Gadis Milik Om Duda

Gadis Milik Om Duda

book_age18+
1.2K
IKUTI
10.4K
BACA
love-triangle
HE
system
confident
boss
drama
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Jasmine harus rela menikah dengan lelaki yang berstatus duda, memiliki wajah buruk rupa akibat mengalami kecelakaan, dan juga memiliki perangai yang kasar atau tempramental. Pernikahan itu dilakukan Jasmine untuk melunasi hutang-hutang kedua orang tuanya. Bagaimana kehidupan rumah tangga Jasmine yang diawali dengan keterpaksaan dan tanpa rasa cinta? Apakah rumah tangganya penuh dengan kebahagiaan atau justru penderitaan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Satu Syarat
“Lusa kita harus meninggalkan rumah ini dan sementara waktu, kamu … jangan kuliah dulu!" Seorang pria bernama Haris terdengar penuh keraguan menyampaikan kabar itu pada putrinya. Sebenarnya ia sudah mengupayakan segala cara untuk bisa menebus utang-utangnya pada teman sekaligus rekan kerjanya – Benjamin Khaled. Namun sayang, sampai tenggat waktu yang diberikan oleh Benjamin, Haris masih tak bisa melunasi utang tersebut. Mendengar hal itu, Jasmine Antonio – putri tunggal Haris Antonio dan Liana Gernia merasa sangat terkejut. Bukan hanya kehilangan rumah, tetapi sang ayah juga memintanya untuk berhenti kuliah. “Kenapa kita harus meninggalkan rumah dan kenapa juga Papa melarang aku kuliah?" Haris menatap Jasmine penuh keraguan. Ragu apa ia bisa mengatakan dengan sejujurnya soal permasalahan yang tengah membelit hidupnya. "Pah, jawab! Kenapa Papa malah diam aja?" Jasmine kembali mengulang pertanyaannya saat sang ayah malah tertunduk, seolah ragu menatapnya. "Sudah, Pah, sebaiknya kita ceritakan saja! Jasmine juga berhak tahu alasannya." Sambil mengusap lengan suaminya, Liana yang melihat Haris masih terdiam pun coba meyakinkan pria paruh baya itu. "Tapi, Mah …." "Udah, ceritain aja, Pah! Jasmine pasti ngerti." Haris pun kembali melihat Jasmine yang masih menunggu jawaban. Sebelum menceritakan pada putrinya, Haris terlihat mengembuskan napas dengan kasar. Ada perasaan bersalah yang mengusiknya, mau bagaimanapun, sebenarnya ia tidak mengharapkan masalah itu akan terjadi. Ya, Haris benar-benar salah perhitungan dalam bisnisnya hingga tak mampu mengembalikan uang yang ia pinjam dari Benjamin. “Sebelumnya Papa minta maaf sama kamu karena selama ini nggak cerita. Tadinya Papa pikir, Papa bisa menyelesaikan masalah ini sebelum tenggat waktunya, tapi pada kenyataannya, perhitungan Papa meleset. Jadi, mau tidak mau, kita harus meninggalkan rumah karena rumah ini sudah bukan milik kita lagi." "Memangnya masalah apa, Pah?" "Papa … terlilit hutang. Perusahaan Papa bangkrut, Jasmine. Papa kalah tander dan ditipu sama salah satu partner kerja Papa. Semua itu terjadi bertepatan dengan tenggat waktu yang diberikan pak Benjamin agar Papa melunasi utang-utang Papa." "Pak Benjamin …?" Nama itu tidak asing terdengar di telinga Jasmine. "Apakah kamu masih ingat sama pak Benjamin?” Jasmine mengangguk cepat sebagai jawaban atas pertanyaan Haris. "Pak Benjamin sudah tidak mau memberikan pinjaman lagi untuk perusahaan Papa. Bahkan dia juga meminta Papa untuk segera membayar uang yang sudah lama Papa pinjam. Sebenarnya di satu sisi dia adalah seorang penyelamat. Utang-hutang Papa pada beberapa orang sudah dilunasi olehnya dan sekarang ... dia meminta Papa untuk mengembalikan semua uang yang sudah Papa pinjam. Maafkan Papa karena harus menceritakan masalah ini sama kamu.” Penuturan Haris membuat Jasmine menelan salivanya dengan kasar. Tak dapat terbayangkan jika Jasmine dan kedua orang tuanya sampai jatuh miskin. Bagaimana dengan kuliahnya? Jasmine ingin kuliah. Ia ingin menjadi seorang desainer ternama seperti yang sudah dicita-citakannya sejak kecil. “Pah, apa tidak ada jalan keluar lain? Apakah ki-kita tidak lagi punya lagi aset lain yang bisa dijual selain rumah?” Dengan terbata-bata Jasmine bertanya. Haris pun menggelengkan kepala sebelum menjawab, “Hutang Papa sudah terlampau banyak sama Pak Benjamin." "Memangnya berapa, Pah?" "Sudah ... puluhan milyar.” Jasmine menarik napas panjang. Bukan hanya terkejut, dunianya seakan runtuh dan seolah menghimpit raganya hingga gadis itu seperti kehilangan separuh tenaga. Seketika suasana pun kembali hening. “Jasmine, maafkan kami. Kami ... kami orang tua yang tidak berguna, Jasmine. Maafkan kami ....” Tangisan Liana pecah. Ia menangis terisak sambil memeluk tubuh putrinya. "Aku harus bicara sama pak Benjamin. Aku harus minta waktu lagi agar papa bisa melunasi utangnya," batin Jasmine, semakin merasa sedih saat mendengar tangisan ibunya yang begitu perih. *** Esok hari, pagi-pagi sekali Jasmine mengunjungi kediaman Benjamin Khaled tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Semalaman Jasmine memikirkan cara agar orang terkaya nomor satu di negeri itu memberikan tambahan waktu untuk membayar utang keluarganya. “Nona, Anda mau bertemu dengan siapa?” Seorang pria berkumis tebal menyapa di depan gerbang yang menjulang tinggi. “Pak, saya ingin bertemu Pak Benjamin. Beliau masih ada di rumah, ‘kan?” tanya gadis berkulit putih bersih itu dengan ramah. “Kamu mau apa? Kalau ingin bertemu Benjamin kamu harus membuat janji dulu!” Pria berpakaian serba hitam yang merupakan security di rumah itu menjawab dengan tegas. Tak ada kompromi, pria itu seolah melarang Jasmine untuk bisa menemui Benjamin. Raut wajah Jasmine seketika berubah sendu. Gadis itu merasa bingung harus bagaimana lagi cara menemui Benjamin tanpa harus membuat janji terlebih dulu. "Udah sana pergi! Buat janji aja dulu!" Security pun masuk melewati gerbang. Meninggalkan Jasmine yang masih tak ingin menyerah untuk menemui Benjamin. "Aku nggak akan pergi dari sini. Mending aku tunggu aja sampai mobil pak Benjamin keluar dari gerbang." Tak ingin kembali diusir oleh security yang berjaga di sana, Jasmine sedikit menjauh. Gadis itu pun bersandar pada dinding yang ada tepat di samping gerbang. Menunggu Benjamin dengan penuh harap. Lima belas menit kemudian, pintu gerbang terbuka. Melihat mobil yang ditunggu keluar, Jasmine langsung berlari. Tujuannya hanya satu, menghadang mobil mewah yang ia tahu di dalamnya ada Benjamin di sana. "Berhenti!" Jasmine merentangkan kedua tangan tepat di depan mobil. Membuat sang pengemudi sampai menginjak pedal rem dalam-dalam agar tak menabrak gadis itu. “Ada apa, Tio?” tanya Benjamin pada supir pribadinya. “Ada seorang gadis yang menghadang, Pak” “Siapa gadis itu?” Kening pria paruh baya itu tampak mengerut. “Sebentar, Pak. Saya akan menyuruhnya pergi!” Tio keluar dari mobil, menghampiri Jasmine yang masih berdiri di depan mobil. Benjamin yang melihat sosok gadis mungil itu berdebat dengan Tio, memutuskan turun dan menghampirinya. “Kamu siapa? Kenapa berdiri di depan mobilku?” “Pak Benjamin, apa Bapak masih ingat aku? Aku Jasmine! Jasmine Antonio, Pak!” seru Jasmine memperkenalkan diri di hadapan lelaki yang berpakaian formal itu. Benjamin tampak berpikir sejenak. Mengingat nama tersebut. “Kamu ... kamu putri Haris Antonio?” Jasmine mengangguk cepat seraya tersenyum manis. "Iya, Pak. Bapak masih ingat aku, ‘kan? Aku si Barbie hidup?” Jasmine memperagakan gerakan boneka barbie di depan lelaki yang usianya sudah mendekati enam puluh tahunan itu. Awal perkenalan Jasmine dengan Benjamin Khaled adalah saat ia merayakan ulang tahun kesepuluh. Benjamin sangat terkesan dengan tingkah lucu dan menggemaskan Jasmine. Belum lagi, paras Jasmine yang terlihat seperti boneka barbie. Bibir tipis, kelopak mata besar dan bulu mata lentik. Namun, ketika Jasmine memasuki Sekolah Menengah Pertama, Jasmine sudah jarang sekali bertemu dengan pria itu. “Tentu saja aku mengingatmu. Wow ... Ternyata kamu sudah dewasa, semakin mirip boneka Barbie!” Pujian Benjamin membuat Jasmine tersipu malu. “Apa ada yang ingin kamu bicarakan?” “Iya, Pak. Aku ingin bicara hal yang sangat penting sama Bapak!” “Baiklah. Sekarang ikut denganku. Kita bicara di dalam rumahku saja!" Benjamin pun mengajak Jasmine masuk, melewati security yang hanya bisa melihat keakrabannya dengan sang majikan penuh rasa takut karena sempat mengusir gadis itu pergi. “Tio, kita ke kantor agak siangan aja, ya!” “Baik, Pak.” Setibanya di dalam rumah mewah yang terlihat seperti istana di mata Jasmine, Benjamin pun langsung mempersilakan gadis itu untuk duduk. Setelah itu, tak lupa Benjamin memerintahkan pada salah satu pelayan untuk menghidangkan makanan dan minuman. "Jadi, apa kedatanganmu menemuiku karena ingin mengatakan, kalau kamu akan berusaha membuat Kevin bersedia menikahimu?" Mendengar itu, Jasmine sampai tersedak saliva-nya sendiri. "A-apa? Menikah, Pak?" "Iya, kamu tentu masih ingat Kevin, 'kan?" "Om Kevin? Bu-bukankah om Kevin sekarang sudah menjadi duda? Eh, ma-maksudku sudah pernah menikah?" Tentu saja Jasmine terkejut. Gadis itu tidak menduga jika Benjamin menginginkannya menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua dan berstatus duda. “Betul sekali, Jasmine. Dia anak sematawayangku. Jadi, bagaimana kamu bisa kan, membuat dia menikahimu?" "Ya Tuhan, kenapa semuanya malah jadi begini? Menikah dengan pria duda …?" batin Jasmine benar-benar terkejut dengan apa yang dihadapinya. Gadis itu benar-benar tidak menduga, niatnya meminta tenggat waktu tambahan pada Benjamin malah berujung permintaan untuk menikah dengan putra dari pria itu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tentang Cinta Kita

read
210.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
151.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
161.4K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
289.5K
bc

Papa, Tolong Bawa Mama Pulang ke Rumah!

read
4.0K
bc

TERNODA

read
192.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
224.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook