Kecium ngga sengaja, itu termasuk dicium kan?
-Jomblo Ngarep Dicium-
Hari itu, Yuna hanya tersenyum kaku menanggapi omongan Bumi. Tak ada kata sama sekali. Pikiran Yuna kalut, hatinya belum menemukan keyakinan. Seolah segala yang ingin ia ucapkan terjebak di tenggorokan, menolak keluar. Bukannya tak ingin membalas, namun sesuatu di dalam diri menahannya.
A Bumi tuh nembak apa gimana sih?
Dan hari itu juga, Bumi ngga berani menutup perbincangan dengan kalimat tanya pamungkas, semisal ‘kita pacaran ya Neng, ya?’ Jadi, ya ngambang aja gitu. Kalau gen Z nyebutnya ‘kentang!’
Tapi, gara-gara omongan Bumi itu, jejedugannya Yuna malah makin jadi. Jantungnya seolah tak pernah bisa berdetak tenang lagi. Masa ya, mendengar denting notifikasi chat aja bisa bikin perut Yuna ngilu. Kayak … sekarang ini!
JungKookVersiKearifanLokal: Neng, sudah bangun?
Yuna: Sudah, A. Mau siap-siap dulu.
JungKookVersiKearifanLokal: Oke. Sebelum acara mulai, foto yuk?
Tuh kan, selalu ada aja triknya Bumi untuk bikin jantungnya Yuna berulah dan dia salah tingkah. Setiap omongan, setiap kalimat chat yang dikirimkan Bumi, seolah-olah memiliki kekuatan untuk membuat pikirannya ke mana-mana.
JungKookVersiKearifanLokal: Neng?
Yuna menghela napas panjang sebelum jemarinya bergerak mengetik balasan.
Yuna: Ngga suka foto.
Ya kali Yuna mau foto berduaan sama Bumi sementara keluarga mereka ngumpul semua? Apa ngga bikin orang-orang berasumsi yang ngga-ngga?
Sementara Bumi hanya membalas kembali chat tersebut dengan emoji menangis.
Yuna menatap dress yang tergantung di depan cermin, sebuah gaun panjang berwarna terracotta. Desainnya sederhana namun elegan. Bagian atas gaun ini one-shoulder, dilengkapi lipatan halus yang membentuk lekukan anggun. Lapisan tulle menambah sentuhan elegan, memberi kesan ringan dan flowy, membuatnya terlihat begitu sophisticated. Gaun itu menyempit di bagian pinggang, lalu melebar indah di bagian bawah, menciptakan siluet yang memeluk tubuh Yuna dengan sempurna. Secara teori, gaun itu sempurna.
Namun, Yuna justru merasa sebaliknya. Pandangannya melekat pada pantulan dirinya sendiri, membayangkan gaun itu di tubuhnya, mencoba menemukan kesalahan yang tidak ada.
“Ngga cocok, rasanya,” desahnya pelan.
Yuna memeriksa lagi setiap detail gaun yang dibuatnya sendiri tersebut. Ini bukan sekadar gaun, melainkan salah satu karya terbaiknya yang belum pernah ia pakai di acara besar. Namun, bukannya merasa percaya diri, yang ada hanyalah rasa canggung. Mungkin midi dress A-line sederhana lebih cocok? Bagian atasnya V-neck, sleeveless, mungkin akan membuatnya merasa lebih aman. Bukan yang seperti ini.
Beberapa ketukan membuyarkan lamunan Yuna. Ia melangkah ke pintu kamarnya, mengintip di peephole, mendapati Anantari – ibunya – yang datang.
“Eh? Kok belum ngapa-ngapain, Dek? Masih pakai bathrobe aja?” tanya Anantari seraya masuk ke kamar Yuna dengan membawa setangkup roti bakar dan segelas su5u. Mereka menyewa satu unit dengan dua kamar untuk memudahkan persiapan menjelang akad nikah salah satu anggota keluarga besar.
“Ada dress lain ngga ya, Ma?” lirih Yuna.
“Dress lain?”
“Iya, Ma.”
“Ih ngaco kamu! Jam segini nyari dress lain. Satu jam lagi sudah mulai masuk rangkaian akad nikah. Lagian butik mana yang buka jam tujuh pagi? Memang kenapa gaun Adek?”
Yuna mendengus pelan, kedua bahunya jatuh terkulai. “Ngga apa-apa sih, Ma. Cuma tau-tau berasa ngga cocok aja sama Yuna.”
“Astaghfirullah! Adek naksir siapa sih? Bumi?” tanya Anantari dengan nada menggoda, membuat Yuna otomatis tersentak.
“Mama ih! Apa hubungannya sama A Bumi coba?” jawab Yuna cepat, wajahnya memerah karena malu.
Anantari hanya terkekeh, lalu meletakkan bawaannya di meja samping tempat tidur. “Ya biasanya Adek pake baju apa aja pede kok. Pakai baju Mama yang jadul aja adek kelihatan keren. Lah ini masa ngga pede pakai dress sebagus itu?”
“Dress-nya bagus, Ma. Tapi kan belum tentu cocok dipakai Adek.”
“Pakai sana! Jangan bikin pusing! Kalau sudah selesai buruan ke ballroom. Mama dan Papa jalan duluan, ngga enak soalnya barisan orangtua kok datangnya telat.”
“Mama ….”
“Pakai! Jangan kayak bocah gitu, Yuna. Lagian Bumi ngga bakal tau bedanya kamu pakai dress A atau B, yang dia tau kamu cantik!”
Mendengar perkataan Anantari, jantung Yuna kembali jejedugan. “Mamaa! Kenapa sih ngomongin A Bumi terus?” lirihnya, memeluk bantal di pangkuannya, malu sendiri. “Emangnya A Bumi siapanya Yuna coba?”
“Calon mantu impiannya Mama,” jawab Anantari sebelum melewati ambang pintu kamar Yuna.
“Mamaaa,” lirih Yuna seraya menenggelamkan wajahnya, malu sendiri.
Sumpah! Bahaya banget ini! Jual mahal, Yuna! Please! Lo harus yakin kalau si Utara ngga tersisa di hatinya A Bumi, baru lo boleh luluh. Sebelum lo yakin, jangan sampai lo setuju pacaran sama Jungkook!
***
Venue akad nikahnya Andara dan Ezra terletak di ballroom kompleks apartemen eksklusif tersebut. Tempat itu berubah menjadi taman bunga yang indah. Bunga-bunga putih menghiasi setiap sudut, dipadukan dengan sentuhan hijau segar, menciptakan atmosfer seperti istana kecil di tengah kota. Raya Bumi Event Organizer, EO yang dimiliki keluarga Wisesa, menangani semua detail acara ini. Namun, Bumi sendiri tidak terlibat langsung sebagai pimpinan tim. Ia hanya membantu pengecekan, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Paham kan bantu ngecek? Betul sekali, ujung-ujungnya Bumi ngga bisa diam, tetap saja dia khawatir sepupunya yang akan menikah tak puas dengan hasilnya. Akhirnya, Bumi malah ikut turun tangan, memastikan setiap detail sesuai dengan harapan Andara dan Ezra.
Di tengah kesibukannya, Bumi tak bisa menghindar dari fakta bahwa Yuna terus saja mengisi pikirannya. Dan fakta jika Yuna belum juga hadir padahal rangkaian acara akan dilaksanakan sepuluh menit lagi, sungguh membuat Bumi cemas.
Ngga mungkin kan Yuna kabur karena malas ketemu urang? Apa ya salah urang? Kok Neng Yuna kayak yang menjauh gitu? Apa karena omongan urang pas makan siang tempo hari ya?
Sementara itu, Yuna masih di unitnya, mematut diri untuk kali terakhir, menatap lekat pantulan dirinya di cermin. Gaun terracotta itu nampak sempurna membungkus tubuhnya. Jika tidak ada Bumi di acara nanti, pasti Yuna pede-pede saja.
“Kontras banget kan sama warna kulit gue … aneh ngga sih?” monolog Yuna lagi. “Mana bego banget sih gue, kenapa juga milih model gaunnya begini? Tapi kan gue ngga tau kalau bakalan ruwet cerita gue dan A Bumi. Ih jadi ngga nyambung dari gaun ke A Bumi!”
Ponsel Yuna bergetar, kali ini, Anantari tak menambahkan missed call-nya menjadi 19. Nomor yang masuk ID-nya adalah JungKookVersiKearifanLokal. Bukannya diangkat, Yuna malah masuk kamar mandi. Mulas? Ngga juga. Ngilu aja gitu rasanya perut.
Menghabiskan sekitar sepuluh menit untuk menenangkan diri, barulah Yuna keluar dari toilet. Ia berdiri lagi di depan standing mirror di ruang tengah, memastikan penampilannya tetap on point. Setelah lafaz bismillaah yang ke sekian kali, akhirnya Yuna berhasil melewati pintu unit dan mulai melangkahkan kaki menuju lift.
Sementara di lantai dasar, Bumi duduk di barisan paling belakang. Pandangannya tak lepas dari pintu masuk, menunggu Yuna muncul di sana.
Kok Neng Yuna belum muncul juga? Bumi mulai gelisah, berdiri di ujung ruangan sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Karena ngga tahan, akhirnya Bumi berdiri. Ia melangkah cepat, keluar dari ballroom, terus berjalan ke lift. Dan di depan lift, Bumi bolak-balik bak setrikaan. Pikirannya mulai ngawur, mengumpulkan berbagai alasan kenapa Yuna sampai menghindarinya. Iyalah menghindar, balas chat saja Yuna seperti ogah-ogahan. Mana dari semalam, meski sudah di apartemen ini, setiap kali Bumi mendekati Yuna, gadis itu pasti kabur dan menjauh. Lalu pagi ini, masa sih Yuna ngga sengaja terlambat sementara Anantari dan Jagat yang satu unit dengan Yuna sudah di venue dari satu jam yang lalu.
Hingga, layar elevator menunjukkan pergerakan naik. Lift tersebut dipanggil ke lantai di mana unit Yuna berada. Kemudian, turun kembali.
Bumi diam saja di posisinya. Dan beberapa saat kemudian, bel lift berbunyi, pintu besi di hadapannya terbuka perlahan. Yuna … ada di sana.
Keduanya sama-sama terpaku. Beku tak tergerak. Bumi terpesona akan sosok gebetan barunya, sementara Yuna takjub melihat betapa tampannya pria yang ditaksirnya sejak lama.
Ketika perlahan pintu lift hendak menutup kembali, tangan Bumi gegas terulur, menekan tombol hold dan membuat pintu kembali terbuka sempurna.
“Ayo, Neng. Masa mau di situ aja?” ujar Bumi. Suaranya hilang timbul karena grogi.
Yuna mengangguk, ia pun mulai melangkah. Masalahnya, karena rasa gugup yang luar biasa, jalannya Yuna juga jadi ngga benar. Dilalahnya, di ambang pintu lift, kaki kanan Yuna justru menginjak ujung sepatu kaki kirinya. Mata Yuna sontak membelalak saat tubuhnya terasa limbung ke depan.
Namun, saat Yuna nyaris terjerembab, ia justru jatuh di pelukan Bumi.
Panik! Yuna sontak berusaha berdiri.
Masalahnya, saat semesta tengah bercanda, biasanya ngga cuma terjadi sekali. Kesandung itu baru awal mula. Ada lanjutannya dong! Yang alas sepatunya beradu dengan inner menciptakan sensasi licin sehingga Yuna sulit berdirilah. Yang Bumi juga bingung harus ngapain sementara Yuna ngga bisa diam. Pelukan Bumi yang kian erat karena khawatir Yuna nyungsep beneran jika dilepaskan. Dan yang paling fatal adalah … saat kepanikan Yuna tak lagi bisa ia kontrol. Gerakan tubuhnya tak terkendali, parasnya tak ingat jarak aman.
Kala Yuna menolehkan wajah ke kiri, bibirnya justru mendarat di pipi kiri Bumi. Seketika, waktu seolah berhenti untuk keduanya. Jantung Bumi meleleh, turun ke perut. Sementara bibir Yuna … stay di sana untuk batas waktu yang belum bisa ditentukan.
Nengong, jangan, nengok, jangan, nengok, jangan?
Ulang-ulang!
Jangan, nengok, jangan, nengok, jangan, nengok?
Bunda … Aa musti gimana iyeu?