| ٨ |

1156 Kata
"maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 44) Hal biasa seorang santri mempertanggungjawabkan kesalahannya di depan semua penghuni Al-Fikri menciptakan fakta yang menyebar dengan cepatnya. Kali ini, sang pelanggar hanya sendirian berdiri tegak diterangi terik matahari tanpa halau. Hilma. Santriwati baru si pelanggar itu, ketiga temannya tak percaya. Saat Umi Maryam memberikan ribuan pertanyaan tentunya tertuju kepada Intan dan Rahma saja. Mengingat sosok Zahra sedang tidak di pesantren saat Hilma melakukan aksinya. Hanya keduanya saja menjadi saksi kebohongan Hilma, tapi tidak menceritakan kelanjutan soal penunggu toilet. Karena mereka baru sadar, bahwa Hilma berhasil mengelabui ketiganya dengan mengalihkan pembicaraan. Sanksi yang menemukan dan melapor kepada Umi Fitri diam-diam mengintai. Menurut keterangan yang didapat, baru satu minggu Hilma menimba ilmu di pesantren. Mengartikan, bahwa gadis tersebut tidak baik. Ustaz Hasbi memicingkan matanya, tidak asing gadis yang mendapat hukuman di sana. "Dia berbuat apa?" tanyanya, sontak Rizwan menoleh. "Ada di pembatas wilayah santri, tepatnya ujung pondok," jelasnya. "Melakukan apa?" Rizwan menghela napas. "Kata, umi sih lagi gak ngapa-ngapain, tapi siapa pun si pelanggar dipastikan akan memberikan jawaban pasaran itu." Ustaz Hasbi mengangguk paham, lalu mengucap salam sebelum pergi meninggalkan teman dekatnya itu. Lebih tepatnya, bagi Hasbi, Rizwan adalah saudaranya sendiri. Setelah sosok Yusuf sang kakak yang memilih membesarkan pesantren Al-Akbar milik keluarga Nisa istrinya. Dulu, jauh sebelum menikah sosok kakaknya itu paling diagungkan dalam keluarga Al-Fikri. Membuat Hasbi yang sudah berpikir dewasa semakin kesal akan kehadirannya. Datangnya Rizwan menjadikan keluh kesahnya terbagi. Terasa hilang beban di pundaknya itu. Beruntungnya setelah Yusuf berkenan memilih mengikuti sang istri, daripada membesarkan Al-Fikri menjadikan Hasbi pewaris selanjutnya. Barulah kehidupannya terasa nyata. Saat rumah sepi tanpa canda dari anak kecil atau penghibur humoris seperti kakaknya. Datanglah sang adik kecil bernama Zahra. Awalnya Hasbi kembali takut, kedua orang tuanya pilih kasih. Namun, nyatanya Zahra seperti layaknya santriwati lain, dengan otak encernya yang membuat Umi Fitri takjub. Sekali lagi, Hasbi semakin malas hanya masuk ke rumahnya saja. Menghabiskan waktu di dalam pondok bersama teman lainnya, menjadi hal biasa sampai sekarang. Walaupun jabatannya sebagai pewaris, tapi ia tetap disamaratakan apa pun yang didapatkannya. "Aku masih gak percaya, Rah, jadi kemarin sore Hilma bohong gitu?" Rahma mengelus bahu Intan. "Gak papa, aku yakin Hilma bakal belajar dari kesalahan," jawabnya tenang. Sosok Zahra terlihat mendekat, membawa sebuah surat dari Umi Maryam. "Kalian harus percaya, Hilma bisa lewatin hukumannya. Tersisa tinggal dua puluh menit lagi." Selembar surat diserahkan kepada Intan. "Aku ada urusan sama, umi. Tolong, berikan kepada Hilma untuk diisi." Intan menatap kertas putih tercoret tina penuh rangkaian aksara. "Sebagai perjanjian, agar Hilma tidak kembali melanggar peraturan." Dari kejauhan tubuh Hilma mulai gemetar, menandakan tak ada lagi tenaga yang harus ia keluarkan. Selama lima jam! Pandangannya mulai kabur, pepohonan rindang yang memberikan kesan segar menjadi warna kehitaman. Pintu rumah Kiai nampak bergoyang-goyang. Papan nama di depan d**a bertuliskan Si Pelanggar mengikuti gerakan gemetar kedua kaki Hilma. Bruk! Tubuhnya ambruk. Keningnya membentur beberapa kerikil kecil, luka ringan pun timbul. Penjaga pintu santriwati kalang kabut berlarian. Dilarang bagi santri bukan mahrom untuk menolong. Jadi, keempat pengurus dan pembimbing segera membopong Hilma menuju rumah Kiai. Sudah hal biasa pula bagi pelanggar yang pingsan. Namun, hari ini di waktu hukuman tersisa dua menit lagi, barulah tubuh Hilma menyerah. Rizwan yang tahu si pelanggar pingsan hanya bisa menelan ludah kasar. Dapat dari bisikan santri lain, bahwa Hilma mantan anak geng motor. "Asli, Tad ... saya mantan anggotanya, nih. Gak asing liat muka, Hilma ada di barisan pembalap. Emang, awalnya cuma penonton," terang Askar meyakinkan Rizwan. "Dia memakai kerudung kalo keluyuran?" "Pake! Dia itu kayaknya emang gaul sama anak laki, tapi tetep bisa nutup diri karena orang tuanya dipandang baik sama masyarakat." Teman Askar yang jail menimpal, "Ah, Askar mah tukang ngibul, Tad!" Tangan Askar segera memberikan jitakan kasar di kepala Habib. "Fakta ai, maneh!" "ASKAR!" seru Rizwan mendengar makian yang kerap didengar dari beberapa tanah Sunda. Salah satunya Askar, awalnya sengaja agar tidak mendapat hukuman, tapi semakin lama para pembimbing ataupun pengurus tahu akan maknanya. Selain tinggal di depok dan kenal Hilma, ia juga memiliki ibu yang asli dari Bandung. Jadi, tidak sulit baginya paham dan menghafal bahasa daerah ibunya itu. Dipikirnya nampak gaul, mengingat teman di pondoknya kebanyakan bahasa jawa campur halus. Jauh dari perkumpulan para santri, Hilma sudah dibawa masuk ke dalam kamar. Sebelumnya, Intan dan Rahma membantunya membersihkan luka di keningnya dan mengantar mandi. Tidak lama, Zahra pulang karena niat awalnya akan ikut acara Kiai di pesantren lain berakhir gagal ada urusan penting lainnya. Keempat temannya itu yang membantu, membuat Hilma berkaca-kaca. Wajah pucatnya semakin menambah iba. "Dimakan dulu obatnya, yuk," ucap Zahra dengan senyum andalannya. Hilma tersenyum kecil. "M—makasih, kalian udah bantu aku," lirihnya. Intan mengangguk mantap. "Kita bertiga percaya, kamu bakal belajar dari kesalahan, kan?" "Aamiin, insyaallah aamiin, ya?" sela Rahma seraya memeluk Hilma dengan sayang. Zahra dan Intan ikut memeluk Hilma bersamaan. Hilma semakin yakin, ia memang harus belajar dengan giat di pesantren. Apa yang akan dibanggakan jika ia pulang saat tahun depan? Apakah aib hukumannya? Tentunya sebuah nilai dalam pelajaran yang diberikan dan paling penting bisa diamalkan. Hilma berjanji, sambil memeluk ketiga temannya itu. "Ya Allah, mudahkanlah hambamu ini dalam belajar. Bismillah, hamba berjanji akan merubah diri, semoga apa yang diharapkan ayah dan ibu bisa hamba lakukan, aamiin," batinnya. Selanjutnya, Intan memberikan surat yang tadi Zahra berikan. Lagi, ketiga temannya membimbing Hilma menuju jalan kebaikan. Umi Maryam menerima langsung surat perjanjian Hilma, melempar senyum, memberikan salam; pergi bersama dengan ketiga temannya lagi. Menuju pintu yang terbuka lebar, dengan siluet jilbab yang terbawa angin melayang. Dalam barisan saf, Hilma menatap ke depan para makmum lainnya. Tidak ada lagi bayangan sosok lelaki yang melaporkannya ke Umi Fitri. Bayang amarah, juga sekelebat Ustaz Hasbi yang dikagumi. Hilma perlahan menangkis, memendam dalam bisikan setan lainnya. "Ukhti, ana Farida dari Khadijah empat." Seseorang memperkenalkan diri, memberikan senyum manis. "Salam kenal, aku Hilma." Melihat temannya memperkenalkan diri, Sani temannya Farida juga mengulurkan tangannya. Selesai dengan setoran yang Hilma selama satu minggu hafal, ia berjalan tanpa tenaga ada banyak kesalahan saat Umi Maryam khusyuk mendengarkan. Melihat Hilma tidak semangat, Zahra dan kedua teman lainnya terus menyemangati. "BISMILLAH! Kamu, segitu udah lumayan," seru Zahra. "Kembali, belajar dari kesalahan!" balas Rahma. Intan merangkul bahu Hilma. "Jangan terpuruk hanya karena satu kegagalan!" Senyum Hilma semakin lebar. "Makasih, semuanya." Pelukan keempatnya disaksikan langsung oleh Ustaz Hasbi. Senyum kecil terukir, tidak lama sudut mata Zahra menangkap sosok yang membuatnya menahan kikuk malu. "Ayo pergi," ajak Zahra sambil menjaga pandangannya. Menyadari ada seseorang yang mengintai diam-diam Hilma mengikuti, begitu juga Intan dan Rahma. Di dalam kamar, jadwal pelajaran yang awalnya membuat Hilma kesal sekarang ia mulai menanti materi lainnya. Zahra dengan senang mengulang rangkuman kitab kuning yang belum dipahami Hilma. "Oh, ya, waktu jumat kemarin kamu ketiduran, kan? Pasti gak konsen denger Umi ceramah," ucap Zahra. Hilma mengerang, bahkan bukan hanya ceramah saja yang ia lupakan. Penyampainya saja ia lupa. Sampai Zahra pun mau mengulangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN