Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waktu berkunjung sudah habis. Retno dan Siska pun berpamitan pada Melvin untuk undur diri. “Kita pulang dulu, ya. Lain waktu akan kemari lagi,” ucap Retno yang diangguki oleh Melvin. “Iya, Ma. Kalau kemari jangan lupa bawa Reno juga. Aku kangen sama dia, dan jangan lupa kasih tahu rencana Mama,” sahut Melvin. “Ok.” Retno memeluk erat tubuh anak sulungnya seraya berbisik, “Tenang, Nak. Kita akan buat hidup mereka nggak tenang dengan cara yang halus. Nggak perlu terburu-buru. Pokoknya pelan, tapi pasti mereka akan merasakan penderitaan seperti yang kita alami saat ini.” Melvin tersentak mendengar penuturan sang ibu. Dia tak menyangka kalau ibunya pun menyimpan bara dalam hatinya. “Iya, Ma. Semoga rencana Mama bisa berhasil,” bisik Melvin. Tanpa Retno dan Melvin sadari, Siska sempat men