Hal menarik

1317 Words
Dibawah rintik hujan, seorang gadis berlari sembari kedua tangannya memegang sebuah map di atas kepalanya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa di bawah hujan yang cukup membasahi dirinya. Dengan cuaca yang sedikit berkabut, gadis itu berlari tanpa memperhatikan jalanan yang sedikit samar terlihat. Saat dirinya tepat berada disebuah supermarket, gadis yang bernama Naura Anjani itu mengaduh ketika tubuhnya menabrak tubuh seseorang yang bertubuh kekar mengenakan pakaian serba hitam juga kepala ditutup hoodie. "Maaf, saya tidak sengaja Tuan! Anda tidak apa-apa kan?" Gadis itu mendongakkan kepalanya melihat wajah seorang pria yang menatapnya dengan tajam. *"Astaga ini pria atau wanita?" batin Naura.* Naura tersenyum tipis ketika melihat pria yang ada di hadapannya itu, terlihat sangat tampan dengan bulu matanya yang lentik bibir yang tipis, namun tatapannya sangat berdominan dan menatap tajam kearahnya. *"Kenapa dia begitu menyeramkan dengan wajahnya yang sangat tampan itu? Kan sayang," gerutu batin Naura.* Naura tertegun dan melepas tubuhnya yang ternyata dirinya masih berada tepat di di pelukan pria itu. Ia sedikit menjaga jarak dengan pria itu. Keduanya kini bersitatap satu sama lain, dengan perasaan dan pemikiran keduanya yang berlawanan. Naura yang mengagumi pria yang ada dihadapannya itu. Namun lain dengan pria itu menatap tajam seolah ingin menumpahkan segala amarahnya kepada gadis itu. Mereka juga lupa akan hujan yang kini semakin deras, seolah tidak menghiraukan tubuh mereka yang kini sudah basah kuyup. Melihat hal itu, Naura bergegas untuk pergi, namun saat ia berjalan beberapa langkah melewati pria itu. Tiba-tiba langkah Naura terhenti dan ternyata pria itu menarik kerah belakang baju Naura, hingga membuat gadis itu tertahan dan menenggakkan kepalanya. Naura menjerit dan berontak juga berbalik untuk melihat kearah pria itu, yang kini bahkan menatapnya dengan tajam tanpa melepas pegangan sebelah tangannya di baju Naura yang membuat gadis itu sangat kesal. "Apa-apaan sih? Kenapa kamu menarik aku? Ada apa? Bukankah aku sudah minta maaf sama kamu?" protes Naura. Naura menatap tajam kearah pria yang masih menatapnya dengan wajah datar, tanpa mengalihkan pandangannya menatap Naura. Naura tertegun ketika pria itu bahkan menunjuk ke bawah kaki Naura, yang di mana sebuah ponsel berserakan bahkan tidak terbentuk lagi berceceran tepat di bawah kaki Naura. Gadis itu tertegun Ia tidak mempercayai dengan apa yang ia lakukan, ternyata dirinya sudah merusak ponsel milik pria itu, hingga pria yang ada di hadapannya kini menatapnya dengan tajam, bahkan seperti hendak membunuhnya. Naura dengan ragu-ragu ia melihat kembali ke arah pria yang bahkan sama sekali tidak mengurangi ketajaman nya ketika melihat Naura. "Itu ponsel kamu? Kenapa dijatuhkan?" Naura bertingkah seolah-olah ia tidak menyadari dengan apa yang telah ia lakukan kepada ponsel milik pria itu. Jangankan menjawab ataupun berbicara kepada Naura. Pria itu justru semakin tajam menatap Naura yang sedikit ketakutan, bahkan ia menjadi salah tingkah. *"Sial sekali aku hari ini! Sudah aku gagal mendapatkan pekerjaan dan sekarang bertemu pria aneh yang sangat menyeramkan seperti ini. Dia sangat tampan tapi sepertinya itu palsu," gerutu batin Naura tidak berani melihat ke arah pria itu.* "Apa aku boleh pergi?" Naura mencoba untuk mengalihkan perhatian pria itu agar membiarkan dirinya untuk pergi. Masih dalam diam, tangannya pun masih dengan erat memegang baju bagian belakang Naura, tanpa berpindah sama sekali. Bahkan tidak merubah raut wajahnya yang kini tatapannya semakin tajam ketika mendengar Naura terus-terusan berbicara kepadanya. "Baiklah ... saya minta maaf! Tapi jangankan buat bayar ponsel kamu. Aku saja belum punya pekerjaan," Naura merendahkan nada bicaranya berharap pria itu melepas pegangannya kepada pakaiannya. Saat Naura hendak berbicara kembali tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping keduanya, Naura begitupun dengan pria itu mengalihkan pandangannya kearah seorang pria berpakaian formal serba hitam turun dengan payung di tangannya menghampiri keduanya. Saat pria itu sedikit melonggarkan pegangannya, Naura mencoba untuk berbalik dan pergi dari sana namun pria itu menggenggam erat kembali pakaian Naura, hingga membuat gadis itu tercekik oleh kemejanya sendiri. "Kamu mau bunuh aku!" seru Naura menatap tajam ke arah pria itu. "Tidak ada yang mati gara-gara kerah baju!" ucapan pria itu berhasil membuat Naura terdiam. *"Kenapa ada pria sedingin dia?" gerutu batin Naura.* Naura tertegun, melihat desain dalam mobil dimana ia berada sekarang. Ruang yang cukup luas jika hanya penumpang dua orang saja. Namun bukan itu yang membuat Naura terkagum. Ia melihat di depannya terdapat sebuah meja mini yang di atasnya segelas jus orange dan cake coklat combinasi dengan leci di atasnya. "Restorankah ini?" Naura mengedarkan perhatiannya. "Apa kau bodoh!" Pria di sampingnya berbicara tanpa mengalihkan pandangannya pada majalah yang ia pegang. *"Cih, aku gak peduli!" gerutu batin Naura."* Tanpa protes lagi, Naura hanya diam mengikuti apa yang membawanya hingga kini dia duduk di samping seorang pria yang bahkan namanyapun dia tidak tahu. "Eh, ini istanakah?" Seru Naura ketika turun dari mobil dan melihat pemandangan sebuah taman beserta rumah yang menjulang tinggi dan luas. Terdapat banyak penjagaan di bagian halaman. Begitupun dengan taman yang asri dan indah beserta air mancur di tengah bunga yang bermekaran. "Sepertinya aku di alam mimpi." "Kau mau aku pukul!" seru pria yang berdiri di sampingnya. "Beraninya sama wanita," cetus Naura. Wajah datar terkombinasi dengan nada bicaranya yang dingin. Ia membalas ucapan Naura yang sedari tadi berbicara tanpa henti. "Kenapa kamu memukulku?" Naura bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada taman bunga yang indah. Saat ia hendak berbicara lagi, tangan yang tadinya terlepas dari kerahnya. Kini menarik lengan baju Naura tanpa bersentuhan dengan tangan gadis itu. Pria itu berjalan dengan seorang gadis meski pakaiannya yang ia tarik. Namun terkesan dia menuntun gadis itu memasuki rumah yang begitu megah. Naura hanya menurut saja, baginya protespun akan percuma jika di hadapan pria itu. *"Apa aku akan di jual hanya gara-gara sebuah ponsel," batin Naura."* Gadis itu terkagum akan luasnya rumah yang ia masuki, begitupun dengan sofa dan juga isi rumah yang elegan. *"Pastinya semua ini tidak murah," batin Naura."* Naura mengedarkan pandangannya memperhatikan setiap sudut ruangan yang rapih dan juga bersih. Pria yang sedari tadi menariknya kini berjalan ke arah kursi menghadap dapur dan meminum jus tanpa menghiraukannya. Naura menghampirinya dengan perlahan, ia duduk di kursi samping pria itu. "Aku tidak menyuruhmu meminumnya!" seru pria di samping Naura. "Lama nunggu kamu menawarkannya!" balas Naura menenggak jus dengan sekali tenggak. Naura menenggak gelas yang ia isi kembali, sembari memperhatikan pria di hadapannya berjalan ke arah dapur dan mencuci kedua tangannya di wastaple air yang mengalir. "Cih, dinginnya pria tampan itu," gumam Naura. Naura mengikuti arah pandangannya pria itu, hingga pria itu membuka sebuah laci dan membawa kertas. Ia berjalan dengan lembaran kertas di tangannya menghampiri Naura. Ia duduk di kursi semula dan menyodorkan kertas beserta ponsel yang sudah tak berbentuk lagi. "Eh, apa ini?" tanya Naura. "Wah, ini sertipikat, Altran Anggara ... hah? Ponselmu! Harganya ... US$48.5juta? Berapa itu?" seru Naura berpura-pura tidak paham. Pria dengan nama Altran itu menatap tajam Naura tanpa arti. Ia hanya memperhatikan gadis yang ada di sampingnya itu. Apalagi Naura semakin kebingungan ketika melihat setiap nominal jumlah harga ponsel yang ia rusak tertulis di kertas itu. *"Musibah ini lebih mengerikan dari penolakan lamaran pekerjaanku," batin Naura.* "Ini ...." "Kau harus ganti!" sela Altran. "Hah! Ganti? Ini aku ...," Naura semakin kebingingan. "Hmmm," suara Altran meminum kembali jusnya. *"Jangankan US, pekerjaan saja aku belum ada, bagaimana ini? Aku minta tolong sama siapa?" batin Naura terdiam.* Falcon Supernova iPhone 6 Silver Diamond (Rp 662 miliar). Naura berulang kali melihat kertas yang ada di tangannya dan membacanya dengan kesal. "Hp termahal di dunia yang pernah aku dengar. Hp ini dibanderol dengan harga US$48.5 juta atau sekitar lebih dari Rp 662 miliar. Jual diripun gak akan dapat uang segitu," gerutu Naura. "Apaan coba ponsel cuma buat panas-panasin telinga, buat jari keram harus semahal itu! Tau gitu aku jual saja ponselnya, pake acara terbuat dari emas segala," gerutu Naura. Altran yang mendengar gerutuan Naura tersenyum tipis, untuk pertama kalinya dia tersenyum hanya mendengar ocehan seorang gadis. Selama ini dia tidak pernah menunjukan perubahan raut wajahnya dari kata dingin dan datar. Namun untuk kali ini dia tersenyum hanya karena sebuah ocehan seorang gadis dengan gaya sederhana bahkan pakaian yang basah. *"Heh, menarik," batin Altran tersenyum tipis.*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD