Prolog

430 Words
Dhea Nathalia Bramantha—si primadona kampus berparas cantik jelita yang terkenal bar-bar, urakan, biangnya rusuh, tukang pembuat masalah, ratunya jalanan alias emaknya pembalap motor, pemegang sabuk hitam taekwondo yang hobinya adu jotos daripada bedakan apalagi gincuan. Benar-benar tidak mencerminkan seorang perempuan. Bagaimana jika gadis barbar ini dipertemukan dengan seorang anak kecil yang imut dan menggemaskan yang langsung memanggilnya Mama? Rasanya Dhea ingin mengumpat tapi takut dimarahi emak bapaknya tuh anak. Jangankan berojolin anak, kalau calon bapaknya saja ia belum punya. Meskipun begitu, Dhea tidak sanggup menolak pemintaan makhluk kecil itu yang sayangnya terlalu menggemaskan. Membuat Dhea bertanya-tanya, bagaimana paras kedua orang tua anak kecil itu? hingga menghasilkan produk yang berkualitas bagus. Bukankah kualitas produk tergantung pabriknya? Dhea bisa memastikan jika bapaknya ganteng parah dan sangat disayangkan ia sudah keduluan perempuan lain yang tentunya tidak lebih cantik darinya. Andai saja yang dipertemukan terlebih dahulu dengan pria itu pasti sudah ia gebet duluan. Akan tetapi, Dhea harus kembali menelan perkataannya saat mengetahui sosok bapak si anak kecil yang ternyata seorang CEO yang sukses di usia muda juga pemilik salah satu perusahaan besar di Indonesia. Ganteng? Jangan lagi ditanya, pake banget. Tajir? Tentu saja, tidak akan habis tujuh turunan dan tanjakan. Hot? Pake banget, kalau kata Nisya sih sandarable, pelukable, kissable juga suamiable. Dan tanpa diduga ternyata seorang duren—alias duda keren. Namun, Dhea sudah tidak berminat. Saat tahu jika pria itu sangat arrogant, tukang perintah, senyum saja pelit dan hobinya marah-marah persis beruang gunung. Lalu, bagaimana jika keduanya justru dipersatukan dalam sebuah ikatan ‘perjodohan’? "Aku? Dijodohin sama Pak Dirga?!" “Pak Dirga udah Om-om! Dhea nggak mau dijodohin sama Om-om! Big no!” kesal Dhea. Dirga langsung melipat tangannya di d**a, menatap Dhea dengan tatapan kesal. Tidak terima disebut om-om padahal umurnya tidak beda jauh dengan kakak Dhea yang tertua. “Kamu bilang saya Om-om?” “Hm ... ” “Saya masih muda! Tampan, mapan, dan pekerja keras. Harusnya kamu beruntung mendapatkan calon suami idaman seperti saya” ucap Dirga dengan angkuhnya. Dhea memutar bola mata malas, “Tapi saya nggak tertarik dan kamu tetap Om-om!” “Dhea!” bentak Dirga. “Dasar Om-om!” Menikah, saling jatuh cinta, memiliki banyak anak, dan hidup bahagia selamanya. TIDAK! Itu terdengar sangat klise. Nyatanya, kisah mereka tidak sesederhana itu. Terlalu rumit! Hingga melibatkan sebuah pilihan antara melepaskan atau mempertahankan. Dua pilihan yang sama-sama membutuhkann, pengorbanan, kekuatan, dan cinta yang lebih besar. Kita semua tahu dan memahami bahwa hidup adalah pilihan. Kadang kala kita dihadapkan dengan sejuta pilihan, entah itu suatu hal yang menyakitkan ataupun membahagiakan dan semuanya bukan tanpa konsekuensi. Ketika kamu sudah memutuskan untuk memilih salah satunya, jangan pernah menyesali, walaupun pilihan itu tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Karena pilihan adalah apa yang harus kamu jalani selanjutnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD