"Aku nggak mau rame-rame, kita walimahan aja cukup!" tegas Luna.
Siang itu dia duduk di Warkop X bersama calon suaminya, Arya. Cowok itu tak berkomentar apa-apa, hanya meminum coklat floatsnya sampai hampir tinggal setengah.
"Kita nikah cuman pura-pura aja, kan? Jadi nggak perlu ada resepsi segala!" tandas Luna.
"Nggak mau rugi banget sih, kamu Lun," komentar Arya akhirnya.
"Jelas!" ketus Luna. "Aku sebenarnya belum mau terima tawaran kamu! Tapi seenaknya aja kamu langsung ngomong ke Mama! Jadinya aku terpaksa."
"Mau gimana lagi, Mamamu sudah terlanjur dengar juga," dalih Arya. "Tapi omonganmu barusan nyakitin banget sih, jadi kamu segitunya nggak nggak mau nikah sama aku?"
Luna tertegun mendengar ucapan sahabatnya itu. Wajah Arya tampak datar saat mengucapkannya, tapi siapa yang tahu kalau hatinya benar-benar terluka. Apalagi omongan Luna barusan memang cukup kasar.
"Maksudku bukan begitu," lirihnya, merasa bersalah.
"Seenggaknya aku wajib undang orang-orang kantor," kata Arya, "Terus teman-teman ayahku dan ibuku juga, totalnya sekitar dua ratus orang."
Luna terbelalak. Tak menyangka sebanyak itu orang yang akan hadir di pesta pernikahan palsunya.
"Mama-Papamu gimana?" tegur Arya.
"Oh, aku sudah tanya Papa sih, mungkin dia akan undang karyawannya saja, sekitar tiga puluh orang. Mama hanya ingin undang tetangga sekitar saja. Seratus orang kira-kira," jelas Luna.
Arya mengangguk-angguk. Dia mengambil selembar memo dan menuliskan catatan tentang perkiraan jumlah undangan di sana.
"Terus apa lagi yang kita butuhkan?" tanya Arya.
"Dekorasi walimahan," ucap Luna. Dia mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya pada Arya. "Aku sudah lihat price list di i********:. Ini kayaknya yang paling murah, satu setengah juta."
"Makan, dekorasi, apa lagi?"
"Rias pengantin, mungkin sekitar dua juta. Lalu uang untuk KUA, sekitar tujuh ratus ribu."
"Terus?"
"Undangan dan suvenir, terus dokumentasi."
Arya yang pandai berhitung mencatat segala pengeluaran yang dibutuhkan. Mata Luna melotot melihat nominalnya. Dia tak menyangka untuk walimahan sederhana saja, harganya sudah hampir dua lima juta. Bagaimana kalau seumpama dia gelar pesta mewah seperti Lala kemarin? Sungguh sayang uang sebanyak itu habis dalam waktu sehari saja. Tak ada sisanya. Belum lagi kalau akhirnya nanti mereka bercerai. Uang itu hanya akan berbentuk foto-foto kosong tanpa makna. Padahal dua puluh lima juta harusnya bisa buat biaya kuliah S2 setidaknya selama dua semester awal.
"Nggak banyak ternyata." Komentar Arya itu membuat mata Luna membulat. Nggak banyak katanya!
"Cuman sekali gajiku," tambahnya.
Luna ternganga. Dia baru ingat kalau Arya ini seorang Creative Director. Uang sebanyak ini jelas tak seberapa baginya. Bandingkan dengan Luna yang harus kerja siang malam dan hanya dapat honor sepuluh persen dari gaji Arya. Sungguh miris rasanya.
"Ar, aku bayar setengahnya ya, tapi dicicil boleh nggak?" kata Luna.
Arya terdiam sejenak. "Nggak perlu, dari awal nikah ini adalah ideku, jadi aku aja yang tanggung semuanya."
"Nggak bisa begitu!" tolak Luna. "Pokoknya aku bayar setengahnya, tapi kredit."
Arya menggaruk tengkuknya. Berdebat dengan orang yang keras kepala itu hanya buang-buang energi saja. Akhirnya dia mengiyakan saja.
"Selesai, kan? Hanya ini saja?" tanya Luna.
"Belum, ayo kita lihat-lihat rumah di Dhanuswara Property, sekalian beli perabotan kalau bisa," kata Arya.
Netra Luna terbelalak. "Rumah? Dhanuswara Property?" tanyanya takjub.
"Saat aku bilang mau nikah, kemarin seniorku langsung ngasih brosur KPR khusus karyawan. Aku pikir ada baiknya juga. Daripada cuman ngontrak, mending kredit rumah sekalian. Sama-sama bayar ini," tutur cowok itu sembari memperbaiki letak kacamatanya.
"Di Dhanuswara furniture kita juga bisa dapat diskon kalau mau beli perabot. Aku suka sama gaya si bos ini. Walaupun dia cuman bocah nyebelin, tapi dia cukup memperhatikan kesejahteraan karyawan."
Luna terperangah. Berapa banyak uang dan hutang yang harus dia bayarkan pada Arya setelah mereka cerai nanti?
"Kamu nggak usah mikirin duitnya," ujar Arya. Luna terkesiap sekaligus kesal. Kenapa sih cowok ini selalu bisa membaca pikirannya. Apa dia memang setransparan itu?
"Ini kan fasilitas dari kantor. Selama aku nggak dipecat selama dua puluh tahun ke depan kita aman," imbuhnya.
"Terus gimana kalau besok tahu-tahu kamu bikin bosmu marah terus dipecat?" seloroh Luna.
"Jangan ngomong yang horor begitu dong," keluh cowok berkacamata itu.
Luna terkekeh, hanya ada tiga hal yang ditakutkan oleh Arya di dunia ini. Tuhan, ibunya, dan bosnya. Luna mengikuti Arya yang berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan. Pikirannya melayang pada masa tiga tahun lalu saat dirinya juga masih bekerja di perusahaan yang sama dengan Arya. Memang kemampuannya berbeda dengan Arya yang cumlaude dan sering menang lomba desain. Begitu masuk Arya langsung menempati Chief Desainer. Kenaikan jabatannya juga cukup cepat karena prestasi kerjanya yang baik. Lima tahun saja dia sudah menempati posisinya sekarang. Arya itu memang monster. Namun seandainya Luna bisa bertahan di sana, apakah hari ini nasibnya akan berbeda?
"Kalau seumpama aku nggak resign, menurutmu sekarang jabatanku apa?" tanya Luna.
Arya tampak berpikir sejenak. "Senior Desainer?" ucapnya.
Luna mendengus kesal. "Kamu pikir aku separah itu? Lima tahun cuman naik satu tingkat aja!" geramnya.
"Masalahnya bukan pada kemampuanmu, tapi standar si bos yang terlalu tinggi. Kriteria kenaikan jabatan bukan berdasar masa kerja, tapi kinerja dan prestasi kerja. Bahkan sejauh ini Audy masih di Junior Desainer," ungkap Arya.
Luna terdiam. Suasana hatinya berubah buruk begitu mendengar nama mantan sahabatnya itu.
"Kenapa kamu sebut-sebut nama dia sih," keluh Yuna.
"Maaf," ucap Arya. "Dan sepertinya aku harus ngundang dia juga di walimahan kita nanti."
Luna tertegun. Gadis itu tak punya pilihan selain mengangguk.
"Ok! Undang saja dia!" seru Luna tiba-tiba jadi semangat. "Akan kutunjukan padanya bahwa setelah dia menghancurkanku aku telah bangkit lagi dan jadi lebih bahagia!" tegas Luna sembari mengacungkan tinju ke udara.
Mendadak Luna mengapit lengan Arya dengan mesra. "Ayo, suamiku," ucapnya.
Arya tersenyum kecil. "Ya, istriku."
***