seorang wanita ke dalam kamarnya.
"Apakah aku kemarin sudah tidur dengan wanita panggilan itu?" Arjun bertanya dalam hatinya.
karena dia belum sepenuhnya mengingat siapa yang saat itu wanita ia tiduri, Arjun mulai beranjak dari tempat tidurnya dan mulai berjalan menuju ke kamar mandinya, saat itu dirinya mulai mengguyur kepalanya dengan shower.
saat dia mengguyur kepalanya, tiba-tiba dia mengingat sosok wanita yang saat itu, tengah dia ajak bercinta satu malam dalam kamarnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku melihat wanita lain? kenapa bukan monica?" gumam Arjun dalam hatinya.
tak selang beberapa lama kemudian, Arjun segera menyelesaikan mandinya dan langsung bergegas keluar dari kamar mandi.
Arjun lalu menyibakkan selimutnya dan betapa terkejutnya ketika meluhat ada bercak noda darah di atas sprey putihnya.
"Darah apa ini?" tanya Arjun sendiri.
Tak lama setelah itu, Arjun lalu menemukan sebuah kartu identitas yang saat itu berada di lantai.
"Kartu identitas? Vanya pricillia? siapa dia?" monolognya dalam hati.
Arjun lalu menyimpan kartu identitas tersebut dan langsung segera mengganti pakaiannya kembali.
**""***
sementara itu, Vanya tampak lelah dan terlihat sangat frustasi, ketika mengetahui dirinya sudah tidak perawan lagi.
Vanya menangis sejadi-jadinya ketika mengingat apa yang terjadi dengan dirinya.
"Hiks..hiks..hiks..apa yang telah terjadi denganku malam itu? kenapa semuanya bisa begini, Tuhan? kenapa aku sampai bisa berada dalam satu kamar dengan pria yang tak aku kenal itu?" Vanya menjambaki rambutnya sendiri dalan kamar mandi
Beberapa lama kemudian, Vanya langsung menyelesaikan mandinya, setelah seseorang telah memanggil namanya.
"Vanya, apa kau sedang di kamar mandi?" terik seorang perempuan.
Vanya lalu mengusap air matanya dan langsung menyahuti panggilannya.
"Iya, saya lagi ada di dalam Erika," jawab Vanya dalam kamar mandi.
"jangan terlalu lam berada di kamar mandi Vanya, segera keluar dan kita sarapan."
"iya Erika, sebentar lagi aku akan selesai mandi," jawabnya lalu segera keluar dari kamar mandinya.
Dengan tertunduk lesu, Vanya kini menuju ke arah lemarinya dan langsung mengambil pakaiannya lalu dia mulai kenakan pakaian miliknya, dan kini mulai bergegas menuju ke ruang tamu.
terlihat Erika sudah mempersiapkan sarapannya.
"Kenapa denganmu, Vanya?" tanya Erika dengan menyorot ke arah matanya.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawabnya dengan tersenyum kecut.
"Hari ini Ardhito akan kesini, dia ingin menemuimu, apa kau mau bertemu dengan dirinya?" tanya Erika menatap wajah Vanya yang sudah terlihat sangat gugup.
Vanya terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh sahabatnya tersebut.
"Apa? Kak Dhito akan kemari menemuiku?" tanya Vanya tak percaya.
"kenapa? apa kau tak suka? bukankah sejak dulu kau selalu ingin bertemu dengan dirinya?" tanya Erika dengan tatapan penuh menelisik.
"Tentu saja aku senang," jawabnya dengan gembira.
"Syukurlah, aku akan menghubunginya nanti. ohya, ngoming-ngomong, kemarin malam kau dari mana saja? aku menunggumu sampai larut malam, tapi kau tak kunjung datang, kau pulang jam berapa kemarin malam?"
Deg..
Bersambung