BOS Aku Hamil!

BOS Aku Hamil!

book_age18+
562
IKUTI
7.5K
BACA
love-triangle
contract marriage
HE
second chance
friends to lovers
arrogant
boss
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
bxg
bold
city
office/work place
lies
assistant
like
intro-logo
Uraian

Tak pernah ada dalam benak Diajeng Kencana Putri (Ajeng) untuk mendekati bos-nya Panji Narapati Perdana. Tapi bagaimana jika semesta menghendaki jlaan cerita berbeda?Berniat menyelamatkan Panji, justru Ajeng harus menelan pil pahit atas noda yang ditorehkan Panji padanya. Ajeng juga harus terima disalahkan Panji yang salah paham padanya. Masa depan dan harapan manis yang sudah direncanakannya kini hancur menjadi debu yang diterbangkan oleh angin. Ajeng dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Kabur sejauh-jauhnya, mistress, terhina dan melukai harga diri keluarganya atau menggugurkan benih yang tumbuh dalam rahimnya. Mungkinkah akan ada pelangi setelah badai yang akan mengukir senyum di bibir Ajeng?

chap-preview
Pratinjau gratis
MASIH PERAWAN
"Kenapa kamu di ranjang ini? Kamu- arrgh, kamu menjebakku tidur denganmu, Ajeng?" "Sa-saya eng-" "BERANI KAMU MENJEBAK SAYA?" Ajeng tak bisa melanjutkan ucapannya. Bibirnya menjadi kelu saat tamparan itu mendarat di pipinya yang seketika jadi baal dan panas. Air matanya yang dari semalam terus mengalir juga sudah kering dan tak lagi bisa menunjukkan kepedihan dalam hatinya. Meski perbuatan dan ucapan Panji menyakitinya. "Sssh, Ajeng, kamu tuh!" Panji menahan kesal, "Padahal kamu tahu seminggu lagi pernikahan saya dengan Eve kekasih saya. Dia yang sudah saya pacari selama tujuh tahun. Kamu mau menghancurkan hidup saya?". "Bukan begi-" "Sudah diam! Dasar anak pembantu sial! Sudah diberikan hati kini minta jantung! Kamu ingin menguasai harta keluarga Pradana dengan jebakan ini, hm?" Sungguh tak ada niat itu dalam hati Ajeng. Sumpah demi Tuhan pun dia berani. Ajeng juga tak menginginkan tidur dengan bosnya. Dia cukup bersyukur keluarga Pradana berbaik hati mau menyekolahkannya yang cuma anak pembantu sampai ke jenjang kuliah dan jadi seperti sekarang. Bagai seekor angsa buruk rupa, Ajeng berubah menjadi angsa berbulu putih yang manis yang serba bisa dan berprestasi gemilang. Dia bersyukur dan tak pernah lupa asalnya. Ajeng bekerja keras untuk membalas jasa keluarga majikan orang tuanya. Dia berusaha jadi sekretaris terbaik bagi Panji Narapati Pradana, anak sulung keluarga Pradana yang diberikan kesempatan untuk meneruskan karir ayahnya. Ajeng tak pernah berniat mengacaukan Panji. Dia tahu batasan apalagi Ajeng juga kenal siapa pacar Panji. Evelyn Aneira, seorang model papan atas dengan karir gemilang, paras cantik dan tentu saja, sebagai model tak bisa dianggap biasa body-nya. Evelyn tentu bukan saingan Ajeng. Apalagi darah blasteran-nya membuatnya terlihat makin sempurna tak seperti Ajeng yang cuma anak kampung. Cuma siapa yang sangka kejadian yang mengundang salah paham ini terjadi? "Semalam itu, Kak Pan-" "Ck! Berhenti memanggil begitu! Asal kamu ingat, saya tak ingin ada orang rumah tahu masalah ini! Saya ingin kamu jaga rahasia. Ini hanya kita yang tahu. Dan kalau kamu berani buka mulut, membahayakan acara pernikahan saya dengen Eve, jangan salahkan saya jika biaya pasang ring jantung ayahmu akan saya batalkan, ibumu gak bisa bekerja di rumah keluarga Pradana lagi, dan kamu, saya pastikan gak akan pernah diterima kerja dimanapun lagi!" Ajeng belum sempat membela diri. Tapi Panji yang panik, dia sudah tak bisa menahan kegusaran dan kekesalan hatinya. Dia seketika itu mengancam. "Baik, saya akan diam," makanya Ajeng malas menjelaskan lagi. Kalau memang Panji menuduhnya bersalah, dia terima. Toh percuma bukan dijelaskan kalau pria itu tak mau mendengarnya dan tak ingat apapun? Dia akan tetap menuduh begitu. Biarlah nanti Tuhan yang akan membuka kebenarannya itu. Ajeng percaya, kebenaran pasti akan terungkap nantinya. "Dan mulai hari ini, kamu, di luar rumah, panggil saya Bapak! Saya tidak akan memecat kamu selama kamu menjaga sikap! Berlaku seperti karyawan biasa, jangan menunjukkan perilaku mencurigakan di kantor. Di rumah, menjauh dari saya dan jangan muncul kecuali urgent seperti ibu saya memanggil. Tidak ada lagi menumpang di mobil saya! Kamu kerja, berangkat setengah sampai sejam lebih dulu dari saya. Buat alasan apapun, pokoknya menjauh dari saya!" "Baik Pak." "Pergi dari kamar ini sebelum saya keluar dari kamar mandi! Kembali ke kantor, jangan masuk ke ruangan saya selama saya di dalam. Pakai pesan dan telepon, minimalisir kamu ketemu muka dengan saya selama bekerja. Suruh siapa saja di divisi sekretaris menemani saya untuk rapat dan lainnya. Kamu, jangan mendekat apapun alasannya." "Baik Pak." Ajeng memang tipe orang yang malas berdebat. Dia tahu itu tak profesional. Bosnya bias. Tapi dia tak ingin buat masalah lagi. Ajeng mengikuti semua peraturan yang dibuat Panji. Sekarang, meski sakit dibagian bawahnya, kepalanya juga masih pusing dengan lebam biru di kepalanya yang tertutupi rambut, Ajeng berusaha mengumpulkan energinya dan memakai kembali pakaiannya sebelum menyelinap keluar secepat mungkin karena tak ingin dianggap berniat buruk lagi. 'Mungkin aku harus segera cari kerjaan lain selagi ada kesempatan!' Cuma, setelah kejadian semalam, Ajeng sudah tak ingin lagi bekerja dengan bosnya. Dia tak sangka saja, Panji yang melihatnya bertumbuh di rumah keluarga Pradana sejak Ajeng berusia lima tahun, bisa berpikir sepicik itu. Ajeng pindah ke sana karena nenek yang mengurusnya meninggal dunia. Ayahnya, adalah supir keluarga Pradana dan ibunya sebagai ART. Kebaikan orang tua Panji mengizinkannya tinggal di sana. Ajeng bisa bermain dengan anak-anaknya juga, tanpa membedakan sikap. Panji juga sudah dianggapnya sebagai kakak. Usia Ajeng yang seumuran dengan adik bungsu Panji, membuat mereka sangat dekat sampai Ajeng yang kuliah di jurusan hukum dipercaya oleh Panji sendiri untuk menggantikan sekretarisnya yang re-sign setelah Ajeng lulus. Tapi kenapa orang yang sudah dianggapnya sudah mengenal sikapnya itu seakan seperti orang asing yang berubah dan bahkan menuduhnya seperti dia tak mengenal bagaimana Ajeng. Bulir air mata menitik beriringan dengan tangannya yang menghapus lelehan cairan hangat itu di pipinya. Ajeng memasuki lift hotel dengan rasa sakit teriris-iris di ulu hatinya. "Masih perawan?" Sementara itu, setelah kepergian Ajeng, Panji yang sudah memakai pakaiannya, dia mencari handphone-nya yang tergulung selimut, tak sangka saja melihat noda merah di sprei putih hotel. "Ah, aku tak memintanya! Dasar perempuan serakah. Sudah baik hidupnya dibantu selama ini. Tapi ternyata niatnya buruk!" Cuma Panji tak mau memperpanjang rasa ibanya. Dia malas memikirkan tentang Ajeng. Bawaannya ingin marah. Panji benci Ajeng dan merasa dijebak. Mana Panji tak ingat semua yang terjadi semalam, lagi. Dia ini tak pernah mabuk. Semalam, dia sendiri tak mengerti kenapa bisa sampai berakhir di dalam kamar hotel itu. Panji sudah berusaha mengingatnya, tapi sayang dia tak ingat apapun. "Ssh, sudahlah, bukan salahku! Dia harusnya menjagaku, dia tak minum semalam kan? Ck! Pokoknya cuma Eve yang kucinta dan akan kunikahi!" Panji tak mau ambil pusing. Dia mengambil handphone dan menghubungi seseorang. Panji: Jim, kamu gantiin aku hari ini urus schedule di perusahaan! Jimmy: Lah, kok bisa gitu sih Kak? Aku kan ada jadwal op- Panji: Aku nikah sama Eve seminggu lagi. Jadi aku mau persiapan nikah! Lagian, cuma seminggu ini aja! Handle urusan di perusahaan, biar kamu bisa sekalian belajar. Kamu juga anak ayah, kamu harus bisa mengerti urusan perusahaan meski kamu seorang dokter! Jimmy: Tapi Kak- Panji: Gak ada tapi! Urusan di luar kantor nanti aku yang handle. Panji, dia berusaha menghindari Ajeng. Tak ingin bertemu dan mengingat kekesalannya. Sekarang saja melihat darah di ranjang itu, Panji sudah terbayang tubuh polos Ajeng yang hanya tertutup selimut tidur di sebelahnya memanfaatkan dirinya yang tak sadar. Dia tak mau merusak saraf otaknya kalau terus terganggu dengan bayangan Ajeng si anak pembantu itu. Pokoknya dia ingin melupakan semua! Toh sebentar lagi dia menikah. Panji tak ingin rasa bersalah itu menguasai pikirannya. Tapi apakah dia bisa melupakan apa yang terjadi antara dirinya dan Ajeng? Lalu bagaimana dengan Ajeng sendiri, apa semudah itu melupakan pria yang sudah merengut keperawanannya? Dan bagaimana kedepannya mereka bersikap? Mereka tak bisa saling menghindar selamanya jika masih bekerja diperusahaan yang sama, bukan? "Bruh, ni malam pesta lajang lo. Ngapain bengong-bengong sih?" Sial! Panji ke-gep sahabatnya yang super kepo sedang tak bersama raganya pikirannya tadi. Dia berdecih, malas membahas. "Bruh, ni malam pesta lajang. Ga mau dansa sama cewek-cewek tu? Sayanglah udah kita bayar. Larry, Dasta, ama Tori udah enjoy tuh di dance floor." "Kalian ajalah, gue lelaki baik-baik. Anti sentuh wanita selain Eve." "Haha, jadi, malem tuh lo beneran ga ngapa-ngapain ama si Ajeng?" DEG! Jantung Panji auto berdegup tak beraturan mendegar celetukan sahabatnya itu. Matanya menyorot tajam karena hampir seminggu ini Panji memang ingin mencari tahu bagaimana dirinya bisa berakhir di kamar hotel itu. Tapi tak ada ingatan yang tersisa di benaknya. "Ajeng? Apa maksud lo Evan? Lo- lo apain gue malem itu?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
161.4K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
289.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
151.1K
bc

Papa, Tolong Bawa Mama Pulang ke Rumah!

read
4.0K
bc

Tentang Cinta Kita

read
210.6K
bc

TERNODA

read
192.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
224.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook