KABAR DAN RENJI DATANG BERSAMAAN

1494 Words
Ujian peserta akselerasi berbeda dengan ujian para siswa regular. Waktunya pun tidak selalu sama tiap angkatannya. Pada angkatanku kali ini, ujian dilakukan pada awal sampai pertengahan Desember. Jadi pada libur natal dan tahun baru, kami sudah bisa tenang menikmati liburan. Hari terakhir ujian jatuh pada hari Jum’at. Kami semua, anak-anak akselerasi yang tidak lebih dari empat lusin menempati dua ruangan berbeda dan selesai mengerjakan ujian hampir secara bersamaan. Kami keluar ketika suara qiro’ di masjid mulai diperdengarkan, tanda waktu Shalat Jum’at hampir tiba. Aku dan Ningrum pergi ke minimarket yang masih berada di dalam komplek lingkungan sekolah. Kami membeli beberapa macam camilan dan minuman untuk teman bersantai di taman dekat lapangan parkir sebelum para jamaah Shalat Jum’at bubar. “Kau benar-benar akan masuk SMA keperawatan setelah lulus dari sini?” Ningrum hanya mengangguk menanggapi pertanyaanku. “Nanti aku akan lulus lebih dulu darimu kalau begitu.” “Memangnya kenapa? Lagipula berkat seseorang yang memaksaku mengikuti kelas akselerasi kemarin, akan ada lebih banyak anak yang lebih tua dariku di SMA nanti. Apa kau percaya? Bahkan bocah pemaksa itu masih setahun lebih muda dariku, padahal aku masuk SD sebelum umurku genap tujuh tahun.” Aku hanya melongo mendengar apa yang Ningrum katakana. Tapi dengan cueknya Ningrum terus memakan roti tawar gandum yang dia olesi dengan es krim rasa coklat. “Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa umur hanyalah deretan angka. Jadi tidak masalah dimana aku akan sekolah, aku pasti menyelesaikannya dengan baik. Insyaallah.” Dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Tentu saja aku kenal betul ‘seseorang’ yang ia maksud itu. Karena aku selalu mengatakan itu setiap ada yang membawa-bawa masalah umur dalam obrolan. Setelah selesai Shalat Dzhuhur di mushola dekat taman, aku dan Ningrum kembali ke tempat tadi, tempat dimana kami duduk. Kami membicarakan banyak hal hingga sebuah mobil yang aku kenal melewati gerbang depan komplek sekolah dan berhenti di tempat parkir. RS Black Top Limited Edition warna putih milik Bibi Stevie. Aku juga yakin Ningrum jelas mengenal mobil itu, sebab ia adalah penggemar nomer satu dari sang pemilik. Aku cukup terkejut ketika Mas Jagad, kakak laki-laki Ningrum yang keluar dari pintu kemudi. Mungkinkah bibi atau paman memintanya untuk menjemputku hari ini? Bukankah seharusnya besok baru aku akan pulang bersama dengan Ningrum, mengingat kami harus membereskan barang-barang kami di asrama terlebih dahulu. Lalu satu sosok lain yang keluar dari pintu penumpang bagian depan mengalihkan perhatianku. Pemuda jangkung itu tiga tahun lebih tua dariku. Dia kakak kandung Katherine. Sama seperti aku, dia salah satu sepupuku yang berada dibawah asuhan Abuelo ketika di Cordoba. Hanya saja ketika Abuelo dan Abuela pendah ke Indonesia, dia meminta ijin untuk tetap tinggal dan berada dibawah asuhan Tío Jemmy dan Radha Chāchī yang menempati Rumah Besar Abuelo disana. Renji sudah jatuh cinta pada sekolah kedokteran warisan Bisabuelo disana. Kudengar dia sudah memulai pendidikan kedokterannya beberapa bulan lalu. Terakhir kali bertemu dengannya adalah saat Idul Fitri, Agustus lalu. Saat itu rambutnya memang panjang, kira-kira sampai di bawah telinga, sekarang rambutnya hampir melewati pundak dan diikat half-up. Jika saja dia berada di Korea Selatan, pasti akan ada banyak agensi yang memperebutkannya. Tapi sayangnya dia sama sekali tak tertarik dengan dunia semacam itu. Dia sudah memproklamirkan diri bahwa dia akan menjadi dokter bedah terbaik saat dewasa nanti, dan sekarang dia sudah memulainya. “Renji Bhai!!!” Aku yang duduk bersila diatas rerumputan langsung berdiri dan bergegas menghampirinya. Aku mencium punggung tangannya dan menempelkannya ke dahiku, lalu memeluknya penuh rindu. “Kapan kau datang?” tanyaku sambil mendongakkan kepala, memandang wajahnya yang menjulang jauh diatasku. Renji menatapku dengan senyum yang terkulum. Tapi entah kenapa sorot matanya yang sendu dan lelah tiba-tiba mengubah rasa gembira yang tadi kurasakan saat melihatnya keluar dari mobil menjadi perasaan gugup tak beralasan. Detak jantungku rasanya seperti meningkat dengan tiba-tiba dan mengubah perasaan gugup tadi menjadi rasa cemas. Apalagi Renji tak menjawab pertanyaanku dan malah mencium ubun-ubunku singkat lalu memelukku lebih erat dari sebelumnya. ‘Apa terjadi sesuatu dirumah saat aku berada disini selama dua minggu terakhir?’ Batinku bertanya. “Aku sampai rumah Abuela hari selasa kemarin. Sengaja aku tak mengabarimu agar kau fokus pada ujianmu.” Akhirnya ia mulai menjawab pertanyaanku. “Bagaimana ujianmu? Semua lancar?” Benar firasatku. Sejauh yang kuingat Renji bukan kakak super ramah yang akan memberikan pertanyaan basa-basi semacam ini. Minimal pasti akan ada ejekan atau profokasi yang akan membuat jengkel lawan bicaranya, karena dia adalah versi laki-laki dari Danisha Behan. “Alhamdulillah semua sudah beres sekarang. Tinggal mengurus pendaftaran ke DAIS.” Kujawab juga pertanyaan Renji. “Kenapa kau datang? Apa kau akan mengantarku ke Maharashtra?” “Sepertinya itu ide yang bagus. Dengan senang hati aku akan mengantarmu.” Jawabnya dengan senyum yang makin membuatku penasaran dengan apa yang sedang terjadi. “Mas Jagad, bisakah kau membantu Ningrum untuk membersihkan asramanya selagi aku akan berbincang dengan Gauri?” “Tentu. Ayo lekas, Ning!” Tanpa kusadari Mas Jagad sudah berada di dekat Ningrum dan menggamit lengannya untuk segera pergi ke arah asrama yang aku dan Ningrum tempati selama dua minggu ini. Renji membawaku duduk di bangku terdekat. Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius setelah Mas Jagad dan Ningrum tidak terlihat. “Paman Ranjit memberi instruksi pada semuanya, tanpa terkecuali, untuk pulang kemari seminggu lalu. Jadi disinilah aku sekarang." Dia menarik napas sejenak. "Semua sudah berada dirumah sejak beberapa hari lalu, kecuali Martin dan kau. Kurasa dia akan sampai hari ini, tapi sampai sekarang dia belum memberi kabar.” Dadaku seperti dihantam oleh sebongkah kayu yang maha besar. Rasanya benar-benar makin sesak dan penuh, tapi aku berharap apa yang kupikirkan saat ini bukanlah hal yang membuat Renji dan yang lain datang. Aku tidak mengeluarkan komentar apapun, karena jelas penjelasan Renji belum selesai. Dia terlihat tengah mempersiapkan diri menyampaikan kabar itu padaku. “Abuelo wis mangkat mau isuk jam sepuluh. (Abuelo sudah meninggal tadi pagi jam sepuluh.)” Bahasa Jawa Renji terdengar kagok di telingaku karena dia memang jarang menggunakannya. Dia berkata dengan sangat hati-hati seolah sedang berjalan di atas lapisan es diatas danau beku pada akhir musim dingin. Lalu air danau itu disiramkan padaku dari ujung kepala dan membasahi seluruh tubuhku. Dingin. Pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Renji. “Menangislah! Menangislah sepuasmu! Keluarkan semuanya sekarang!” Perintah Renji padaku yang sesenggukan dalam dekapannya. Tangan kanannya memegang kepalaku dan tangan satunya mengusap punggungku menenangkan. “Tapi nanti jangan tunjukkan setetespun air matamu dihadapan Abuelo! Kau adalah permata miliknya yang paling berharga. Dia akan pergi dengan duka yang amat dalam jika melihat permata kesayangannya dalam keadaan rapuh dan hampir hancur.” Dekat sekali dengan telingaku, Renji berkata dengan suara paling lembut yang pernah keluar dari mulutnya. Tapi kata-katanya bagaikan bensin yang ia siramkan pada api kesedihanku. Tangisku makin menjadi. Entah berapa lama aku menangis dalam dekapan Renji. Satu jam atau mungkin lebih. Aku melepaskan diri dari dekapannya yang nyaman sambil terus berusaha mengatur napasku yang tersengal akibat tangis. “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Akhirnya kalimat itu bisa kuucapkan dengan tenang. Setelah ribuan kalimat istighfar yang sedari tadi terus kugumamkan guna meredam rasa sedih yang rasanya hampir meledakkan dadaku. Tangisku sudah reda sepenuhnya saat Mas Jagad dan Ningrum kembali dengan membawa koper warna lumut milikku dan tas ransel super besar tempat Ningrum menyimpan baju dan buku-bukunya. Mata Ningrum tampak merah. Pasti Mas Jagad sudah memberi tahu Ningrum perihal kematian Abuelo-ku. Jelas dia bersedih untukku. Kurasa dia sedikit terkejut saat aku tersenyum padanya. Senyum yang kumaksudkan untuk memberitahunya bahwa aku tidak apa-apa. Aku tak yakin bagaimana senyum yang kutunjukkan saat ini terlihat di mata Ningrum dan Mas Jagad. Yang jelas jejak air mata pasti masih terlihat disana. Ningrum dan aku kembali ke kamar asrama. Menemaniku untuk membersihkan diri sebelum berangkat pulang. Tadi saat aku sedang menangis dia sudah: mandi, membereskan barangnya (dan milikku tentu saja), memikirkan bahwa aku harus mandi dulu sebelum pulang lalu menyiapkan pakaianku, dan dia juga sudah menangis setelah mendengar cerita dari Mas Jagad. Selain cerdas dia juga multitasking. Teman paket lengkap. Tidak ada perbincangan berarti selain memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Dia memberiku ruang tanpa aku harus memintanya. Aku merasa segar setelah mandi dan mencuci rambutku dengan cepat. Saat kami sampai lagi di parkiran, Renji baru saja mengakhiri sambungan teleponnya. “Kita Ashar di Bandara. Jika kita berangkat sekarang kita akan sampai beberapa saat sebelum pesawat Martin landing.” Kata Renji sambil melihat arlojinya. “Martin? Dia terbang sendiri?” tanyaku terkejut. Renji mengangguk. “Anne Behan and The Yang’s Girls sudah disini sejak dua hari lalu. Lalu Marshall dan Bapaknya sampai tadi pagi.” “Kita bisa mengantarkan aku dulu ke tempat Budhe Priyanti dalam perjalanan menuju Bandara?” Pernyataan (?) Ningrum dengan senyum. Renji memandang Ningrum dari kepala sampai kaki lalu beralih padaku. “Itu tidak ada dalam skenario awal, young lady. Kalian tiga bocah kecil akan duduk di kursi belakang, dan kami dua orang dewasa duduk di depan.” Aku berdecih malas. Mas Jagad tertawa dan berjalan masuk ke kursi kemudi. Ningrum melongo kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kuperkenalkan padamu, Ningrum. Renji ‘annoying’ Sharma. Versi laki-laki dari Danisha Behan.” Bisikku pelan dan berjalan mengikuti mas Jagad sambil terus mengusap rambutku yang hampir kering dengan handuk. Dan, kami berangkat menuju Bandara Internasional Adisucipto. Continuara………
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD