PROLOGUE

544 Words
“Cukup! Jangan dengarkan dia!” Reyhan terbelalak tatkala seorang Gadis kecil langsung menariknya pergi dari hadapan Pria tadi. Sembari berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat lenyap entah ke mana, ia membiarkan dirinya tetap ditarik, mengikuti tuju langkah Gadis itu tanpa memberikan protes sedikit pun. “Kau ... kau tak apa-apa, kan, Kak?!” Gadis itu sudah dalam posisi berjongkok, dengan napasnya yang masih terengah-engah hebat. Reyhan terdiam. Menautkan kedua alisnya beberapa saat, sembari matanya yang terus memandangi tubuh Gadis berseragam SMP di hadapannya itu dari atas hingga bawah. “Apa maksudmu sudah lancang menarikku seperti sapi?” tanyanya tenang. Gadis itu meluruskan posisi tubuhnya, kemudian langsung mengulurkan tangan kanan seolah mengajak bersalaman. “Namaku Agatha Qyara. Aku baru saja menolongmu, Kak. Ayo, berkenalan!” balasnya melengking ceria. “Katakan dengan jelas! Jangan sok imut di hadapanku!” ketus Reyhan, sembari tangan Atha yang langsung ia tepis jauh. Meski sedikit kesal, Atha tetap betah menampakkan senyum dan deretan gigi kelincinya yang rapi. “Pria tadi itu tukang hipnotis, Kak. Dia berniat memeras dan mencuri mobil mewahmu, lalu menjualnya di tempat lain dengan harga fantastis. Aku tahu, karena aku bisa membaca pikiran lewat mata. Ayo, berkenalan!” Reyhan berdecak singkat. Setelah melirik uluran tangan Atha sekilas, ia lantas berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Menyaksikan itu, Atha jelas saja semakin kesal. Ia memang suka menolong, dan alasannya tentu saja agar punya banyak teman dan kenalan. Gadis itu sangat ceria dan suka bergaul. “Kak, jangan pergi dulu!” Atha membuka pintu mobil Reyhan, kemudian langsung masuk begitu saja. “Dengarkan penjelasanku dulu, Kak! Aku tahu kau pasti tidak percaya jika aku bisa membaca pikir─" “Keluar.” Reyhan menatap lurus ke depan. “Ya, ampun, Kak! Biarkan aku jelaskan dulu, dong. Sebentar saja─" “Kubilang keluar!” potong Reyhan berteriak. Entah mengapa emosinya langsung meningkat sejak Gadis ini datang. “Iya, aku akan keluar, tapi nanti setelah─" “Oke, jelaskan sekarang! Kau punya waktu lima detik!” Reyhan menoleh kemudian menatap Atha tajam. Sekarang ia tahu alasan mengapa emosinya jadi cepat meledak. Sejak lahir, manusia-manusia pencari perhatian memang selalu terlihat memuakkan di matanya. Tapi ... mengapa pula manusia sespesies itu harus selalu ada di mana-mana? “Astaga, Kak. Dengar, ya! Aku sama sekali tidak bermaksud mencari perhatian, oke? Aku hanya suka menolong sebagai sesama manus─" “Keluarlah. Terima kasih sudah membuktikan.” Entah sudah yang ke berapa kali ia memotong omongan Atha, yang jelasnya, Reyhan tidak peduli. Ia hanya peduli tentang Sella yang mungkin sejak tadi sudah menungguinya. Namun, bukannya menurut, Atha malah semakin tersenyum lebar lagi. “Iya, aku akan keluar setelah kita berkenalan,” balasnya seraya kembali mengulurkan tangan. “Aku sudah mengucapkan terima kasih, kan? Keluar, deh! Adikku sudah menunggu sejak tadi!” Reyhan mematikan mesin mobilnya lagi, kemudian berpindah menatap Atha muak. “Tapi aku hanya ingin tahu namamu─" “Namaku Reyhan, jadi apa lagi yang ingin kau tahu?” Atha terkekeh. “Hm, baik, Kak Rerey. Sampai jumpa lagi, ya! Tolong berhenti menyebutku Gadis gila,” balasnya sembari mulai membuka pintu, dan langsung bergegas turun. Setelah menyaksikan pintu tertutup kembali, Reyhan langsung melajukan mobilnya pergi. Tangannya bergerak mengusap peluh di keningnya, tanpa lupa juga membuka beberapa kaitan kancing seragam SMA-nya. “Kak Rerey? Cih! Gadis gila lancang!” ▪▪▪
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD