Bagian 7

1604 Kata
DUAARRSebuah ledakan besar terdengar membuat orang-orang berteriak dan berlarian keluar. Para pemain musik pun berhenti karena pihak hotel memerintahkan semuanya untuk segera dievakuasi. Akira dan Antonia yang sama terkejutnya segera mendekati pinggiran rooftop untuk mengecek apa yang tengah terjadi, hingga mereka mendapati gedung tinggi di sebelah mereka sudah ramai dengan orang-orang yang berlarian keluar, pun sirine polisi dan pemadam kebakaran yang terdengar semakin dekat. Para petugas dan pengamanan hotel -termasuk orang-orang Akira yang berjaga di depan pintu keluar rooftop mendekati putri Antonia dan Akira untuk mengawal mereka keluar. Tentu saja mereka harus menjaga kedua orang penting itu di saat kondisi di sekitar mereka sedang panas-panasnya. Akira dan Antonia berjalan dengan cepat keluar setelahnya. Mulai menghubungi siapapun yang mengetahui ledakan yang baru saja terjadi di seberang gedung mereka. "Kau berada di sekitar sini, Dipta?" Antonia menyambungkan panggilannya dengan earphone di telinga dan mulai berbicara saat Dipta berhasil mengangkat panggilannya. "Aku menunggu mu di luar Grand Hotel sejak tadi. Berjaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Surprisingly ada kejadian yang mengejutkan di depan mata ku. Menurut informasi Billy barusan, mereka berasal dari kelompok teroris yang sama dengan yang di cari-cari CIA dan MI6 belum lama ini." "Sial. Apa yang sedang mereka coba lakukan di negara ku." Antonia berdecih sebelum akhirnya melihat Dipta yang sudah melambai kepadanya di antara kerumunan orang yang di depan gedung yang baru daja diledakkan. "Aku akan menghubungi mu lagi, Dip. Pinta Billy dan orang-orangnya untuk melacak mereka, mengerti? Aku akan kembali ke markas secepatnya." ujar Antonia, sebelum dia memutus panggilannya dan meninggalkan Dipta yang mulai mendekati kepolisian karena sejatinya dia adalah bagian dari mereka pula. Antonia masuk ke dalam mobil Akira dan duduk di sebelah pria itu sebelum kendaraannya maju dengan cepat. Melewati jalan yang mulai ramai didatangi pasukan pengamanan. *** Billy dan anggota kelompok yang lain tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya setelah peristiwa pengeboman terjadi. Matanya masih saja lekat memandangi layar laptop di hadapan mereka dengan jari-jari tangan yang bergerak cepat. "Sebelum melakukan pengeboman mereka sempat berkomunikasi lewat ponsel. Kita hanya perlu menemukan IP addressnya dan mulai melacak dari sana sebelum mereka semakin jauh." Billy bersuara membuat beberapa yang lain mengangguk patuh dengan ucapannya. Dipta sendiri hanya berdiri di kursinya sambil menatap jendela yang sejak tadi terbuka. Berjaga-jaga di sana sekaligus menunggu kedatangan Antonia di sana. "Dip, kau mendengar sesuatu dari kepolisian tadi?" Evander datang dengan segelas kopinya, terlalu santai untuk ukuran anggota yang berada di dalam markas ini karena nyatanya keahliannya memang bukan dalam urusan kejar mengejar seperti kasus kali ini. Evander adalah salah satu dokter berbakat yang menurut informasi orang-orang -dia bekerja dibawah naungan dunia bawah. Menjadi dokter dari kelompok-kelompok seperti Yakuza, di samping pekerjaan awalnya sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit ternama di Tokyo. "Tidak. Kau tahu benar bahwa kepolisian di negara manapun hanya lah sebuah lelucon bagi masyarakatnya. Di banding mengusir kejahatan dan mengetahui informasi-informasi seperti itu, mereka lebih memilih berdiam diri dan menunggu telpon yang masuk. Satu-satunya yang bisa ku percayai hanya Angkatan Udara yang memiliki koneksi luas, dan juga kelompok ini. Maka dari itu aku memilih bergabung di sini dari pada menjadi satpam kantor yang tak ada gunanya." Evander tertawa kemudian menepuk pundak Dipta pelan. "Kalau begitu kau pasti senang mendengar yang satu ini." Evander bersender di punggung kursi kemudian menyesap kopi hangatnya sebelum mulai bersuara. Dipta tentu saja memasang telinganya benar-benar, karena bisa jadi informasi dari Evander ini akan membuka matanya. "Seseorang mengatakan kepada ku bahwa kelompok teroris itu masuk ke Tokyo dengan bantuan orang kerajaan. Kau tahu sendiri penjagaan di luar sedang ketat kan karena lock down yang dilakukan di seluruh negara. Tebakan ku kali ini adalah mereka melakukannya karena perselisihan yang terjadi di dalam istana. Mereka mungkin saja sengaja melakukannya untuk membuat Antonia mengalihkan perhatiannya dengan membuat situasi genting, karena kita semua tahu betapa kerasnya perempuan itu untuk menjaga keamanan Jepang." Dahi Dipta mengerut kemudian dia menatap Evander dengan raut serius. "Jika benar maka mereka telah mempertaruhkan resiko yang besar untuk tahta bukan?" pria itu menggeleng tak percaya ketika melihat kedua bahu Evander yang mengisyaratkan 'mungkin saja'. "Hah, sial. Kalau begitu mereka jauh lebih licik dari pada rencana yang telah Antonia buat." "Sebaiknya kau cari tahu terlebih dahulu kebenarannya sebelum memberitahukan kepada Antonia. Kau tahu sendiri emosi perempuan itu selalu meledak-ledak. Jalan satu-satunya adalah dengan mengarahkannya secara perlahan, tanpa Antonia sadari. Kemudian, jika kenyataannya memang seperti itu, maka ini bisa menjadi kunci kita untuk membantu Antonia selanjutnya. Karena alasan sebesar ini cukup membuat partai-partai di istana mempertimbangkan keputusan mengenai pemindahan kekuasaan dari calon pewaris tahta." "Karena salah satu pihak melakukan kecurangan?" sahut Dipta yang membuat Evander mengangguk pelan. "Karena posisinya sudah sangat parah. Secara tidak langsung mereka telah membuat Jepang memasang zona merah karena kedatangan teroris yang paling berbahaya di dunia. Ini bisa menjadi kekuatan terbesar Antonia." *** Antonia masih saja duduk di dalam ruang rapat di mana para petinggi partai dan anggota kerjaan termasuk dirinya, Alessio dan ibunya duduk. Memperhatikan ocehan-ocehan pria yang  sejak tadi terus menuturkan kalimat seperti penyelesaian konflik dan semacamnya, namun belum juga mencapai titik terang hingga saat ini. "Langsung ke inti saja. Apakah berdiri di depan kita semua selama berjam-jam di sini bisa membuat mu kehilangan posisi sebagai politisi yang membosankan?" Antonia bersikap tidak perduli sekalipun dia berada di ruangan yang di penuhi oleh orang-orang penting. Sibuk mengayun-ayunkan kursi putarnya ke sana ke mari dengan decakan kesalnya. "Orang-orang seperti mu itu yang akan selalu di hujat rakyat karena tidak pernah berkontribusi dalam menyalurkan suara mereka. Hanya kalimat-kalimat busuk tanpa adanya tindakan. Berencana sebanyak mungkin, namun hanya berakhir di website pemungutan suara." Suasana di dalam ruangan tentu saja menjadi ricuh karena ucapan Antonia barusan. Banyak orang yang menyayangkan ucapannya. "Memang wanita seharusnya tidak perlu terjun ke dalam pemerintahan seperti tuan puteri ini. Benar-benar mengganggu." Alessio bersuara, membuat Antonia menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Apakah kau tidak punya sopan santun sama sekali? Berfikirlah sebelum mengatakan apapun." "Untuk apa aku menunjukan sopan santun ku di depan politikus-politikus ini? Sudah cukup aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka menerima suap dengan bingkisan buah." Antonia mendengus tak percaya. Sedangkan yang merasa tersindir mulai berdehem karena mendadak tenggorokannya terasa tidak nyaman. "Apakah cara kuno itu masih berjalan di lingkungan kita? Ah.. yang benar saja. Jika aku bisa maka aku akan memotong lidah kalian satu persatu sekarang juga. Sepertinya sangat menyenangkan melihat lidah yang penuh dosa itu tergeletak di lantai rumah kalian masing-masing." Perselisihan kedua saudara itu tak terelakan. Semuanya terjadi sejak mereka mengenal bagaimana sistem kekuasaan dan pemerintahan berjalan di dalam istana. Dan kali ini bisa dibilang sebagai gencatan senjata terbesar, mengingat bahkan keduanya tidak lagi mengejek satu sama lain dengan cara kekanakan. Jauh lebih dalam, keduanya sudah lebih-lebih dari musuh yang ingin membunuh satu sama lain. "Apakah itu adalah respon mu karena merasa tidak berguna menjadi calon penerus, Alessio? Apa kau begitu iri karena suara ku selalu di dengar rakyat dan orang-orang yang memiliki otak, karena aku selalu mementingkan negara ini dibandingkan pria yang hanya bisa bersenang-senang di dalam istana seperti mu?" Dahi Antonia mengerut, menatap kakak satu-satunya itu dengan tatapan tajam yang di balas dengan perlakuan yang sama. Antonia mendengus keras. "Buktikan lah apa yang bisa kau lakukan sekarang agar untuk menghentikan ancaman di dalam negara agar semua orang bisa mempercayai mu. Di samping itu, aku juga akan berusaha semakin keras agar tidak akan ada banyak orang lagi yang tertipu dengan seluruh tipu muslihat mu." Lagi-lagi, Ivanka hanya bisa menatap putra dan putrinya tersebut dengan tatapan sedih. Karena dirinya kehilangan jati dirinya untuk bisa membuat keduanya bersatu seperti saudara yang semestinya. *** Billy berjalan mendekati Dipta yang masih sibuk dengan panggilan-panggilan di ponselnya. Membuat pria yang di tunggu segera menghentikan pembicaraannya dan menutup telponnya cepat. "Bagaimana? Kau sudah menemukan letak persembunyian mereka?" tanya Dipta penasaran. "Kemari lah, ada yang ingin ku tunjukkan." Dipta kemudian segera mengikuti Billy dari belakang, menuju rombongan anggota IT Billy di meja panjang di markas mereka tersebut. "Dean menemukan titik-titik kecil di Distrik Abuta, Hokaido. Dan perkiraan ku sepertinya banyak dari mereka yang bersembunyi di sana karena wilayahnya cukup jauh dari keramaian dan lokasinya sedingin es untuk di lewati masyarakat umum." jelas Billy. "Benar-benar." Dipta berdecak tak percaya. "Mereka bahkan sudah berjalan sejauh ini hanya dalam beberapa hari?" Billy menggeleng pelan kemudian menunjukkan titik-titik yang menampilkan waktu perjalanan seseorang. "Sepertinya kelompok besar tersebut sudah cukup lama berada di Abuta dan sengaja membangun persembunyian mereka di sana. Beruntungnya salah satu orang bodoh yang menjadi pelaku pengeboman hari itu mengaktifkan ponselnya sekitar 2 jam sekali untuk menghubungi rekannya. Dari perbincangan mereka lah kami akhirnya mendapatkan titik-titik yang jauh lebih besar di sana." jelas Billy yang membuat Dipta mengangguk. "Kalau begitu berarti kita harus menghubungi kerajaan untuk mengunci wilayah Abuta?" "Ini adalah cara yang paling efektif sejauh ini. Namun penduduk lokal bisa saja terancam karena keputusan yang kita ambil." "Tak ada cara lain. Aku juga akan memberi-tahukannya kepada Antonia, perempuan itu pasti juga menyarankan hal yang sama. Sebisa mungkin kita minimalisir korban yang berjatuhan dari rakyat sipil. Namun jika tidak bisa, tetap harus kita melepaskannya. Satu wilayah kecil setidaknya dapat menyelamatkan seluruh wilayah di Jepang." Dipta berjalan menuju salah satu sofa dan mengambil jaket kulitnya untuk di pakai. "Lalu kau akan kemana?" Billy terlihat kebingungan. "Mencari Antonia." balas Dipta enteng. "Kalian semua bersiap-siap lah dengan anggota kalian masing-masing." Dipta mengalihkan pandangannya kepada seluruh anggota di markasnya yang sudah menghentikan pekerjaan mereka dan menatapnya. "Sepertinya setelah ini kita akan melakukan pekerjaan yang sangat besar. Mari kita kejar kelompok itu bersama-sama." "Ya!!" Seruan penuh semangat itu terdengar, membuat Evander yang hanya memperhatikan di balik mejanya sejak tadi bergerak untuk menunjukkan kedua jempolnya tanda 'kau telah melakukan pekerjaan yang baik'. "Hubungi aku jika terdapat masalah!" *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN