PROLOG

942 Words
   Disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk, sekaligus mengurus seorang anak berumur lima tahun. Sepertinya Stefanny sudah terbiasa dengan rutinitasnya selama ini, ia menjadi sosok ibu yang baik, sekaligus sosok ayah gagah bagi putri kecilnya.    Status janda yang sering kali digunjingkan para tetangga hanya sekumpulan sampah dibelakang rumah sederhananya. Dibuang, lalu di bakar. Tidak sulit bukan?    Sering, ia dituduh menggoda suami orang. Entah itu penjual sayur keliling, atau tetangga yang rumahnya hanya berjarak satu meter dari tempatnya tinggal. Namun, Stefanny tidak ingin ambil pusing. Ia lebih menyukai hidup bebasnya, tanpa ikatan yang mengharuskannya bangun pagi atau melayani orang dewasa seperti contohnya seorang suami, dan mertua.    Stefanny adalah sosok ibu yang sempurna. Mampu mengandung seorang anak, melahirkan, harus juga mampu mendidik dan memberi semua keperluan sang anak. Bukan hanya materi, tetapi juga kasih sayang.    Benar yang orang katakan, lebih sulit menjadi seorang ibu, daripada p*****r.    "Stefanny, ada yang nyariin."    Stefanny yang sedang duduk sambil menikmati kopi hangatnya hanya mengangguk, ia menatap teman satu kantornya, "Si Bos mata keranjang lagi?" tanya wanita itu sambil berdiri.    "Iya."    Stefanny mengangguk, ia kemudian beranjak pergi dari ruangannya. Bekerja sebagai kepala gudang, mengawasi lima gudang sekaligus dan harus bertanggung jawab secara penuh untuk barang-barang di sana.    Usianya baru dua puluh tujuh tahun, keturunan Indonesia campur Belanda. Rambut panjang bergelombang dengan warna coklat.    Beberapa lorong ia lewati, hanya tinggal belokan kiri lalu menaiki anak tangga. Para kuli pikul yang berpapasan dengannya melempar senyum, menyapanya bahkan ada juga yang bersiul.    "Mbak Stef …," panggil seseorang.    Merasa namanya dipanggil, Stefanny berhenti. Ia menatap seorang pria yang berlari cepat ke arahnya, beberapa dokumen ada di tangan pria itu dan membuat Stefanny bingung.    "Reno, kenapa?" tanya Stefanny.    "Ada pembeli di gudang bahan makanan," ujar Reno, ia menarik napas, menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat, "katanya, ada beberapa barang yang kemaren dibeli udah abis masa aktifnya." Lanjut pria itu.    Stefanny menatap bingung, "Masa aktif?" tanya wanita itu, "emangnya kita jualan NSP?" lanjut Stefanny.    Reno menepuk dahinya, "Maksudku itu, barangnya ada yang ekspayer, Mbak."    "Bilang Ren dari tadi, pakek acara ngomongin masa aktif. Kirain NSP atau kartunya udah abis masa berlaku," omel Stefanny, ia merebut dokumen yang ada di tangan Reno, mengamatinya dan menggeleng.    "Ren, udah berapa lama kamu kerja bareng Mbak?" tanya Stefanny.    "Udah tiga taun, Mbak."    "Tau sistem kerja Mbak gimana?"    Reno mengangguk, ia jelas sudah tahu banyak bagaimana cara Stefanny bekerja. Pria itu merebut dokumen di tangan Stefanny, lalu membaca tulisan  yang tertera di dalam sana.    "Makanan itu beda ama rokok Ren. Kalo makanan, Mbak selalu cek setiap bulan. Nah, kalo rokok, Mbak cek setahun sekali." Stefanny bersedekap, ia menatap Reno, "dan lagi, Mbak selalu misahin makanan yang tanggal kadaluarsanya udah mau abis dan yang masih lama. Gak mungkin ketuker, tanya ama tu orang, belanja di mana aja kemaren. Enak bener mau nyalahin kita, di kiranya kita nggak punya catatan barang apa."    Reno mengangguk, "Ya udah, Mbak. Reno balik lagi, ntar kalo ada yang salah, Reno panggil Mbak aja ya."    "Iya," jawab Stefanny. Wanita itu melanjutkan langkah kakinya, ia sudah sangat terlambat untuk menghadap sang atasan.    Stefanny tinggal di kota Pontianak, kepulauan Borneo bagian barat. Hidupnya baik-baik saja selama ini, bagian paling baik dalam hidupnya adalah bisa bekerja dan menanggung hidup putri semata wayangnya.    Setelah beberapa menit berjalan, Stefanny sampai di depan ruangan atasannya. Wanita itu segera mengetuk pintu, menunggu perintah untuk masuk. Cuaca masih panas, maklum saja sekarang sudah pukul sepuluh lewat tiga puluh tiga menit.    "Masuk!" titah seseorang dari dalam sana.    Mendengar perintah itu, Stefanny segera membuka pintu. Tak lupa ia menutupnya kembali dan berdiri di depan meja kerja atasannya.    "Stef, kok lama?" tanya seorang pria.    "Tadi, ada beberapa laporan yang harus ditangani. Ada apa, Pak?" tanyanya Stefanny sambil menatap sang atasan, bos mata keranjang yang sialnya sangat tampan.    "Malam ini, Mama ngadain acara ulang tahun pernikahannya di rumah. Kamu dateng ya, barengan sama Sava."    Sejenak, Stefanny menimbang baik dan buruk jika ia datang berkunjung, "Sava besok mulai masuk TK. Saya nggak bisa janji, Pak."    "Sebenter aja, Mama pengen ketemu kamu." Pria itu memberikan surat undangan, ia menatap Stefanny dan tersenyum manis.    Namanya Rifky Alfiansyah, seorang pengusaha swasta yang menyediakan barang-barang keperluan sehari-hari masyarakat. Seperti, bahan bangunan, makanan dan minuman, pakaian, bibit perkebunan, lalu ada juga pupuk dan racun.    Stefanny membuka undangan itu, ia melirik atasannya yang malah tersenyum semakin manis, menggoda iman seorang janda muda.    "Ntar, aku jemput ya. Teneng, pulangnya juga di anterin."    "Pak, saya beneran nggak bisa. Sava masuk sekolah pagi dan saya juga harus siapin keperluan dia. Kalo semisal dateng ke acara, pasti bakalan lama, mana saya juga kerja," ujar Stefanny.    "Ya udah, kamu jadi istri saya aja. Kamu bisa urus Sava dua puluh empat jam, nggak perlu kerja pontang panting, palingan nunggu saya pulang ke rumah."    "What?" Stefanny menatap tak percaya, dia sudah mendapat lamaran secara tidak langsung lebih dari seratus kali dari atasannya. Wanita itu tertawa dengan paksa, ia menggeleng, "Rif, bisa nggak sih jangan bahas nikah-nikahan. Geli, kamu juga tau, aku nggak tertarik buat hal itu." Akhirnya ia bisa bersikap dengan benar, jika sudah menyangkut masalah pernikahan, Stefanny sama sekali tidak tertarik, ia bahkan akan memanggil nama atasannya secara langsung dan bersikap sedikit tidak sopan seperti sekarang.    "Stef, apa sih kurangnya aku? Aku siap terima kamu dan anak kamu. Keluargaku juga siap lahir dan batin untuk hal itu, kamu bisa mulai lembaran baru dan keluarga baru bareng aku."    "Rif, kamu nggak akan ngerti. Ini bukan tentang aku siap dan nggak siap. Tapi tentang aku yang masih ingin sendiri," jawab Stefanny.    "Aku siap nunggu kamu, sampai kapan aja."    "Kamu gila!" tegas Stefanny.    "Aku gila karena jatuh cinta ama janda," jawab Rifky sambil tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD