“Hamil? Ini nggak mungkin!” Evelyn membekap mulutnya dengan tangan gemetar. Matanya terpaku pada dua garis merah yang jelas terlihat pada alat tes kehamilan di tangannya. Lututnya terasa lemas, membuat tubuhnya hampir terjatuh. “Jadi … aku nggak mandul?”
Beragam pertanyaan segera memenuhi isi kepala Evelyn pada saat itu juga. Jika dirinya tidak mandul, berarti … Rayyan? Benarkah suaminya yang selama ini tidak bisa memberikan keturunan?
Beberapa hari ini, Evelyn memang selalu merasa mual luar biasa setiap kali dirinya bangun tidur. Hal itu membuat dirinya memberanikan diri untuk menggunakan alat tes kehamilan pada pagi itu. Dua garis merah menunjukkan bahwa dirinya positif hamil. Evelyn mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat. Ia meletakkan test pack di wastafel dan kemudian menatap pantulan dirinya di cermin.
Tanpa terasa, buliran air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Bukan karena terharu, bukan. Tapi karena Evelyn tahu jika bayi yang hadir di dalam perutnya saat ini bukanlah anak Rayyan, suaminya.
“Apa yang harus aku lakukan?” suaranya hampir pecah. Evelyn mengusap wajahnya kasar, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berlalu. Namun dua garis merah itu tetap ada di depannya.
Saat kepanikan menyerangnya, suara ketukan di pintu segera menyadarkan semua lamunannya. “Evelyn, kamu di dalam?”
Evelyn langsung panik. Ia meraih test pack itu dengan tangan gemetar dan menatapnya sekali lagi sebelum buru-buru membuangnya ke tempat sampah. Ia memastikan benda itu tertutup oleh tisu agar tidak terlihat. Jantungnya berdegup kencang, rasanya seperti akan meledak kapan saja. "Mas Rayyan nggak boleh tahu," gumamnya panik. “Dia nggak boleh tahu.”
Setelah merapikan diri, Evelyn memasang wajahnya dengan senyum kembali, tak ingin membuat Rayyan—suaminya curiga. Perlahan, ia membuka pintu kamar mandi. “Aku sudah selesai, Mas. Kamu mau mandi?”
“Iya, Sayang. Kamu sudah mandi?” tanyanya.
“Belum, Mas,” jawab Evelyn singkat.
“Mau mandi bareng?” tanya Rayyan dengan nada menggoda. “Ayolah, Sayang.”
Rayyan mulai menarik tubuh Evelyn dan memeluknya erat. Beberapa kecupan ia daratkan di beberapa bagian wajah istrinya.
“Aku … aku siapkan sarapan dulu, Mas.” Evelyn melepaskan pelukan Rayyan secara perlahan, mencari alasan agar bisa meredam jantungnya yang berdetak keras saat ini.
Rayyan pun hanya bisa tersenyum dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Evelyn, ia turun ke bawah, menyiapkan sarapan dan juga secangkir kopi untuk suaminya.
“Bagaimana bisa, sabun habis dan Evelyn nggak tahu,” ucap Rayyan pelan yang kemudian membuang sisa sabun kecil ke dalam tempat sampah.
“Ev—” Suara Rayyan terhenti, kedua matanya memicing ketika Ia melihat ujung sebuah benda kecil mencuat di antara tisu yang terlihat belum lama dibuang. Penasaran, Rayyan mendekat dan membungkuk.
Ia menggerakkan tisu itu perlahan dengan ujung jari, hingga akhirnya benda itu terlihat jelas. Sebuah test pack. Dua garis merah menyala di permukaannya membuat napasnya tertahan. Ia berdiri kaku selama beberapa detik, memastikan apa yang dilihatnya bukanlah mimpi.
“Evelyn… hamil?” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Rasanya tak percaya jika apa yang dilihatnya itu adalah nyata. Namun, perlahan bibirnya mulai melengkung membentuk senyum, dan dari sudut matanya, ada lelehan air mata yang keluar.
Segera setelah itu, Rayyan keluar dari kamar mandi dengan test pack di tangannya. Ia berjalan menuju ruang makan, tempat Evelyn sedang duduk sambil menyesap teh hangat.
“Evelyn …,” panggil Rayyan dengan suara bergetar. Ia menghampiri Evelyn, duduk di sebelahnya, lalu menunjukkan test pack itu. “Kamu hamil?”
Wajah Evelyn seketika memucat. Berbagai pikiran bercampur aduk di dalam kepalanya. Haruskah ia mengaku sekarang? Tetapi ketika melihat raut wajah Rayyan yang penuh kebahagiaan, lidahnya terasa kelu. Ia hanya bisa menatap test pack itu tanpa mampu berkata apa-apa. “A-aku ....”
“Kamu lihat ini, Sayang? Kamu hamil!” ulang Rayyan dengan penuh semangat. Ia meraih tangan Evelyn dan menggenggamnya erat. “Aku nggak tahu harus bilang apa, Lyn. Kamu memberikan … apa yang selama ini kita nantikan.”
Evelyn memaksakan senyumnya, meski hatinya seperti dihantam batu besar. “I-iya, Mas. Aku juga nggak percaya kalau—”
“Kenapa kamu nggak kasih tahu aku, Lyn?” potong Rayyan cepat.
“Mas, maaf.”
Rayyan tertawa kecil mendengarnya, matanya berkaca-kaca. “Kamu tahu? Aku selalu berdoa supaya kita bisa punya anak. Sekarang, doaku terkabul. Kamu nggak tahu betapa bahagianya aku.”
Evelyn menunduk, air matanya mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. Namun, ia segera menyeka air matanya sebelum Rayyan menyadarinya. “Aku juga senang, Mas.”
Rayyan memeluk Evelyn erat, tanpa menyadari gejolak batin istrinya. “Mulai sekarang, kamu nggak boleh capek, ya? Aku akan jaga kamu dan bayi kita sebaik mungkin.”
Evelyn hanya bisa mengangguk. “Iya, Mas,” gumamnya lemah. Namun, hatinya tengah bergumul dengan rasa bersalah yang tak terkatakan. Dadanya terasa sesak melihat Rayyan.
“Baiklah, Sayang. Aku akan segera memberitahu kabar baik ini sama Mami dan juga Oma. Mereka pasti akan senang mendengar berita ini. Aku siap-siap dulu, Lyn.” Rayyan mengecup kening istrinya itu dengan lembut sebelum kembali ke kamar dan bersiap-siap.
Masih terbayang dalam benak Evelyn di mana dirinya selalu disudutkan oleh ibu mertua dan keluarga besar Rayyan. Lima tahun usia pernikahannya dengan Rayyan. Namun, selama itu pula Sarah—ibu mertuanya, menganggap jika Evelyn mandul. Tapi sekarang, semua telah terbukti. Evelyn adalah wanita normal, tidak ada yang salah dengan dirinya. Yang salah adalah fakta jika anak itu bukanlah anak Rayyan.
“Terserah, aku sudah lelah. Kali ini, kalian akan bungkam. Jika seorang penerus yang kalian mau, maka akan aku berikan, entah bagaimana caranya,” ucapnya di tengah gejolak perasaan yang berkecamuk di hatinya saat ini.
Evelyn segera meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Dengan cepat ia mencari nama seseorang di sana dan mengirim sebuah pesan.
Evelyn: Kita harus bertemu!
Tak perlu menunggu lama, sebuah balasan pun masuk.
Pria: Sekarang? Nggak bisa dong, Sayang.
Evelyn menggenggam ponselnya erat-erat, matanya terus menatap balasan yang baru saja masuk. Jari-jarinya bergerak cepat, membalas dengan kalimat yang penuh tekanan.
Evelyn: Penting!
Tak ada jawaban selama beberapa menit. Evelyn hampir saja melempar ponsel itu ke meja ketika sebuah pesan masuk.
Pria: Baiklah, tunggu Rayyan berangkat dulu.
Napas Evelyn terasa berat. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ia tahu pertemuan ini adalah risiko besar. Tepat pada saat dirinya akan mengetik pesan, Rayyan datang dengan pakaian yang sudah terlihat rapi.
“Pesan dari siapa, Sayang?” tanya Rayyan.
Evelyn terpaku di tempatnya. Bagaimana jika Sampai Rayyan melihat pesan-pesan itu? Pesan yang bahkan belum dia hapus.
“Ehm, bukan siapa-siapa, Mas. Aku sedang mencari informasi tentang kehamilan,” jawabnya.
Rayyan menyipitkan kedua matanya dan perlahan berjalan mendekat ke arahnya. Detak jantung Evelyn berpacu semakin cepat saat Rayyan mengambil ponsel itu dari tangannya.