Chapter 10

4933 Words
“Katakan saja, kau tak pandai berbohong padaku. Aku tidak melarangmu menanyakan apapun yang ingin kau ketahui bukan? Jadi katakan padaku sebelum aku memaksamu berterus terang, sayang.” Lagi, Skylar mencebik kesal. Mengumpati dirinya sendiri bodoh dalam hati karena selalu saja tak bisa membodohi pria dihadapannya itu. Selalu saja begini, berakhir dengan pria itu yang terus mencecarnya untuk benar – benar mengatakan apa yang ada dipikiran wanita itu. Itu memanglah hal bagus karena seolah menunjukkan fakta bahwa Gabriel begitu peduli dan peka terhadapnya, namun terkadang Skylar malu untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dipikirannya atau justru merasa gengsi membuatnya urung untuk melontarkan pemikirannya.   “Hmm, apa rencana honeymoon kita yang seminggu penuh itu dibatalkan?” tanya Skylar ragu – ragu, membuat Gabriel menatapnya bingung dan heran.   “Apa? Kenapa kau bisa berpikir seperti itu hm?” Skylar mengerutkan dahinya, kenapa kini Gabriel justru bertanya balik padanya sih.   “Ya karena kau sudah terlihat mengemasi barang – barang kita dengan rapi kedalam koper, ah selain itu kenapa kau membangunkanku pagi – pagi sekali juga? Apa kita benar – benar akan pulang?” Gabriel terkekeh kecil mendengar spekulasi – spekulasi yang ternyata bermunculan dalam otak istri cantiknya tersebut. Tangannya meraih kepala gadis itu untuk ia bubuhi sebuah kecupan.   “Tidak sayang, mana mungkin aku rela menggagalkan rencana honeymoon kita seminggu penuh hm? Aku masih membutuhkan banyak waktu untuk menikmati hidup dan kebersamaan denganmu selama seharian penuh tanpa ada gangguan dari pihak manapun apalagi tentang pekerjaan. Mana mungkin aku dengan bodohnya menyia – nyiakan kesempatan honeymoon ini hanya demi hal lain? tak ada yang lebih penting darimu sayang, bahkan jika bisa aku akan lebih memilih honeymoon bersamamu selama – lamanya daripada menghabiskan waktuku dengan tumpukan kertas - kertas membosankan dibalik meja kerjaku.” Oke, benar apa yang Antonio katakan mengenai Gabriel. Pria itu benar – benar terlihat kehilangan jati dirinya bukan? Dulu Gabriel pasti akan lebih memilih bergumul menghabiskan waktunya dengan bekerja, bekerja dan terus bekerja. Bahkan jika saja manusia tak perlu tidur, pria itu pasti akan lebih memilih untuk meningkatkan kekayaannya dengan bekerja selama 24/7. Sementara sekarang? Kemana sosok Gabriel yang dulu senang sekali berlovey – dovey dengan seluruh kertas dan berkas yang perlu ia cek dan tanda tangani itu?   “Cih, mana bisa seperti itu. Aku sudah terlanjur tidak mendaftarkan diri melalui jalur beasiswa dan kau ingin membangkrutkan diri hanya karena ingin menghabiskan waktu seumur hidupmu dengan honeymoon bersamaku begitu?” kali ini Gabriel benar – benar tergelak dibuatnya. Pria itu merengkuh Skylar gemas dengan erat, membuat wanita itu memekik terkejut mendapat rengkuhan erat secara tiba – tiba dari tubuh bongsor suaminya tersebut. Menyebalkan sekali.   Tanpa mengatakan apapun dengan tidak tau dirinya Gabriel meraih pinggang ramping Skylar, menarik gadis itu secara tiba – tiba kemudian meletakkannya pada pangkuan. Gabriel menatap Skylar intens dengan senyuman yang setia terukir dibibirnya mengabaikan omelan wanita itu padanya.   “Berhenti mengomel sayang, kau bisa saja membuatku kembali lepas kendali hanya karena kau menggerakkan cepat bibirmu itu untuk mengomeliku.” Dan yupss, seketika hening begitu saja setelah Skylar mendengarnya. Wanita itu benar – benar menutup rapat bibirnya, menghentikan omelannya kemudian mendecih sebelum menelusup pada d**a bidang Gabriel yang menggoda tepat didepan matanya. Menghindari kilatan mata menggoda Gabriel yang secara terang – terangan mengarah pada tubuhnya yang jelas saja masih telanjang tersebut. Netra tajam Gabriel melirik pada jam digital yang berada dinakas samping ranjang, sebuah seringai mulai muncul terukir dibibir seksi pria itu setelahnya.   “Sekarang masih pukul 7, kita masih punya waktu 1 jam lagi sebelum berangkat menuju suatu tempat.” Ucap Gabriel menggantung, membuat Skylar menerka – nerka. Wanita itu jelas tau kemana arah pembicaraan Gabriel yang baru saja pria itu lontarkan padanya.   “Kita bisa memanfaatkan waktu dengan maksimal bukan? 1 jam bercinta dipagi hari bukankah cukup memuaskan? Ingin melakukannya diatas ranjang atau dikamar mandi? Oh atau kau ingin melakukannya dikedua tempat rekomendasiku tersebut? Sebenarnya melakukannya dibalkon terdengar cukup ekstrim dan menguras adrenalin, tapi aku tidak akan rela jika ada orang lain yang memergoki kita diam – diam dan mengamati tubuh indahmu begitu saja. Akan kupastikan bahwa aku membunuh orang itu dengan kedua tanganku sendiri jika hal seperti itu benar – benar terjadi. Maka lebih baik kita memilih dua opsi teraman tadi bukan?”   Dan Skylar hanya mampu menghela nafasnya, wanita itu tak habis pikir dengan tingkah m***m suaminya itu yang tak kunjung surut. Begitu brilian jika tengah membahas kegiatan panas bersama istrinya. Maka pagi itu, Gabriel benar – benar melaksanakan apa yang semula ia ucapkan, menghabiskan sela waktu 1 jam mereka untuk dua ronde diatas ranjang dan didalam kamar mandi membuat Skylar hanya mampu meringkuk lemas dalam gendongan Gabriel ketika keduanya keluar dari hotel megah tersebut. Skylar tak peduli, gadis itu memejamkan matanya percaya kemanapun suaminya itu akan membawanya.   -   Tepat setelah 4 jam Skylar terlelap, gadis itu mulai mengerjap – ngerjapkan matanya. Tubuhnya menggeliat kecil lalu mulai menyadari bahwa kini ia tengah tertidur dalam posisi duduk dipangkuan Gabriel. Kepalanya bersandar pada bahu pria itu dengan nyaman selama tidur, membuatnya membatin seberapa lelah suaminya itu yang telah menjadi ranjang dadakannya. Menahan beban kepalanya pada bahu Gabriel selama entah berapa lama dirinya terlelap selama perjalanan.   “Sudah bangun hm?” tanya Gabriel dengan lembut, membuai telinganya. Skylar beranjak dari acara bersandarnya menatap pria yang tengah memangkunya tersebut dengan bibir yang kembali mencebik kecil, menghadirkan raut kebingungan Gabriel.   Cuppp   “Ada apa? Apa aku membuatmu kesal?” tanya Gabriel setelah berhasil mendaratkan sebuah kecupan manis pada ranum istrinya tersebut yang dibalas Skylar dengan gelengan kepala.   “Lalu kenapa mencebik padaku seperti itu? Apa karena kau masih merasa lelah? Jika iya, bersandarlah padaku lagi saja perjalanan kita masih 1 jam lagi untuk sampai ketempat tujuan.” Cupp* kini giliran Skylar yang mendaratkan sebuah kecupan pada pipi suaminya itu, membuat Gabriel tak kunjung melunturkan raut kebingungannya, bingung menerka – nerka mood istrinya.   “Kau pasti kelelahan menahan tubuhku selama perjalanan. Kenapa tak mendudukkanku dikursi saja? aku berat tau, dan kau justru memilih untuk meletakkan ku diatas pangkuanmu, oh dan bahumu pasti terasa kebas karena menjadi sandaranku.” Cerocos Skylar yang membuat Gabriel tersenyum lembut dalam diam, pria itu tanpa ragu kembali mendaratkan kecupan manis pada ranum Skylar, memandang wanita yang begitu ia cintai tersebut dengan lembut dan penuh puja.   “Apakah wajahku terlihat tengah kelelahan dan begitu keberatan membuatmu tidur diatas pangkuanku dengan kepalamu yang bersandar dibahuku, sayang?” tanya Gabriel dengan nada rendah nan lembutnya, membuat Skylar untuk kesekian kalinya terpesona dalam diam pada suaminya itu. Dapat dilihatnya bahwa Gabriel tak terlihat kelelahan sedikitpun, bahkan matanya sama sekali tak terlihat redup, seolah memantulkan binar – binar didalam sana. Setelah menyelami wajah dan mata suaminya, Skylar menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan yang sebelumnya Gabriel lontarkan padanya.   “Lihat, kau sendiri juga dapat menilainya bukan? Aku tak merasa lelah sedikitpun karena aku bahagia bersamamu. Jadi jangan khawatirkan hal yang tidak benar – benar terjadi sayang, lagipula siapa yang bilang jika kau berat hm? Mana mungkin aku mau mengangkatimu seenak hatiku jika kau berat? Bahkan kupikir kau harus banyak makan dan menambah porsimu supaya berat badanmu meningkat.” Skylar dibuat mendecih pada akhirnya, dengan sebal wanita itu memukul kecil d**a bidang Gabriel. Gabriel dan mulut handalnya itu benar – benar, mengabaikan keberadaan John yang sesekali ikut tersenyum simpul mendengarkan percakapan pasangan suami istri itu namun masih dengan setia mengemudikan mobil tersebut menuju tempat yang bosnya itu tuju. Turut bahagia melihat perubahan yang bosnya itu alami setelah kehadiran Skylar.   -   Setelah satu jam perjalanan mereka habiskan dengan saling menggoda dan bercanda ria, mobil yang mereka naiki tersebut sampai pada sebuah bangunan rumah bernuansa coklat dan putih. Terlihat megah namun tetap cocok meskipun terletak ditengah perkebunan anggur yang seolah menggoda mata Skylar. Wanita itu dengan antusias mengamati kanan dan kiri jalanan yang mereka lewati, benar – benar penuh dengan tumbuhan anggur ungu.   “Sampai…” ucap Gabriel yang seketika membuat gadis itu mengalihkan pandangan pada suaminya lalu tersenyum manis. Pria itu mengacak kecil surai Skylar sebelum akhirnya membuka pintu mobil disampingnya terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya tersebut. Tak lupa meraih jemari – jemari lentik Skylar untuk ia genggam lembut.   Skylar mengagumi keindahan yang ditawarkan oleh pemandang sekitar tempatnya berada. Bukan hanya rumah megah dan perkebunan anggur saja yang menawan matanya kala itu, namun ketika Gabriel menuntun wanita itu untuk terus berjalan menuju sisi rumah megah tersebut yang mengarahkannya ke bagian belakang rumah megah tersebut, lalu tanpa Skylar duga sebuah danau mini dengan angsa – angsa yang bermain air dengan bebas didanau itu terdapat dibelakang rumah. Serta jangan lupakan berbagai jenis bunga cantik yang tumbuh ditaman sekitar danau, begitu hijau dan memanjakan matanya.   Skylar akui, seumur hidupnya baru kali ini wanita itu menemukan hal – hal mewah dan indah setelah bertemu Gabriel. Seolah pria itu dapat memberikan segalanya yang ada didunia ini untuk wanita yang begitu ia cintai itu. Dalam hatinya Skylar benar – benar bersyukur mendapati Gabriel, suaminya itu benar – benar begitu dalam mencintainya, memberikan seluruh perhatian padanya apapun yang terjadi. Entah ketika pria itu tengah sibuk dengan bisnisnya ataupun beberapa pekerjaan lainnya yang juga berkaitan dengan perusahaan, pria itu tak pernah melupakannya dan tidak memprioritaskannya.   Wanita itu berhenti melangkah, menahan Gabriel untuk menghentikan langkahnya sejenak. Kedua tangan Skylar meraih bahu tegap Gabriel, membuat suaminya itu sepenuhnya menghadap kearahnya kemudian saling melemparkan senyum yang tentu saja tak dapat keduanya tahan ketika netra sepasang manusia yang tengah jatuh cinta itu kembali bertemu.   “Sejujurnya aku ingin sekali mengucapkan terimakasih padamu, tapi aku ingat jika kau pasti tak suka mendengarnya karena seperti katamu sebelumnya, bahwa itu merupakan tanggung jawab bagimu untuk membahagiakan aku…” ucap Skylar menggantung, gadis itu kembali meraih jemari Gabriel saling menelusupkan jari – jari lentiknya disela – sela jari Gabriel. Merasakan kehangatan yang tersalur diantara dua pasang tangan yang saling menyatu tersebut.   “Jadi yang ingin kukatakan adalah… Gabriel Miller, aku bahagia atas kehadiranmu dihidupku meskipun diawali dengan cara unik yang benar – benar berbeda dengan pria lain yang mengejar gadis yang disukainya.” Lagi, perkataan Skylar terjeda melihat suaminya itu yang kini terkekeh ringan, sedikit mengenang awal – awal mereka bertemu dulu. Gabriel yang benar – benar c***l berbuat m***m pada Skylar yang baru saja ditemuinya tanpa sengaja pada insiden tabrak menabrak dulu.   “Aku bahagia dan bersyukur karena pada akhirnya kini telah menjadi pendamping hidupmu, yang kelak akan menemanimu, mencintaimu dan menjadi rumah tempatmu pulang dan menjadi tempat menceritakan seluruh keluh kesahmu. I’ve totally fallen for you, husband… love ya~” Gabriel tak mampu berkata – kata, apa yang baru saja Skylar katakan padanya benar – benar menggetarkan hatinya, membawa wanita yang begitu berharga dalam hidupnya tersebut untuk ia bawa dalam gendongan koalanya, kembali membuat Skylar memekik sembari terkekeh kecil. Skylar tentu tak lupa tentang salah satu poin wajib yang harus dirinya ingat – ingat dalam berumah tangga yang diajarkan oleh mommy nya, mengenai keegoisan yang harus benar – benar dimusnahkan dalam berkeluarga. Juga tentang rasa gengsi, wanita paruh baya itu berkata bahwa Skylar harus mengenyahkan rasa gengsinya untuk memuji maupun mengatakan terimakasih pada pasangan atas apa yang pasangannya berikan padanya. Semua itu Skylar ingat dengan jelas sehingga membuat wanita itu tak mau menyia – nyiakan ilmu yang dimilikinya dari sang mommy.   “Sialan sekali, lututku hampir saja lemas mendengar kata – kata cintamu yang setengah mati terdengar begitu manis ditelingaku.” Keluh Gabriel yang menghadirkan gelak tawa Skylar. Wanita itu yang kini posisi wajahnya lebih tinggi daripada Gabriel itu mendaratkan sebuah kecupan pada dahi suaminya.   “Jangan pernah bosan mendengar aku berkata bahwa aku mencintaimu begitu dalam, I adore you and I’m addicted to you, my wife.”   -   “Selamat datang Tuan dan Nyonya Miller.” Sapa seorang wanita paruh baya yang mengenakan sebuah seragam maid.   “Ya Abreana.” Balas Gabriel seadanya dengan tangan kekarnya yang setia melingkari pinggang istrinya. Wanita paruh baya tadi tersenyum kecil melihat seorang wanita disamping bosnya tersebut yang dikabarkan telah resmi menjadi istri seorang Gabriel Miller, terlihat baik dan ramah, tidak seperti wanita – wanita yang hanya tertarik pada harta tuannya saja yang gemar kali bertingkah arogan.   “So Abreana, wanita cantik yang ada disampingku ini adalah istriku, dan sayang, perkenalkan, dia adalah Abreana, dia yang kuberi tugas mengurus rumah ini yang jarang sekali kutempati jika benar – benar tak ada urusan bisnis apapun di Bordeaux.” Abreana kembali membungkuk kecil memberi hormat pada Skylar, membuat Skylar tersenyum tipis, merasa belum terbiasa dan kurang nyaman diperlakukan seperti itu oleh orang yang jauh lebih tua darinya, bahkan Abreana terlihat seumuran dengan mommy nya.   “Hai Abreana, namaku Skylar dan senang bertemu denganmu.” Ucap Skylar dengan ramah, membuat Abreana tak mampu menahan senyumannya. Tak salah memang pilihan tuannya tersebut, pikirnya.   “Senang bertemu dengan anda juga, Nyonya…” balas Abreana yang membuat Skylar mencebik kecil, panggilan nyonya terdengar begitu asing ditelinganya. Kalau boleh mengingatkan, Skylar masih berusia 19 tahun ngomong – ngomong. Jadi wajar saja jika dalam hati wanita itu memprotesnya diam – diam.   “Dan mengenai rumah ini serta seluruh wilayah perkebunan, apakah terdapat suatu masalah yang perlu diselesaikan? Sebenarnya 2 minggu ini aku lupa memastikannya pada Marius mengenai keadaan di Bordeaux.” Tanya Gabriel pada Abreana. Mendengar sedikit percakapan keduanya, sekilas Skylar kembali mengernyitkan dahinya curiga. Gabriel menanyakan keadaan rumah ini sekaligus perkebunan? Holy s**t, jangan bilang jika perkebunan anggur yang memanjakan matanya sepanjang perjalanan tadi seluruhnya adalah milik Gabriel?   “Tidak ada Tuan, Marius mengatakannya pada saya pagi tadi jadi Tuan dan Nyonya Miller dapat berlibur dengan lancar. Selain itu, kami juga sudah mulai mempersiapkan hidangan untuk dinner Tuan dan Nyonya nanti malam, apakah ada yang Tuan atau Nyonya inginkan untuk menu – menu makanan yang akan dihidangkan nanti?” Gabriel menatap Skylar, menanyai istrinya tersebut melalui tatapan mata yang dapat dipahami dengan mudah oleh Skylar. Wanita itu menjawab pertanyaan tersirat Gabriel tersebut dengan gelengan kepala.   “Tidak ada, kau bebas menyajikan menu makan malam untuk nanti dan kuharap kau tidak mengecewakan kami, Abreana. Sekarang aku akan mengajak istriku untuk pergi jalan – jalan disekitar sini, suruh pelayan lainnya untuk mengangkat koper kami kekamar utama.” Pesan Gabriel yang ditangkap baik oleh Abreana, selanjutnya pria itu segera membawa istrinya yang setia dalam rengkuhan tangannya tersebut untuk kembali keluar rumah.   -   “Jadi… kita akan kemana?” tanya Skylar penasaran karena Gabriel tak kunjung menjelaskan padanya tentang kemana arah kaki mereka melangkah saat ini.   “Aku ingin melihat matahari tenggelam denganmu.” Jawab Gabriel sebelum kemudian kembali mengangkat tangan Skylar yang ada digenggamannya, mendaratkan kecupan dipunggung tangan wanita itu.   “Lagi?” ya, Skylar penasaran mengapa selama mereka berada di Prancis Gabriel selalu mengajaknya untuk melihat pemandangan ketika matahari terbenam. Mungkinkah pria itu begitu menyukai senja dengan bias ke jingganya itu?   “Ya, karena setelah masa honeymoon kita berakhir akan sangat sulit untukku dapat menikmati waktu senja. Kembali pada kesibukan pekerjaan diperusahaan terkadang membuatku sering kali melewatkan waktu – waktu terbaik untuk menikmati alam seperti senja ini.” Skylar paham sekarang. Wanita itu mengerut, kasihan dalam hati melihat keseharian Gabriel selama ini yang seringkali larut secara terus – menerus dalam pekerjaannya. Tak dapat meluangkan waktu sedikitpun untuk sekedar menikmati hidupnya. Skylar melepaskan genggaman Gabriel pada tangannya, menghasilkan sebuah rengutan tak suka dari Gabriel namun segera meluntur kala istrinya itu beralih memeluk pinggangnya dari samping.   “Kau perlu meluangkan sedikit waktumu untuk menikmati hidupmu babe~” ucap Skylar yang menelusup nyaman pada d**a bidang Gabriel, hingga suaminya itu tak tahan untuk mengelus sayang surai panjang Skylar. Melupakan fakta bahwa kini keduanya masih berada dijalanan setapak disekitar perkebunan anggur.   “I’ll do, karena kini kau bersamaku. Sekarang aku memiliki alasan untuk mengurangi waktu bekerjaku, mana mungkin aku rela membiarkan istriku tercinta kesepian sepanjang hari bukan?” Skylar terkekeh mendengarnya tanpa memindahkan posisi wajahnya dari d**a bidang Gabriel, tempat ternyaman dan teraman baginya kini.   “Kau juga perlu beristirahat yang cukup, ingat untuk menjaga kesehatanmu juga. Aku tak mau cepat – cepat hidup menyendiri dan kesepian diusia tuaku hanya karena suamiku yang ceroboh dan membiarkan dirinya sendiri sakit hanya karena terlalu sibuk bekerja, kau dengar?” Gabriel menganggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya mendengar dengan baik nasihat istrinya tersebut.   “Yes, ma’am.” Patuh Gabriel dengan senyum bahagianya, saling menatap dalam dengan netra indah istrinya itu.   “Tuan Miller?” sebuah suara mengalihkan fokus keduanya. Tepat didepan mereka dengan jarak sekitar 5 meter, seorang pria paruh baya terlihat menatap kearah keduanya dengan senyuman sopan.   “Oh, Marius?” pria paruh baya itu mengulurkan tangannya pada Gabriel yang dibalas segera oleh pria itu, kemudian pria paruh baya itu berganti mengulurkan tangannya pada Skylar yang dijabat dengan ringan oleh Skylar.   “Tuan dan Nyonya Miller sudah lama sampai disini?” tanya Marius.   “Tidak, aku baru saja sampai dengan istriku kemudian memutuskan untuk pergi kekebun sekitar rumah sebentar.” Jawab Gabriel yang dipahami Marius.   “Aku sudah mendengar dari Abreana bahwa tidak ada masalah diperkebunan, pabrik maupun dirumah. Aku mengapresiasi kerjamu yang begitu tekun.” Lanjut Gabriel yang membuat Marius terlihat berbinar.   “Terimakasih atas apresiasi Tuan Miller, sayapun berharap semoga Tuan Miller dapat hidup bahagia bersama Nyonya, dan dihindarkan dari gangguan ataupun masalah apapun.” Skylar tersenyum cerah mendengarnya, senang mendengar do’a baik dari pria paruh baya didepannya itu.   “Terimakasih Marius, aku Skylar dan aku akan mengamini doa – doamu itu.” Saut Skylar tak lupa dengan senyum ramahnya.   “Baik, kami akan melanjutkan perjalanan kami ke kebun dulu.” Akhirnya Gabriel serta Skylar pun melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang ingin Gabriel tunjukkan pada istrinya itu.   Selang waktu sekitar 1 menit mereka berjalan, akhirnya sampailah keduanya disebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan mini, begitu menyejukkan dipandang mata meskipun suasana senja nyaris dimulai. Gabriel menuntun istrinya itu untuk duduk diatas rerumputan, menyandarkan punggung kokohnya pada sebuah pohon yang tumbuh ditanah lapang tersebut, lalu membawa Skylar untuk duduk didepannya tepat disela kakinya supaya dirinya dapat memeluk wanita itu dari belakang.   “Lihat, mataharinya mulai terbenam.” Bisik Gabriel kala Skylar mulai menyamankan duduknya dengan bersandar pada d**a bidang Gabriel, tak merasa risih sedikitpun merasakan tangan kekar Gabriel yang tak mau melepaskan pelukannya dan dengan nyaman melingkari perut Skylar.   Hari itu, keduanya kembali menikmati senja berdua. Menghabiskan waktu meniti detik demi detik ketika matahari terlihat mulai bergerak menuju ufuk barat secara perlahan, keheningan tanpa rasa canggung keduanya nikmati dengan Gabriel yang sesekali membubuhkan kecupannya pada pucuk kepala istrinya. Keduanya pasti akan merindukan suasana senja indah dinegara ini yang  mereka nikmati dengan penuh afeksi untuk menyalurkan rasa cinta pasangan manusia itu. - Ketika langit telah sepenuhnya petang, Gabriel memutuskan untuk mengajak istri tercintanya itu pulang, kembali ke rumah yang sengaja ia bangun ditengah perkebunan anggur itu. Memaksa untuk membawa Skylar pada gendongan dipunggungnya yang sejujurnya ditolak mentah – mentah oleh wanita itu, namun lagi – lagi karena kekeras kepalaan Gabriel, akhirnya Skylar pun tetap berakhir melingkarkan kedua tangannya pada leher Gabriel, pasrah ketika suaminya itu menggendongnya dipunggung kokoh pria itu yang sejujurnya terlihat begitu menggoda dimata Skylar meskipun masih terlapisi sebuah pakaian. Sialan memang, gadis itu merutuk dalam hati heran pada otaknya sendiri yang berubah sering berpikiran tidak – tidak ketika mengamati suaminya itu semenjak keduanya telah melewati malam – malam panas. Sepertinya otaknya benar – benar telah tertular virus m***m dari sang suami.   Udara malam mulai menyapa, tak cukup dingin tapi lumayan membuat Skylar bergidik ketika angin malam mulai berhembus. Namun dengan lebih mengeratkan pelukannya pada Gabriel, wanita itu dapat mengatasi rasa dinginnya dengan mudah. Keduanya sampai dirumah megah Gabriel disambut dengan Abreana dan Marius yang membuat Skylar meringkuk malu dibalik punggung Gabriel, menyembunyikan wajah cantiknya pada bahu suaminya itu, membuat suaminya, Marius, serta Abreana menahan kikikan gemas mereka karena tak ingin wanita itu merajuk setelahnya.   Kehadiran Skylar yang baru bagi mereka tentu membuat keadaan dan atmosfer dirumah itu terasa jauh mengalami perubahan. Perubahan kearah positif lebih tepatnya. Tentang Gabriel yang dulu lebih sering berbicara singkat, datang kerumah itu hanya untuk singgah mengurusi bisnisnya di Bordeaux, bertingkah kaku tanpa ekspresi hingga rumah itu tetap terasa hening dan sepi meskipun si penghuni asli rumah itu datang untuk tinggal, kini berubah 180 derajat menjadi lebih hidup. Bos mereka jelas menjadi lebih ekspresif, tak lagi berbicara singkat, bahkan terlihat mulai bisa mencoba untuk menikmati hidup, melupakan pekerjaannya yang selama ini ia geluti seumur hidup tanpa istirahat itu sesaat.   Bahkan ketika sepasang manusia itu keluar dari kamar utama setelah mandi sepulang dari perkebunan anggur tadi, Abreana dan beberapa pelayan lain dibuat menahan senyum mereka ketika mendapati Skylar keluar dari kamar utama itu dengan terkikik geli serta kaki jenjangnya yang bergerak cepat nyaris berlari menghindari Gabriel yang terlihat mengejar wanita itu dari belakang.   Tepat ketika Skylar baru saja berhasil menuruni tangga, wanita itu merasakan tubuhnya terangkat dan melayang membuatnya tak mampu menahan pekikan terkejut dari bibirnya menghadapi ulah Gabriel yang senang sekali mengangkati tubuhnya seolah wanita itu tak berat sama sekali ditangannya.   “Hyaaa!” pekik Skylar yang terkejut ketika Gabriel menggendongnya bak dirinya adalah sekarung beras yang ia tempatkan pada bahu kokohnya.   Plakkk*   “Yakk Om!” teriak Skylar tak terima kala suaminya itu memukul pantatnya keras, mengabaikan para pelayan dirumah itu yang diam – diam mengamati interaksi manis sepasang pengantin baru itu.   “Apa itu? Kau baru saja mengejekku hm?” tanya Gabriel sembari menatap Skylar yang kini telah ia pindahkan posisi menjadi dirinya yang menggendong koala, wanita itu. Skylar yang mendengar omelan Gabriel pun hanya dapat tergelak tawa, ekspresi sebal suaminya itu terlihat begitu menghiburnya.   “Kau lupa jika yang kunikahi itu adalah kamu, bukan tantemu hee?” tanya Gabriel lagi sembari memutar – mutar tubuhnya yang masih dengan menggendong istrinya tersebut, membuat Skylar lagi – lagi hanya mampu memekik sembari tertawa dalam gendongan pria itu.   “Berhenti, kepalaku akan pusing jika kau terus memutarkanku digendonganmu~” protes Skylar yang diabaikan pria itu. Gabriel tetap kekeuh mengusili Skylar yang berada dalam gendongannya, terkadang memutar tubuh atau justru menggoda wanita itu seolah akan menjatuhkan atau melemparkannya dari gendongan.   “Tidak akan berhenti sebelum kau memohon padaku dengan cara menggemaskan.” Tantang Gabriel membuat istrinya mencebik kecil, tangannya menepuk – nepuk pelan bahu Gabriel membuat pria itu memfokuskan tatapan matanya pada Skylar dengan seringaiannya.   “Kumohon, berhenti memutar – mutar tubuhku digendonganmu. Istrimu ini akan pusing dan mual jika kau terus melakukannya babe~” rengek Skylar dengan bibirnya yang ia cemberutkan, berusaha menampilkan wajah imutnya meskipun faktanya apapun yang wanita itu lakukan didepan Gabriel, suaminya itu tetap menilai Skylar imut dimatanya sehingga benar – benar memikat hati pria itu. Cuppp cupp cuppp Dengan gemas Gabriel mendaratkan kecupan singkat berkali – kali pada bibir Skylar, menghasilkan sebuah senyuman malu – malu dari ranum wanita itu. Bahkan kini perut keduanya terasa begitu penuh akan ribuan kupu – kupu tak kasat mata yang beterbangan, menghasilkan gelenyar hangat dihati mereka.   “Lagi?” Gabriel kembali dibuat tergelak ketika istrinya itu secara terang – terangan kembali meminta kecupan darinya, namun kali ini ia tak mau menuruti keinginan wanita itu. Kecupan – kecupan ringan tentu saja tidak cukup bagi Gabriel. Pria itu lebih memilih melumat ranum lembut Skylar, membelah bibir itu diantara bibirnya dan saling berbagi kenikmatan kala kedua bibir itu kembali bertemu dengan lebih intens daripada hanya sekedar kecupan lalu.   Para pelayan yang semula mengintip interaksi keduanya pun dibuat memerah ketika melihat sepasang manusia yang betah menempel berdua seharian itu. Apalagi ketika terdengar sebuah lenguhan lirih dari Skylar. Abreana yang juga melihatnya pun hanya dapat tersenyum seraya menggeleng – gelengkan kepalanya, aura cinta benar – benar memenuhi seisi rumah itu karena ulah tuan dan nyonya nya itu.   Setelah puas saling mengecap bibir pasangannya, kedua manusia itu mulai melepaskan tautan bibir mereka, saling menatap dalam lalu terkekeh hanya karena menatap wajah pasangannya. Gabriel mulai melangkahkan kakinya kembali tanpa memiliki niatan untuk menurunkan Skylar dari gendongannya.   “Ayo cepat kita makan malam, aku sudah bisa mendengar suara perutmu yang bergejolak kelaparan.” Goda pria itu yang menghasilkan sebuah dengusan kecil dari Skylar. hingga akhirnya sampailah keduanya didepan meja makan. Disambut oleh Abreana dan pelayan – pelayan lain dipinggir ruang makan, seolah berjaga – jaga apabila tuan dan nyonya mereka membutuhkan sesuatu.   “Babe, lepaskan lingkaran lenganmu dari pinggangku. Aku tak bisa turun dari pangkuanmu jika begini.” Protes Skylar yang kini terlihat tengah berusaha melepaskan belitan tangan Gabriel pada perutnya, sadar akan keberadaan beberapa pelayan disekelilingnya membuat wanita itu merasakan urat malunya kembali berfungsi.   “Memangnya siapa yang berniat membebaskanmu dari pangkuanku hm?” jawab Gabriel dengan santai. Tangan pria itu bahkan telah meraih garpu dan pisau yang terletak disamping piring berisi menu makan malam mereka tanpa memperdulikan Skylar yang terus saja bergerak berusaha keluar dari pelukan Gabriel.   “Seriously babe? Kau mau membuatku menahan lapar sementara kau menikmati makan malammu sendiri seperti ini?” rajuk Skylar yang tak lagi kuasa menahan lapar. Ingat fakta bahwa Skylar merupakan tipe wanita yang mood nya mudah naik – turun hanya karena makanan dan kondisi perutnya.   “Darimana pikiran itu bisa muncul diotak pintarmu sayang? Buka mulutmu, aku akan menyuapimu sekarang.” Terang Gabriel sembari menyodorkan potongan duck breast dengan garpu ditangannya, aroma yang tercium dihidung Skylar itu benar – benar membuatnya tak mampu menolak suapan yang suaminya itu berikan padanya. Masa bodoh lah dengan keberadaan Abreana dan pelayan – pelayan lainnya, wanita itu sudah kepalang kelaparan hanya untuk sekedar berpikir atau merasa sungkan karena duduk dipangkuan suaminya dan menerima suapan makan malam dari pria itu.   Akhirnya keduanya pun berhasil menghabiskan dua porsi duck breast yang mereka makan bersama – sama, serta menu – menu sampingan lainnya yang ikut dilahap habis oleh Skylar maupun Gabriel. Hah, menghabiskan waktu 24/7 dengan istrinya benar – benar berhasil membuat pria itu bahagia bukan kepalang. Begitupun dengan apa yang Skylar rasakan. Mereka akan menanti keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, menghabiskan sisa waktu honeymoon mereka tanpa tersia – sia, semakin membangun kemistri dengan pasangan, memberikan afeksi dan tentu saja menghabiskan malam – malam dengan kegiatan panas tanpa absen seharipun. Ah, hal itu terdengar indah bagi keduanya, apalagi ditelinga seorang Gabriel.   -   Keesokan harinya, Gabriel dibuat terperanjat dari tidur lelapnya kala mendapati ranjang disampingnya telah kosong tanpa penghuni. Pria itu segera meraih celana dan kaosnya dengan asal – asalan, meskipun dalam keadaan panik, Gabriel tentu tidak lupa bahwa Skylar akan sangat tidak suka jika dirinya berkeliaran tanpa mengenakan baju lengkap didalam rumahnya karena tak ingin tubuh Gabriel dilihat oleh wanita lain begitu saja katanya.   “Skylar?!” panggil Gabriel dengan nada khawatirnya menuruni tangga rumahnya itu.   “Aku disini!” seru sebuah suara yang Gabriel ingat betul bahwa itu merupakan suara istrinya. Suara itu berasal dari arah dapur, maka tanpa menunda Gabriel berjalan cepat untuk menemukan Skylar nya.   “Kau membuatku khawatir!” omel Gabriel mendapati istrinya itu yang kini terlihat menata beberapa makanan untuk wanita itu masukkan pada sebuah keranjang rotan. Pria itu meraih tengkuk Skylar untuk membuat istrinya itu mendekat kearahnya.   Cupp cuppp   Lalu kecupan kembali pria itu bubuhkan pada dahi serta bibir Skylar singkat, membuat Abreana yang juga berada disana bersama 2 orang pelayan lainnya tersenyum maklum.   “Khawatir? Memangnya apa yang kau khawatirkan hm?” tanya Skylar masih dengan tangannya yang sibuk menata beberapa makanan kedalam ranjang rotan.   “Kupikir kau menghilang.” Jawab Gabriel dengan kejujurannya, menghasilkan gelakan tawa Skylar. Oh, jangan lupakan tentang keberadaan Abreane dan pelayan lainnya yang menggigit bibir bawah mereka gemas. Bos mereka tak pernah bersikap semanusiawi ini seumur – umur mereka bekerja disini.   “Mana mungkin istrimu ini menghilang begitu saja. Sekarang, cepat mandi dan bersiap. Aku ingin kembali ketempat kemarin dan piknik sederhana denganmu.” Ucap Skylar sembari memutar tubuhnya untuk menghadap suaminya yang tetap terlihat tampan meskipun dalam keadaan baru bangun tidur dengan kekhawatirannya itu. Melihat posisinya yang kini telah sempurna berhadapan dengan wajah cantik istrinya itu, Gabriel tanpa berpikir mendekatkan wajahnya begitu saja pada Skylar. inginnya mendaratkan sebuah morning kiss manis yang menyambut harinya, namun terhalang ketika istrinya itu menahan bahunya.   “M-malu…” cicit Skylar lirih dan menundukkan wajahnya dengan pipinya yang telah memerah. Mendengar itu, Gabriel baru menyadari keberadaan beberapa pelayan yang ada didapur itu setelah mengedarkan pandangannya.   Abreana yang paham akan situasi tuannya itu memberi isyarat pada para pelayan lainnya untuk pergi mengikutinya, wanita paruh baya itu kemudian berlalu bersama 2 pelayan yang mengikuti langkahnya. Meninggalkan tuan dan nyonya nya untuk kembali melanjutkan sesi bermesraan keduanya didapur.   “Sudah tidak ada siapapun lagi, hanya ada kita berdua disini. So, give me a morning kiss, please…” bisik Gabriel pada telinga Skylar setelah mendorong bahu istrinya itu, kemudian mengarahkan istrinya untuk duduk diatas meja dapur.   Skylar tersenyum simpul setelahnya. Wanita itu membalas tatapan Gabriel dengan lembut, meraih dagu pria itu untuk lebih dekat dan lebih turun kearahnya.   Cuppp   Itu sebuah kecupan singkat yang Skylar bubuhkan pada bibir suaminya. Sebuah kecupan ringan yang menggoda sebagai pembuka sesi morning kiss mereka.   Cuppp   Kali ini bukan sekedar kecupan singkat lagi. Wanita itu melumat lembut bibir Gabriel dengan tangannya yang mulai bergerak merambat menuju tengkuk pria itu, melenguh kecil ketika tangan kanan Gabriel meremas halus pinggulnya sementara tangan lainnya pria itu gunakan untuk menahan tubuhnya dengan berpegangan pada meja dapur. Ciuman dan lumatan itu berlangsung hingga beberapa menit, begitu lambat dan lembut tanpa ada unsur tergesa – gesa ataupun nafsu saja, namun juga penuh cinta yang saling keduanya salurkan.   “Thanks for my morning kiss sweety!” ucap Gabriel pada Skylar, menghadirkan sebuah cebikkan malu – malu darinya.   “Sudah sana, cepat mandi dan bersiap. Aku akan marah padamu jika kau membuatku menunggu terlalu lama.” Mendengarnya, Gabriel pun membungkukkan tubuhnya dengan hormat seolah tengah menghadapi seorang ratu kerajaan.   “Yes ma’am, perintahmu akan segera hamba laksanakan.” Gelak tawa Skylar pun kembali terdengar, memberikan pukulan main – main pada bahu suaminya itu sebelum mendorong pelan Gabriel agar kembali memasuki kamar utama untuk mandi dan bersiap pergi piknik berdua.     To be continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD