Langit malam Jakarta memancarkan cahaya redup, membias dari gedung-gedung tinggi yang menjulang, seolah menyaksikan rahasia yang tersembunyi di balik tirai tebal sebuah kamar presidential suite. Di sana, di antara aroma bourbon yang menguar dan wangi mawar hitam yang melekat pada kulit Dara, hasrat mengalir tanpa kata, hanya melodi yang tertinggal di udara.
“Shhh... pelan...... Nghhh…..”
Keringat perlahan menetes dari pelipis pria itu, meluncur ke leher Dara seperti tetes hujan yang menyentuh tanah kering. Cahaya lampu kota yang samar membingkai siluet tubuh mereka, bergerak dalam irama yang tak terucap. Dia, seorang pria dengan dunia di genggamannya, kini terperangkap dalam momen yang merampas kendalinya—mabuk bukan oleh alkohol semata, tetapi oleh wanita yang gemetar di bawahnya.
Desahan Dara menggema pelan, berpadu dengan tarikan napas berat pria itu, menciptakan simfoni rahasia yang memenuhi setiap sudut ruangan. Seprai sutra yang kini kusut dan basah oleh keringat mereka menjadi saksi keintiman yang tak mungkin dilupakan. Jari-jemari Dara mencengkeram punggung pria itu, meninggalkan jejak keputusasaan yang begitu dalam, seolah waktu berhenti hanya untuk mereka berdua.
Di saat itu, mereka bukan lagi dua individu, melainkan api dan angin, menyatu dalam tarian yang membakar semua batas.
Sampai napas melemah.
Sampai suara berubah serak.
Sampai tubuh kehilangan daya untuk bergerak.
Tidak ada janji. Tidak ada ikatan. Hanya malam yang menyimpan semuanya.
Bukan tanpa alasan Dara menjual tubuhnya. Aggia, Ibunya didiagnosis menderita kanker ovarium stadium lanjut. Dalam kasus Ibunya, kanker telah menyebar ke rongga perut, menyebabkan akumulasi cairan (asites) yang membuatnya kesulitan bernapas dan bergerak. Perawatannya membutuhkan kombinasi kemoterapi agresif, imunoterapi, dan beberapa kali tindakan pembedahan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
“Ibu kamu harus dipindahkan ke Bellavue Medical Center, rumah sakit dengan teknologi terbaik untuk menangani kasus kompleks seperti ini.”
Rumah sakit yang dimaksud sangatlah mahal, dan Dara hanyalah mahasiswa semester akhir jurusan Desain Komunikasi Visual yang tidak punya banyak tabungan. Membuat Dara terpaksa menerima tawaran Mami Chiki, pemilik klab tempat Dara bekerja. Hal mengejutkan terjadi. Saat Dara menunggu di dalam kamar hotel yang disiapkan Mami Chiki, ternyata sosok yang masuk adalah pria mabuk yang Dara ingat pernah membantu dirinya dan sang ibu saat ditolak rumah sakit.
Maka malam itu, Dara serahkan dirinya dan turut menikmati, membiarkan pria mabuk itu mengambil semuanya. Sampai dini hari menjelang, barulah mereka selesai. Sebelum pergi, Dara sempatkan meraih dompet pria itu untuk membebeaskan rasa penasarannya. “Jedidah.” Dara menggumamkan nama pria yang tertera dalam KTP.
“Aku pergi dulu, Om. Ibu aku harus pindah rumah sakit,” lanjutnya segera turun dari ranjang, meninggalkan kekacauan itu untuk memindahkan ibunya ke rumah sakit yang lebih baik.
Setelah kejadian itu, Dara selalu ditawari Mami Chiki untuk menerima tawaran yang lain.
Dara hampir saja tergoyah karena kebutuhan uang. Sebab sebulan berlalu, uang hasil menjual diri itu mulai habis. Ternyata rumah sakit mahal itu membutuhkan biaya besar tiap minggunya. Padahal Dara punya pekerjaan paruh waktu lebih dari lima, tapi tidak bisa menutup kebutuhannya.
Belum lagi kontrakan yang menunggak. Ceklek. “Sial, harus gimana lagi ini?” gumamnya sembari membuka pintu kontrakan.
“Malem banget kamu pulang,” ucap sebuah suara yang mengagetkan Dara.
“Ngapain anda disini?” Tanya Dara pada sosok nenek tua yang duduk di ruang tamu. Ani, namanya. “Gak sopan masuk rumah orang sembarangan.”
“Rumah? Bukannya ini gubuk?” wanita itu berdiri dibantu tongatnya. “Saya membayar tunggakan enam bulan lagi, jadi diizinkan masuk oleh mereka.”
“Mau apa kesini?”
Ani ini dulunya dipanggil Nenek oleh Dara hingga usia lima tahun. Sampai Kakeknya meninggal, fakta mengejutkan pun terkuak. Bahwa Aggia bukanlah anak yang lahir dari Rahim Ani, Aggia adalah anak hasil perselingkuhan Kakeknya bersama wanita diluar sana.
Kematian sang kakek meledakan amarah Ani yang selama ini ditahan, dia pun mengusir Dara dan kedua orangtuanya yang selama ini dianggap beban. Ayahnya Dara pun menunjukan sifat aslinya setelah diusir, dia mulai mabuk-mabukan, judi, dan berselingkuh hingga pergi meninggalkan Dara dan ibunya dengan setumpuk hutang.
Ani melemparkan setumpuk uang ke meja dari tasnya, membuatnya berserakan. “Jadi ibu pengganti untuk anaknya Zarin, dan saya akan bantu pengobatan Aggia.”
Dara tertawa hambar. “Cari orang lain, gak sudi saya membantu kalian.”
“Yasudah, saya cuma berusaha membantu kamu.” Ani melangkah dan berhenti tepat disamping Dara. “Mustahil kamu menghasilkan uang ratusan juta dalam satu bulan.”
Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Dara dengan uang yang berceceran di lantai.
****
“Siapa yang jamin kalau dia bakalan nurut? Bakalan berada di bawah kendali kita?”
Pertanyaan itu meluncur dari wanita 31 tahun, Zarin, seorang selebgram yang memiliki banyak kesibukan. Bahkan pencarian ibu pengganti saja oleh keluarganya.
“Nenek kamu yang jamin,” jawab Ibunya. “Kita sekeluarga gak rela kalau si Dara itu menerima uang warisan Kakek begitu saja, seenggaknya ada yang bis akita manfaatkan darinya.”
“Taruhannya kehidupan aku loh, Ma. Ibu mertua aku itu ganas, dia sampe bilang blak-blakan bakalan nyari istri muda kalau sampai aku gak kasih mereka cucu,” ucap Zarin frustasi.
“Hanya karena kamu punya kontrak dengan brand diluar sana, tidak membuat kamu lupa kewajiban. 10 tahun anak saya digantung, dan setelah menikah pun kamu belum benar-benar siap berkeluarga. Kalau memang masih suka bermain kesana-sini, biar saya carikan istri muda untuk anak saya.”
Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Zarin, dirinya terjepit antara Impian dan juga kewajiban sebagai seorang istri.
“Justru karena dia adalah Dara, Zarin. Dia orang paling cepat yang bisa kita dapatkan, dan kita kendalikan dengan ibunya. Setidaknya buat mertua kamu bungkam dulu,” ujar Ibunya meyakinkan.
TOK! TOK! TOK!
“Non Zarin, Nyonya Besar mengatakan semuanya sudah siap,” ucap pelayan diluar sana.
Sekali lagi Ibunya meyakinkan, membuat Zarin keluar kamar menuju ke ruang tamu dimana Neneknya bersama dengan Dara yang sudah siap.
“Kamu baca setiap detail surat perjanjiannya ‘kan?”
“Sudah, Mbak.”
“Ingat kalau kamu macam-macam, ibu kamu akan mati.”
Namun untuk kali ini, Dara yang mengutuk keluarga Prajogo sebelumnya itu akhirnya kembali kesini dengan tertunduk dan melayani mereka.
Di sisi lain, restoran mewah itu dipenuhi cahaya redup yang memantul dari gelas-gelas kristal dan peralatan perak yang tertata sempurna. Di dalam private dining room, seorang pria duduk dengan rahang mengeras, jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme yang hampir tidak terdengar.
Jedidah, CEO Leviathan Timepieces, merek jam tangan mewah yang mendominasi panggung haute horlogerie, terbiasa mengendalikan waktu—tetapi malam ini, dialah yang terjebak di dalamnya.
Pintu terbuka tanpa peringatan, dan langkah kaki berderap memasuki ruangan.
“Mama?”
Rahayu, anggun dalam kebaya gading dengan selendang sutra menjuntai di bahunya, melemparkan pandangan tajam sebelum duduk di kursi dekat jendela.
“Kapan Mama datang?”
Rahayu menyandarkan punggung, nada suaranya tenang tapi tegas. “Ibunya Zarin bilang mereka sudah menemukan ibu pengganti untuk anak kamu. Jadi, Mama datang untuk melihat sendiri seperti apa perempuan itu.”
“Ma, biar ini jadi urusan aku sama Zarin dulu.”
“Urusan kamu?” Tatapannya menajam. “Jangan lupa, ini juga cucu Mama. Mama berhak tahu siapa wanita yang bakal mengandung dia.”
Kening Jedidah berkerut, namun dia tidak membalas. Rahayu selalu seperti ini—tegas, dominan, dan tidak pernah menerima jawaban ‘tidak’. Sementara Jedidah meneguk anggurnya dengan diam, Rahayu mulai berbicara lagi, kali ini mengomentari Zarin, menumpahkan kekecewaan yang sudah lama ia pendam. Hingga—
Tok. Tok. Tok.
Pintu diketuk, lalu didorong terbuka.
Udara seketika terasa lebih berat.
Mata Jedidah terangkat, dan yang pertama kali ia lihat adalah Zarin, berdiri dengan sikap biasa, tanpa mengetahui badai yang akan segera menerjang.
Tapi lalu...
Dara.
Langkah wanita itu terhenti di ambang pintu. Wajah Dara pucat, matanya membesar seolah melihat hantu. Sementara itu, napas Jedidah tertahan. Rahangnya mengeras, dan untuk sesaat, dunia seperti berhenti berputar.
Dia mengenalnya.
Meskipun kenangan itu buram, meskipun malam itu terasa seperti ilusi, otaknya seketika menyusun kembali potongan-potongan yang berserakan selama ini.
Peluh yang membasahi kulit.
Desahan yang memenuhi malam.
Jari-jemari yang mencengkeram punggungnya.
Darah di seprai sutra.
Mata mereka bertemu—dan dalam sekejap, kebenaran menghantam seperti petir yang membelah langit.
Wanita yang satu bulan lalu ia tiduri dalam keadaan mabuk...
Wanita yang membuatnya mengkhianati Zarin...
Wanita itu kini berdiri di hadapannya sebagai ibu pengganti anaknya.
Dara membeku, sangat terkejut.
Sementara Jedidah… hanya bisa menatapnya, dengan satu pikiran mengerikan yang berkecamuk di benaknya:
Sial.