1- Sebelum Aku Mengenalmu

1181 Words
“Baby Lui!” Luisa memutar bola matanya dengan malas saat suara itu lagi-lagi berada disekitarnya. Suara dari seseorang yang suka sekali mengganggunya selama berada di kampus khusus jurusan bisnis ini.” Stop manggil aku baby Lui! Aku bukan pacar kamu!” Ia menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap tajam pria berambut model messi itu. Sementara pria itu hanya mengusap rambutnya sambil tersenyum jahil. “Makanya terima aku!” Balas pria bernama Faizal itu. “Ogah!” Luisa sama sekali tak berminat memiliki pacar apalagi yang modelnya ajaib seperti Faizal. Bisa-bisa setiap hari ia naik darah karena tingkahnya. Ia kembali mempercepat langkahnya tapi Faizal sudah berada disampingnya, menyejajarkan langkah mereka. “Dijamin setia aku tuh. Kamu mau apa aja aku beliin. Mau kemana pun aku temenin. Enak kan jadi pacar aku?” “Tapi kok sampe sekarang kamu jomblo?” Balas Luisa dengan tatapan meremehkan. Ucapan Luisa seakan menusuk tepat di jantung Faizal. Memang benar jika pria itu masih jomblo hingga kini. Dulu sih ia suka gonta ganti pacar tapi sejak lulus SMA ia malas karena merasa dimanfaatkan. Semenjak melihat dan mengenal Luisa, pria itu mulai membuka hatinya lagi untuk kisah cintanya yang baru. Tentunya untuk yang diseriusin, bukan hanya untuk senang-senang seperti dulu. Luisa tampak begitu mandiri padahal ia anak seorang pengusaha sukses. Tapi Luisa bahkan ke kampus hanya menggunakan motor matic serta membuat usaha kue. Kemandiriannya Luisa lah yang membuat Faizal jatuh hati. Sebenarnya sejak pertama melihatnya pun Faizal sudah jatuh hati tapi semakin mengenal gadis itu, hatinya semakin yakin sudah jatuh pada orang yang tepat. Namun Luisa tampaknya bukan gadis yang mudah ditaklukan hatinya. Buktinya sudah dua tahun perkenalan mereka, gadis itu masih tak bisa ia dapatkan. Selalu menganggap Faizal hanya bercanda, tidak pernah ditanggapi secara serius. “Kamu kalo ngomong suka bener deh. Makin suka jadinya sama kamu.” Ucap Faizal dengan pedenya. Luisa memasang tampang ingin muntah. Ia sudah sering mendengar berbagai candaan serta rayuan dari pria yang selalu sekelas dengannya itu di kampus. Entah kebetulan atau secara sengaja mereka bisa selalu sekelas sampai semester empat ini. “Udah deh! Jangan ganggu mulu. Aku sibuk!” Faizal berdecih.” Sibuk apa sih? Pacar aja gak ada kok sok sibuk.” “Apa hubungannya sibuk dengan punya pacar coba? Gak nyambung!” “Ya sibuk pacaran misalnya.” “Emangnya kamu!” Faizal berhenti tepat didepan Luisa, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berdecak sebal.” Serius deh. Aku gak punya pacar. Kecuali kalo kamu mau nerima aku.” Ucapnya sambil tersenyum seolah tak merasa bersalah sudah membuat gadis didepannya kesal. “Dibilang ogah!” Luisa mendorong pundak Faizal agar segera menjauh darinya. Terbukti pria itu akhirnya minggir dan menatap putus asa pada punggung Luisa yang menjauh. “Susah banget sih dapetin hati Luisa. Berasa kayak nyari es krim venuta di aprilmart!” ………… Luisa mempersiapkan proposalnya untuk dikumpulkan ke kelas kewirausahaan hari ini. Tidak sulit memang karena ia sendiri sudah mulai berjualan kue sejak lulus SMA. Awalnya karena hobby tapi jadi menghasilkan. Kan lumayan. Ia jadi bisa punya uang saku sendiri walau Ayahnya tetap menopang penuh hidupnya. Ia anak tunggal dan hanya punya Ayahnya setelah Ibunya pergi meninggalkannya sejak masih bayi. Saat itu katanya usaha Ayah sedang kritis, membuat Ibunya tak tahan jika harus hidup dalam kekurangan. Akhirnya Ayahnya berperan sebagai ayah sekaligus Ibu bagi Luisa, membuat gadis itu sangat mencintai Ayahnya. “Sudah ditebak.” Ucap Bu Randa, dosen kewirausahaan kelas yang Luisa ambil. Ia melihat-lihat isi proposal Luisa yang tampak rapih dan isinya pun sangat bagus. Semua terstruktur dengan baik.” Bagus sih. Bisnis kue dan roti memang gak ada matinya.” Luisa mengangguk setuju. Apalagi jika menjelang hari raya pasti kue-kue akan sangat laris manis di pasaran. Pada hari biasa pun orang-orang akan sering mencari kue dan roti untuk sekedar ngemil atau untuk sarapan. Para pembisnis roti bakar maupun café-café pun juga sering mencari roti untuk menunjang bisnis mereka. Jadi bisa bekerja sama. “Gak salah kamu anak pengusaha ya. Otak bisnis Ayahmu turun ke kamu kayaknya.” Puji Bu Randa lagi yang merasa sangat puas. “Terimakasih, Bu.” …………. “Aku anak pengusaha juga tapi gak pernah dipuji sama Bu Randa.” Ucap Faizal yang sebelumnya mendengar pujian yang Bu Randa lontarkan pada Luisa saat gadis itu mengumpulkan proposalnya. “Makanya kuliah yang bener!” Balas Luisa, cuek. “Males.” Cetus Faizal yang memang sama sekali tak berminat di bidang bisnis. Ia lebih suka menggambar dan mendesign. Entah itu mendesign brosur, poster dan hal-hal lain. “Aku kan gak minat sama bisnis.” “Hati kamu aja gak di jurusan ini, masih ngarep dipuji sama dosen?” “Tapi hati aku tetep ke kamu kok. Jangan khawatir.” Faizal malah ngelantur. “Udah deh! Kenyang aku digombalin kamu mulu. Dasar cowok!” Luisa mempercepat langkahnya menuju kantin. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Berbicara dengan Bu Randa tadi sangat menguras energinya karena dosen itu bicara panjang lebar soal proposalnya. “Eh! Jangan samakan aku sama cowok lain dong. Kan udah dibilang.” Faizal ikut mempercepat langkahnya, mengejar Luisa. “Makanya jangan gombal mulu!” Luisa menghentakkan kakinya, menahan emosi. “Ini kan lagi usaha buat dapetin hati kamu.” Balas Faizal dengan nada lemah. Seolah Luisa sudah mematahkan hatinya. Luisa hanya berdecak, cuek. Ia segera memesan mi ayam dan es jeruk tanpa menawari ke Faizal yang terus menguntitnya. Tapi pria itu malah membayarkan pesanannya. “Soal bayar membayar, urusan cowok.” Ucap Faizal sambil mengeluarkan black card dari dompetnya. “Ini bukan mall! Bayar pake duit cash!” Sahut Indi, Ibu-ibu penjual mi ayamnya sambil mengembalikan kartu milik Faizal yang entah bagaimana cara menggunakannya. Digesek? Digesek kemana? p****t panci? Faizal berdecak, merasa Bu Indi merusak momennya menjadi pria gentle. Ia pun mengeluarkan selembar uang merah dan menyerahkannya.” Saya juga mi ayam bakso plus coca cola. Gak pake lama!” “Nah gitu dong.” Ucap Bu Indi sambil menerima uang merah itu dengan mata berbinar. “Pamer ya?” Tanya Luisa dengan nada meremehkan. Ia duduk di salah satu kursi kantin yang kosong, tentu dengan Faizal yang duduk disampingnya. “Apa sih? Khilap tau gak.” Balas Faizal dengan jujur. Karena ia biasa menggunakan kartu itu untuk beli makan diluar. Kecuali di kantin ini, memang gak bisa dipake.” Lagian kantin gak canggih banget. Apa-apa harus cash. Ketinggalan jaman!” Gerutunya. Luisa malah sibuk dengan ponselnya, mengurus pesanan kuenya di social media. “Betewe aku belum pernah nyoba kue bikinan kamu loh.” “Makanya pesen!” “Romantis dikit kek, Baby Lui. Bikini khusus buat abang Faiz. Jangan lupa pake cinta!” “Berani bayar berapa?” Balas Luisa dengan alis terangkat. “Bayar dengan mahar boleh? Sekalian kita akad nikah.” Faizal malah nyengir, memamerkan giginya yang rapih. Luisa memutar bola matanya dengan malas.” Mulai lagi deh!” “Namanya usaha, Baby Lui.” “Stop panggil dengan nama menjijikan itu!” …………. Sepulang kuliah, Luisa berencana ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan membuat kue pesanan. Ia pun sudah berada di parkiran motor dan bersiap untuk pergi. “Baby Lui!” Suara Faizal lagi-lagi terdengar, membuat Luisa merasa harus memeriksa telinganya. Takut ada masalah karena suara itu jadi sering berdengung di telinganya. “Apa?!” Tanya Luisa dengan galak. “Mau kemana?” “Pulang!” “Ikut!” “Dih! Gak jelas. Aku mau ke supermarket! Udah sana. Ribet deh!” “Aku temenin ya.” Ucap Faizal dengan memasang puppy eyesnya. Mungkin jika gadis lain akan langsung luluh apalagi wajah Faizal yang tampan ditambah wajahnya yang blasteran India itu. Mirip-mirip lah sama Varun Dhawan. “Ngapain sih? Kayak gak ada kerjaan aja.” Ucap Luisa yang bersiap menyalakan motor maticnya. “Emang gak ada.” Balas Faizal dengan nada senang. Ia pun langsung naik ke motor Luisa, membuat gadis itu terpaksa duduk agak mundur karena Faizal duduk didepannya. Daripada jadi dempetan. Males banget! “Aku sibuk, Iz!” “Aku temenin biar gak terlalu sibuk.” “Terserah kamu deh!” Balas Luisa yang akhirnya pasrah. Daripada masalahnya makin panjang dengan pria tengil ini. Bisa-bisa waktunya semakin terbuang banyak. “Gitu kek. Sekali-kali nurut sama calon suami.” “Faiz!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD