Baru kali ini Damian merasa jantungnya berdegup keras saat sudah berada di depan pagar rumah mertuanya di Pekalongan. Dia tidak pernah setegang ini, apalagi setiba di depan teras, dia sudah bertemu pak Poer yang sedang duduk-duduk bersama beberapa orang, dan kebetulan pula ada ayah Agung, kakek Mardi. Damian merasa dirinya benar-benar terpojok dan dunianya seperti hendak runtuh. Tapi apa boleh buat, dia harus menghadapi masalahnya, yang tidak berterus terang tentang hadirnya seorang gadis yang mengaku sebagai anak kandungnya. Poernama tampak terkejut melihat kedatangan menantu kesayangan. Dia sampai berdiri dan berjalan menghampiri Damian. Sikap Poer lumayan membuat Damian lebih tenang. “Astaga, Damian. Ada angin apa kamu ke mari? Nggak bilang-bilang dulu. Wenny, bilang sama bibi Laras