Wanita Pilihan

1101 Kata
“Kamu memang wanita pilihan Yangti, tapi bukan berarti kamu spesial di mata saya, mengerti?” “Me-mengerti, Mas,” sahut wanita berparas ayu dengan ragu. Sungguh, kalimat itu bak mata pisau yang menusuk tepat di jantung, kemudian menghancurkan kepercayaan dirinya yang tengah melambung. Bayangkan saja, belum genap dua belas jam menjadi istri dari seorang Raden Sagara Putra Jayanegara—Anindya harus menerima ucapan pedas dari suaminya. “Dan kamu harus ingat batasan. Saya tidak suka disentuh tanpa permisi oleh orang asing.” Orang asing? Anindya tersinggung dengan ucapan yang satu itu. Hei, dirinya tidak bodoh. Ketika dua anak manusia terikat dalam sebuah pernikahan, bukankah mereka menjadi satu keluarga? Anindya tersenyum pahit dalam diamnya. Ah! Anindya lupa kalau pernikahan ini memang tidak berarti apa-apa. Sebab, bagi pria itu, Anindya hanya wanita kedua. Bukan karena dirinya perusak rumah tangga orang. Tapi karena Anindya terpilih menjadi istri kedua demi melahirkan seorang pewaris Jayanegara. Mengingat keresahan para tetua, karena Diajeng Sekar Ayu Nararya, menantu pertama keluarga Jayanegara itu tak kunjung memberikan keturunan. Oh, ya. Satu kata yang perlu digaris bawahi, bahwa keluarga Jayanegara cukup disegani di kota pelajar tersebut. Mereka memiliki kuasa atas segala hal di wilayah istimewa. Bukan hanya karena darah biru yang mengalir dalam tubuh sang Jayanegara. Tapi karena keterlibatan mereka dalam memajukan daerah; infrastruktur, pendidikan, serta pelestarian budaya. Tentu saja pengaruh Jayanegara bukan hanya karena mereka merupakan old money. Tapi, lebih dari sekadar itu. “Aku bukan orang asing, Mas. Aku sudah jadi istri—” “Saya tidak peduli,” sela Sagara. “Saya tidak akan tidur disini malam ini,” sambung pria itu, memilih pergi dari kamar yang seharusnya menjadi ruang mereka berbagi peluh. Anindya tertegun menatap kepergian Sagara. Setelah punggung suaminya lenyap di balik pintu, wanita itu baru bisa bernafas lega. Ada perasaan yang tak bisa Anindya tebak. Ia akui, Sagara memiliki pesona yang tak terkira; tubuh menjulang tinggi dengan dadaa bidang, rahang tegas, mata tajam serta warna kulit kecoklatan khas pria pribumi. Sungguhan, jika saja sikap Sagara sedikit lebih lunak, Anindya pasti sudah jatuh cinta. Ah, tidak juga. Karena sebenarnya Anindya sudah memendam perasaan sejak remaja pada cucu sulung Jayanegara, pewaris tahta. Sayangnya, walaupun pernikahan kedua ini mendapatkan restu dari Eyang Putri, tapi Anindya merasa kehadirannya tidak diinginkan sama sekali. Anindya menarik kakinya ke atas ranjang lalu meringkuk dalam diam. “Kamu cuma perlu selesaikan urusan tanpa melibatkan perasaan, Anin,” gumamnya untuk diri sendiri. *** Seminggu yang lalu …. “Sudah lima tahun, Sagara. Sampai kapan kami harus menunggu?” Suara ringkih itu bergetar ketika mengungkapkan kekhawatirannya. “Eyang Putri ….” “Yangkung dan Yangti ini sudah semakin tua. Apa kamu tega lihat kami mati sebelum bertemu pewaris Jayanegara?” Sagara menghembuskan nafas berat sambil meletakkan bolpoin yang ia pegang sejak tadi. Ia beranjak dari duduk, mengikis jarak dengan Gayatri yang tengah duduk di sofa ruang kerjanya. Kedua tangannya terulur, meraih jemari keriput Eyangnya. Entah mengapa akhir-akhir ini Gayatri terus merengek serta menuntut dirinya untuk segera memberikan cicit. Padahal, ada banyak tugas yang harus ia emban ketimbang memikirkan generasi penerus. Lagi pula, Diajeng terlalu narsistik untuk memiliki keturunan. Hidupnya seakan miliknya sendiri. Bahkan merawat diri saja masih mengandalkan para pelayan disana, bagaimana mungkin ia merawat sang pewaris nanti? “Bukan begitu, Eyang. Sagara cuma butuh waktu untuk meyakinkan Diajeng….” “Nah, ‘kan! Eyang sudah tebak pasti masalahnya ada di istri kamu yang manja itu. Terlahir dengan darah biru, tidak menjamin dia paham aturan. Sejauh ini, Eyang tahu kalau dia itu sudah terkontaminasi dengan budaya barat. Eyang tidak suka itu!” Sagara menghela nafas. “Kalau bukan karena jasa Nararya di masa lalu, persahabatan ibu kalian, mungkin Eyang akan pertimbangkan perjodohan kalian waktu itu, tapi ….” “Eyang,” sela Sagara tanpa bermaksud lancang. Bahkan Sagara berusaha merendahkan intonasi suara. “Sudahlah! Kalau memang dia tidak siap memberikan keturunan, seharusnya sah-sah saja kalau kamu menikah lagi.” Sagara tersentak. Ucapan Gayatri sungguh diluar prediksi dan tidak pernah terlintas dalam benak. Ia cukup kaget mendengar keinginan wanita berusia senja tersebut. Bukan apa-apa, satu istri saja sering membuat kepalanya penat. Bagaimana dengan dua? Satu hal juga, Sagara bukan tipe pria yang mudah menerima orang baru dalam hidupnya. Kehadiran Diajeng saja sudah cukup memberi beban, bagaimana dengan istri barunya nanti? “Bukan saat yang tepat untuk menikah lagi di tengah isu sosial yang sedang panas di luar sana, Eyang.” “Ya, kita bisa tunda pengumuman itu. Setidaknya, kamu menikah dibawah tangan dulu, setelah dia dinyatakan hamil, kita bisa adakan ritual dan perayaan besar.” Sagara hanya menggelengkan kepala mendengar antusiasme Gayatri dalam menikahkannya kembali. “Apa Ibu dan Ayah tahu soal ide Eyang?” “Mereka sudah pasti setuju.” Lagi-lagi terdengar hela nafas. Sagara jadi tak bisa dibuat berkata-kata. Lihat saja, pria yang selalu bersikap tenang dalam setiap kondisi, kini tampak gelisah. Pengaruh Eyang Putri memang sangat kuat di keluarga Jayanegara. Bahkan Argana—Eyang Kakungnya selalu tunduk karena kecintaannya pada Eyang Putri. “Namanya Anindya Nasywa Wulandari.” Kalimat itu lolos membuyarkan lamunan Sagara. Namun, ia tak merespon meski otaknya kini berputar, mengingat nama yang tak asing tersebut. Anindya Nasywa Wulandari? Kening Sagara mengkerut meski tak menunjukkan emosi apapun dalam wajahnya. “Dia perempuan yang dua tahun ini menemani Eyang.” Sagara mendelik lalu tersenyum sepat. Saat berikutnya ia memalingkan wajah. “Eyang, dia cuma pelayan Jayanegara. Bagaimana bisa terpilih sebagai istri kedua Sagara? Dalam dirinya tidak mengalir darah— “Sudah Eyang bilang sebelumnya, ‘kan. Darah biru tidak menjamin dia mengerti tata krama. Sementara Anin, dia lulusan terbaik universitas negeri, sama sekali tidak ada rekam jejak kenakalannya. Selain itu, wawasannya luas. Dia bisa beradaptasi dengan aturan kuat keluarga kita. Dan tahu bagaimana melestarikan budaya kita.” Tak ada sanggahan. Daripada berurusan panjang, Sagara memilih diam. “Yang paling penting disini, karakter dan pendidikan dia bagus. Tentu bisa melahirkan pewaris yang unggul. Jangan lupakan parasnya yang ayu. Definisi wanita nusantara, idaman keluarga Jayanegara.” “Eyang jangan terlalu memuji seseorang. Memang Eyang tahu niat dia kenapa mau menerima jadi istri kedua Sagara?” Gayatri mengedikkan bahu. “Bisa saja dia punya maksud lain. Seperti … menjadi parasit untuk memperkaya diri?” Tatapan Gayatri langsung menghunus tajam. Wanita itu bukan tidak tahu kalau cucunya punya sifat yang terlampau kejam. Tidak hanya soal bicara tapi terkadang tindakannya sangat keras, sekalipun itu pada wanita. “Walau cuma dua tahun, Eyang yakin rahimnya sangat dibutuhkan untuk melahirkan sang pewaris. Dan perdebatan kita cukup sampai disini. Minggu depan, Eyang akan panggil penghulu dan saksi. Kamu hanya perlu datang, duduk dan ijab qobul, mengerti?” Tak ada jawaban, karena Gayatri sudah lebih dulu pergi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN