“Bang?”
“Ayah Kia kenapa? Papa Mama mana? Olahraga? Kok Ayah nangis?”
Pelukan erat Kiano – adik sang ibu masih bisa Eldra rasakan. Meski kejadian itu sudah berlalu begitu lama, meski ia tau betul jika apa yang dilihatnya adalah mimpi. Mimpi yang sama, yang selalu menghantui di hari-hari tertentu.
“Ayah jangan nangis. Abang bingung nih.”
Kiano menarik diri, memberi sedikit jarak agar ia bisa melihat wajah keponakan sulungnya yang masih berusia tujuh tahun. Sungguh, dunia ini memang tempat yang paling tak mengenal kata adil.
“Abang ….” Kiano mencoba lagi, suaranya terdengar rendah dan parau. “Papa … sudah meninggal.”
Sejenak, pemilik mata mungil nan jernih itu terdiam tanpa kata. Hingga, lambat laun iris berwarna hazel green itu tampak tergenang, tangisannya pun akhirnya meledak. “Papa dibunuh! Papa dibunuuuh! Papa dibunuuuh!” tangis Eldra sebelum berlari ke kamarnya, meninggalkan sang paman yang hanya mampu mematung.
***
Eldra terbangun dengan napas yang memburu.
“Sayang!”
Ia nyaris terlonjak dari kursinya saat suara Sofi terdengar menyelinap, mengganggu Penny Lane-nya The Beatles yang didendangkan Devan – almarhum ayahnya. Tentu saja, ia belum sepenuhnya sadar dari mimpi buruknya tadi. Lucu bukan? Bisa-bisanya ia tertidur di tempat umum seperti ini. Sementara pelaku yang membuat jantung El berdebar cepat itu justru terkekeh seraya merangkulnya.
“Pasti lagi dengarin suara Papa Devan lagi,” duga Sofi.
Sepasang earbuds di telinga El tanggalkan, ia kembalikan ke dalam kota penyimpan. “Kok kamu sudah di sini?”
Sofi menarik kursi di samping Eldra, duduk di sana sebelum meraih gelas Eldra tanpa sungkan dan menyesap isinya. Sementara sang tunangan mengangkat tangan kanannya, memanggil seorang pelayan.
“Lapar ngga, baby?” tanya El pada Sofi.
“Lumayan,” jawab Sofi seraya ikut-ikutan membaca pdf financial planning yang masih terpampang di layar tablet Eldra. “Pesanin yang biasa aja, sayangku,” jawab Sofi.
“Oke.”
Berselang detik, seorang pelayan pria berdiri di samping meja mereka, menanyakan apa yang kiranya bisa ia bantu.
“Tambah pesanan, Mas. Ice white, add-ons vanilla ice cream. Terus … air mineral satu dan lasagna dua, Makan di sini,” ujar Eldra, tanpa perlu bersusah-susah memindai ulang kode QR yang terpampang di setiap meja.
“Itu saja, Bang?”
“Iya, itu saja.”
Sofi menyapukan titik pandangnya ke seantero kafe, seolah memeriksa adakah sesuatu yang berubah dari tempat itu? Sepertinya tidak ada. Wooden slats yang memberi kesan unik kafe ini masih ada di sana. Tata letak meja dan kursi juga tak berubah. Beberapa lukisan yang menjadi hiasan dinding juga tetap sama.
“Nyari detail yang siapa tau berubah?” tanya El seraya menopang wajahnya, titik pandangnya tentu saja lekat ke Sofi. “Mulai bosan ya ke sini, baby?”
“Iya ngga sih, El? Butuh suasana baru kan kita?” balas Sofi. “Coffee shop-nya The Pranata’s ngga bisa gitu mendekat ke kampus aku?”
El tak menggubris pertanyaan terakhir Sofi. Lagipula, kuliah magister kan tak lama, sementara membuka cabang usaha harus dipikirkan masak-masak dari banyak sisi. “Aku janji ya mau jemput kamu di kampus. Kamu bilang selesai sekitar jam dua. Ini ….” Eldra kemudian melirik ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Tengah hari aja belum?”
“Kan cuma konsul tesis, sayang.”
“Kenapa bilang ke aku selesai jam dua?”
Sofi gemas, satu tangannya ia ulurkan, mencubit hidung Eldra. “Dasar posesif!”
“Wajar kan? Katakanlah kamu selesai konsul ternyata jam sebelas. Ke jam dua itu ada tiga jam lho, baby!” Kumat memang, nada suaranya benar-benar menuntut penjelasan. “Tau gitu sih aku tunggu aja tadi.”
“Mau nunggu atau mau eksis nunjukin ke banyak orang kalau aku punya kamu?” balas Sofi.
“Salah?”
“Belum puas juga seantero Ganesha dan Jatinangor tau tentang kita? Terus, sekarang seantero Graha Irama?”
“Pengennya sih di mana aja, Sofiya Elyna Dewantara. Kamu masih ngga sadar juga bentukan kamu kayak apa? Kenapa Papi Ian auto sangar ke aku begitu tau aku falling in love with his first born?”
“Hiiih! Konsul ke Mama April yuk, Eldra Nolan Collins Pranata?”
“Aku normal, baby. Sayangnya aku ke kamu aja yang ngga normal.”
Sofi mendengus keras, lalu keduanya sama-sama terkekeh. Setelahnya mereka saling terdiam, meski senyuman manis masih terukir di wajah masing-masing, dan titik pandang tak saling bergeser. Pasangan itu memang kerap kali melakukan adegan lihat-lihatan, beradu nyali siapa yang lebih dulu salah tingkah.
Matahari siang mulai merangkak naik, dan sinarnya menembus kisi-kisi jendela kafe, menciptakan bayangan halus di lantai kayu. Aroma kopi segar yang baru diseduh bercampur dengan wangi aneka sajian, mengisi udara bak undangan yang tak mungkin ditolak. Suara sendok beradu dengan cangkir, percakapan pelan antar pengunjung, dan musik akustik lembut menjadi latar belakang yang harmonis.
Beberapa meja yang tadinya kosong mulai dipenuhi pengunjung. Sebutlah pasangan muda yang tengah berbagi laptop, seorang pria muda sibuk dengan tablet – sama seperti Eldra sebelum Sofi datang - dan dua temannya yang terkekeh seraya menunjuk menu. Di sudut kafe, seorang barista sibuk menyusun pesanan, gerakannya luwes di balik mesin espresso yang mendesis. Jam makan siang semakin mendekat, dan antrean perlahan terbentuk di depan kasir, diwarnai bunyi langkah sepatu yang ritmis di lantai. Di luar, papan menu yang dihiasi kapur putih menawarkan pasta, burger, dan salad sebagai pilihan spesial hari ini, menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.
Dan akhirnya, Eldra yang kalah. Ia menyandarkan keningnya di bahu Sofi, lalu tergelak.
“Tadinya, aku kira bakal lama,” ujar Sofi. “Terus kan … kupikir jangan-jangan kamu juga baru sampai di kafe, masa sudah balik ke kampus lagi? So, better aku nyusul kan?”
“Ngga!” tanggap Eldra. Sofi menahan tawanya lagi. “Kamu, bikin waktu berduaan kita jadi berkurang. Dan malah kamu isi dengan berduaan sama tukang ojeg! Paham?”
Susah kan ngomong dengan tunangan posesif? Selalu ada celah yang bisa ia temukan untuk mematahkan alibi Sofi.
Untunglah, Sofi terselamatkan dari cecaran tak masuk akal Kesayangannya. Pelayan yang tadi kembali datang, membawakan pesanan mereka. “Selamat makan,” ujar Sofi begitu hidangan tersaji dan pelayan menjauh. “Kita mau stay di sini dulu, pergi ke mana gitu, atau langsung ke makam Papa?”
“River dan Farzan mau ikut ziarah,” tanggap Eldra, merujuk ke dua orang sahabatnya. “Nanti mereka jalan, kita juga jalan, biar sampainya bareng.”
“Farzan sama Reina-tapi-bukan-Teteh?” seloroh Sofi.
“Iya,” kekeh Eldra.
“River?”
“Biasa, sama waifu di dadanya.” Maksudnya tato. “Ngga bener-bener tuh orang, susah perbaikinnya.”
Kini Sofi yang terkekeh. “Aku sampai sekarang ngga pernah ingat nama waifu-nya River.”
“Mai Sakurajima.”
“Cakep banget emang, sayang?”
“Cakep kamulah. Bisa diajak ngobrol, dipeluk, dicium pulak. Makanya aku bilang lama-lama edan beneran si River.”
Kehadiran Sofi selalu membawa rasa tenang bagi Eldra, meski ia sendiri sedang bergulat dengan kekacauan di pikirannya. Setiap kali hari peringatan kepergian ayahnya tiba, mimpi buruk selalu datang. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menyeretnya kembali ke masa lalu. Sofi mungkin tahu Eldra masih berjuang berdamai dengan kehilangan, tetapi ia tak pernah menekan Eldra untuk berbagi lebih dari yang sanggup ia ceritakan.
Meski kafe kecil itu kian ramai dan dipadati para pencari makan siang, El seolah tak terganggu. Saat makanannya habis, begitu pula kopinya, ia akan memanggil pelayan lagi, memesan menu lainnya. Sofi pun tak ingin mengajak kekasihnya pergi. Sofi tau betul jika Eldra butuh waktu untuk menenangkan gemuruh di kepala dan hatinya yang selalu kian bising setiap kali hari kepergian Devan tiba. Eldra masih tak bisa tidur di malam harinya, stres di pagi hari seperti saat ia mendengar berita jika Devan tiada, seringkali tak fokus sepanjang hari, lalu ia akan menangis tanpa suara di pusara ayahnya nanti. Eldra sudah berusaha menerima takdir, namun Sofi masih tak tau apa yang membuat hati Eldra tak kunjung tenang.
“Mama, Papa, dan adik-adik sudah pulang dari makam, sayang,” ujar Sofi. Ia menunjukkan chat yang baru saja Andien – ibunya Eldra – kirimkan.
Betul, Eldra tak pernah mau pergi ke makam Devan bersama keluarganya. Dugaan Sofi, El takut menyinggung perasaan Dirga – ayah tirinya. Meski Dirga sendirilah yang selalu mengingatkan anak-anaknya agar tak pernah melupakan Devan. Dirga paham betul jika dirinya bukanlah ayah pengganti, namun ayah sambung. Baik ia dan Devan, memiliki tempat tersendiri di hati Eldra dan kedua adik perempuannya.
“Hmm,” gumam Eldra. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, saat yang sama kedua sahabatnya memberi kabar di grup chat. “River dan Farzan juga sudah mau jalan.”
“Kita berangkat sekarang?”
“Ayo, baby.”
“Aku ke toilet dulu ya?”
“Oke. Aku bayar bill.”
Keduanya berdiri, melangkah ke tujuan masing-masing. Eldra berdiri di depan kasir, menyodorkan ponselnya untuk membayar tagihan melalui aplikasi dompet digital. Antrian mulai terbentuk di belakangnya, dan suara percakapan pelan dari pengunjung lain bercampur dengan bunyi mesin kasir yang sesekali berbunyi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang masih kalut memikirkan ziarah ke makam ayahnya.
Namun, saat ponselnya bergetar di genggaman, Eldra mengerutkan kening. Sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan dari grup chat atau chat pribadi seperti biasanya, melainkan sebuah SMS—sesuatu yang jarang sekali ia terima, bahkan untuk urusan penting sekalipun.
Pesannya singkat.
Unknown number: Hi, Pinwheels. I know you!
Jantung Eldra serasa berhenti berdetak. Matanya terpaku pada layar. Nama itu. "Pinwheels." Hanya sedikit orang yang tahu nama alter egonya – bahkan hanya River dan dirinya. Tidak mungkin ada orang lain.
Tatapan gugupnya mulai menyapu sekeliling kafe. Matanya berhenti di setiap wajah para pengunjung yang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang mencurigakan. Semua terlihat biasa saja. Tapi benarkah intuisinya kali ini?
Ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua masuk.
Unknown number: Apa boleh aku katakan pada dunia siapa dirimu?
Eldra merasakan gemuruh di dadanya. Suara di sekitar seolah menghilang. Siapa orang ini? Bagaimana ia bisa tau? Eldra mencoba merangkai logika di tengah kepanikannya, namun berbagai kemungkinan jawaban seolah tak mampu menenangkan hatinya.
Saat Sofi kembali, ia menemukan Eldra berdiri mematung, menggenggam ponselnya dengan warna wajah yang memucat.
“El? Sayang, kamu kenapa?” Sofi memegang lengan Eldra, membangunkannya dari lamunan.
Eldra ingin menjawab, namun kata-katanya tercekat di tenggorokan. Untuk kedua kalinya, ia merasa ketakutan. Kali pertama saat ia menyadari Devan tak lagi ada di sisinya, dan kali ini saat bayangan hari-harinya akan kacau jika identitasnya terbuka mengisi penuh relung pikirannya. Tidak hanya karena ancaman yang samar, namun juga rahasia yang selama ini ia simpan serapat mungkin.
---
Notes:
Alter ego merujuk pada sisi lain dari kepribadian seseorang atau identitas lain yang berbeda dari karakter utama seseorang, yang bisa menjadi ekspresi dari keinginan, sifat, atau peran tertentu. Dan bukan merupakan indikasi dari Gangguan Identitas Disosiatif (Dissociative Identity Disorder/DID).