Dua Hari Lagi

1092 Words
Sebelum baca klik b**********n dulu ya ****** ****** Memang Mas Johan selalu begitu, tak pernah membelaku, seakan aku memang selalu yang salah. Dia hanya akan selalu memintaku bersabar menghadapi keluarga kakaknya itu. "Dek, maafin Mbak Sarah ya. Dia seperti ini juga karena memang baru saja mengalami kebangkrutan, pasti dia sangat shock apalagi 'kan masih punya bayi Dek, takutnya kalau kita nggak mengalah dia malah mengalami Baby blues, kasihan Bobby juga 'kan?" Mas Johan ikut duduk di pinggir ranjang bersamaku, dan mengusap punggungku. "Tapi ini sudah tujuh bulan lebih Mas, harusnya Mbak Sarah dan juga Mas Rusli sudah bisa mulai bangkit lagi Mas. Apalagi mereka kan mempunyai tiga orang anak, sampai kapan mereka akan begini terus? Dan sampai kapan mereka akan menjadi benalu di rumah kita seperti ini!?" kataku yang memang masih sedikit emosi. "Sabar ya Dek, sebentar lagi pasti mereka akan kembali bangkit. Kita juga harus me dukung mereka agar segera memulai lembaran baru. Jangan terlalu merasa mereka menjadi beban di sini, jika kita ikhlas maka Allah akan memberikan rizki berlipat untuk kita." "Sebenarnya bukan masalah uang Mas, tapi mereka tak bisa sedikit pun menghargai aku sebagai tuan rumah di sini Mas. Aku tak ubahnya seorang pembantu di rumahku sendiri. Seharusnya mereka itu tahu diri, bagaimana adab menumpang di rumah orang, jangan malah merasa menjadi bos!" "Iya-iya Dek. Mas mengerti semua yang dilakukan Mbak Sarah dan Mas Rusli memang keterluan. Tapi Mas mohon dengan sangat, kamu bersabar lebih lama lagi ya. Aku juga akan berusaha mencarikan pekerjaan untuk Mas Rusli." Kali ini Mas Johan memegang erat tanganku, mencoba meyakinkanku bahwa semua ini akan segera berakhir. Di saat Mas Johan sedang mencoba meluluhkan hatiku, terdengar percakapan keluarga itu di meja makan. "Ayo-ayo yang cepat makannya anak-anak. Kalau habis nambah lagi saja, kamu juga Pa, mumpung lauknya enak ini, empal dan soto daging sapi. Kalau perlu kita habiskan saja sekalian, biar nanti Rini masak lagi!" suara Mbak Sarah terdengar sumringah. "Mama, aku dan Dewi pingin banget makan es krim yang besar banget itu loh, pokoknya nanti siang kami harus makan es krim itu!" "Papa juga rokok dan pulsa nya habis semua lho Ma." Suara Mas Rusli terdengar santai mengatakan hal itu. "Halah sudah jangan khawatir nanti aku mintain pada Johan. Kalian bisa jajan apa saja nanti sepuasnya. Selama kita di sini tak perlu bingung lagi, semua serba tersedia pokoknya. Sudahlah sekarang buruan habiskan makanan ini!" "Tapi aku tuh risih lho Ma, kalau si Rini itu terus menyuruh aku mencari pekerjaan. Aku kan masih trauma Ma, juga masih malas sekali, pingin istirahat sejenak di sini," Mas Rusli kembali berkata dengan entengnya. "Halah kenapa sih kok Papa itu dengerin omongan si Rini, kalau dia ngomong anggep saja kaleng rombeng. Papa tak usah buru-buru cari kerjaan lah, kita nikmati dulu kebersamaan ini. Lagian 'kan ada Johan yang bisa kita mintai uang setiap waktu, tak perlu repot-repot kerja, semua kebutuhan kita tetap bisa terpenuhi. Anggap sajalah ini rumah sendiri, dan mereka yang numpang. Hahaha." Sorak-sorai terdengar dari keluarga benalu itu, sungguh kebangetan sekali mereka ini. Sebenarnya kata-kata Mas Johan tadi telah sedikit meluluhkan hatiku, namun ketika mendengar lagi percakapan mereka, darahku kembali mendidih. "Mas, kamu dengar 'kan apa yang baru saja mereka katakan?!" Nada bicaraku kini kembali meninggi pada Mas Johan. "Iya Dek, aku dengar semuanya. Tolong sedikit lagi kamu bersabar, nanti aku akan mencarikan pekerjaan untuk Mas Rusli." Suamiku ini masih terus mencoba menenangkanku. "Sampai kapan sih Mas aku harus bersabar? Mereka itu yang numpang, bahkan menjadi benalu di rumah kita, tapi mengapa seolah kita lah yang jadi pembantu di sini!" Mas Johan tak berkata apa-apa dia hanya mengengg tanganku erat. "Aku ini capek Mas, pulang kerja di suguhi banyak kerjaan, mau berangkat ke pasar juga harus mengerjaka semua pekerjaan rumah. Apa kamu nggak sayang sama aku? Hingga kamu rela aku di jadikan pembantu oleh mereka?" "Bukan begitu Dek, aku sungguh sangat sayang kepadamu. Lahir batin dan sampai kapanpun kamu adalah bidadari di hatiku. Namun aku mohon kali ini saja bersabarlah, aku secepatnya akan mencarikan pekerjaan untuk Mas Rusli serta mencari tempat tinggal sementara untuk mereka, paling tidak beri aku waktu dua hari. Aku yakin jika sudah ada pekerjaan pasti mereka akan berubah Dek." Kali ini Mas Johan bersimpuh di lututku, dan membuat aku tak bisa menolak permintaannya ini. Sejujurnya aku sangat tahu jika suamiku ini sangat menyayangiku, hanya saja dia pun sayang kepada kakaknya. Aku tau posisinya saat ini serba salah. Dan demi Mas Johan aku akan mengalah lagi untuk dua hari ke depan. "Baiklah Mas, aku akan mencoba bersabar lagi untuk dua hari ke depan. Semoga kamu segera mendapat pekerjaan untuk Mas Rusli dan mereka pindah dari sini. Ini semua aku lakukan demi menghormatimu Mas. Namun jika mereka dua hari berlalu dan semua tak berubah, maka jangan salahkan aku jika aku akan menggunakan caraku sendiri agar mereka tak betah berada di sini!", "Baiklah Mas, aku akan mencoba bersabar lagi untuk dua hari ke depan. Semoga kamu segera mendapat pekerjaan untuk Mas Rusli dan mereka pindah dari sini. Ini semua aku lakukan demi menghormatimu Mas. Namun jika dua hari berlalu dan semua tak berubah, maka jangan salahkan aku jika aku akan menggunakan caraku sendiri agar mereka tak betah berada di sini!" "Terima kasih banyak Dek, kamu masih mau bersabar lagi, ternyata tak salah aku memilihmu menjadi istriku. Insyaallah dua hari lagi semua akan berbeda Dek. Sekali lagi terima kasih ya Dek." Mas Johan kemudian mencium keningku dan memelukku. Meski pun aku sangat membenci kelakuan saudara iparku, namun aku tak ingin membuat rumah tanggaku dan Mas Johan berantakan. Aku harus tetap bisa menempatkan diriku, agar semua berjalan seimbang. Aku adalah Rini Juwita, saat ini aku masih berusia dua puluh tiga tahun. Aku sudah tiga tahun ini menikah dengan Mas Johan, lelaki baik dan pendiam yang usianya empat tahun lebih tua dariku. Kehidupan rumah tangga kamu amatlah bahagia meski sampai kini kami belum di karuniai momongan. Suamiku itu kini bekerja sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan swasta ternama di kota ini. Sedangkan aku setiap hari berjualan sembako di pasar, tokoku itu sebenarnya selalu ramai namun aku belum mempekerjakan orang lain untuk membantuku. "Dek, kok kamu malah bengong sih? Yuk buatin aku roti selai dan segelas s**u, aku mau berangkat kerja nih." Mas Johan menggengam tanganku dan mengajakku menuju ke dapur. Melewati keluarga benalu yang sedang makan besar itu. Ketika kami berdua lewat di depan meja makan, mereka cuek saja, seperti tak melihat keberadaan kami. Mas Johan tahu bahwa aku bisa emosi lagi jika melihat semua makanan yang tadi tersaji di meja makan itu telah habis tak bersisa, dia pun lalu menggengam tanganku lebih erat, dan menuntunku ke dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD